
Bear ... Bear, doakan aku....
Bear, maaf jika aku tak sampai padamu. Doakan ragaku nanti ya Bear, semoga kau mendapat penggantiku yang lebih baik. Tegarlah, kuatlah, dan lekas bangkit kembali ya sayang.
Maafkan aku... sungguh, aku mencintaimu, My Bear.
Entah apa yang terjadi, setelah benturan keras, Dewiq hanya memejamkan matanya rapat. Tak berani melihat sekitar. Genggaman tangan Mama Rosalie tak ia lepaskan seraya hati terus mengingat Robb nya. Sungguh kematian begitu dekat dengannya saat ini.
...***...
Mansion, pukul sembilan lewat tiga puluh menit.
Ahmad dan Hariri salim di tarik oleh Hermana Arya masuk ke ruang kerja. Beliau menjelaskan bahwa pesawat yang ditumpangi oleh anak dan istrinya belum sampai sejak tiga jam lalu.
"Theo sedang mencari tahu, semoga baik saja. Jangan khawatir Mas," ucapnya pada Ahmad.
"Pa, jikalau pun hingga waktu yang ditentukan Marsha belum datang, izinkan aku tetap melangsungkan akad nikah ya. Perkara lain nyusul," ujar Ahmad yakin.
"Kak, apa niatanmu?"
"Maaf Buya, Pa... aku mengambil resiko terburuk. Jika Marsha dan Mama datang selamat, aku akan sukacita menyambutnya pertama kali sebagai suaminya ... namun bila situasi sebaliknya, Marsha terluka atau pun kondisi terburuk...." Ahmad menjeda, tak kuasa melanjutkan.
Matanya memejam, suaranya tercekat. Ia menarik nafas dalam, susah payah mengatur intonasi kata yang terucap agar tak berubah makna.
Bibir Ahmad bergetar, perlahan dia melanjutkan kalimatnya.
"Jika kondisi terburuk, dan aku harus mencarinya nanti. Statusku saat ini adalah telah sah menjadi mahramnya sehingga aku leluasa karena dia istriku dan tanggung jawab ku, Buya, Pa ... tolong izinkan aku," suara parau itu akhirnya pecah.
Ahmad menunduk, meloloskan satu bulir bening hasil kerja kelenjar raklimal dari matanya.
"Allah, Kheir ya Allah ... kheir, doa yang baik, Kak," Buya menepuk bahu anaknya. Memeluk tubuh tegap bagai dirinya, dari samping.
"Papa izinkan, terserah Buya berarti...."
"Aku izinkan, jika Ahmad bersikukuh dan ingin menjaga Dewiq bagaimanapun kondisinya nanti ... kita memang pasrah pada ilahi robbi ... sholat kak, jika ingin tenang," ucap Buya.
Ahmad pun mengikuti perintah ayahnya. Dia khusyu melakukan sholat sunnah di kamar Dewiq.
Hatinya sangat tidak tenang. Bayangan kejadian buruk menghantuinya. Ia menyesal telah menahan komunikasi dengan belahan jiwanya itu. Ahmad menangis.
"Astaghfirullah, ampuni aku. Semua akan kembali padamu ya Robb ... aku hanya menyesal kenapa mengikuti ego satu pekan lalu ... jika ... jika saja Engkau sudi memberiku kesempatan untuk kembali bertemu dengannya lagi, izinkan aku mengatakan seribu kata bahwa aku sangat mencintainya," lirihnya disela isakan.
"Namun jika menurutmu yang terbaik aku tak lagi mendengar jawaban dari mulutnya, kembalikan dia utuh padaku ya Robb agar aku bisa memeluknya sebelum aku mengembalikan padaMu," gumamnya lagi.
Ahmad tak keluar dari kamar, berkali ia melakukan hal yang sama, berwudhu dan sholat, sesekali mengaji hingga ketukan di pintu membuyarkan apa yang ia kerjakan.
"Mad, tegar ya. Ayo, akad dulu. Penghulunya sudah mau pamit ke lokasi lain," ujar Amir dari balik pintu.
Ahmad, kuatlah, berdoalah semoga Dewiq dan Mama baik saja.
Amir mengetahui kabar ini dari Mahen yang mengirimkan pesan padanya. Ia berusaha membujuk Ahmad sedari tadi, namun lelaki itu tetap bergeming. Amir tahu, kondisi hatinya sedang tidak baik.
__ADS_1
Ahmad keluar dari kamar. Ia memeluk sahabat sekaligus adik iparnya itu erat. Memohon dukungan moril dari pemilik suara merdu itu.
"Mir, doakan aku. Ayo, kamu aja yang ngaji biar kalbuku tenang," Ahmad meminta Amir untuk melantunkan kalam Allah sebelum khutbatul hajat.
"Bismillah ya akhi, kheir insya Allah...." balas Amir masih memeluk sahabatnya.
...***...
Sementara di Bandara.
Theo mencari tahu perihal delay peswat majikannya. Ia pun bergabung dengan puluhan keluarga yang panik mendatangi sekretariat Bandara.
Kriing. Ponsel Theo berbunyi.
"Halo," jawabnya.
"Oh Tuan Mahen, baik. Aku akan koordinasi dengannya tanpa Mba Naya tahu," ucap Theo.
Sang Aspri menerima panggilan dari Mahendra yang akan mengirimkan orangnya untuk membantu. Baru saja ia menutup ponsel, seorang pria menghampirinya.
"Anda Theo?" suara seorang pria menghampiri asisten Hermana Arya.
"Benar, Captain Shadow ternyata yang turun langsung, pantas beliau bilang jangan sampai istrinya tahu," ujar Theo mengulurkan tangan pada Rey.
"Ikut aku," ajak Rey menuju lift.
"What, jangan bilang hendak ke rooftop?" tanya Theo saat melihat Rey menuju lantai atas dengan lift.
"Hey, kau! ... aku bukan lamban, hanya tak membawa peralatan," kilahnya.
"Agent elite harus siap di segala kondisi, apa gunanya kamu jika tak bisa melindungi majikanmu?" Rey mencibir.
Glek. Pukulan telak bagi Theo.
"Apa yang akan kau lakukan, Captain Reynan Lee yang mashur?"
"Lihat saja nanti, aku butuh kamu clearkan jalur. Jangan katakan bahwa ilegal, kamu tahu apa yang harus dilakukan agar semua legal bukan?" sindir Rey lagi.
"Fu-ckk, jika saja sedang tidak dalam misi, aku tantang kau!" hardik Theo.
"Setelah ini, kita battle boleh," balas Rey enteng.
Ting. Lift terbuka dan mereka melanjutkan menaiki tangga menuju rooftop.
Tanpa banyak kata, Rey membuka laptopnya. Memasang earphone dan alat lainnya. Begitu cepat hingga membuat Theo kagum sekaligus keteteran mengikutinya.
"Ready? Pras on position aktif, GO...." Rey membagi instruksi pada Pras, anak buahnya.
"Kau, amankan jalur in ... one, two start...." ucap Rey memberikan aba-aba pada Theo.
Klik.
__ADS_1
Seketika layar tampilan di laptop Rey berubah, ia menelusuri jejak signal pesawat dan menyadap gelombang suara milik ATC (air traffic controller atau stasiun kontrol tower Bandara).
"Oh God, ya ampun, landing membentur permukaan laut," Rey melepas earphonenya sejenak. Tak kuasa mendengar lebih lanjut, tangannya gemetar.
Ia menyalakan rokok, menghisapnya dalam satu tarikan dalam lalu melepaskan, menetralisir rasa bahwa di satu tempat, Ahmad sedang melafalkan ijab namun di tempat lain, nasib calon istrinya belum jelas.
"Tuan Rey, kenapa ini? ada apa?" Theo panik, ia memasang earphone lalu melakukan hal yang sama seperti Rey.
"Astaga, Nona, Nyonya, Tuan," lirih Theo.
"Halo, Bos, gotcha. Aku mengirim sesuatu di e-mail Anda dan menunggu instruksi selanjutnya," Rey melaporkan pada Mahen, setelah ia memastikan segalanya.
...***...
Mansion.
Amir baru saja selesai mengaji, dan kini acara akan dilanjutkan dengan prosesi ijab kabul.
Tamu Hermana Arya yang hadir kebanyakan dari kalangan ekspatriat jadi Ahmad akan menggunakan bahasa Inggris untuk melafalkan ijabnya.
Penghulu mempersilahkan Hermana Arya menjabat tangan Ahmad.
“Asyhadu ala ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rosulullah."
"Mr. Ahmad Hariri son of Hariri salim. I marry off and I wed off my real daughter Dewiq Arzu Hermana to you with the dowry 1.111.111 in cash," ucap Hermana Arya.
"I accept her marriage and wedding Dewiq Arzu Hermana daughter of Mr. Hermana Arya with the dowry mentioned above, in cash," jawab Ahmad lancar dalam satu tarikan nafas.
"Alhamdulillah ... sah ... sah ..." riuh hadirin.
Amir, Buya, Umma mengamini semua doa yang dibacakan oleh kawan Hariri salim setelah akad nikah berlangsung. Hati mereka gerimis memikirkan nasib pengantin yang masih menggantung.
Sementara Naya kembali sibuk melanjutkan tugasnya memantau team di lapangan dan di Mansion.
Mahen berkali mendekap istrinya erat.
"Sayang, rencana kamu sempurna semoga bisa terlaksana...."
"Abang, tahu sesuatu kan? jangan katakan padaku, jangan...." Naya sudah berkaca-kaca.
"Jangan sampai dia tahu dulu ... love you sayang, Ainnaya," bisik Mahen seraya mendekap Naya dan Maira yang tertidur di pelukannya.
Akan kuucapkan selalu, tanpa bosan beribu kata bahwa aku mencintaimu Ainnaya, karena aku tak ingin menyesal.
.
.
...________________________...
...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ nangis sendirian aja lah... ...
__ADS_1