
Setelah panggilan diputus oleh Aiswa, Amir menunduk, menyembunyikan senyuman yang terbit di wajahnya.
Manisnya, istriku.
Sementara Hasbi terdiam, mungkin menyesali kehilafannya kini. Amir lalu menyilakan tamunya menikmati suguhan termasuk meminta Mba sri agar mengantarkan makanan ke kamar tamu, menanyakan keperluan yang dibutuhkan oleh Serli.
"Lagi hamil ya, Mir?"
"Alhamdulillah, iya. Enam minggu-an," jawabnya seraya menyesap teh lemon hangat.
"Pantesan," lirihnya.
"Kenapa? gak ada hubungannya ya dengan kemiripan karena benci...." kekeh Amir di barengi Hasbi.
"Nginep ya di sini, ketemu Abah dulu karena Abah sama Uyut pergi dan balik sore katanya. Semua ini kan bermula saat perjanjian kamu dengan uyut, Bi. Mengenai Naya itu," bujuk Amir.
"Kalau mau tuntas, biar hidupmu damai ayem tentram. Unek-unek semua keluar, temui Uyut juga, jodoh loh kebetulan beliau lagi ada di sini. Nanti aku akan bujuk perlahan agar beliau langsung ganggu Aiswa saat tiba nanti," imbuhnya.
"Gangguin kenapa emang?"
"Uyut itu bestie-nya Aiswa, kek anak abege lagi pokoknya kalau ketemu istriku. Main congklak, mabar game atau apa aja deh berdua. Kadang kalau waktunya makan yaa aku suapin dua-duanya...."
"Seru ya, alhamdulillah kalau dia bahagia sama kamu," balas Hasbi.
"Dari dulu harusnya, Bi. Kalau kamu gak nakal," seloroh Amir di sambut tawa Hasbi.
"Tapi berkat kamu, Bi. Aku banyak banget dapat pengajaran. Aku jadi tahu caranya memahami wanita, melatih sabar dan belajar mencintai meski gak bisa ... bertemu Qiyya, dia itu guru kehidupan buat aku, memuliakannya di saat hatiku milik Aish, ternyata menjadikan aku banyak merenungi garis nasib. Khilaf, salah, aib sosial, keluarga ... banyak banget hikmahnya juga kasus karena kelalaian ku sekarang...."
"Kamu juga ngingetin aku tentang meyakini tentang taqdir, berjuang dengan benar, tawakkal sebab menyaksikan perjuangan Qiyya, ikhlas, sampai pada titik melepas putraku dan dia ... kalau bukan berkat kamu, aku gak akan belajar banyak. Gak akan bisa menghadap Buya Hariri untuk meminta Aish yang begitu tinggi ... balik lagi, mungkin saat itu, aku belum pantas menjadi menantu Tazkiya jadi Allah menempa ku dulu dengan ujian...." pungkas Amir.
Hasbi hanya diam, mendengar semua penuturan Amir siang itu. Dirinya pun merasa bukan sosok yang ia kenal dulu. Mengapa begitu membabi buta, namun seiring merenungi semua kalimat Naya. Hasbi perlahan sadar bahwa memang dialah yang merusak semua tatanan sosial orang-orang disekitarnya.
Hubungan Ayah dengan Hariri salim dan Abah. Hubungan tetua dengan para putranya juga hubungan mereka bertiga.
"Karena kesalahanku ya, Mir. Semua rusak," sesal Hasbi.
"Karena kamu juga, semua dapat pelajaran... Aiswa dengan keikhlasan juga baktinya. Kamu ketemu Serli, yang menjadi tameng segalanya ... Serli juga, mungkin ada hikmah yang dia ambil, bahkan Reezi. Mendapatkan perhatian penuh sang Ayah ... kalau Reezi gak sakit, kamu pasti sangat sibuk, lupa dengan keluarga," imbuh Amir.
"Benar. Aku pergi pagi saat mereka masih tidur dan pulang malam ketika semua telah lelap," lirihnya.
"Semalam Abah menegurku, Hablumminannas ... ternyata jalurnya begini, Allah tuh kalau mau buka pintu taubat, gampang ya, Bi."
"Kamu gak marah sama aku gitu, Mir?" tanya Hasbi.
"Hmm, kalau marah sih pengen. Emosi ya ada. Pengen nonjok tadinya tapi...."
"Pukul aja kalau itu membuatmu tenang, Mir. Aku gak apa ko," ucap Hasbi.
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya."
"Ok, aku pukul nih."
Amir mengepalkan tangan kanan nya. Sementara Hasbi sudah berdebar menerima pukulan sang kawan. Namun...
Pluk.
Hasbi heran. Amir hanya menyentuh lengannya seperti tepukan sahabat.
"Ko?"
"Udah, impas dan lega," ujar Amir tersenyum.
"Tadi?"
"Iya, aku udah mukul kamu itu," sambung Amir lagi.
"Bi, seperti Aiswa bilang, memaafkan itu melepaskan rasa sakit juga kegelisahan. Karena ketika kita memaafkan, Allah juga akan membuat kita lupa dengan sakitnya ... bukan karena aku dan Aiswa orang baik, tapi hati kita ga muat lagi untuk menampung kebencian karena sudah terlalu sesak oleh cinta dan bahagia."
"Allah, kamu semakin jauh menyentuh langit ya, Mir," Hasbi kagum.
"Wah kamu demam ... aku masih manusia biasa, bukan Ironman, Thor apalagi superman, malaikat Izrail juga belum mengajakku jalan ke langit."
Keduanya tertawa lepas, mulai akrab kembali, seperti tak pernah terjadi suatu peristiwa menyakitkan. Hingga adzan dzuhur berkumandang.
Mengetuk pintunya pelan, lalu membuka handle dan membiarkan Hasbi masuk seorang diri.
Sementara di kamar.
Aiswa masih mengaji saat suami tampannya itu masuk ke kamar.
"Bii," serunya girang saat melihat Amir, membuka kedua lengannya lebar meminta pelukan.
"Makasih ya, Sayang," Amir menyambut pelukan Aiswa. Menciumi pipinya sebelum memeluk erat. Keduanya lama di posisi demikian, hingga Aiswa kembali tenang.
"Daritadi aku pusing gak ada bau Qolbi," Aiswa mulai merengek.
"Makanya ngaji melulu ya?"
"He em, sampe aku pake parfum Qolbi kan ya, nih bau nya sama, tapi tetep gak bisa bobok," keluhnya.
"Sholat dulu, lalu makan dan bobok siang. Hasbi aku ajak nginep sini, tidur di ruang tamu. Gimana?"
"Gak apa, boleh. Kan menjamu tamu tanpa pandang bulu. Hanya saja, aku gak akan keluar kecuali Serli yang ke sini, kalau Qolbi izinkan ... nanti tolong Qolbi jelaskan sama Abah ya," pinta Aiswa masih menciumi baju suaminya..
__ADS_1
"Kenapa?"
"Untuk saat ini enggak dulu, Bii ... karena aku ingin kedua mataku hanya memandang Qolbi dan menjaga suamiku dari prasangka," senyum Aiswa malu-malu.
"Allah, pen gigit." Ia mengurai pelukan, memandang wajah istrinya yang mulai chubby.
"Gendong ya Bii, wudhunya."
"Adek gak apa?"
"Gak jadi deh, peluk depan aja, ya, ya, ya," jurus puppy eyes keluar.
"Ayo, Bumil." Keduanya melakukan sholat dzuhur berjamaah bertepatan dengan suara salam dari Abah dan uyutnya yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Aiswa meminta makan siangnya di antar ke kamar, ditemani Joanna. Sedangkan keluarga Kusuma dan tamu, makan siang di ruang makan.
Abah dan uyut yang tak melihat Aiswa, paham dengan maksud menantunya itu. Aiswa sangat hati-hati menjaga Amir di saat hubungan kedua sahabat itu baru terjalin kembali.
Ia tak ingin ambil bagian dari prosesnya, meski di masa yang akan datang tentunya pertemuan mereka tak dapat di hindari. Paling tidak, saat itu hubungan keduanya telah sedikit mencair sehingga lupa akan masa lalu.
Cicit mantuku yang satu ini, versi Mas Panji dan Qonita, jadi satu. Batin Danarhadi.
Pancen, putri Yai Hariri salim, cerdas. Ucap Abah dalam hati.
Serli meminta izin pada Amir, membawa Reezi, menemui Aiswa di kamar setelah makan siang.
Tok. Tok.
"Aish, aku Serli dan Reezi."
Joanna membuka pintu, menyilakan tamu majikannya masuk. Aiswa meletakkan mushaf kecil yang tengah ia baca, meski tak melepaskan tasbih dari tangannya.
"Halo Reezi sayang nya Umma, ih ganteng banget ini, gemoy," seru Aiswa girang menyambut bayi montok yang juga tersenyum ke arahnya.
"Ganggu ya Aish? lagi ngaji,"
"Enggak, aku pengen anakku kayak Qolbi, jadi stimulasi bacaan murottalnya dari sekarang," sahut Aiswa mengulurkan tangan meminta Reezi.
"Jangan, lagi hamil kan?"
"Gak apa, Reezi kan main sama Umma di kasur ya. Gak gendong."
Serli meletakkan Reezi di atas ranjang, melihat putranya antusias akan Aiswa. Dia mulai bicara.
"Yang donor darah buat Reezi, itu kamu ya?"
.
__ADS_1
.
...________________________...