DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 15. JANJI


__ADS_3

Aiswa masih terisak pelan saat Amir melajukan kembali mobil yang mereka naiki.


" Nanti matamu bengkak Aish, " ulur tangannya kembali memberikan tissue pada Aiswa.


" Aku masih sesak Ka. "


" Aku pun, terlebih setelah tahu kamu punya rasa yang sama buat aku. Kita jalan ke curug Lawe yaa disana ada saung Sunda sekalian makan siang, " ia kembali menoleh pada gadis disampingnya.


Aiswa hanya mengangguk samar, kepalanya ia sandarkan ke sebelah kanan jok, hampir menyentuh bahu kiri Amir.


" Masih jauh ya ka?, " tanyanya lagi.


" Ngantuk? tidur saja dulu, masih satu jam lagi. Aish haus? "


" Sedikit. "


" Nih, minum dulu, " tangan kanan Amir mengambil botol mineral dari pintu mobilnya lalu menyerahkan pada Aiswa.


" Tangan kanan Aish, dilatih perlahan. "


Jika kidal banyak disebabkan oleh faktor genetik, lain hal nya dengan kidal yang di alami oleh Aiswa, meski tidak parah.


Semua berawal saat ia balita, tangan kanannya pernah cedera parah saat ia terjatuh dari atas ayunannya hingga memerlukan waktu lama untuk sembuh.


Karena kurang diberikan stimulasi serius untuk mengembalikan penggunaan fungsi kedua tangannya dengan baik dan benar, akhirnya Aiswa seperti sekarang, lebih aktif menggunakan tangan kiri. Kabar ini ia dapat saat bertanya pada Ahmad sahabatnya kala ia menemani Aiswa satu tahun lalu.


" Ka Amir tahu? "


" Iya, kamu mau terapi atau konseling sugesti seperti Naya adikku? "


" Bisa yaa? aku mau. " jawabnya antusias.


" Nanti aku tanya Mas Panji dulu yaa, sekalian minta rekomendasi dokternya, "


" Hmm tapi ga usah Ka, hasil aku terapi bukan buat kakak, ngapain? "


" Kalau berhasil, itu buat kamu donk, buat kebaikan kamu meski kebaikan datangnya tidak hanya dari kesempurnaan fisik tapi dari hati. Adik iparku juga agak sedikit kurang sempurna fisiknya tapi Maa Sya Allah beliau luar biasa menjaga Naya. Aku ingin mencontohnya, paling tidak kamu merasa nyaman ketika berada di keramaian dengan kondisi yang tidak biasa, tidak sama dengan sekitar. "


" ......... " Aiswa memandang Amir lekat dari posisinya kini.


" Aku salah ngomong yaa? " tanya Amir lagi.


" Engga. Cuma Kakak, yang mikirin aku sampai ke situ. Bahkan Buya pun tidak peduli dan terkesan malu. "


" Ga gitu Aish, mungkin Yai punya pertimbangan lain. "


Aiswa tak ingin menanggapi tentang Buya nya, ia memilih memejamkan mata. Rasanya masih sangat mengantuk terlebih setelah lelah menangis tadi. Kelopak matanya seakan dibanduli banyak batu hingga terus mengajaknya memejam kembali.


Amir memperhatikan gadis yang hampir bersandar di bahu kirinya, hembusan nafas halus nan teratur menandakan bahwa ia telah lelap. Dirinya khawatir Hasbi akan menyewa orang untuk mengejar Aiswa dan menariknya paksa apalagi jika mengetahui ia tengah bersamanya, sahabatnya itu memang sering tidak sabaran.


Pikirannya bercabang, ia memilih memelankan laju mobilnya untuk melakukan panggilan dengan seseorang yang mungkin dapat membantunya.


" Assalamu'alaikum, Bang Rey sibuk ga? "


" Wa'alaikumussalam, siang Den Mas. Bos masih meeting sebentar lagi selesai. Atau ada pesan penting yang ingin disampaikan? " tanya Rey, asisten adik iparnya.


" Siang ... Aku perlu dengan Bang Rey, bisakah? "


" Oh silakan Den Mas "


" Bisa tolong aku, menghalau orang-orang yang akan mencari Aiswa? hmm intinya, aku ga mau mereka tahu Aiswa di sini. Aku butuh waktu agar dapat membujuknya kembali pulang tapi bukan dengan paksaan. "

__ADS_1


" Aiswa?. "


" Putri pemilik Tazkiya. "


" Ada lagi, Den Mas? "


" Sementara, jangan sampai keluarga ku tahu. "


" Baik, aku akan hubungi anda satu jam kedepan. "


" Terimakasih banyak Bang Rey, hmm kalau Mas Panji tanya, aku yang akan menjelaskan langsung. "


" Copied, Den Mas. "


Amir mengakhiri panggilan dengan perasaan sedikit lega. Satu masalah selesai, selanjutnya mendengar cerita lengkap dari Aiswa tentang kejadian yang sebenarnya.


Satu jam kemudian.


Sudah sepuluh menit Amir memarkirkan mobilnya di pelataran Saung Sunda, Resto yang dekat dengan kawasan wisata alam Curug Lawe. Ia juga telah memesan tempat yang jauh dari keramaian, tepatnya saung pojok kanan resto di atas kolam ikan.


Sedang tidur pun, kamu cantik banget. Alis tebal, helai bulu mata yang rapat, hidung mungil dengan tahi lalat kecil di cuping tengah meski samar tapi membuatmu jadi lebih manis, bulu halus menghiasi wajahnya. Sayang kamu bukan milikku. Aiswa, izinkan aku memilikimu meski hanya dalam angan.


Aku yang akan mengantar mu pulang. Bukan tak sayang terlebih cinta, karena aku hanya tengah menjaga sementara apa yang seharusnya tak aku miliki.


Aku tahu, aku salah. Tapi aku juga manusia biasa yang ketika dihadapkan pada ujian hati, lambat laun akan rapuh. Bila kemarin, aku masih bisa menghalau bayangan mu tapi tidaklah sama rasanya ketika kamu ada dihadapanku. Sungguh sulit.


" Aiswa, sudah sampai. Bangun sayang, "


Bulu matanya bergerak cantik namun tak kunjung membuat kelopak matanya terbuka.


Ya Allah, gemes banget sih. Tahan Mir, tahan.


" Aish.... "


" Daritadi, turun yuk. Aku udah reservasi. "


" Ih ka Amir ga bangunin Aish, "


" Aku ga ngapa-ngapain kamu ko. "


" Bukan itu, aku malu lah lagi tidur diliatin pasti, "


" Kalau itu, iya. Buat disimpan di memori kalau aku pernah sedekat ini dengan belahan jiwaku. "


" Hmm, turun yuk. " Aiswa menghindar, ia tersipu, pipinya bersemu merah.


Amir hanya tersenyum melihat gadisnya malu-malu. Ia pun sama, debaran jantungnya kian tak bersahabat sejak berangkat tadi.


Sehat lah wahai jantungku.


***


Exona Landscape and Building, Jakarta.


" Siapa Rey? Aiswa? satu jam lagi? baiknya kamu jujur padaku, " tegur Mahendra saat ia tak sengaja mendengar sekilas pembicaraan Rey di telepon.


" B-Boss, anda sudah selesai? se-jak kapan berdiri di sana? " tanyanya gugup.


" Sejak kamu menerima telpon, " jawab Mahen santai sambil berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya.


" Itu, a-nu.... " Rey mengejar mengimbangi langkah bosnya itu.

__ADS_1


" Kenapa anu mu? kebanyakan jajan jadi kena virus? "


" Bos! teganya. "


" Cerita ... se-ka-rang! atau bonus mu hangus dan aku laporkan ke Naya! " tegasnya ketika ia telah duduk di balik meja kerja.


" Ja-ngan Bos, bisa mati aku jika sampai Nona tahu ... Baik ... Ka Amir meminta bantuan padaku, agar menahan orang-orang yang mencari Aiswa dan memaksanya pulang. "


" Aiswa kabur? " Mahen nampak berpikir sejenak.


" Yups. "


" Cari tahu penyebabnya dan tindakan apa yang bisa kita berikan untuk membantunya namun jangan terlalu jauh terlibat. Firasat ku, Naya pasti akan panik dan marah. "


" Baik Bos ... Ka Amir bilang, beliau akan cerita langsung pada anda, " jelasnya lagi.


" Rahasiakan dari Naya dulu sebelum semua jelas, aku yang akan menjelaskan padanya nanti. "


" Copied Bos. "


" Kapan kamu lamar Candi? jangan kebanyakan Anu Rey, atau aku laporkan pada Om Galuh dan minta Naya untuk mengompori agar Om Galuh mengebiri mu. "


" Aku sedang berusaha membujuk Candi Bos, tolong bantu aku nanti. "


" Bahkan Candi yang polos pun, harus puas mendapatkan produk kawe second diskon flash sale macam kamu... ckckckck kasihan Candi. "


" Sh*itt, anda jahat sekali, " sungutnya sembari keluar dari ruangan itu menuju meja kerjanya.


***


Resto, Semarang.


Ketika keduanya sedang menunggu makanan yang dipesannya datang, Aiswa mengatakan.


" Ka, apa ka Amir juga akan menikah dengan gadis lain? "


" Kenapa tanya begitu? "


" Kakak pasti minta aku untuk berbakti pada suamiku bukan? sanggupkah aku mengatakan hal yang sama pada kakak nanti? " tatapnya nanar pada kolam ikan dibawah saung mereka.


" Ga usah dipikirkan sekarang. "


" Kakak ga cemburu? "


" Aish, bayangin kamu berdua dengan Hasbi saja aku sakit. Tapi kewajiban setelah menjadi istri, Aish paham kan? lalu aku bisa apa? "


" Ka, dengar ini yaa ... aku akan menyimpan cintaku sampai mati, bila jarak kita terlalu terbentang jauh maka biarlah aku yang menyebrang ... kakak cukup menungguku. "


" Sayang, ga begitu ... aku akan sama berjuang, bila waktuku tiba. Apa yang akan Aish lakukan? ridho Buya ridhonya Allah. "


" ........... tunggu aku... " tatapnya lekat pada Amir yang juga tengah menatapnya penuh tanda tanya.


.


.


...__________________________...


...Aku tak bisa luluhkan hatimu, dan aku tak bisa menyentuh cintamu.....


...Seiring jejak kakiku bergetar, aku t'lah terpagut oleh cintamu.....

__ADS_1


...Sepenuhnya aku ingin memelukmu, mendekap penuh harapan 'tuk mencintaimu.....


...Setulusnya aku akan terus menunggu, menanti sebuah jawaban 'tuk memilikimu.....


__ADS_2