
"Rayyan, bisa jemput Mama ga di Bandara? dua jam lagi." Mama Rayyan menyusul anaknya ke Australia.
"Loh, bukannya ga jadi? dengan siapa Ma?"
"Jadi donk meski sendiri, kita nostalgia bareng kali ini. Mama sudah lama tak berkunjung ke sana, juga sewa apartement itu akan berakhir di tahun ini bukan?"
"Betul, Moms. Aku akan menyusul Mama nanti, hati-hati dijalan Moms."
Rayyan menutup panggilan dari Bundanya disaat keheningan melanda mereka di ruangan itu.
"Mama?"
"Mama ku, usianya sekitar lima puluh lima tahun, dua bulan mendatang, di tanggal yang sama dengan Papa. Mungkin ini yang dinamakan jodoh bermula dari sebuah angka," ujarnya tersenyum samar masih duduk disofa depan ranjang Dwiana.
"Pergilah Dokter, aku sudah tak apa. Mungkin besok sudah bisa kembali ... Aku tak bisa berlama disini karena tanggung jawabku juga banyak."
"Dwi, apakah orang tua mu tahu?"
"Jangan, lebih baik mereka tidak mengetahui ini, aku tak ingin membuatnya khawatir," Dwiana berkilah agar Rayyan mengurungkan niatnya.
"Tapi kamu membutuhkan izin untuk tindakan medis Dwi, biar aku coba menghubunginya," pinta Rayyan masih membujuk agar Dwiana bersedia memberikan nomer kontak keluarganya.
"Tapi jangan mendebat mereka, biarkan orang tua ku mengambil keputusan secara independen, bebas. Aku tak membawa ponselku dan juga tidak hafal barisan angka milik mereka berdua. "
Sebegitu burukkah hubungan kalian?
Rayyan mencoba menghubungi Dewiq, berkirim pesan padanya berharap dia mengetahui sesuatu.
Setelah menunggu hampir satu jam, ponselnya kembali berbunyi. Balasan dari seorang yang ditunggunya sejak tadi akhirnya muncul.
"Aku keluar dulu ya Dwi," dilihatnya Dwiana telah terlelap kembali. Rayyan meninggalkan ruangan itu sejenak guna menghubungi ibunda Dwiana.
Tuut. Tuut.
Panggilan tersambung di dering ke empat.
"Halo, selamat sore waktu Australia ... apakah benar ini dengan Nyonya Lilyana, ibunda dari pasien bernnama Dwiana Rose?"
"Iya aku ... pasien? ini siapa ya?"
"Saya Dokter Rayyan, ingin menginformasikan bahwa Putri Anda, Dwiana sakit dan saat ini tengah menjalani pengobatan intensif di Royale's Clinic, Queen Rise Road 54th, Melbourne sejak kemarin."
"Lalu Dokter? tentang biaya ya?"
"Tentu, juga terkait izin wali untuk melakukan tindakan medis bagi Dwi, Anda dapat mengunjunginya Nyonya?"
"Aku sudah mewakilkan perwalian kepada Dosen pembimbingnya, Anda bisa melegalkan lewat beliau, dan untuk biaya, juga dapat meminta pada Dwiana karena aku akan mengirimkan dana yang dia butuhkan, ada lagi?"
__ADS_1
"Putri Anda teridagnosa pe-"
"Maaf Dokter, aku sedang diluar dengan kolega ku, terimakasih atas informasinya."
Astaghfirullah. Ibu macam apa? Ga nanya sama sekali, anaknya sakit apa, bagaimana kondisinya. Cuek keterlaluan.
"Baik, terimakasih banyak."
Ingin rasanya melanjutkan, mendebat beliau namun ia teringat pesan Dwiana.
"Benar ternyata ya Dwi, mulut pedas mu tercipta karenanya. Sebagai tameng bahwa kamu ingin melupakan bila saja rindu itu datang."
Disaat aku berkelimpahan kasih sayang dari kedua orang tuaku, masih ada saja anak yang sepertimu.
Rayyan kembali ke kamar Dwiana sesaat setelah memutuskan panggilan pada Ibunya. Dia memandangi sosok yang tengah pulas tertidur di atas brangkar. Terlihat jelas bedanya ketika gadis itu sehat, sorot matanya seperti menginginkan kehadiran seseorang yang bisa memeluknya meski sejenak, hanya sekedar menetralisir rasa sakit yang ia derita.
Dua jam berlalu, Dwiana masih setia dengan tidur tenangnya. Rayyan bangkit keluar ruangan mencari keberadaan Andre, dokter muda yang memberikan tindakan pertolongan pertama pada Dwi saat ia baru saja tiba.
Setelah mereka bertemu, Rayyan menitipkan Dwiana sesaat padanya karena ia akan menjemput bundanya di Bandara. Dia pun lalu membawa Mazda-3 nya melesat kembali membelah jalanan Melbourne.
Malam hari, Bandara.
Setengah jam berlalu, kini Rayyan telah menunggu di salah satu lounge ruang tunggu teeminal kedatangan internasional. Belum juga nampak tanda Mamanya itu tiba. Hingga suara announcement mengabarkan bahwa pesawat baru saja landing.
Pria muda yang mengenakan outfit casual, celana jeans dipadu dengan kaos oblong bermotif stripe itupun menyongsong kedatangan wanita paruh baya dengan koper warna merah menyala, berjalan melewati beberapa outlet food and beverage hingga keduanya bersitatap bahagia.
"Moms, kangen banget sama Mama ... Rayyan udah lama ga pulang ke Bandung," balasnya tak kalah antusias memeluk erat bundanya.
"Mau makan dulu ga Ma?"
"Kamu ga masak?"
"Aku malah ga pulang sejak kemarin, ini dadakan beli kaus malah karena ga bawa baju ganti," ujarnya memelas seraya merangkul Mama berjalan melewati banyaknya toko makanan.
"Ko bisa, kenapa?"
"Nanti aku cerita di mobil. Sekarang, kita beli makan dulu ya karena sebelum aku antar Mama ke apart, inginnya mampir ke klinik dulu."
"Klinik? kamu dinas disini Ray? atau bagaimana?"
"Bukan ... menjenguk seorang gadis, nanti aku kenalkan ke Mama.
Mama memutuskan makan ditempat karena memang sudah sangat lapar, kemudian mereka membeli beberapa bungkus makanan serta minum untuk dibawa ke klinik.
Hampir dua jam Rayyan meninggalkan Dwiana, gadis itu terbangun saat suster meletakkan obat untuk dia minum. Makan malamnya masih belum terjamah, artinya dia sangat lelap tertidur sejak sore tadi.
" Oh baguslah, dia pulang. Aku ga mau balas budi," lirihnya berusaha memiringkan badan namun tak bisa.
__ADS_1
"Samp-" Rayyan membuka pintu ruangan Dwiana langsung kaget melihat gadis itu hendak terjatuh dari atas brangkar.
"Dwi ... pelan-pelan, kenapa sih keras kepala? kan bisa minta bantuan suster ketika aku tak ada," ucapnya sedikit emosi melihat Dwiana hampir jatuh tadi.
"A-aku bisa, jangan sentuh aku." Dwiana menepis tangan Rayyan yang hendak mengangkatnya.
"Sini, sama Mama Nak," Mama melihat semuanya, Rayyan yang tergesa menolongnya serta keinginan gadis ini yang bersikukuh tak ingin disentuh Rayyan.
"Ma-" Dwiana terpana oleh tarikan dan pelukan tangan lembut yang membantunya.
"Sudah nyaman, Dwi?" tanya Mama seraya tersenyum.
"Sudah, terimakasih banyak," ujar Dwiana menunduk tak enak hati.
"Kenalkan, Mamaku, Dwi ... Moms, dia Dwiana rose."
"Hallo Dwi ... Mama Rini, kamu boleh panggil begitu ya jangan sungkan."
Dwiana hanya mengangguk, ia canggung, tak terbiasa disambut dan diperlakukan dengan lembut selain oleh Umma, yang baru saja dikenalnya langsung kala mengunjungi makam Aiswa dulu.
"Ko belum makan?" Mama Rini melihat jatah makan malam Dwi belum disentuhnya.
"Dwi, please jika kamu ingin aku lekas pergi dari hadapanmu, maka makanlah dan ikuti anjuran dokter ... aku tak akan mengusikmu lagi."
"Rayyan!"
"Aku ga lapar," cicitnya.
"Dipaksa Dwi, Mama suapin ya ... meski tak banyak, harus ada yang masuk ke lambung ... atau mau buah? tadi Mama beli beberapa, Dwi suka yang mana?" Mama Rini menyodorkan dua pilihan, anggur dan apel.
"Tidak keduanya, maaf."
Dwiana memilih memejamkan mata seraya memiringkan lagi badannya membelakangi dua orang yang tengah menatapnya. Ia tidak mau menerima perlakuan yang akan membuatnya nyaman, karena itu bukan miliknya.
"Dwi, makan ya Nak, sedikit saja."
Mama mengusap punggung Dwiana yang hanya terbalut pakaian tipis rumah sakit. Membelai rambut panjangnya serta membubuhkan ciuman dipucuk kepalanya.
Anak ini, sama sekali tak pernah mendapat kasih sayang. Ada Mama, Nak. Apapun hubunganmu dengan Rayyan, semua kawan anakku adalah putriku juga.
Dwiana hanya diam, air matanya luruh membasahi pipi.
Jangan kau berikan aku sesuatu, Tuhan, jika akhirnya semua ini bukan milikku.
.
.
__ADS_1
..._____________________________...