
Keesokan pagi, Solo.
Amir menerima panggilan dari Gamal bahwa lamarannya telah diterima. Perhiasan yang dia beli dimall dengannya dan Abah, telah diserahkan semalam sebagai tanda ikatan. (bab 30)
" Alhamdulillah ya akhi Gamaliel ... mabruk, barakallahu lakum wa baroka alaikum. Walimah kapan? " tanya Amir bahagia sembari menyantap sarapannya.
" Tiga pekan dari sekarang ... setelah lamaran resmi minggu depan, aku dan Mama akan ke Solo lagi Mir, do'akan semua lancar yaa. "
" Ya khayr, in sya Allah lancar. "
" Gimana Aruni, udah sampe mana? " Gamal mulai usil.
" Apanya? hmm mulai ... assalamu'alaikum, aku mau ke kebun Ummi. " Amir memutuskan panggilan sepihak karena terindikasi obrolan Gamal akan melenceng jauh.
" Masih pagi udah ngajak ribut, ck cangkem doll, " bibirnya menerbitkan sebaris senyum saat meletakkan ponselnya kembali diatas meja makan.
" Sumringah amat Ka, " tegur Aruni dari belakang tubuhnya.
Uhulk. Amir terkejut, dia sengaja sarapan terlambat demi menghindari gadis ini.
" Ma-aaf Ka, " cicitnya merasa bersalah, lekas menyodorkan gelas berisi air minum untuk Amir.
" Aku kesiangan, lepas subuhan tidur lagi. Aku sarapan dikamar saja, hmm masih sakit ga? " tanyanya khawatir sebelum menyingkir.
Amir masih sibuk dengan batuknya, ada yang tertahan di tenggorokannya dan membuatnya sakit.
" Qiy-yaa, jangan. Aku yang minta maaf, tadi hanya kaget karena aku kira kamu sudah berangkat. " Meneguk tandas air minum yang disodorkan Aruni.
" Ka Amir tahu aku sedang kursus? " ekspresinya cerah.
" Engga, aku hanya menebak. Silakan sarapan, aku pergi dulu. "
" Oh, kirain. " Runi, jangan ngarep. Batinnya.
Aruni memandang punggung tegap yang melewatinya dalam diam.
" Ka, kaku banget sih. Kesannya aku tuh penggoda kali yaa bagi dia, boro mau ngobrol lama lah lihat wajah aku juga baru sekali, kemarin aja. Kesininya ga pernah lagi. "
" Penasaran, kayak apa sih pacarnya dulu. Aku tanya kesiapa yaa? eh tapi dia aja hafiz, ceweknya pasti sejenis wanita sholehot, langsung mental donk. "
" Loh, ko jadi kek ngarep sih kamu Runi. " Aruni bermonolog sembari sarapan, ditemani Mban yang senyum-senyum mendengar ocehannya sedari tadi.
" Mba, jangan ngadu ya sama Uyut. "
" Mboten wantun Den Roro, " jawabnya. (tidak berani)
Suasana ruangan megah namun hening mengusiknya untuk menyalakan radio diatas meja saji, yang menempel pada tembok disamping kanannya.
Dia melanjutkan sarapan sembari mendengarkan siaran radio pagi itu.
" Mba, radio ini asik programnya, apa namanya? "
" Ratislo Ndoro, radio yang dulu hits banget karena Den Roro Naya sempat jadi penyiar disana. Kabarnya program besutan Roro Naya masih tetap berlanjut, dulu Roro Naya siaran sambil nyanyi gitu tapi program lagu lawas jelang tengah malam. Kalau malam minggu halaman radio penuh dengan fansnya. "
" Wah keren Naya, usianya dua tahun dibawah aku padahal, tapi dia taft banget, aku iri. "
" Roro Runi juga energik, " hibur Mban.
__ADS_1
" Aku pesakitan Mba, tinggal nunggu isdet aja. " Senyumnya getir.
" Pamali Roro, enggal sehat, panjang umur enteng jodoh ... kalau Roro Runi mau dekat dengan Den Mas, busananya yang tertutup, sopan dan jangan menegur lebih dulu sebelum beliau bicara. Den Mas ga kayak adiknya, meski aslinya ramah dan lembut tapi beliau bicara seperlunya selain dengan mahramnya. "
" Oh gitu, pantas saja, " gumamnya.
" Aku pergi dulu ya Mba, diantar driver ke kursus design sampai dzuhur. "
" Nggih, hati-hati. "
Aruni melangkahkan kakinya ke halaman depan dimana mobilnya sudah menunggu untuk membawanya ke tempat kursus.
***
Kebun sedap malam dan mawar.
" Mii, tempat ini pada akhirnya menyimpan banyak kenangan bagiku dan Naya. Kalau dirumah, pembaringan terakhir ummi lah yang jadi tujuan kami apabila tengah gundah menahan rindu pada ummi. "
" Andai ummi masih ada, mungkin aku juga telah menikah karena ummi yang memilihkan istri untukku dan tidak akan ada sedikit pun keraguanku atas pilihan ummi. "
" Tapi Abah saja bisa tegar yaa, kenapa aku dan Naya justru sangat berat menerima seakan ummi baru saja pergi meninggalkan kami. "
Lirih Amir mengungkap kegundahan hati.
Dia merasa akhir-akhir ini hidupnya hampa. Melupakan Aiswa ternyata tidak mudah. Hatinya mengira bahwa jejak itu telah terhapus namun nyatanya masih kuat tertanam disana, meski posisinya telah bergeser ke sudut lebih gelap dalam relung hatinya.
Dia sudah menjadi milik sahabatmu, segera lupakan, Mir.
Suasana kebun yang asri membuatnya betah berlama-lama didalamnya. Menyusuri setiap pos yang ditanami bunga berlainan jenis, hingga dia singgah di pos keempat, taman yang rindang dengan ayunan dan sebuah gazebo beratapkan anyaman daun kelapa.
Ingin kaki melangkah lari menjauh namun sepasang sepatu tak sengaja ia pergoki dibawah pohon, lengkap dengan tas dan buku gambarnya.
" Qiyya? " serunya sambil menengadahkan kepala ke atas.
" K-kka, ko disini? "
" Loh kamu katanya mau kursus ko malah kesini? kapan masuknya? aku ga lihat tadi? "
" Aku baru saja tiba, ga ngikutin kakak, sumpah, suer. " Cicitnya ketakutan.
" Turun, " perintahnya.
Aruni terpaksa menuruti perintah Amir teringat pesan Mbannya tadi pagi. Jangan membantah Runi, nurut dan sopan.
" Kamu kenapa? " tanya Amir pelan saat Aruni telah turun dan duduk dibilik.
" Aku dibilang ga punya bakat ... tugasku di tolak, padahal pas ngerjainnya kaos kesayanganku belepotan cat dan harus dibuang. " Tunduknya masih terisak.
" Ini. " Ulur tangan Amir memberikan sapu tangannya.
" Mana gambarnya? boleh aku lihat? "
" Jangan, jelek Ka. Aku malu. "
Amir mengindahkan larangan sang empunya. Ia meraih buku gambar yang masih teronggok dibawah pohon, membuka lembar demi lembar hasil kerja Aruni.
" Aku boleh saran? " Amir meminta izin.
__ADS_1
" Boleh Ka. " ujarnya lebih tenang.
" Yang ini, pakai garis diagonal, lalu beri aksen yang chic dibagian depan. Kainnya bisa memakai satin atau silky lalu untuk rufflenya, kamu bisa pakai yang motif. " Amir mencoba mempertegas design yang Aruni buat agar terlihat lebih detail dan unik.
" Bahkan kakak lebih paham dari aku. "
" Ini tuh bisa dipelajari Dek, kamu bisa belajar lewat situs-situs tentang garis, warna dan tema yang tengah trend. "
Degh. Dek? tadi aku bilang Dek? Amir terheran.
Hah, Dek? ga salah dengarkan aku? Aruni membatin.
Hening.
Keduanya saling bersitatap tanpa sengaja.
Cantik, matanya cantik.
Kakak lembut banget sih, cakep banget kalau ramah gini.
" Ehem ... kamu ngerti Qiyya? "
" I-iya Kak. " Aruni menunduk, menyembunyikan malunya.
" Tadi sarapan ga? "
" Iya, " balasnya masih menunduk.
" Jangan mudah putus asa, semua bisa dipelajari ko, orang berbakat akan kalah dengan yang rajin dan konsisten serta pandai mencari peluang. Kamu bukan tidak berbakat, hanya belum berpengalaman saja Qiyya. "
" Semua orang sukses ditempa oleh ujiannya masing-masing, dan yang bisa mengalahkan segala ketakutan kamu yaa dirimu sendiri ... break the limit, tulus dan ikhlas menjalaninya agar ringan ketika guncangan datang ... cibiran, hinaan anggap sebagai latihan mental, perhatikan dan ambil yang berguna, sisanya buang. "
" Ketika kamu down, ingat lagi mimpimu yang belum terwujud, sebagai booster kamu ... come on, nama kamu itu sudah keren, jadilah keren sekaligus personalnya, one package ... kamu bisa bayangin ga : ladies and gentleman please welcome Aruni Fauqiyya, dan kamu diberikan standing applaus oleh hadirin ... rasakan itu Qiyya, semangatmu akan terbakar saat membayangkannya. "
Di ajak bicara ko nunduk mulu ga bersuara, dia marahkah?
Merasa telah banyak bicara, Amir diam-diam meninggalkan gadis itu.
Aruni terpesona, Amir berbicara panjang lebar padanya. Dan ia yakin, Amir juga sesekali melihatnya yang masih menunduk.
" Thanks Ka, aku akan berusaha lebih keras dari ini.... "
Hening.
Saat Aruni mendongakkan kepala, Amir telah pergi beberapa puluh meter darinya.
" Kaaaaaaa, jahat ih ko ditinggal.... " Bodoh Runi, ko bisa ga tau dia pergi. Rutuknya kesal.
" Kukira kamu marah ... pulanglah Qiyya, aku masih ingin diluar. " Melempar senyum menawan seraya menjauh.
Jantungku semakin tidak sehat bila didekatnya.
.
.
...____________________________...
__ADS_1