
Pasangan yang tengah diliputi bahagia karena baru saja dititipi Amanah oleh Allah, kembali memasuki pelataran kediaman Abah yang luas. Memarkirkan Honda Jazz sporty hitam luxury milik sang tuan muda ke garasi yang terletak di belakang Mushola berdampingan dengan workshop dan gudang.
Ketika ia membuka pintu kiri agar Aiswa dapat turun dari mobilnya, Amir dikejutkan oleh suara Alex.
"Den Mas, tamunya sudah istirahat. Di temui besok pagi atau saya ketuk pintunya lagi?" sapa Alex saat melihat Amir akan menutup garasi.
"Biarkan istirahat dulu, memang siapa Bang?" tanya Amir seraya menahan lengan Aiswa agar tak meninggalkannya.
"Dokter Rayyan, dengan Ibunya ternyata. Mang Sapri nih, pasangan suami istri dari hongkong apa ya? masa ga lihat jomplang gitu... mana mungkin orang ganteng ko sama ibu-ibu setengah tua," kekeh Alex hingga bahunya berguncang.
"Mang Sapri ada-ada aja," Amir jadi ikut tertawa.
"Bii, aku mau masuk, banyak nyamuk," keluh Aiswa menyadarkan kedua pria yang asik berbincang.
"Masuk sayang, gih duluan."
"Ish, kan daritadi aku mau masuk, tapi ini nih nih nih...." sungutnya kesal pada Amir yang masih mencekal jemarinya.
Inginnya Amir pun masuk kedalam rumah bersama, namun apalah daya Nyonya nampak telah kesal. Ia membiarkan Aiswa sejenak.
"Maaf, maaf, gih masuk duluan ... kayaknya Rayyan keluar ya," Amir melihat Rayyan duduk di teras paviliun samping rumahnya.
"Temui dulu, Den Mas," saran Alex.
"Biiiiiiiiiiiiii...." Aiswa berseru dari teras depan.
"Ya ampun, Bang maaf yaa. Aku nemuin tamu besok lagi deh. Nyonya ngamuk," Amir berlalu mengejar Aiswa.
"Mas...." Rayyan menyapa kala melihat kawannya itu telah kembali.
"Dokter, assalamu'alaikum. Sudah lama?" Amir menyalami Rayyan, menghampiri ke teras paviliun.
"Dua kali kesini, tadi mau nyari hotel cuma kata Mang siapa tadi ya, disini sudah disediakan kamar ... jadi keluar lagi, ngajak Mama keliling kota ngabisin jatah charter mobil juga ... aku ada perlu, besok lagi deh ya," jelas Rayyan.
"Disini aja, ga usah ke hotel. Iya deh, besok lagi. Aeyza juga ngambek ... sudah makan belum? aku siapkan?"
"Sudah banyak Mas, didalam itu makanan, buah, minuman. Sudah mirip hotel ya pelayanannya, mantep bener. Mama juga bilang orang sini ramah meski gak ada tuan rumahnya, terimakasih banyak. Aku mau lihat yang kerja boleh?"
"Dimaafin yaa kalau kurang ini itu, besok breakfast didalam ya Dok, ajak Mama ... monggo silakan, tapi maaf aku ga bisa nemenin," ujar Amir mempersilahkan Rayyan berkeliling kediamannya.
"Bang...." Amir memanggil Alex yang masih berdiri dekat gudang.
"Nevermind, thanks ya Mas. Selamat istirahat," ucap Rayyan.
Alex menghampiri tuan mudanya setengah berlari.
"Bang tolong temani Dokter Rayyan yaa, besok breakfast nya di dalam," pinta Amir saat Alex telah disampingnya.
"Ok Den Mas."
"Nggih, sama-sama ... selamat istrahat, semoga nyaman ya Dokter, sementara ditemani Bang Alex," Amir lalu pamit masuk ke dalam rumah meninggalkan Rayyan dengan Alex.
Amir hendak masuk ke kamar, namun pintunya dikunci.
"Sayang, buka donk. Gak boleh ngambekan, nanti adek persis aku loh. Padahal aku kan, pengennya dia mirip kamu," Amir mengetuk pintu kamarnya pelan, membujuk Aiswa agar membukanya.
__ADS_1
"Sana Biii, pacaran aja sama Bang Alex atau Rayyan sekalian," serunya dari balik kamar.
"Astaghfirullah, Aiswa." Amir tertawa, lalu ia mengambil kunci cadangan dari laci lemari kitab milik Abah.
"Rohi, kuncinya dicabut ga?"
"Kenapa?"
"Aku mau ngambil kunci lewat jendela atas, nih pakai galah." Amir sengaja mengetukkan sesuatu hingga menimbulkan bunyi.
Aiswa yang kesal, justru mencabut kunci dari daun pintu. Umpan Amir berhasil, agar ketika kunci dicabut dari dalam, ia bisa memasukkannya dari luar.
"Gak akan bisa, kuncinya aku ambil," serunya lagi.
Amir lalu memasukkan kunci cadangan dalam lubang kunci dan membukanya.
"Loh, ko Qolbi bisa masuk sih?" sungut Aiswa heran bercampur sebal.
"Bisa donk, kan istriku cerdas," ingin tertawa tapi ditahan.
Aiswa menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya.
"Umma, gak boleh ngambekan. Tuan rumah, jika orang beriman wajib memuliakan tamu, kata imam Bukhari. Tamu datang membawa rezeki dan dihapuskan dosa penghuni rumah, ini juga hadish abu Syeikh ... satu lagi, yang paling utama memuliakan tamu itu akan masuknya rahmat dan berkah Allah ... pahalanya jika menjamu mereka, setiap suapan makanan ditulis seperti ganjarannya haji dan umroh, kata Ibnu Abbas sesuai sabda Rosulullah," bisiknya seraya mendekap Aiswa.
Aiswa masih bergeming.
"Masa aku nyuekin tamu sih sayang, adek harus mulai dikenalkan kebiasaan baik seperti ini dari sejak dia tumbuh, meski belum ditiupkan ruh ... Umma lupa ya? maafin aku ya kalau salah tadi nahan kamu sampai di gigitin nyamuk. Sini, mana aku mau lihat, beraninya nyamuk gigitin kulit istriku yang mulus," Amir masih membujuk pelan Aiswa.
"Bii," lirihnya.
"Aku ngambekan ya Bii?" Aiswa membuka selimutnya.
"Enggak, Gak salah."
"Bohong, dosa loh Bii," ujar Aiswa lagi.
Ujian nih, serba salah. Pertanyaan menjebak.
"Istriku tidak pernah salah, aku saja yang gak paham, gak bisa dengan benar memahaminya, maaf ya sayang."
"He em, dimaafin tapi jangan deket aku tidurnya, sana ujung ya," ujar Aiswa kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Hah?" Kan, sabar sabar.
Ku kira dari kemarin senewen cuma karena manja, gak tahunya kudu latihan sabar.
...**...
Keesokan pagi, jelang sarapan.
"Biiiiiiii," Aiswa mulai mencari puzzle kesabaran milik Amir.
"Iya sayang, Umma ngaji dulu kalau pagi. Sini, biar setannya ilang." Amir menariknya dalam pangkuan, menciumi pipi Aiswa gemas seraya melantunkan ayat suci.
"Bii."
__ADS_1
"Iya sayang," jawabnya disela mengaji.
"Bii."
"Apa sih, ngaji dulu, bentar habiskan satu surat. "
"Bii."
"Ish gemes, apa sih?" Ia kembali menciumi semua bagian wajah istrinya hingga Aiswa merasa geli.
"Udah Bii, udah, iya aku diem."
"Jadi manggil cuma mau gitu?"
"Iya."
"Astaghfirullah Rohi, kamu bikin naikin mood aku, sempet kayaknya sebelum sarapan, yuk." Bisik Amir kemudian.
"Yuk," Aiswa mengecup bibir suaminya lembut.
"Bumil gampang mood ya sekarang?"
Tok. Tok.
"Den Mas, sarapan sudah siap." Suara Joanna.
"Bii, lepas, lepas, lepaaaaassss," serunya mendorong wajah Amir yang masih menciumi tengkuknya.
"Apa sih, sarapan kamu dulu lah."
"Dokter Rayyan, sama Ibunya udah nunggu."
"Eh iya, lupa ada tamu. Rapikan pakaianmu sayang, kita keluar setelah kamu siap," ujar Amir seraya menarik lengan Aiswa agar bangkit.
Ia lalu mengambil kaus kaki diatas ranjang, memakaikannya pada kaki Aiswa lalu meraih sandal rumah warna ungu tua untuk dipakai istrinya itu.
Keduanya keluar kamar, menyapa tamunya. Mama Rayyan takjub akan sosok Aiswa yang duduk dihadapannya. Juga karena disuguhi pemandangan romantis kedua tuan rumah yang saling menyuapkan makanan meski didepan tamunya.
"Mas, aku ajak Mama kesini, sekalian jalan-jalan. Sepertinya aku akan pindah ke Indonesia dan sedang mencari tempat tinggal yang cocok," ujar dokter Rayyan membuka obrolan pagi di meja makan.
"Biasanya jika pindah suka diberikan rekomendasi oleh rumah sakit asal Dok?"
"Ada sih, RSPP dan Hudamas," imbuh Rayyan lagi.
"Rumah sakit elite bertaraf internasional yang paling keren di Indonesia ya itu selain milik Hermana Arya," ujar Amir kagum.
"Niatan Rayyan sekalian biar istrinya ikut dia atau Mama, Nak Amir," Mama Rini menimpali.
"Siapa calonnya? orang Jawa?" tanya Aiswa.
"Dia...."
.
.
__ADS_1
...___________________________...