
Setelah kepergian pasangan penuh cinta itu dari kamarnya. Hasbi merenung, memejamkan netra yang panas. Dia selama ini menahan tak mendekati Naya namun langkah lambatnya malah memberikan peluang pria itu masuk dalam relung hati gadis impiannya.
Bukan sekedar pujaan hati, Ainnaya Misbach Shaki adalah gadis impian untuk masa depan yang sudah ia tata sedemikian rupa, putri seorang alim sahabat Abuyanya, yang tak pernah mengizinkan lelaki manapun mendekat, kecuali dirinya.
Aku bahkan sudah kalah sejak awal sebelum berjuang.
"Ainnaya, aku tak mampu melupakanmu tapi aku sanggup melepaskanmu."
"Mas, merasa jauh lebih baik? maafkan aku ya, membawa mereka ke sini. Ku rasa memang kita tak akan pernah bisa keluar dari circle mereka," lirih Serli duduk di sisi brangkar sang suami.
"Iya, lebih lega. Aku tahu, cinta Naya memang hanya untuk Mahendra. Bahkan aku tak akan pernah bisa menggantikan sosok pria itu dari hatinya meski ia telah tiada," Hasbi kali ini menyadari betapa besar kekuatan cinta yang Mahen miliki untuk istrinya.
"Kita mulai hidup baru ya, maafkan semua kesalahanku di masa lalu hingga membuatmu seperti ini," Serli tertunduk menyesal.
"Lupakan sayang, kamu satu-satunya yang ku miliki saat itu, kini dan nanti ... tetaplah bersamaku hingga aku benar-benar mampu untuk berdiri, dan berjalanlah di sampingku agar kau melihatku bangkit lagi, karenamu." Hasbi menggenggam jemari Serli erat. Keduanya lalu berpelukan meleburkan rasa. Semua yang berat dan pahit berhasil di lewati. Saatnya menata hidup baru.
...***...
Satu pekan kemudian, siang hari.
Aiswa masih dalam pelukan Amir saat suaminya itu hendak mengabarkan pada keluarga Kusuma mengenai rencana lamaran Ahmad lusa nanti.
Amir menambahkan Uyut Wardhani, dalam grup Kusuma garis keturunan Danarhadi.
"Bii, Gamal kan harusnya ga masuk Uyut Danarhadi donk, kenapa ada di situ?" tanya Aiswa heran.
"Dia penyusup, memohon sampe telpon pada Abah dan Uyut minta masuk ke grup keluarga kita," ucap Amir.
"Haha segitunya Gamal ya."
"Grup Wardhani senyap ujarnya, cuma ada Arjuna kakaknya Qiyya, Abi, Mama, tante Wilona, Uyut Wardhani dengan siapa gitu aku gak hafal," jelas Amir seraya menciumi rambut Aiswa yang wangi strawberry.
"Ini ko bisa wangi gini sih sayang, enak gitu, kayak strawberry fresh nya, lembut lagi," tanya Amir pada Aiswa seraya menyapa anggota baru.
"Aku kan hair mask, semua wanginya sama ya jadi gini deh." Aiswa menguap.
"Assalamu'alaikum Uyut Wardhani, aku masukkin ke sini sementara ya sebagai perwakilan keluarga besar Kusuma Wardhani agar aku ga bolak balik menyampaikan berita." Tulis Amir men-tag Uyut.
"Wa'alaikumussalam, Nggih Mas, ndak apa," balas Wardhani pada Amir.
"Wa'alaikumussalam. Mir, ga salah? Adudu dan boboy boy gak bisa bersatu. Jangan sampai Negara Api menyerang," kelakar Gamal.
"Seharusnya jika Adudu dan Boboy boy, bukan Negara Api atuh. Tapi Papa Zola," balas Abyan pada Gamal.
"Mulai deh mulai...." Imbuh Amir.
"Hadir, aku belum ketinggalan kan? Siapa Adudu siapa Boboy boy?" tanya Naya pada Gamal.
"Boboy boy, yaa Uyut D dan Adudu Uyut W," gelaknya mengirimkan stiker tertawa.
"Gamal." Abah tag Gamal.
__ADS_1
"Canda Beh, canda....."
"Negara Api menyerang...." Danarhadi menimpali.
"Ah ga seru, Uyut gak manjat. Kan tadi Gamal bilang uyut tuh Boboy Boy," Abyan membalas uyut.
"Uyut udah lama gak manjat Mas, wajar kalau salah," Danarhadi membalas.
"Jadi Uyut kangen manjat nih?" tanya Gamal seraya mengirimkan stiker uler ndlosor.
"Keeekk! malah diladenin." Abah tag Danarhadi.
Aiswa yang hendak tidur, justru tertawa melihat grup chat Kusuma.
"Astaghfirullah begini isinya?" tanya Aiswa.
"Gesrek semua sayang, jangan di masukkan hati ya jika ada sindiran dan semacamnya," ungkap Amir.
"Seru, Bii." Aiswa batal tidur.
"Mal, Uyut jewer kamu ya. Ngapain ada disini?" Wardhani tag Gamal.
"Nah loh...." Abyan membalas.
"Rasain...." Tulis Naya.
"Sukurin ... penyusup," sindir Amir.
"Tegangan tinggi gimana?" Wardhani tag Danarhadi.
"Dia suka nyerempedin Amir noh yang penganten baru, kan aku gak ada lawan," keluh Danarhadi asal.
"Hahahaha, ada yang tegak namun bukan keadilan," Abyan membalas.
"Kakak!" tegur Abah pada Abyan.
"Ada yang naik tapi bukan tensi," sambung Naya.
"Nduk, mulai nakal kamu ya," Abah menegur Naya.
"Beh, Babeh gitu gak?" tanya Gamal pada Abah.
Ketiga anak Abah mengirimkan stiker tertawa, begitupun kedua sepuh mereka.
"Para jomblo ngumpul disini ya," imbuh Amir.
"Ciye, yang udah gak jomblo dua kali," ejek Abyan.
"Iya donk, perkasa. Kapan nyusul, eh," balas Amir telak pada Abyan.
"Wah curang Mir, gue ga bisa jawab, Bu satpam nongol bahaya," tulis Abyan.
__ADS_1
"Kenyataan apa obat puyer Kak? pait bener," balas gamal mentertawakan Abyan.
"Haha, skakmat Kak," Naya dan mahen menimpali.
"Astaghfirullah Bii," Aiswa makin tertawa dibuatnya.
"Udah greng, meski gak pake anu-anu ya Mas," Wardhani nimbrung.
"Anu apa Yut?" tanya Amir pada Wardhani.
"Itu yang bisa geter," ujarnya membalas Amir.
"Kek, emang masih pada bisa?" akhirnya Abah ikutan.
"Ha ha ha ha ha ha."
Seketika grup riuh akan kepolosan sesepuh mereka. Memang benar, semua akan kembali pada fitrahnya jika memasuki usia senja.
"Udah aah, ngaco semua ... aku mau nyampein pesan dari Abuya Hariri salim yang mengundang keluarga Kusuma datang di acara lamaran Ahmad Hariri, lusa nanti jam sepuluh pagi di Jakarta." Amir menyampaikan maksudnya.
"Mas, yang aku bilang semalam itu jangan lupa ya," Amir tag Mahen.
"Sip Kak, done," jawab Mahen.
"Seragam udah aku siapin ya, kedua Uyut, tinggal datang aja. Yang akur yaa kalau mau berangkat, kabari Naya biar disiapkan semuanya disini," sambung Naya.
"Uyut gak harus ngamplop kan?"
"Ckck malu-maluin aja sih uyut gue, jangan kek orang kismin donk Yut," cebik Gamal.
"Itu sih bebas, asal jangan lupa pakai baju," tegur Danarhadi pada sepupunya.
Setelah perdebatan panjang yang menguras tenaga karena tak henti tertawa akhirnya tugas Amir selesai sudah.
Masih dengan Aiswa dalam pelukan. Ia lalu menyampaikan pada Ahmad bahwa rencana telah disiapkan, semoga tak mengecewakan dengan hasilnya nanti. Naya dipercaya untuk membuat segala sesuatunya sempurna.
"Kak Naya itu kreatif ya Bii, ada aja idenya."
"Naya dulu kerja di visual sayang, memang otaknya di asah untuk menelurkan ide-ide segar. Selama ini dia belum pernah gagal di mataku jika diminta untuk menyiapkan segala sesuatu," terang Amir.
"Pantesan web Quenny cantik banget tampilannya, di dukung Mas Panji pula ya," sambung Aiswa.
"Dan kita yang ngisi web nya dengan hasil rancangan kamu, sinkron kan? semua punya peran," Amir ikut mengantuk.
"Sekarang fokus dengan rencana Kakak dulu Bii, semoga lancar," lirih Aiswa.
"Aku fokus padamu, anak kita," bisik Amir menyusul Aiswa memejam.
.
.
__ADS_1
...________________________...