DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 107. DA3A


__ADS_3

Changi Airport, Singapura.


Dia mematung ditempatnya, rasanya pernah melihat jam tangan yang sama seperti milik wanita tadi dengan kepunyaan kakak iparnya. Juga apa mungkin dia hanya mirip Aiswa, karena look nya begitu stylish, tidak seperti Aiswa saat beberapa bulan lalu dia bertemu.


"Bos, ayo."


"Wait Rey, akui call Naya dulu."


Panggilan tersambung.


"Ya sayang, kenapa? sudah mau flight kan?"


"Iya ini sudah masuk ... honey, tolong tanyakan pada kakakmu, apakah jam tangan hitam miliknya adalah custom series atau limited series?"


"Why?"


"Tanya saja, kabari aku ya ... tiga belas jam lagi, aku call kamu jika sudah landing, Maira tidur?"


"He em, baru tidur ... take care Abang."


"Rasanya tak ingin pergi jika tidak terdesak ... tolong kirimkan foto Maira sedang tidur, sekarang ya ... love you sayang." Mahen menutup panggilan seiring satu picture masuk ke ponselnya.


Petugas memintanya mengaktifkan flight mode atau shut off ketika keduanya masuk ke dalam pesawat.


"Bos, watch series milik siapa? Den Mas? aku pernah lihat beliau pake beberapa brand, ini bukan?" Rey menyodorkan tabnya.


"Hmm bukan yang ini ... Rey, masih ada waktu sepuluh menit lagi, bisakah kita ngintip sebentar cctv didepan gate tadi?" bisiknya hampir tak terdengar.


"Aku coba."


Beberapa saat kemudian.


"Ck, mata Anda jeli sekali. Ini maksudnya? mirip sih bos dari bentuknya bila dicocokkan dengan pict limited series, hanya bukan brand yang aku tunjukkan tadi ... juga yang janggal ... strip biru ini, jadi kemungkinan ini limited namun custom, wuah, kakak ipar Anda diam-diam punya selera bagus," ujar Rey saat pict hasil dari cctv dia zoom lalu di mode clear capture auto focus agar lebih jelas.


"Aku ga sengaja lihat tangan dia saat dibantu berdiri oleh ibunya, sepertinya itu ... kontras Rey, karena branded itu khas dan kebetulan aku pernah lihat Kak Amir pake yang itu juga."


"Bos, Nyonya besar send email ke aku ... ponsel Anda sudah off kah? Yang mana? Alexandre Christie atau Rolex?"


"Aku flight mode tadi ... yang ini, Alexandre Rey, persis."


" Gent, turn of your phone please, the plane will take off as schedule," tegur flight attendant saat pintu pesawat akan di closed.


We need to inform you that SQ flight is without cigarette smoke, before take off we invite you to hold the chair back, close and lock the small tables that are still open in front of you, tighten the seat belt, and open the window cover.


Keduanya berhenti sejenak. Mahen khusyu berdoa memohon keselamatan hingga saatnya dia kembali.


Beberapa menit berlalu.


"Rey tolong cari tahu, tentang watch tadi. Berapa orang yang memilikinya. Jika memang limited series, akan mudah mengetahui siapa gadis itu."

__ADS_1


"Aku mengerti Bos, akan ku kerjakan nanti bila telah tiba di sana.


Inginnya tidak ikut campur, tapi hatinya sangat ingin mencari tahu.


Ck, Mahen penyakit kepomu kumat lagi.


***


Indonesia.


Setelah panggilan suaminya terputus, Naya mengetuk pelan kamar kakaknya pagi itu, usai sarapan dengan Abah dan Maira tidur di dalam boxnya.


"Kak," ketuknya pelan.


"Masuk Nduk, aku baru selesai duha bentar ke butik."


"Bukan tentang kerjaan ... itu, hmm aku boleh lihat koleksi jam kakak?" tanyanya ragu.


"Tumben, itu di laci tengah, tarik aja ga banyak ko cuma selusin doank, buat apa?" jawabnya sembari merapikan sajadah.


"Selusin, stylish amat si Bapak diem-diem."


"Punya suamimu lebih banyak, belum dasi, pin manset, sepatu, kacamata, apalagi tuh? aku cuma itu aja, kacamata juga cuma tiga yang dimobil doank, ga ada lagi."


"Hmm, iya juga sih, aksesoris Abang lebih banyak dari aku."


Naya menarik laci aksesoris sesuai petunjuknya, dilemari custom mewah itu.


"Prestige Nduk, Aku ga berlebihan ko masih sesuai kemampuan dan tidak semua koleksi, hanya beberapa series saja."


"Iya paham, Abang juga maksimal segini ko price nya. Thanks ya Kak," sembari mengambil beberapa jepretan foto sesuai pesan Mahen.


Naya berlalu keluar kamar tanpa mendorong lagi rak jam ke tempatnya semula.


"Nduk, dih ga sopan, ga didorong lagi ... main kabur," gerutunya.


Dirinya bangkit dari sisi ranjang, bermaksud mendorong pelan tempat koleksi jam mewah nya yang terpajang rapi.


Matanya melihat ke salah satu koleksi yang paling dia suka, namun telah lama tak ia kenakan.


Kamu sudah lama tak aku pakai, karena selalu mengingatkanku padanya. Satu-satunya gadis yang pernah aku berikan sesuatu yang sama seperti milikku, cuma dia. Bahkan Qiyya pun tidak.


Amir mengambil benda itu, mengusap jam tangan hitam Alexandre Christie limited series miliknya, couple dengan Aiswa. Tidak ada yang tahu ketika membeli aksesoris ini karena memang Amir mengirimkannya via kurir paket saat Aiswa tinggal sementara di pondok Almahyra.


Aiswa Fajri, semoga pemberian ku itu, disimpan rapi atau disedekahkan atas namamu ya, agar jadi manfaat.


Tok. Tok.


"Kak, titip Maira yaa, aku mau mandi ... ni bocah ga ada bapaknya rewel mulu ... baru juga tidur udah bangun lagi." Naya menyembul dari balik pintu kamar yang belum sepenuhnya tertutup.

__ADS_1


"Mana Maira? dikamar atau mau bawa kesini?"


Naya membawa Maira ke kamar Amir, padahal sebetulnya dia akan mengerjakan sesuatu. Menghubungi seseorang sesuai pesan Mahendra.


"Maira sayang, sini main sama uwa ... Nduk, dia makin lucu aja sih." Ciumnya gemas.


"Makanya Bapak nanti bikin yang rajin yaa, cari lawannya dulu." Seloroh Naya berlalu pergi. Jika saja Maira tidak ada dalam gendongan, Amir sudah melempar adiknya itu dengan bantal.


"Maira kalau sudah besar, jangan ikuti Bunda yaa, suka asal kalau ngomong." Masih menciumi Maira yang tertawa geli akibat ulahnya.


Naufal, mungkin kamu juga akan seperti Maira, menggemaskan.


Ya Allah, aku jadi kangen kalian.


***


Singapura.


Mama mencemaskan Aiswa. Sejak jatuh di Bandara tadi dia murung. Meskipun Mama sudah mengikuti semua keinginannya dari mulai makan dan minum obat hingga menunggu anak buah Papa menjemput mereka.


Kini keduanya telah berada di rumah sakit menunggu dokter datang untuk memeriksa Mama.


"Sayang, pusing? ko diem?" elusnya dikepala sang putri.


"Ga tahu Ma, hatiku berdebar daritadi."


"Rileks Aey, bobok sini, dokter masih lama datang."


"Lima belas menit lagi itu bentar Ma," Aiswa melihat jam tangannya.


Qolbi, untung Joanna membawa semua milikku saat dirumah sakit. Ini satu-satunya benda pemberian darimu yang masih aku simpan dan selalu aku pakai bahkan ketika tidur sejak kamu memberikannya.


Aiswa merunduk, masker diwajahnya kembali dia pakai, berniat ingin memejamkan mata sesuai nasihat bundanya. Dia lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Mama.


"Mas, dari sini langsung pulang ya, aku lelah."


"Iya sayang, kita pulang."


Degh.


Suara itu, suara yang dikenalnya, dia membencinya. Aiswa membuka mata perlahan, menarik duduknya lebih merapat dengan tubuh Mama saat keduanya melintas di hadapannya.


Degh. Degh. Degh.


Allah, jangan sampai dia tahu.


Nona, ah, untunglah dia memakai masker.


.

__ADS_1


.


..._______________________________...


__ADS_2