DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 128. DA3A


__ADS_3

Amir merapikan kemejanya sebelum dia keluar kamar menemui sang guru. Ketika telah sampai di pintu ruang keluarga, Hariri salim memanggilnya agar segera ke Masjid pondok untuk dzuhur berjama'ah.


Umma sudah menyiapkan makan siang saat keduanya kembali dari Masjid beberapa menit kemudian.


Namun Hariri salim mengatakan akan makan siang nanti setelah pembicaraan dengan Amir selesai.


Amir yang tak enak hati dan menangkap raut wajah kecewa Umma, memberanikan diri menghampiri wanita paruh baya yang telah siap duduk di meja makan.


"Umma, masak apa? sepertinya enak, aku jadi kangen menu masakan rumah," Amir menyembunyikan rasa malunya demi melihat senyum ummanya terbit.


"Sini Nak, duduk sebelah Umma, biar sekalian umma disuapin ya ... Aish masih suka umma suapin kalau makan," ungkapnya dengan wajah ceria dan senyum menghias wajah teduhnya.


Hariri salim yang melihat interaksi keduanya mencelos, bahkan Amir sangat peka meskipun baru beberapa kali berjumpa dengan Maryam, istrinya, sedangkan dirinya yang hidup berpuluh tahun disisi wanita itu seakan kehilangan kehangatan meski hanya berdua.


"Harusnya aku yang suapi Umma loh," candanya dibalas kekehan umma.


"Buya, bolehkan aku makan siang dulu dengan Umma, Buya juga ayo sekalian...." ajaknya meraih lengan gurunya agar segera duduk ditempatnya.


Jangan ada lagi perpisahan meski jarak satu milimeter. Aish, jikalau memang kali ini takdir bersama, tugasku membawa keceriaan kembali di keluarga ini.


"Iya Buya makan dulu." Suasana hangat yang berbeda siang itu tercipta karena pria muda bernama Amirzain hadir bersama mereka.


Tak berapa lama sesudahnya. Kedua pria berbeda jaman itu langsung menepi menuju ke ruang baca.


"Duduk Mir," Buya menyilakan Amir duduk dihadapannya setelah memasuki ruangan.


Jemari tuanya menarik laci dibawah meja baca dan meraih sesuatu disana.


Sebuah amplop berwarna coklat tua persis miliknya diletakkan diatas meja oleh Hariri salim.


"Buka Nak lalu simpulkan sendiri, Buya menunggu penilaianmu," ujarnya melihat santri kebanggaan yang ingin dia angkat sebagai putra atau bahkan menantunya.


Amir meraih beberapa map itu, menarik salah satu lalu membuka pengait perlahan, matanya mengikuti barisan kalimat yang tertuang rapi didalamnya.


Sebuah perjanjian dan pengalihan perwalian sementara.


Lama Amir mencerna semua isinya hingga map ketiga selesai dia baca.

__ADS_1


"Buya berarti benar? Aeyza adalah Aiswa? dan juga dia telah di cerai Hasbi sebelum dinyatakan meninggal secara medis?"


"Aiswa dirawat oleh keluarga Hermana, membantu pemulihan Nyonya Rosalie yang ternyata aku juga bertemu dengannya di Singapura?"


"Serta, diberikan kesempatan untuk menjalani study sesuai yang Aiswa inginkan, bahasa asing, fotografi serta design?"


Aiswa memang suka seni, dari postingan media sosialnya dulu pun isinya penuh dengan alam bebas, bagai gambaran kehidupannya yang sangat dia idamkan.


"Semua dugaanku benar?"


"Iya Nak, begitulah dan Buya mengetahui semua niatan dibalik ini semua ... ini adalah penebusan segala kesalahanku terhadap Aiswa, putri yang ku inginkan sekaligus aku sia-siakan," tunduknya pilu, suaranya tercekat menahan sesak yang kembali datang.


Amir tak dapat berkata-kata, satu sisi dirinya memaklumi namun sisi lainnya tak menduga gurunya bertindak demikian.


"Apakah ini akan membahayakan dirinya dimasa depan?"


"Tidak, Hermana Arya menjamin keselamatan Aiswa karena ternyata istrinya sangat menyayangi putriku ... Mir, justru aku khawatir Aiswa akan membenciku, dia telah menemukan keluarganya yang baru dan penuh cinta ... aku ... aku...." Hariri salim mulai terisak.


Amir menghela nafas, awalnya dia akan bahagia mengetahui kebenarannya namun justru dia juga merasakan hal yang sama dengan Yainya.


Ia lalu memejamkan mata, meredam detak jantung yang kian meningkat detik demi detik seakan alarm baginya agar segera mengutarakan maksud.


"Aku memang tak semapan menantu Buya sebelumnya namun aku akan mencukupi semua kebutuhan Aiswa semampuku ... aku juga tidak bisa menjanjikan tidak akan mendua karena bukan aku yang Maha membolak-balikan hati meski sekuat tenaga meminta Allah agar menjaga cintaku hanya untuknya ... namun diatas semua ini, aku khidmah pada guruku, abahku juga leluhurku Kusuma yang mengajarkan serta memegang teguh hanya satu pasangan dalam menjalani alur kehidupan...."


Hariri salim menyeka sisa bulir bening yang masih menggantung disudut matanya, kagum akan sosok pria muda didepannya ini.


"Buya tahu, sedikitpun Buya tak meragukan keturunan Kaji Ahmad, beliau memang panutan, bahkan untukku ... pergilah Nak, yakinkan dirinya bahwa di sini kami juga sangat menyayangi Aiswa ... pesan Buya, jangan nodai rezeki yang Allah beri, tahan nafsumu yaa ... Buya redho atasmu, Amirzain putraku...."


Amir menunduk, wajahnya seketika pias merasakan panas karena dorongan kelenjar raklimal yang mendesak ingin meluberkan genangan air matanya.


Keduanya larut dalam diam, saling mengucap syukur dalam hati masing-masing hingga sebuah pernyataan dari Amir membuat Hariri salim kembali tenang.


Duda muda dan tampan itu meraup wajahnya perlahan, menghembus nafas panjang sebelum akhirnya dia berkata.


"Aku berniat memberikan jaminan atas khitbahku, Buya," Amir merogoh saku celana bagian belakangnya. Lalu menyerahkan seuntai gelang berlian dengan model sangat simpel namun justru indah karena kesederhanaannya.


"Untuk mahar Mir?" Buya meraih kotak kecil perhiasan berwana hitam beludru diatas meja yang Amir sodorkan padanya.

__ADS_1


Indah, seleramu tinggi Nak.


"Bukan Buya, untuk hadiah jika Aiswa berkenan menerima lamaran ku juga sebagai tanda ikatan bahwa aku telah memintanya pada Buya ... maharnya, biarkan Aiswa yang menentukan, apapun itu aku siap," teguhnya meyakinkan Hariri salim.


"Baik, Buya terima lamaranmu," ujarnya menyodorkan tangan agar Amir menjabatnya.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap keduanya bersamaan.


Allahummaj’al haadzihil khitbah khitbatan mubaarokatan mushlihatan daaimatan abadan zhoohiran wa baathinan awwalan wa aakhiron bi rohmatika yaa arhamar roohimiin.


"Untuk resminya, nanti Abah akan kemari secepatnya ya Buya...."


"Ahsan yakinkan Aiswa saja dulu Mir, urusan tradisi biar menyusul yang penting dia bersedia ... kapan berangkat kesana? maafkan Buya, tidak mengetahui dimana dia berada karena Hermana Arya tak berkenan memberikan informasi tentang ini sesuai perjanjian yang tertulis."


"Tak mengapa, aku akan mencarinya disana ... aku sudah mengantongi beberapa rute agar efektif saat pencarian, Buya doakan aku agar mudah menemukannya."


"Ya kher, in sya Allah."


"Aku pamit Buya, mau ke Arza bekasi sebelum pergi esok pagi, salamku untuk Umma, terimakasih banyak telah menjamuku," tuturnya lembut seraya menarik diri dari kursi didepan meja Yainya.


"Arza?"


"Sekolah yang dibangun sejak tiga tahun lalu, kebetulan Abah menyisihkan semua salary ku saat masih bekerja dengan beliau, lalu kawannya berniat menutup sekolah karena kekurangan dana ... saat itu tabunganku cukup hingga sekolah tadi beralih fungsi menjadi tahfidz meski subsidi silang bagi para yatim disana dan sebaliknya...." jelasnya sambil lalu keluar ruangan.


"Maa sya Allah, bisnis dunia akhirat jalan ya Nak, tabarokallah...."


"Allahumma aamiin, aku pamit Buya ... Assalamu'alaikum," Amir mencium khidmah tangan sang guru sebelum keluar dari kediamannya.


Gurat wajah lega menghiasi keduanya.


Amir melangkah disertai senyuman tipis yang semakin membuat wajah kalem itu naik kadar ketampanan seratus persen.


"Sayang, Rohi, bismillah ... tugasku meyakinkanmu agar kembali padaku dan orang-orang yang kamu kasihi serta sebaliknya." Gumamnya sambil berjalan ke parkiran dan menyalakan kunci remote mobilnya.


Allah, mudahkan langkahku.


.

__ADS_1


.


...______________________...


__ADS_2