DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 69. SESAL


__ADS_3

Kyai Maksum ragu apakah ia pantas melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan itu. Nyalinya makin menciut ketika arah pandangnya bertemu dengan tatapan sinis Nyai Maryam.


Glek.


" Yai, kita bicara di luar saja yaa, lepas ini, " pintanya memohon dan diangguki oleh sahabat sekaligus besannya itu.


Kyai Maksum berdiri di depan ranjang Aiswa, tak tega melihat menantunya terbujur lemah dengan segala alat medis yang tak semua dia tahu apa namanya, menempel di semua bagian tubuhnya. Mulai dari ventilator, infus, alat deteksi jantung, jemarinya juga terlihat di jepit sesuatu. Pandangannya beralih pada lilitan kasa putih dikepala gadis itu yang tertutupi pashmina meski tak sempurna menyembunyikan luka.


" Sedemikian parah, Yai? " bisiknya.


" Iya, koma menjelang empat hari. " Hariri salim menundukkan kepalanya tak kuasa menghalau matanya yang mulai terasa panas dan berkabut.


" Bismillah.... " Yai Maksum memanjatkan doa nya, panjang, hingga mengundang duka menghampiri.


" Sehat lagi ya Nduk, in sya Allah, Gusti Allah paringi bagja, kesenangan, afiat fii thoatillah wa rosul, aamiin. "


" Allahumma aamiin, " lirih umma menjawab doa, meski sesak menghimpit dan rasa gatal dimulut hendak memaki lelaki sahabat suaminya itu, sekuat tenaga dia tahan.


" Mari kita bicara, Yai. "


" Maryam, aku tinggal sebentar ... Hasbi juga sedang kemari, " ujarnya.


Umma hanya mengangguk samar, ia masih menghormati suaminya meski sudah banyak menahan rasa. Mau bagaimana lagi, dirinya tak mungkin meninggalkannya disaat usia mereka telah senja.


Cafetaria Hermana Hospitals.


Setelah kedua pria paruh baya memilih tempat diujung agar sedikit lebih lengang, Yai Maksum pun mulai mengutarakan maksudnya.


" Ana harus menyampaikan kabar kurang mengenakkan mengenai pernikahan mereka berdua, Yai. "

__ADS_1


" Pernikahan siapa? Aiswa dan Hasbi? "


" Nggih, betul ... ana ga tahu ini saat yang tepat atau bukan tapi rasanya memang harus segera disampaikan, ridho tidaknya Yai terhadap kami nanti monggo ana menyerahkan segalanya karena memang ini kesalahan dari pihak ana sejak awal. "


" Ana semakin tidak paham Yai, langsung saja ini ada apa? "


Kyai Maksum menarik nafas panjang.


" Bismillah, sebelum menikah dengan Aiswa ternyata Hasbi telah menikah siri dengan seorang gadis di Singapura saat dirinya melakukan percobaan bunuh diri akibat khitbah dan cintanya yang ditolak Naya, adiknya Amirzain santri antum yang juga sahabat Hasbi. "


" Gadis ini satu almamater dengan Hasbi, dia juga entahlah intinya Hasbi dinikahkan dengannya karena takut akan zina ... ana tidak tahu, apalagi membenarkan kelakuan Hasbi namun ana juga tidak bisa memaksa mereka berpisah sebab istri siri Hasbi tengah mengandung ... ampun Yai, ana malu. "


" Astaghfirullah, laa haula wala quwwata illa billah ... jadi bagaimana? " Hariri salim meraup wajah kasar, ingin marah namun apalah daya semua sudah terjadi.


" Kuncinya ada pada Hasbi, Aiswa sedang dalam kondisi seperti ini ... apabila dia tidak ikhlas dan redho pada putriku yang tidak bisa melayani dia dengan baik dalam jangka waktu yang di berikan atau selama dia sanggup menahan diri, silakan diambil keputusan terbaik, ana tidak akan ikut campur lagi Yai, " sambungnya putus asa.


Bukan tanpa alasan Hariri salim memberikan pernyataan demikian. Posisi Aiswa memang sudah telak tersudut, Hasbi punya seseorang yang bisa memenuhi segala hajat jasmani dan rohaninya terlebih tengah menantikan buah hati.


" Bi, Hasbi.... "


Hasbi melihat ayah dan mertuanya disudut cafetaria, ia tahu pembahasan apa yang akan diutarakan disana.


Setelah menyalami kedua orang tuanya, Hasbi duduk dihadapan mereka.


" Langsung saja Nak Hasbi, Buya kira kamu sudah tahu duduk perkaranya, " Hariri salim membuka suara.


" Aku masih ingin bersama Aiswa meski dia tidak, karena hatinya bukan milikku dan aku tak pernah diizinkan masuk kedalamnya, " ungkapnya.


" Lalu, langkah apa yang ingin kamu ambil, keduanya membutuhkanmu Hasbi, " ujar mertuanya cemas.

__ADS_1


Hening. Hasbi nampak berpikir.


" Aku akan tetap merawat Aiswa hingga dia sadar. "


" Hasbi! " Yai Maksum tak suka.


" Aiswa tidak dapat melakukan kewajibannya Nak, apa kamu redho? " tanya Hariri salim lagi.


" Bi, jangan kamu siksa Aiswa bila memang kamu tak bisa menjamin kebahagiaan untuknya, " tegur sang Ayah.


" Buya, aku.... "


" Hentikan Hasbi, hasad akan membunuh adabmu ... Amir sudah menikah, meskipun Aiswa tak dapat bersamanya, semoga kelak Allah datangkan jodoh terbaik kembali. "


" Yai ... Aiswa bukan piala bergilir, ngapunten. " Ia tersinggung.


" Bukan gitu maksud ana, Hasbi yang salah ... tidak ada alasan kuat baginya untuk Aiswa, Yai ... ana hanya ingin Aiswa bisa meraih bahagia... semua ini salahmu, memang salahmu! " Yai Maksum kembali memukuli anaknya.


" Sudah sudah, istikharah saja Hasbi ... Buya tunggu keputusanmu ... punten, ana permisi duluan ya Yai, " Hariri salim pamit bangkit berdiri.


" Tafadhol, syukron jiddan ya Akhi, " balasnya ikut bangkit.


Hariri salim keluar dari cafetaria, netranya memindai cepat dimana arah toilet berada. Setelah menemukan yang dia cari, bergegas langkah menuju tempat itu.


Dirinya lalu masuk ke salah satu bilik, menangis, iya, Kyai yang masyhur akan kedisiplinan dan ketegasannya itu menangisi keegoisannya dulu. Karenanya, Aiswa menanggung luka.


" Maafkan Buya Ais, maafkan Buya, aku menyesal ya Robb, berikan yang terbaik bagi anakku ... bila Engkau ingin mengambilnya, segeralah, jangan siksa dia terlalu lama ... ampuni segala dosanya ... dan aku telah redho atas Aiswa Fajri bintu Hariri Salim, bersaksi bahwa dia putriku yang shalihah.... "


.

__ADS_1


.


..._____________________________...


__ADS_2