DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 63. TIDUR DALAM DAMAI


__ADS_3

" Aiswa! " Amir terjaga. Dirinya baru menyadari bahwa ia baru saja terlelap diatas sajadahnya usai sholat duha tadi.


" Mas. " Aruni menatapnya intens saat dia keluar dari kamar mandi didalam kamar mereka.


" Ko ga bangunin aku sayang. " Amir was-was Aruni mendengar dia menyebut Aiswa.


" Emang tidur sambil duduk yaa? aku kira Mas lagi dzikir, " tawanya sembari duduk didepan meja rias menyisir rambut panjangnya.


Aku dengar kamu memanggilnya Mas, Aiswa.


" Sini, biar aku. "


" Mas, aku boleh jalan-jalan ga hari ini sama Naya, ke mall habis anterin dia ke kampus. Kan dia lagi bimbingan jelang pengumuman sidang, wisuda di sini kan? "


" Naya biar sama Mega, kita jalan berdua. " Sembari menyisir rambut panjang istrinya.


" Aku pengen sama Naya, mumpung dia ada disini, boleh ya. "


" Engga, sama aku atau ga boleh pergi. "


Aruni terlihat kecewa, Amir tahu. Dirinya hanya ingin meminimalisir keinginan menggebu yang mungkin akan hadir menghantui benak Aruni. Keinginan yang masih sulit dijangkau untuk mereka berdua. Naya tengah hamil, Aruni terlihat exited saat melihat perut Naya yang mulai terlihat membuncit.


" Qiyya, sabar yaa. Naya suka kelepasan kalau bicara, aku hanya tak ingin adikku tanpa sengaja melukai hatimu nanti. "


" Naya baik Mas, dia sopan dan terlihat hati-hati padaku malah. "


" Ck, tetap saja ... diikat yaa, jangan digerai, nanti kamu gerah. "


Amir meminta aruni bangkit berdiri. Menariknya ke sisi ranjang mereka sembari membawa karet rambut beserta sisir ditangannya.


" Duduk sini. " Tariknya hingga Aruni duduk di pangkuannya.


" Ish, aku berat. "


" Diem dulu, kan lagi diiket ini rambutnya. " Setelah rapi, Amir memeluknya, meletakkan kepalanya pada bahu istrinya itu.


" Aww, Mas ih, sakit. " Aruni memekik tertahan kala bahunya digigit oleh Amir.


" Kamu gemesin ... Qiyya, tentang Aiswa, sudah pernah dengar belum? "


" Belum, Mas mau cerita? aku dengerin, " balasnya mengusap kepala Amir yang masih menempel di bahunya.

__ADS_1


" Dia gadis yang aku suka sejak pertama kali melihatnya, adik sahabatku dan aku pernah mengkhitbah dirinya namun tak tersampaikan dengan baik sehingga dia menikah dengan Hasbi, sahabatku juga. "


Amir menceritakan semuanya pada Aruni, dia hanya tak ingin istrinya itu menduga, menyimpan cemburu berlebihan tanpa tahu kisah sebenarnya.


" Maaf ya sayang, aku.... "


" Aku mengerti ... Mas milikku, " Aruni memutar posisinya menyamping, melihat wajah bersalah sang suami dihadapannya membuat ia terpesona.


C-up.


" Suamiku, hanya milikku. " Memberikan tatapan penuh cinta.


Tanpa banyak kata, Amir membalas pagutan istrinya hingga nafas keduanya tersenggal.


" Udah aah, nanti keterusan. Kan mau pergi, aku siap-siap dulu. " Aruni bangkit.


" Nanti dulu, belajar darimana tadi? " Amir kembali menariknya duduk dipangkuan.


" Ish apaan ... aku ga pernah ci-uman sebelumnya, naluri aja itu sih ... lah, Mas sendiri belajar darimana? "


" Itu, " tunjuknya pada barisan kitab yang terpajang rapi didalam lemari kaca.


" Iya, detail pula. Mau aku bacakan atau praktek langsung? "


" Nanti bacakan satu ya ... nama kitabnya apa Mas? "


" Banyak sayang, ada Qurrotul 'Uyun itu terlengkap untuk wanita mulai fiqih, najis, haid sampai anu ... Uquddulujain, Fathul itzar yang membahas semua hal tentang pernikahan ... yang membahas tentang khitbah, tuhfathul 'arus ... tentang hukum wanita, mar'ah al muslimah, jami' arkan annisa, zawaaj fii dzillil dan sebagainya ... ngulang yang semalam sekalian belajar, sekarang juga boleh Dek, " bisiknya.


" Haha, maunya ... dan Mas belajar itu semua yaa? pantas kemarin minta lihat darah haid aku, buat apa? "


" Iya semuanya ... biar aku tahu, masa haid kamu berapa lama, apakah jenis darahnya sesuai dengan masanya juga menghitung jumlah hari jikalau kamu istihadhah, biar ibadah kamu ga bolong sayang, karena itu tanggungjawab ku. " peluknya.


(tata cara mandi, ibadah dalam masa istihadhah berbeda dengan haid biasa. Nitip narasi dulu.)


Kring. Kring. Ponsel Amir berbunyi.


" Almahyra, " Aruni melihat nama sang penelepon.


" Kamu yang bicara, loudspeaker sayang, " pinta Amir.


" Kak, Mas Gamal masuk ICU baru saja, tolonglah bila bisa kemari sebelum berangkat ya, " isak alma diujung sana.

__ADS_1


" Innalillahi, kenapa? salah makan atau apa? "


" Ga tahu, semalam demam dan tiba-tiba tak sadarkan diri. "


" Tenang ya Alma, ada Mama kan disana? " tanya Aruni.


" Ada Runi, ada Paman Rois dan Mba Qonita juga. "


" In sya Allah mampir yaa jika sempat karena penerbangan kami lusa, " Amir bimbang.


" Tolonglah.... "


" Alma, team dokter sudah menanganinya kan? percayakan pada mereka, berdoalah pada Allah ... terus support suamimu. " Amir menasehati agar ia tak terlalu bergantung harap. Ada Aruni di sisinya, Gamal saudara Aruni juga, Amir harus menjaga perasaan mereka.


Setelahnya, Amir meminta Aruni yang bicara hingga percakapan mereka usai. Baru saja ponselnya kembali diletakkan di meja, benda pipih itu kembali berdering.


" Abah. "


" Ya Bah, "


" Mir, Aiswa koma. Kyai Hariri salim mohon doa kesembuhan dari Abah tadi, bantulah doa untuknya yaa ... Nduk, Runi, maaf yaa Abah izin minta Amir untuk, " suara Abah tercekat, merasa bersalah.


" Astaghfirullah, innalillahi ... in sya Allah. "


Amir menutup panggilan dari Abahnya. Menarik Aruni masuk dalam dekapannya, menciumi pucuk kepala istrinya itu.


" Maaf sayang, " lirihnya gamang.


" Do'ain ya Mas, aku ikhlas karena sesama muslim wajib saling mendoakan apalagi bila tertimpa musibah. "


Aiswa, pantas saja hatiku gelisah beberapa hari ini. Apa gerangan yang terjadi, Rohi. Aku tak bisa melihatmu, ada Qiyya disisiku.


Allah, jagalah Rohi untukku disana... Aku mohon...


.


.


...___________________________...


...Sabar pemirsa 😂, sabar yaaa, kita finish kan satu-satu... ...

__ADS_1


__ADS_2