DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 202. MOOD WARISAN


__ADS_3

Saat tiba di Tazkiya, seperti biasanya sang pujaan hati masih berlaku manja. Hingga Umma pun menegur.


"Aish, gak ada Amir di sana, kamu adem. Giliran suamimu ada, manjanya kumat," tegur umma saat melihat anak dan menantunya bagai perang dingin, hanya diam.


"Ish, Umma," sungut Aiswa kesal dan langsung masuk ke kamar.


"Kenapa lagi, Mir?" tanya Umma saat melihat Amir membawa tas tangan Aiswa juga perlengkapan putrinya.


"Biasa, moody. Aku ke dalam dulu ya Umma," balas sang menantu.


"Untunge kamu sudah pengalaman ya Mir," umma tersenyum.


"Hmm, waktu Qiyya gak begini sih. Dia hanya diam gak banyak minta, paling ngambek kalau sudah kesal karena malam aku suka telat pulang dari majlis ... tapi kan beda-beda ya Umma, dan aku gak bandingkan keduanya," tutur Amir.


"Berarti sekarang rezekimu, sabar," balas Umma menepuk lengan Amir.


"Nggih Umma, in sya Allah sabar demi ratu ku, " sambungnya lagi seraya tersenyum, pamit membuka pintu kamar.


"Enak ya jadi Aiswa, lakinya sabar poll," lirih umma melanjutkan langkah ke luar rumah menuju pondokan putri bersama santri khidmah.


Setelah di kamar.


Aiswa hanya ganti baju, lalu merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


"Ini beneran mancing atau cuma manasin?" celoteh Amir saat meletakkan semua milik Aiswa di meja rias.


"Bii, nengok Kakak kapan?"


"Kalau kamu sudah gak cape. Ajak Dwiana juga. Sayang, aku ke Buya ya tadi di ajak majlas ke sebelah, boleh gak?" tanya Amir.


Aiswa bangkit dari ranjang, memakai abaya dan hijab panjang miliknya lalu keluar kamar tanpa melihat Amir yang masih berdiri terheran.


Karena penasaran, Amir mengikuti langkah istrinya yang ternyata menuju ruang baca ayahnya.


Tok. Tok.


Aiswa mengetuk pintu ruang baca.


"Buyaaaaaaa," panggilnya.


"Beik sayang, masuk saja Nak," jawab Hariri salim dari dalam.


Aiswa masuk mendekat pada meja kerja sang ayah, menarik nafas dalam.


"Buya, jangan ngajak suamiku kemana-mana, dia milikku. Buya gak boleh ngajak Qolbi ... pokoknya gak boleh," tegasnya langsung pada sang ayah yang tengah membaca kitab. Hariri salim terheran atas perilaku putrinya yang tiba-tiba menegur.


Amir masih berdiri di pintu kamar saat Aiswa kembali keluar dari ruang baca dan masuk ke kamar.


Brugh. Suara pintu kamar ditutup.


"Mir, Aiswa kenapa?" Buya keluar ruang baca hendak menyusul putrinya.


"Ah, itu, eem gak apa Buya ... maaf, lagi moody," jawab Amir kikuk, karena sejatinya Buya belum mengajaknya. Pernyataan tadi hanya ingin memancing reaksi Aiswa.


"Oh, persis Umma mu waktu hamil Aiswa itu begitu, moody dan maa sya Allah pokoknya. Buya kewalahan, sing sabar yo Mas e," kekeh Hariri salim masuk kembali ke ruang baca.


"Yassalam, pantesan. Nurun ini ke cucunya," Amir menggelengkan kepala.

__ADS_1


Saat ia membuka pintu kamarnya, Aiswa sudah melepas abaya dan hijab, langsung menyerang Amir dengan omelan.


"Qolbi, Qolbi bisa kan menolak kalau Buya ngajak. Alasan apa kek gitu, jangan iya iya aja. Aku mau di kemanain!" seru Aiswa.


"Sayang, gak boleh loh," Amir menghampiri Aiswa di ranjang, mengelus kepalanya sayang.


"Pokoknya aku gak mau, gak suka, titik," kesalnya memalingkan muka.


"Rohi, sini. Sore nanti, kita jalan-jalan ya, sekarang tidur dulu," Amir menarik Aiswa dalam pelukan, menghujani kepalanya dengan banyak kecupan kecil.


"Allah, nikmatnya punya Bumil manja gini, pahala mengalir. Yang sering-sering ya sayang," goda Amir saat menciumi wajah Aiswa.


"Bii."


"Hem."


"Bii."


"Iya sayang," menatap dalam manik mata.


"Enggak, cuma mau ngetest telinga aja," lirihnya tersenyum manis.


"Adek atau umma nih yang maunya begini, nempel sama aku."


"Adek," jawab Aiswa mengecupi wajah suaminya.


"Bukan Ummanya ya?"


"Bukan, tanya aja sendiri," balas Aiswa.


"Gimana caranya nanya sama Adek," bisiknya lirih mulai intens mencecapi bibir Aiswa.


"Gitu gimana sih sayang, yang jelas donk," goda Amir.


Aiswa hanya tertawa saat Amir menyusuri setiap jengkal bagian tubuhnya.


"Bii."


"Biiiii," panggilnya di sela tawa.


"Apa?"


"Jangan mandi, aku mau bobok," imbuh Aiswa mengeratkan pelukan.


"Iya," Amir menarik selimut menutup bahu Aiswa yang terbuka.


Tak lama kemudian, deru nafas halus mulai terasa.


"Secepat ini dia tidur, menaklukkan moodnya bisa satu jam lebih," gumam Amir.


Dia lalu merebahkan tubuh istrinya, mengelilingi dengan bantal agar hangat.


"Gini ya rasanya punya istri lagi ngidam tapi moody, nikmat ya Robb," bisik Amir mencium bibir Aiswa. Lalu ia beranjak mandi dan bersih-bersih sebelum menemui ayah mertuanya.


...***...


Hermana Internasional Hospital.

__ADS_1


Menjelang dini hari, Dewiq dipindahkan ke kamar perawatan yang menyatu dengan sang Bunda.


Pagi ini wanita muda yang statusnya baru berganti menjadi Nyonya Hariri, mengawali hari dalam dekapan hangat suaminya.


Ia merasakan kehangatan dan ketenangan, kemudian ingatannya kembali pada saat Ahmad memeluknya pertama kali.


"Be-ar?"


"Be-ar? Mas Ah-mad?" Dewiq mengeja karena tenggorokannya terasa kering.


Mas? dia manggil aku Mas?


"Sha, minum yaa," Ahmad meraih gelas di atas meja sisi ranjang. Mengatur sedotan agar Dewiq bisa meneguk pelan.


"Alhamdulillah, sudah subuh sayang, sholat dulu ya," bisik Ahmad ditelinga kanan Detik.


"Masih pusing dan mataku panas," keluhnya lirih.


"Sebentar aku lap dulu ya, nanti setelah makan kamu akan memulai pemeriksaan lagi sayang," balas Ahmad.


Dia turun dari brangkar istrinya, meraih kapas dan membasahi dengan air mineral dingin dari dispenser. Lalu menyeka mata sang istri satu persatu pelan.


"Bisa dibuka? masih panas gak?"


"Sedikit, aku tayamum ya Bear?"


"Aku papah aja mau ga? sekalian bersih-bersih," tawar Ahmad yang diangguki Dewiq.


Gadis cantik yang masih terlihat lemah itu perlahan membuka kedua matanya setelah beberapa saat di kompres oleh sang suami.


"Alhamdulillah," ucap Ahmad mengelus pipi Dewiq.


Keduanya saling bersitatap, menyelami kedalaman manik mata seakan mencari sebuah kejujuran akan perasaan yang menyergap sukma saat ini.


Ahmad lalu mencium kening Dewiq, melantunkan doa kebaikan yang tertunda. Air mata gadis ayu ini pun turun. Hatinya mengharu biru, saat ini dirinya sudah resmi menjadi seorang istri Ahmad Hariri yang dia damba.


"Bear, gak mimpi kan ya?" ucap Dewiq terbata


"Enggak sayang, kamu istriku meski baru dua hari," balasnya mencium tangan Dewiq.


"Mas, Kak," suara Mama. Beliau sadar saat Dewiq pindah ke kamar ini.


"Ya Ma, udah beres sholat ya? kita gantian," imbuh Ahmad bersiap membopong istrinya menuju toilet.


"Mama nunggu Dokter Rayyan sore nanti jadi hari ini istirahat total," ujar Hermana.


"Kakak jam sembilan mulai rontgen ... kalian tidur nyenyak yaa, pelukan satu ranjang. Lah kita nonton ya Ma," goda Papa saat Ahmad menggendong putrinya.


"Tinggal ikutan aja Pa, kita ga lihat, nanti tutup tirai deh. Kan sama aja pengantin baru meski ganti casing," kekeh Ahmad membalas ejekan mertuanya.


"Bisa aja ... oh iya, Dwiana nanti ke sini dengan Ulfa jadi kamu bisa istirahat Mas," sambung Hermana.


"Aku mau terus nemenin Marsha, Pa...."


.


.

__ADS_1


..._________________________...


...Mau perang kata bikin part panas tapi ga mood, 😪 ...


__ADS_2