
Jakarta.
Pagi ini Dewiq mual muntah hebat. Semalam dia dan Dwi mengikuti acara pagelaran secara streaming dimana Aiswa, sahabat mereka hadir dan didapuk sebagai pemegang posisi rising star of the year.
"Sha, Allah. Kita ke rumah sakit sekarang," Ahmad panik saat melihat istrinya pucat pasi.
"Bear, aku ni dokter masa gak kenal dengan tindakan pengobatan pertama sih. Tunggu," tahan Dewiq saat Ahmad akan membopongnya.
"Enggak. Sekarang," paksanya kemudian.
"Umma, tolong ... Umma," panggil Ahmad dari ujung pintu kamarnya.
Kedua orang tua Tazkiya tergopoh mendatangi kamar anak sulung mereka. Terlebih Umma, masih mengenakan mukena.
"Marsha, kenapa Kak?" tanya Umma ikutan panik melihat wajah menantunya sudah sepucat mayat.
"Mual muntah sejak sebelum subuh, ini aku maksa mau bawa ke rumah sakit tapi dia gak mau," jelas Ahmad pada ibunya.
"Bawa, Kak. Sha, nurut. Dokter juga manusia, gak bisa mengobati dirinya sendiri," tegur Umma pada Dewiq.
Buya sudah keluar dari kamar putranya, mengambil kunci mobil untuk mengantar menantu kesayangan mereka.
Dewiq hanya diam. Umma mengganti semua bajunya yang terkena percikan muntahan dibantu Ahmad.
Meski malu dan rikuh, apa boleh buat ia hanya bisa pasrah daripada di tegur Umma lagi.
Betul kata Aiswa, Umma itu satu paket lengkap. Galak, tegas, lembut, santun bahkan bawel. Pantas saja, saat ta'aruf dulu Ahmad meminta Mama Rosalie yang menjadi satpam mereka dan menyebut Umma sebagai sipir. Kini ia paham, maksud suaminya itu.
Dua puluh menit berikutnya, Hermana Hospitals.
Mengetahui kabar dari Dokter jaga bahwa putri satu-satunya mereka saat ini terbaring lemas di IGD, Hermana Arya panik.
Lelaki berusia lebih dari setengah abad itu berlari menuju lantai dasar rumah sakit miliknya untuk menemui sang putri.
Sesampainya di IGD, ia melihat menantu juga besannya dalam salah satu bilik.
"Kak...." seru sang ayah.
"Be-ar, awas Papa," bisiknya pelan khawatir ayahnya menghadiahkan omelan pada Ahmad.
"Mas, kenapa?" tanya Hermana Arya pada menantunya itu.
"Mual muntah sejak jam tiga lebih, Pa. Sampai pucat gitu masih susah diajak kesini. Aku gak paham cara masang infus, sementara dia lemas. Membuka mata pun berat," tutur Ahmad panjang.
Mertuanya itu lalu memeriksa anaknya sendiri langsung dengan tangannya.
Tak lama kemudian, ia memanggil dokter jaga agar meminta salah satu dokter Obgyn menuju IGD.
"Dokter ko gak peka," tegur sang Papa.
__ADS_1
Dewiq membelalakkan matanya. "What, Bear?"
"Semoga, aamiin," jawab Ahmad.
"Allahumma aamiin," sambung Buya tak kalah sumringah saat Hermana Arya mengatakan hal tadi.
Ketiga pria itu akhirnya harus rela menyingkir saat dokter kandungan tiba dan memeriksa kondisi Putri Mahkota keluarga Hermana.
"Setelah test lab, hasilnya akan keluar satu jam mendatang," ucap sang dokter wanita pada Dewiq. Ia meminta agar test darah juga urine dilakukan saat itu juga.
Ahmad pun membawa kursi roda untuk mengantar Dewiq menuju lab. Sepanjang perjalanan mereka, Hermana Arya tak henti menasehati Dewiq bahwa jika memang telah di titipkan amanah maka ke-keraskepala-annya itu wajib di runtuhkan. Dirinya harus memikirkan calon bayi, terlebih Ahmad yang harus menanggung mood swing nya nanti.
"Pokoknya sabar. Mau kayak apa rasanya, ya sabar ... denger gak?" pria yang biasanya tak banyak bicara ini, mendadak menjadi sangat bawel. Pikir keduanya.
"Wajar sih, cucu pertama untuk keluarga Hermana," batin Ahmad.
Satu jam kemudian. Hasil lab keluar, sesuai dugaan. Dewiq dinyatakan mengandung selama tiga minggu setelah enam bulan lebih penantian mereka.
Ahmad memeluk, menciumi istrinya meski masih ada mertua juga Buyanya di sana.
"Alhamdulillah, satu mau launching, satu lagi baru jadi, aku punya cucu," ujar Hariri salim menepuk lengan besannya.
"Pewaris Tazkiya dan Hermana," balas Papa Dewiq, memeluk Hariri salim sebagai tanda sukacita mereka berdua.
Kabar ini pun langsung mereka bagi pada keluarga. Termasuk sahabat mereka, terutama Ahmad yang lebih dulu membagi kabar bahagianya.
Grup Chat Dedemit.
"Wa'alaikumussalam, setdah bakal tunas. Emang itu toge? ko mirip ya bertunas," balas Gamal pertama kali.
Ahmad hanya menimpali dengan emot tertawa.
"Wa'alaikumussalam, byuh, akhirnya gak semua jadi asinan. Ada yang tangguh juga," imbuh Amir.
"Do'ain woyy, ngeledek mulu," protes Ahmad
"Wa'alaikumussalam, selamat ya Mas. Moga aku lekas nyusul." Rayyan mengucapkan doa juga ucapan selamat untuk mereka.
"Udah punya jurus ajaib buat naklukin Dwi, Dok," tanya Amir mulai usil.
"Paling pake jurusnya wiro sableng," samber Ahmad.
"Bukan, gak pas. Bukan pakai jurus gituan," sahut Gamal lagi.
"Terus?" balas Amir.
"Apa tuh?" tanya Rayyan mulai terpancing keusilan mereka.
"Jurus bismillah," balas Gamal polos. Tanpa emot dan lainnya.
__ADS_1
"Gue udah deg-degan Bambaaaang, kirain Lu mau bilang apa," Tulis Amir. Dia dan Ahmad menanggapi kalimat Gamal yang rancu dengan emot tertawa. Rayyan pun ikutan absurd.
"Loh, Pak Haji ngomong ko gak pada percaya," protes Gamal pada Amir.
"Kek kalimatnya Mas Karyo ya, di sinetron si doel," Ahmad terlanjur keki.
"Gak jelas emang. Masih galau Lu?"
"Enggak donk. Gak jadi nyesel gue. Tapi gak mau ngulangin kebodohan yang sama," tawanya meledak.
"Haha kenapa?" Ahmad dan Rayyan bertanya hal yang sama.
"Alma gak jadi hamil. Aman gue," balas Gamal pada Ahmad.
"Mirrrrr, selamat menunaikan ibadah puasa ya," sindir Gamal.
Ketiga pria yang mulai oleng pun ikut tertawa membaca kalimat Gamal. Karena Aiswa akan melahirkan dalam waktu dekat.
"Boleh lah, tar giliran gue lebaran. Lu pada gantian puasa," balas Amir tak mau kalah.
"Selamat ya Pak ustadz, dan segera nyusul buat dokter ... Mal Lu mau doa gue gak?" tanya Amir pada Gamal.
"Ogah, doa Lu suka bikin gue takut," ujar Gamaliel.
"Haduh, cape ya. Selamat ya buat semuanya. Sehat-sehat kalian. Aku mau pindahan dulu. Nanti kita mampir ya Mas Ahmad," balas Rayyan pamit pada semuanya karena dia akan pindahan dari rumah Renata di Cipayung ke rumahnya di kawasan Jakarta Barat.
...***...
Setelah mengakhiri obrolan absurd dengan para Dedemit. Rayyan menghampiri Dwiana yang sibuk memasukkan bajunya dalam koper.
"Semoga lekas nyusul," bisiknya memeluk tubuh langsing semampai itu dari belakang. Mengusap perut yang masih sangat rata.
"Hasil detoxnya belum keluar, aku takut. Nanti Dojo gimana, A?"
"Ada pelatih lain kan? beri ia kepercayaan sembari rekrut satu lagi personil lainnya," saran Rayyan agar istrinya mengurangi aktivitas yang membahayakan calon janin mereka.
"In sya Allah gak apa, kita terapi lagi nanti. Dewiq hamil tiga minggu, Sayang. Kita mampir nengok sebelum pulang ya," Rayyan menawarkan pada Dwiana.
"Iya ... beneran ternyata yang Aish bilang beberapa hari lalu itu. Dia Halim Perdana Hermana," jawab Dwi. (hamil)
"Keabsurdan Kusuma, nular ya."
Dwi hanya menanggapi dengan senyuman manis. Berawal dari Aiswa, Dewiq lalu bertemu Kusuma. Kebaikan, alim, ketaatan keluarga itu menular pada mereka sekaligus keolengannya.
"Kusuma itu, lengkap ... dunia akhirat ada didalamnya," jawab Dwi.
.
.
__ADS_1
...__________________________...
...Bab Dji Sam Soe 😪...