
"Sayang, kenapa?"
"Sakit Bii," Aiswa mengerang sakit.
"Masih mual?" tanyanya saat Aiswa telah berkumur. Lalu mengajaknya duduk di sofa panjang didepan ranjangnya.
"Engga, hanya tadi bayangin bau rumah sakit dan obat ko langsung mual ya, apa karena aku semalam ga makan ya Bii?"
"Sepertinya begitu, aku minta Mba Sri anterin ke sini ya," ujarnya saat akan meninggalkan Aiswa dikamar namun lengannya di tahan oleh istrinya itu.
"Aku boleh keluar ga? makan disana? sekalian mau kenalan sama Mba Sri," pintanya ragu.
"Boleh." Amir memegang jemarinya erat keluar dari kamar menuju ruang makan. Disana sudah ada Bang Alex, mang sapri dan Joanna.
Abah memang menganggap mereka adalah bagian keluarga jadi sudah terbiasa makan bersama dalam satu meja.
"Hmm, aku makan di workshop aja deh," ujar Alex bangkit saat melihat Aiswa datang.
"Mamang ikut Nak Alex," mang sapri tak kalah sungkan.
"Den Mas, Non, monggo...." sapa Mba Sri kala melihat majikannya mulai menarik kursi.
"Ko semua pergi Bii, ada aku ya?"
"Biarkan, sesuka mereka mau makan dimana yang penting menunya sama ... Mba Sri, ini Aiswa istriku, semalam belum ketemu ya," ucap Amir memperkenalkan mereka.
"Aiswa ... mohon maaf nanti jika Aish banyak ga ngertinya ya Mba Sri, jangan sungkan menegur jika keliru," Aiswa tersenyum ramah.
"Yang sabar ngadepin Mba Sri ya Non, banyak khilafnya ... semoga Non Aiswa betah disini."
Ayune poll, putih mulus, berseri, kayak boneka Barbie, pantes ada aturan itu.
"Mba Sri ini yang masak buat makan siang juga bikin cemilan untuk semua karyawan abah ... sebelum mereka pulang sekalian masak sore untuk pekerja yang lembur, menunya sama dengan yang ada dimeja ini ... meskipun upahnya full tapi Abah tetap memberikan jatah makan ... termasuk kopi, teh, es sesuka mereka, disediakan di gudang sana."
"Jadi upahnya utuh ya Bii, maa sya Allah ... Mba Sri sendirian?"
"Engga Non, ada yang bantuin kalau masak, nanti datang jam sembilan setelah Mba bebenah rumah selesai baru nanti masak," ujar Mba Sri.
Aiswa mengambil menu ke pinggannya lalu menyerahkan pada suaminya.
"Jo, gabut? makan, jangan diliatin terus ... ikan itu bukan sosok pangeran impian," tegur Aiswa yang melihat Joanna hanya diam.
"Saya makan di sana saja sama Mba Sri."
"Stay Jo, dan makan." Tegas Amir kemudian.
"Nah loh, sukurin ... baca doa dulu."
"Nggih Den Mas," cicitnya segan pada Amir.
Disini Den Mas mulai keliatan tegasnya, waktu di Jakarta kalem amat ga banyak omong.
Sarapan pertama Aiswa di kediaman itu, disambut bisik-bisik para pekerja bahwa nyonya muda mereka kali ini bagai porselen, cantiknya ga ketulungan sampai para pekerja pria di wanti oleh Alex tidak boleh menatap lebih dari tiga detik kala berpapasan dengannya atau jika beliau menegur mereka.
Setelah sarapan, keduanya kini diteras depan. Amir mulai sibuk mengatur mana yang harus dikirim dan mana yang akan digarap, Mang sapri pun membawa laporan ke hadapannya.
Aiswa baru pertama kali melihat suaminya sesibuk ini mengurusi pekerjaan keluarganya.
"Kamu keren ya Bii, handle semuanya tetap tenang begitu ... mana pakai koko dan sarung pula, melted," Aiswa tersenyum simpul melihat suaminya.
"Rohi, katanya mau telpon Dewiq? atau Dwiana? jika ingin call Rayyan, pake ponselku dan loudspeaker," ujarnya disela croshcek laporan purchase gudang.
Jangan nyapa saya Non, jangan negur, saya takut salah. Den Amir kalau sudah marah itu serem, apalagi karena cemburu. Jangan negur Non, jangan.
"Mana ponsel Qolbi?"
"Mang, tolong letakkan di meja ya," pintanya pada mang sapri seraya menyerahkan ponselnya.
Duh, kena kan.
"Makasih Mang Sapri," ucap Aiswa yang hanya diangguki mang sapri tanpa melihat wajah Aiswa.
Kenapa sih, ko semua yang kerja disini kayak segan dan enggan kalau ada aku.
Aiswa mengabaikan sekitar, suaranya yang memang lembut membuat Amir mendekatinya.
C-up.
"Bii."
"Di ruang tamu saja ngobrolnya, suaramu...." bisiknya lirih di telinga Aiswa.
"Jo, tolong temani Aeyza," pintanya pada Joanna.
"Nona, ayo."
Ya Allah, ampun. Sabar Sapri, sabar, majikanmu kali ini posesif banget beda sama yang dulu. Mang sapri berucap dalam hati.
__ADS_1
Mang, baru tahu kan? lah aku saban hari. Batin Joanna.
"Ehheemm, Den ini sudah? Mamang mau bawa biar diinput sama admin, kalau belum, panggil nanti saja ya Den," dia rikuh, melihat Amir mengecup istrinya didepan mata.
"Tunggu disini, Mang."
Aiswa bangkit hendak masuk kedalam sesuai permintaan Amir. Tapi ternyata nada tunggu Dewiq sedang sibuk sehingga panggilannya ditangguhkan.
"Bii, kakak sibuk."
"Duduk sini, temani aku ... Jo, tolong bawakan suplemen Aeyza dikamar, yang oren satu butir dan hijau satu," pintanya tanpa melihat Joanna.
Aiswa pun duduk di lantai dekat suaminya. Sedangkan Amir beringsut mendekati Aiswa, menyandarkan lengan kirinya dipangkuan istri porselennya itu masih dengan pekerjaannya mengecek banyak lembar daftar naik turun barang.
Sabar, sabar Sapri, jadi penonton.
...***...
Sementara ditempat lainnya.
"Assalamu'alaikum Bear, kamu sibuk?"
"Maa, Mama tidur? aku sedang break kuliah."
Sunyi.
Senyap.
Grup Chat Satpam Halal hening.
"Wa'alaikumussalam, Kak ... Mama sedang makan buah, kenapa?"
Sunyi.
Beberapa menit berlalu.
"Wa'alaikumussalam, Sha, kenapa? Ma ... Mama masih hadir?"
"Hmmm, ngobrol aja, Mama baca ko."
"Bear ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜"
"Sha ... Sha ... kamu kenapa?"
"Kak?"
Hening.
"Ma, Marsha ga sama Mama ya? aku telpon boleh ga?"
(ikutan gemes 😅, mengkedeer amat Ahmad)
"Kak!" Mama ikutan panik.
Chat berubah menjadi panggilan grup. Namun masih saja sunyi.
"Bear, ðŸ˜ðŸ˜, Dwiana sakit parah... aku tak bisa di sisinya...."
Dewiq send voice note.
"Sha, istighfar ... Marsha, istighfar dulu ... lalu doakan, Sha jangan nangis, kamu bikin aku panik tau ga?...."
"Ma, boleh video call ga sih?" kali ini Ahmad memaksa.
"Suara aja ya, jangan nampak wajah karena Mama belum izin umma ini...."
Panggilan video grup, on.
"Bear, aku...."
"Sha, ikuti aku astagfirullah, Sha...."
"Iya Bear," lirih suara Dewiq mengikuti Ahmad.
"Ceritakan, perlahan ... aku dengerin," lembut memberikan arahan karena Dewiq sudah terlanjur hectic.
Dewiq menceritakan kondisi Dwiana saat ditemukan dan hampir saja fatal jika Rayyan tak datang tepat waktu.
"Kheir in sya Allah, ada Dokter Rayyan kan disana? doakan, yakin doamu akan sampai ke Dwi."
"Untuk setiap rasa sakit yang Dwi rasakan di dunia ini, ada balasan pahala untuk itu di akhirat kelak ... tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya."
"Tahu ga Sha, itu tadi petikan ayat atau hadist?"
Panggilan video dimatikan oleh Mama.
"Hadist, Bear...." Dewiq membalas by chat.
__ADS_1
"Pinternya Marsha ku ... Ma, boleh kasih emot kiss engga? 😅" balas Ahmad.
"No, Mas."
"Yaah, gagal deh Sha, kasih kamu hadiah," balasnya lagi.
"😂" Mama membalas hanya dengan emot tertawa.
"Orang yang sehat, memilki ribuan keinginan ... orang yang sakit hanya memiliki satu keinginan yaitu sembuh ... hanya semangat dari diri sendiri yang mampu melihat bahwa ada seberkas cahaya di balik pekatnya kegelapan apapun masalah yang tengah Dwiana hadapi."
"Marsha ku sudah melakukan yang terbaik, care dan peka, jazakillah kheir My Sha ... jangan menyesal, doakan Dwiana lekas sehat kembali ... yakin, dawamkan dalam hati, sungguh-sungguh minta sama Allah, in sya Allah qobul hajat ... karena sesungguhnya obat paling mujarab adalah keyakinan."
"Ma, boleh kasih ikon peluk ga? stiker deh, nawar ðŸ¤"
"Engga, Mas."
"Bear."
"Ya?"
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Kirim pesan pada Dwi atau Rayyan, minta sampaikan bahwa kamu mengirimkan banyak doa dan dukungan dari sini ... Go on, semangat Sha, tularkan energi positif yang kamu punya."
"Nanti jika sudah memungkinkan bagi Dwi berbicara denganmu, berikan suntikan semangat ya Sha ... big love."
"Mas, itu ga boleh loh, nulis big love."
"Kan tulisan Ma ... Mama juga baca loh, kali aku kirim hati ke Mama kan 😅"
"🙃 bisa aja kamu Mas."
"Bear."
"Ya"
"Thanks a lot, ☺"
"Sama-sama Sha, feel better?"
"He em ... My Bear...."
"Love you."
"Kakak!"
"Apa sih Ma, kan Mama juga baca."
"Love you too."
"Kalian ya, bandel."
"Kan kita ga sebut nama Ma, universal donk maknanya." Balas keduanya bersama.
"Astaghfirullah, Bu satpam dikadalin."
"Kita anak kadal, Sha 😂."
"😂... Bear?"
"Ya?"
"Makasih banyak, sudah dengerin aku, tenangin aku, maaf ya ganggu kerjaan jadinya."
"Aku justru sedang pelatihan ko Sha."
"Apa? jadi ganggu banget ya, maaf."
"Sedang ikut pelatihan peka sama calon isteri, diantaranya harus menyiapkan modul dua telinga, hati dan jempol ... karena aku ga bisa meluk kamu, jadi semoga jempol aku bisa mewakili segala perasaanku saat ini padamu, Sha...."
"Uhulk." Mama merespon.
"My Bear ... aku masuk kuliah lagi ya, much better now, thanks."
"Alhamdulillah... Sha?"
"Ya Bear."
"Tubuh dibersihkan dengan air, sukma dibersihkan dengan air mata ... akal dibersihkan dengan pengetahuan dan jiwa dibersihkan dengan cinta ... kusimpan cintaku dalam diam, ku lisankan harapanku dalam doa, ku perjuangkan dirimu dalam Ridho-Nya."
"Kalian....!"
"Ya Ma."
"Ya Moms."
.
__ADS_1
.
...______________________...