DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 36. GAMAL SEMAKIN DIDEPAN


__ADS_3

Gamal menyaksikan sahabat kecilnya itu meninggalkan pelataran kediaman Yai nya begitu saja. Gamal paham dan memaklumi, hanya saja sedikit rasa kecewa sempat terlintas di benaknya mengapa Amir tidak berterus-terang perihal Almahyra.


" Alma. " Panggilnya beberapa saat setelah hening.


" Lho, Mas Gamal ko di sini? " Alma tekejut.


" Aku ada perlu dengan paman, adakah? maaf tidak mengabari sebelumnya. Kamu baik saja? wajahmu terlihat agak pucat. " Gamal mendekat, namun Alma mundur satu langkah.


Ya ampun, untung dia ga mundur lima langkah, bisa nyanyi aku nanti.


Pacarku memang dekat, lima langkah....


" Ada Mas, masuk saja. Aku panggilkan, " senyumnya manis.


" Kamu pagi ini sarapan pake madu yaa? manis bener. " Godanya melihat Alma tersenyum.


" Sarapan tahu mercon ko Mas, ini bingung mau nyembur panas kemana, " jawabnya sinis.


" Jangan galak-galak Alma, eh tapi orang cantik sih bebas yaa mau nyembur juga pasti estetik ... jadi makin teringat aja nanti sama kamu, kayak lagunya Letto ... teringat ku teringat.... "


" Ga lucu Mas, " sahutnya sambil berlalu meninggalkan Gamal.


" Aku bukan Raditya dika, wajar ga lucu. " Gamal masih saja menyahuti.


" Assalamu'alaikum, 'amm ada Mas Gamal. " Alma tak mengindahkan perkataan Gamal. Ga mutu, pikirnya.


" Alma, makasih ya. Aku suka kamu memanggilku Mas, " senyum Gamal merekah.


" Ya mau dipanggil apalagi memang? Mba? atau ses? "


" Ayank juga boleh, " usulnya.


" Wa'alaikumussalam, kenapa ini ayank-ayank? " Yai Rois menggoda mereka berdua.


" Paman, " ucap salam Gamal menyalami sang paman Almahyra.


" Duduk Nak Gamal, ada perlu dengan ana? "


" Mama menyampaikan apakah dibolehkan bila membuat acara syukuran di rumah tentang lamaran kami? "


" Pengumuman begitu maksudnya? apa sebaiknya nanti saja, bila telah resmi Nak? Mama kan belum selesai iddah ya? "


" Benar. Rasanya sangat lama ya Paman. "

__ADS_1


Sesungguhnya ini hanyalah alasanku saja karena ingin melihat Almahyra.


" Sabarlah, Alma juga butuh waktu. Bila kamu mantap, dia belum tentu. Banyaklah berdoa agar dimudahkan dan dilancarkan segala hajat kalian ya. "


" Aamiin, tentu Paman ... hmm tadi aku melihat temanku dari sini, dia mengajar disini sudah lama? " Gamal mencoba mencari tahu kebenarannya.


" Amir maksudmu? Baru dua bulan, tapi izin pamit akan ke Solo karena Uyut nya lebih membutuhkan kehadirannya. "


" Amir tak sengaja mengenal Alma, Nak. Dia menemukan ponsel Almahyra di stasiun saat Alma ikut mendampingi santriwati study tour beberapa bulan lalu sekaligus menjemput salah satu guru kami yang juga sahabatnya. Dia tidak akan menggangu proses kalian karena Amir sejujurnya telah mempunyai beberapa calon juga. "


" Aku tidak bermaksud kesana sih Paman. "


" Ana hanya menjelaskan yang ana tahu saja Nak, agar kalian lebih mantap terutama kamu, jangan berprasangka dengannya. Kalian sahabat baik bukan? hendaklah saling percaya mulai kini, itu pesanku. "


" Baik Paman, in sya Allah ... hmm maaf, aku beberapa kali mendengar mitos. Mitos apa ya? "


Kyai Hasyim Rois tak menjawab segera, ia menjeda waktu seraya menarik nafas panjang.


" Alma. Almahyra, kemari Nduk. "


Hening.


" Alma, " panggilnya lagi.


Hening. Tak ada jawaban.


" Almahyra nampaknya telah menyukai seseorang sebelum aku, betul begitu Paman? "


" Rasa suka itu anugrah Nak. Fokus pada dirimu, bila kau yakin dengan perasaanmu dan bisa meyakinkan Alma maka lakukan, minta sama Allah agar dilembutkan hati calon pasanganmu, namun bila kenyataannya tidak bisa ya jangan dipaksakan ... Alma, Alma. "


" Beik 'amm, " jawabnya malas.


" Jelaskan tentang dirimu, kemarin kata Bibi, kamu lebih banyak diam. Ayo. "


Almahyra menarik nafas panjang, menatap lekat sosok pria di depannya.


Tampan, mapan dan gagah tak kalah dengan Amir, eh ka Amir lebih lembut dan teduh ketika melihatnya. Batin Alma


Gamal yang ditatap Alma demikian intens jadi gugup sendiri, pikirannya bersliweran hal yang konyol.


Apakah wajahku telah bersih dari itu yaa? jambangku, sudah rapih belum yaa? aku baru mencuci muka tadi karena buru-buru jadi belum mandi.


" Aku pernah gagal menikah dua kali, yang pertama dengan putra Yai dari Banten, yang kedua Mas Ilyas, dari Solo. Keduanya hafiz dan tengah sama-sama menempuh pendidikan S2 ketika mereka sakit. "

__ADS_1


" Mas Anies terdiagnosa sakit kronis pada sistem pencernaannya, keluarganya bercerita saat Almarhum tiba di tanah air bahwa beliau pernah di opname dulu karena gerd. Dia sedang kuliah di Yaman. Yang kedua, Mas Ilyas tiba-tiba sakit parah hingga mengalami sesak dan harus operasi cangkok paru-paru padahal sebelumnya tidak punya riwayat sakit kronis, " sambungnya lagi.


" Kamu Mas, sebaiknya jujur padaku. Bila ada riwayat penyakit, bilang saja. "


" Hmmm aku tidak, " jawab Gamal ragu. Apakah alergi obat yang dia idap termasuk penyakit kronis, dia lupa menanyakan pada Mama nya.


" Tinggal bilang saja, ck, "


" Alma! " Pamannya tak suka akan sikap Alma.


" 'amm, aku takut, tidakkah seorang pun menyadari perasaanku? "


" Lalu kenapa kamu menerima pinangan keluarga Nak Gamal? "


" Aku hanya ingin memutuskan kutukan itu, " isaknya kemudian.


" Kutukan? maksudnya bagaimana? aku dijadikan tumbal? " Gamal semakin bingung.


" Nak Gamal, begini saja. Silakan istikharah dahulu, jangan menemui kami dalam jangka waktu ini yaa. Ana hanya bisa bilang, bilamana engkau tetap teguh, kamu akan menerima resiko dari sakit parah hingga kematian. Apakah kamu bersedia? "


" Hah, omong kosong apa ini Paman. Hidup mati jodoh ditangan Allah. Aku ga mungkin menjilat ludahku sendiri. Aku menerima Alma apa adanya dengan segala resikonya. "


" Mas, jangan berharap padaku, " lirihnya disela isak tangis.


" Bukankah kamu sendiri yang bilang tadi Alma bahwa kamu takut dan ingin lepas dari kutukan atau apapun itu. Aku bersedia menjadi batu loncatan agar semuanya berakhir. Bilamana nasibku buruk yaa itu takdirku, dan kamu akan terbebas dari semua ini, melanjutkan hidupmu dengan tenang dan mungkin akan bertemu jodoh yang lebih baik dari aku. Bilamana nasibku baik, aku bisa memiliki bidadari seperti mu. Deal? " Gamal dengan yakin mengatakan demikian meski hatinya mulai meragu.


Aku ga akan mati muda kan? aku belum menikah pula, belum merasakan anu ya Allah, please. Batinnya.


" Paman, biarkan aku melanjutkan niatanku. Aku sudah menentukan pilihanku, selain untuk bakti ku pada Mama. "


Kyai Hasyim Rois menarik nafas perlahan-lahan.


" Baiklah jika memang niatmu demikian semoga Allah menjagamu, menjaga kalian dari marabahaya. "


" Alma, mulai saat ini kamu ana batasi keluar rumah. Tugas mengajarmu akan dialihkan pada yang lainnya. Kamu hanya diizinkan pergi untuk keperluan kuliah saja. "


" 'amm, aku bisa stress jika begini? ini ga adil buat aku. "


" Bukan perkara adil atau tidak, aku kini menjaga amanah dari keluarga H. Fadzli, sisa beberapa minggu sebelum keputusanmu turun. Sebaiknya kamu banyak-banyak memohon petunjuk pada Allah sebab masalahmu ini. "


.


.

__ADS_1


..._________________________...


Udah mulai terang belum gess? 😁


__ADS_2