DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 191. DEAL, MENIKAH


__ADS_3

Sore hari ba'da Ashar, Amir meminta memanggil Alex dan Mang sapri. Keduanya duduk menunggu di teras seraya celingukan jika saja Nyonya porselen mereka muncul. Harus siap menundukkan pandangan sepanjang Amir berbicara nanti.


"Bang, Mang, masuk aja gih sini," pinta Amir untuk keduanya.


"Aiswa di kamar, gak akan keluar. Lagi nonton kartun pada jaman dahulu," ujarnya mengerti kekhawatiran mereka.


"Ok Den Mas," jawab keduanya masuk dan duduk di ruang tamu.


"Begini, aku akan ke Jakarta hingga minggu depan. Tolong bereskan yang ini ya Bang, eksekusinya nanti setelah aku kembali. Pastikan dia tidak mengulangi hal yang sama atau keluar dari sini," pinta Amir saat mengetahui ada pencuri di salah satu karyawan Abah.


"Mang, seperti biasa, aku titip semuanya ... gudang, workshop dan rumah. Aku ke Jakarta bawa mobil agar Aiswa lebih nyaman. Joanna akan handle butik selama kita pergi," jelas Amir pada mereka.


"Aku mau bilang gitu, Joanna betah amat di Butik, bagusnya buat kontroller jika Den Mas pergi ... tentang orang itu, siap Den," jawab Alex.


"Mamang ada tambahan tugas ga Den? apa kayak biasa itu?"


"Kayak biasa aja Mang, kalau gajian kan yang bagikan Winda, Bang Alex juga bantuin web Meela.co selain admin ... ada yang mau ditanyakan ga? kalau urgent, nanti call aku aja ya jangan Abah...." pesannya lagi.


"Berangkat kapan Den Mas?"


"Ba'da isya biar lega waktunya, lagian cepet ko tiga jam dan langsung ke Orchid dulu. Siangnya baru ke Tazkiya," terang Amir.


"Ok sip, ngerti ya Mang," tanya Alex pada Mang sapri.


"Ngerti, Mamang dah biasa. Waktu sama Ndoro juga suka ditinggal. Persis mantan, suka ninggalin," tawanya pecah.


"Mantan, manis tapi setan. Dikenang mulu kek pahlawan padahal wujudnya macam gajian, cuma numpang lewat," sambung Alex membuat Amir tertawa.


"Inget ya, jangan sampai nyebar ini aib dia, dijaga dulu, yang tahu cuma kita bertiga loh. Aku mau pergi, jika ini bocor berarti pelakunya salah satu dari kalian," pesan Amir lagi sedikit tegas.


"Boten wantun, Den," ucap Mang sapri. (gak berani)


"Aku penyimpan rahasia ulung Den Mas, tenang aja," Alex menimpali.


"Syukron ya Bang, Mang. Aku mau siapin mobil dulu." Amir bangkit setelah selesai menerangkan beberapa hal pada dua orang kepercayaannya.


Beberapa menit setelah itu.


Jika Aiswa santai, berbeda dengan Amir. Ia sangat sibuk, mulai dari persiapan obat hingga kemarin memesan bantal khusus kehamilan di sebuah toko perlengkapan bayi.


Ia hanya ingin istrinya nyaman selama perjalanan yang lumayan jauh. Jarak lebih dari seratus lima puluh kilometer akan mereka tempuh nanti malam. Meski dokter mengizinkan, namun tetap saja Amir sangat khawatir.

__ADS_1


"Bii, kata dokter kan jika aku gak merasakan sesuatu yang tidak nyaman, itu boleh kemana-mana. Qolbi parnoan, percaya sama adek donk Bii, dia kuat. Bahkan ga nyusahin aku, mual muntah sewajarnya dan aku pun bisa makan semua, gak ada keluhan," tutur Aiswa saat melihat suaminya senewen.


"Kamu gak merasakan Rohi? betapa aku bahagia kamu hamil?"


"Tahu donk, tapi Qolbi juga harus percaya sama kita. Jangan berlebihan, Ok?" Aiswa mendekati suaminya yang sedang memasukkan obat darurat dalam tas tangan Aiswa.


C-up. Aiswa mengecup bibir suaminya.


"Bahkan kita tetap melakukan itu, Qolbi gak sadar seharusnya gak boleh dulu ko malah jadwal tidak berubah," sindir Aiswa.


"Kan kamu bilang ga kenapa-kenapa," jawab Amir.


"Nah sih, kenapa selain hal itu Qolbi parno? hayo? yang enak doank diingat," sungut Aiswa sebal.


Amir hanya tertawa menanggapi keluhan istrinya. Jika dipikir, iya juga sih. Seharusnya yang dia jaga adalah keinginan itu tapi malah sebaliknya.


"Ya gimana, kamunya seger mulu sayang," peluknya pada Aiswa yang ikut merapikan bawaan mereka.


"Alasan ... ini semua punya aku Bii? banyak banget ya?"


"Kita ke Orchid dulu, ngobrol dengan Mas Panji tentang kontrak Sheila dan kontrak kerja kamu. Lalu siang ke Umma, bantuin prepare lamaran. Lusa kan hari H nya ... kita di sana hingga minggu depan karena aku harus menemani dokter Rayyan saat menghadap ayah Dwi. Suplemen kamu cukup sampai kita kembali jadi gak repot beli ini itu lagi," terang Amir panjang lebar.


"Bii."


"Bii."


"Ya?"


"Enggak, cuma mau manggil aja," Aiswa tersenyum manis padanya.


"Kan, kamu gitu aja udah naikin mood aku, ck Rohi," Amir menggelengkan kepala heran.


"Bii."


"Bii, Qolbi, Bii ... love you sayang, My Bii, Abi, Qolbi, Baby," Aiswa terus mengoceh seraya mengganti seprei mereka.


"Gak usah diganti dulu, habis ini digantinya," Amir meluruhkan semua benda yang sedang dipegangnya. Memeluk Aiswa dari belakang menciumi semua area tubuhnya yang terbuka mulai bahu, tengkuk hingga punggung mulusnya.


"Biiiiiiiiiiii, mau maghrib iihh, lepas gak, Biii," rengek Aiswa. Namun seperti biasa, suara lembut dan manja itu akan berubah menjadi racauan yang membuat Amir makin menggebu.


...***...

__ADS_1


London.


Keadaan Dewiq sudah jauh lebih baik setelah Ahmad memintanya istirahat, total empat hari sudah ia hanya menghabiskan waktu di kamar, tidur, makan dan sesekali mengerjakan tugas kuliah.


Mama kerap menunjukkan video Ahmad sedang melakukan aktivitas di luar kantornya agar sang putri tidak merasa di abaikan karena Ahmad memang jarang membuka chat di grup sedangkan itu adalah jalan satu-satunya komunikasi mereka.


"Kak, manly yaa kalau lagi kerja. Kumplit, kalem, alim, tegap, pinter, gigih dan lucu sesekali," pancing Mama.


"He em, aku juga gak sangka Bear begitu. Ku kira pendiam banget dan dingin. Nyatanya hangat dan care meski caranya berbeda saat ini, entah jika nanti kalau jadi menikah," jawab Dewiq.


"Kamu mau kan nikah sama dia, Kak?"


"Ya kalau Bear nya ngelamar dan minta aku ke Papa secara resmi nanti," imbuhnya lagi.


"Kan ngelamar kamu sudah. Jika menikah dalam waktu dekat gimana Kak?" tanya Mama Rosalie.


"Enggak deh Ma, aku nanti gak konsen. Bear udah jelang tiga puluh tahun. Aku takut dia minta baby sedangkan aku akan co-***, gimana?"


"Diobrolin Kak, sana. Telpon," Mama Rosalie meragu akankah Dewiq menerima rencana Ahmad nanti.


"Gak ah, Bear juga kan masih gitu katanya. Aku gak berani maksa dia Ma, Bear juga sedang memperjuangkan harga dirinya untukku," sambung Dewiq lagi.


"Tapi kamu mau kan nikah sama dia?"


"Ya itu tadi. Dibilang mau, ya iya. Mana ada sih laki-laki macam Bear milih aku, Ma. Gila aja Mama, nyari macam Bear itu di mana lagi coba?"


"Bilang donk ah, muter mulu," cebik Mama, putrinya ragu karena pendidikannya dan ingin berbakti pada orang tua. Sedangkan Ahmad ingin Dewiq menjalani itu semua saat sudah bersama-sama agar dia bisa mendukung dan menjaganya.


"Ah, Mas. Kamu so sweet," batin Mama.


"Bismillah ya Kak, mau kan?" tanya Mama sekali lagi.


"Emang kenapa sih Ma?"


.


.


..._________________________...


...Gak sangka menyentuh bab segini, padahal bikin outline nya gak sampai kesini haha......

__ADS_1


__ADS_2