
Amir membangunkan Gamal untuk sholat subuh setelah dirinya pulang dari masjid Multazam. Sementara menunggu Gamal membersihkan diri, ia memuroja'ah hafalannya lagi.
" Mir, kamu hafiz sekarang? " tanya Gamal saat baru saja keluar hammam dan ia mendapati sahabatnya memegang mushaf yang tertutup namun mulutnya lancar melantunkan ayat suci Al-Quran.
" Sedang berusaha, " jawabnya singkat.
" Keren, pantas milih jodoh udah kayak pilihan ErTe, selektif. "
" Jika mengikuti caranya Rosulullah, dalam hadist Muslim disebutkan bahwa wanita biasanya dinikahi karena empat hal : karena hartanya, karena kedudukan/nasabnya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi. Allah juga berfirman dalam al baqoroh ayat 221. "
" Beuh, Pak Ustadz tausiah ... berarti betul donk, keinginan Mama dan pilihanku. "
" In sya Allah. "
" Pak Ustadz, curhat donk.... " godanya lagi.
" Curhat aja sama tipi noh ... mah, curhat donk ... aku muroja'ah dulu kejap yeuh. " Amir lalu memakai earphone demi agar Gamal tak mengganggunya sementara waktu.
" Alma sayang, kamu lagi apa yaa? Mir, lihat dia cantik kan ... Mir.... " tak habis akal sahabatnya menggoda dengan memperlihatkan foto Almahyra.
" Mal, buru sholat sana ... dia bukan seleraku. "
" Ya kali mie instan, se le ra kuuuuu. " tirunya mengikuti nada iklan televisi.
Hingga beberapa menit kemudian Gamal masih saja terus berusaha mengganggu, baginya bisa bertemu Amir kembali merupakan suatu kebahagiaan.
Amir menyerah, ia keluar kamar diiringi gelak tawa Gamal yang berhasil membuatnya dongkol.
Sorry Mal, Aiswa masih jadi Ratu di hatiku.
Di Indonesia dirinya tak mengenal sesiapa, jadi wajar bila ia ingin bernostalgia untuk melepas rindu setelah bertahun lamanya tak pernah bersua.
Setelah sarapan Gamal memutuskan pulang sementara Amir kembali masuk kedalam kamarnya menunggu kakaknya pergi. Ia bermaksud meminta saran pada Qonita apakah dirinya melanjutkan mengajar di Al Islah atau meminta izin berhenti.
Karena bila ada Abyan, pastilah Mba nya itu lebih memilih diam sedangkan saran darinya terkadang tidak mutu, pikir Amir.
Saat rumah telah sunyi, Amir mencari kakak iparnya. Biasanya jika ada Amir di rumah meski ia berdiam didalam kamar, Qonita menepi ke paviliun dengan santri yang menemaninya juga Fatima.
" Mba, mau ada majlis ya? " cegahnya ketika keluar dari kamar dan melihat Qonita membawa sebuah kitab ditemani oleh santri yang biasa membantu di rumah saat akan menuju paviliun samping rumahnya.
__ADS_1
" Belum, jam sepuluh nanti setelah kakakmu kembali tapi hanya sebentar ke Al Islah. "
" Kebetulan, aku mau minta saran. "
" Saran? tentang apa Mir? " ia mengalihkan langkahnya dan duduk diruang keluarga.
" Mengajar, Alma dan uyut... aku menghindari Almahyra sebab Gamal, namun kewajibanku masih satu bulan lagi dan aku nampaknya harus segera menemui uyut di Solo. "
" Jika ingin menuntaskan, yaa harus tuntas karena kamu sudah janji ... tentang Alma, sampaikan saja maksudmu menjaga jarak karena Gamal sahabat kecilmu dan kamu tidak mau dia salah paham terlebih kamu baru saja mengalami hal serupa ... kamu sudah telpon kan? beri perhatian ekstra Mir, satu jam sekali mungkin kamu bisa telpon uyut, kirim sesuatu untuk beliau atau apapun kesukaannya. Uyut kangen banget sama kamu ya. "
" Ke Naya juga gitu, lagi kangen sama cicitnya kali ... oiya Mba, mitos itu apa sih? "
" Aku ga berani bilang Mir, 'amm saja ga membukanya denganmu kan? sudahlah biarkan saja, kita do'akan untuk kebaikan mereka. "
" Kata ka Abyan berkaitan dengan nyawa ka, please, Gamal apakah akan baik saja? "
Hening.
Qonita terdiam lama, menarik nafas panjang dengan mimik wajah khawatir.
" Jika Gamal lolos, maka sumpah orang itu akan putus dan tidak ada lagi yang akan terluka. Apabila Gamal tidak, semoga Allah pertemukan jodoh selanjutnya dan beri kesempatan kembali baginya bertemu dengan orang sholih. "
" Mba, aku makin ga paham. "
" Pun meski dia ga tahu, kamu akan tetap disalahkan karena tidak memberi tahu atau mencegah ... cari aman saja, menghindar. "
" Aku juga berpikir gitu Mba, aku bicarakan dengan 'amm boleh tidak? siapa tahu ada jalan tengah lebih baik. "
" Lebih baik gitu Mir, bicarakan karena 'amm yang minta kamu pada awalnya kan. "
" Ya khayr Mba, syukron. " senyumnya terbit.
" Kamu ... pantes Alma keinget Ilyas, lah kamu persis dia. Jangan tebar pesona ya Dek, kamu diem aja udah ngundang akhwat senyum-senyum ... apalagi kalau senyum gitu, ckck pantas Aiswa cinta mati. " Qonita menggelengkan kepala seraya menahan senyum.
Rohi, kamu tuh melekat di hati semua orang yang aku sayang, semoga kamu baik-baik saja disana yaa.
" Mba, Ilyas itu samakah dengan aku? " Amir mengalihkan pembicaraan.
" Sama, hafiz dan sedang ambil S2 saat dia sakit parah. Sakit yang datang tiba-tiba setelah resmi melamar Almahyra dan setelah ... Eh, nakal ya Mir, mencoba mengecoh. "
__ADS_1
Amir hanya tertawa, rencananya gagal mengalihkan topik agar Qonita mau bercerita secara lengkap tentang mitos Almahyra.
" Sudah sana, udah siang kamu ga ngajar? "
" Mau berangkat ko ini. Mba ... terbaik emang. " Senyumnya kembali muncul hingga santri wanita yang duduk di sebelah Qonita ikut tersipu.
Terlebih saat Amir gemas karena menciumi pipi tomat merona milik keponakannya itu, semakin menaikkan kadar ketampanannya. Daddy be like karena sayang dengan anak kecil.
" Sudah sana berangkat Dek, kamu bikin hati para cewek jomblo disini kembang kempis liat senyummu itu. "
" Apa salahku? " Masih terus menciumi Fatima yang mulai mengelak karena terusik saat sedang bermain tak jauh dari Ummanya.
" Salahmu, terlalu, ah nanti ke ge-er-an. " Qonita tertawa.
" Hasilnya Abah ini Mba. Assalamu'alaikum. "
Amir tertawa, bangkit melangkah keluar kediaman kakaknya karena Qonita melempar mainan plastik milik Fatima ke arahnya.
" Ish kamu itu ... emang kudu di nikahkan segera ni bocah, " seru Qonita dan justru membuat Amir semakin tertawa lepas.
Baru kali ini adik iparnya itu bercanda dengannya.
Dia kerap melihat keakraban Amir dengan Naya dan terkadang membuat iri Abyan, suaminya yang super kaku. Interaksi dengan kedua adiknya itu lebih mirip seperti polisi yang menginterogasi atau bagai debt collector yang tengah menagih janji.
" Kamu itu memang lembut, perasa dan supel, anak Abah yang paling ramah ya kamu Mir, pantas bila orang lain mudah jatuh hati dan sayang padamu, termasuk uyut yang keras hati. Bahkan Naya waktu bertemu aku pertama kali, juteknya minta ampun. Semoga nasib cinta mu baik ya Dek, Mba berdoa selalu untuk mu, Amirzain. "
" Aamiin. " Lirih santrinya mengamini.
" Kamu naksir sama adikku? "
" Afwan Ustadzah ... man ana? " lirihnya. (siapa diriku)
" Tanya sama orang tuamu, kalau ga mengenali diri kamu. " Qonita kembali tertawa akan jawaban santrinya itu. Meski ia paham, mereka menilai dirinya tak sekufu dengan Amir. Ah, jodoh siapa tahu bukan.
.
.
...___________________...
__ADS_1
..." Qolbie laa yaro illaa habieban lahu. "...
...(Hati ini tidak akan melirik selain pada kekasihnya.)...