
Amir beringsut kesamping tubuh Aruni, mengatur nafas yang tersenggal sembari menarik tubuh istrinya masuk dalam pelukan. Jemarinya meraih kembali selimut yang sempat turun untuk menutupi tubuh keduanya.
Alhamdulillâhilladzî khala minal mâ’i basyarâ, faja‘lahû nasaban wa shahrâ, wa kâna rabbuka qadîrâ. (sesuai adab jima dibaca dalam hati).
" Bentar lagi kita wudhu ya, " ujarnya lagi sembari membelai kepala Aruni.
Aruni hanya mengangguk samar dalam dekapan hangat suaminya.
Malam ini, aku telah seutuhnya menjadi milikmu dan aku sangat bahagia, terimakasih banyak Mas, aku tahu kamu belum sepenuhnya mencintaiku namun semua hakku telah kau penuhi ... love you so much, Amirzain suamiku.
Aruni menggeser tubuhnya, melepaskan diri dari dekapan Amir yang telah terpejam, meraih pakaiannya yang berserak lalu menuju bathroom.
" Mass! " pekiknya.
Amir terkejut, melihat Aruni tak ada dalam dekapannya, secepat kilat turun dari ranjang, tergopoh menuju sumber suara dengan bertelanjang dada.
" Dek! kenapa? " paniknya.
" Hiks, ini," tunjuknya di daerah sekitar leher dan dadanya ketika bercermin.
" Ya ampun, tengah malam teriak kirain kenapa ... kamu pake hijab, ga keliatan lalu apa masalahnya? tanda bahwa kamu hanya milikku ... lekas berwudhu yuk lalu istirahat ... minggu depan kita berangkat, aku sudah atur semuanya. " Amir mendekat, mendekap, menciumi ceruk istrinya yang kemerahan hasil perbuatannya.
" Kemana? ko aku ga dikasih tahu? "
" Tadi sayang ... Ini aku kasih tahu. Semua telah siap dan kita akan Mukim di China sampai kamu sehat guna mencoba pengobatan metode baru ya, demi kita. " usapnya lembut di perut rata Aruni.
" Ga boleh berharap ya Mas, "
" Boleh, berharap sama Allah saja ... mau kan kita ikhtiar lagi? denganku, di sana tehnik pengobatannya dan pasca tindakan semua lebih maju dan canggih. Namanya juga mencoba bisa jadi cocok dengan tubuhmu. Aku bukan memaksa, hanya ingin kamu punya keyakinan bahwa rahmat Allah itu luas, " imbuh Amir makin mengetatkan pelukan.
" He'em, mau ... aku beruntung, love you sayang. " Mengecup pipi suaminya.
" Bilang apa tadi? ulangi, "
" Love you, suamiku sayang, " bisiknya ditelinga Amir mesra.
" Sayang kamu, saangat. " balasnya tegas.
Hmm, bukan balas dengan love you too, dasar pria. Tapi aku ga boleh serakah kan yaa, dia selalu menunjukkan rasa sayang padaku dengan sikap manisnya yang nyata, melebihi ekspektasiku.
Cinta ga penting Runi, Amirzain milikmu seutuhnya meski aku juga ingin mendengar ungkapan kata cinta darinya.
Maafkan aku Qiyya sayang, saat ini belum mampu membalas cintamu ... Rohi, izinkan aku untuk menyayanginya. Jika suatu hari nanti hati ini berucap cinta padanya, aku harap kamu mengerti.
__ADS_1
***
Belahan bumi yang lain, London.
Dewiq tak kuasa menahan emosinya pada sang Mama. Baru saja dirinya melepaskan penat akibat rentetan mata kuliah yang padat saat Ulfa memberitahu bahwa adiknya kecelakaan akibat ugal-ugalan di jalanan bersama ibu kandungnya.
" Fuc-kk Mama, tak cukupkah kau menyiksaku ... Aeyza masih kau jadikan senjata untuk menyakiti Papa dan aku. "
" Nona, sabar... Ibunda anda juga kritis. "
" Atur kepulanganku, Ulf ... aku akan mengabari Papa agar menyiapkan fasilitas medis di Malaysia."
Danesh Aeyza Hermana, kamu tidak aku izinkan menyerah, bertahanlah sampai aku tiba adikku sayang, kakak rindu kamu, sangat.
Dewiq hanya mempunyai satu saudari kandung ketika Mama memutuskan untuk berpisah dengan Papa yang diketahui memiliki selingkuhan dulu. Dewiq yang membereskan wanita benalu itu lepas dari ayahnya sekaligus mengancam akan bunuh diri jika Ayahnya tak bertaubat.
Mama yang terlanjur tersakiti berkali, akhirnya membawa Aeyza serta, Mama tahu gadis cilik dengan paras putih pucat itu adalah kelemahan Hermana Arya, sang Ayah.
Keluarga yang berantakan, Aeyza yang tidak diizinkan untuk bertemu dengan mereka berdua menumbuhkan kebencian dalam hatinya. Aeyza kerap urakan meski Dewiq yang selalu membereskan masalah akibat perbuatan adik kesayangannya itu.
Hingga akhirnya, dirinya melihat Aiswa kala lomba di suatu event pelajar memperingati hari pendidikan nasional. (bab 12)
Parasnya yang sekilas pandang mirip Aeyza membuatnya mudah akrab dengan teman barunya itu. Dewiq memperlakukan Aiswa sama sayang seperti pada adiknya. Termasuk memberikan segala informasi terkait Hasbi suami sahabatnya itu.
...***...
Tazkiya, menjelang subuh.
Brak.
Umma yang terkejut mendengar suara benda terjatuh dari kamar Aiswa, melangkah terburu membuka handle pintu.
" Ais....! "
" Ahmad, Kak! " teriaknya meminta pertolongan.
Aiswa pingsan, untuk kesekian kalinya ia akan dibawa ke rumah sakit. Kali ini Umma tak murka sebab Hasbi ada bersama mereka sejak kemarin malam.
" Panggil Hasbi, dia bersama suamiku diruang baca. " pintanya pada santri wanita yang membantu umma saat menyangga kepala anaknya ke atas pangkuan.
Dengan di bopong Hasbi dan Ahmad, Aiswa dilarikan ke IGD rumah sakit terdekat. Dokter mendiagnosa sama seperti sebelumnya, kekurangan asupan nutrisi bahkan kali ini dia dehidrasi.
Umma terkejut, niatan apa yang hendak Aiswa perbuat hingga menyiksa tubuhnya seperti ini.
__ADS_1
" Apa yang telah kau perbuat pada anakku! " hardik umma pada Hasbi saat keduanya telah berada di ruang kamar inap VVIP.
" Sesuai permintaan Umma, aku tak merusaknya. Aku tak memintanya seperti ini, aku menawarkan kasih sayangku namun dia menolaknya mentah. "
" Kamu, lepaskan Aiswa! "
" Sadarkah Umma? dosa meminta anaknya untuk berpisah. "
" Jangan kurang ajar, Maryam. " Suara Abuya menyusul mereka.
" Seharusnya kamu yang membujuk anak kesayanganmu ini agar berbakti pada suaminya. "
" Iya, Iya, salahku Mas ... terus saja bela menantu bermuka dua mu ini. Kamu tidak tahu saja kelakuannya yang menipumu! " Umma sudah tak tahan, ia geram.
" Apa maksudnya?... Hasbi jelaskan, Nak, " pinta Hariri salim.
" Aku menipu apa Umma? ... Buya, aku juga ga paham maksud Umma ... aku tahu Umma tidak menyukai ku sedari awal bukan? jangan gunakan alasan klise ini agar aku melepaskan Aiswa ... aku tahu Umma sangat menginginkan Amir lah yang menjadi suami Aiswa. "
" Kalian berdua sama saja! " Sentak Umma seraya pergi dari sana.
Ahmad yang sedari tadi menunggu diluar kamar, mendengar semua pertikaian kecil keluarganya. Saat melihat Ummanya keluar dari sana, ia membuntuti hingga ke taman diujung utara.
" Umma, maaf. Semua ini salahku, " Ahmad membungkukkan badan, memeluk kaki Umma nya.
" Memang salahmu, kamu sudah menyiksa adikmu Kak, " Umma terisak.
" Ampun Umma, aku gelap mata termakan rayuan Hasbi. "
" Jangan menyalahkan orang lain, jika kamu teguh dan menghargai Amir, semua tak akan begini ... namun nasi telah menjadi buras, keras terbentuk susah di leburkan lagi. Banyaklah bertaubat Ahmad. "
" Maaf dari Umma segalanya, maafkan aku Umma ... jangan lagi mendiamkanku, " pintanya disertai tangis pilu.
"Entahlah, Ahmad. Melihat Aish seperti ini batinku sakit. Apa yang telah kau perbuat, Kak? kemana nuranimu? bukankah Amir sahabat baikmu?" isakan Maryam sontak membuat Ahmad terpukul.
"Aku memang picik, ampun Umma." Ahmad menangis di pangkuan ibunya. Ketidakberanian menentang Buya sebab dirinya merasa sama tertekan membuat dia mendzolimi dua orang terdekatnya.
"Mir, Aiswa, apakah kamu mau memaafkan aku nanti? apakah kalian bersedia mendengarkan penjelasan aku kelak?" batin Ahmad, air mata luruh pun tiada guna kini.
.
.
...__________________________...
__ADS_1