DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 9. NELANGSA


__ADS_3

Al Islah.


Setelah pulang dari kediaman sepupu jauhnya, Almahyra kembali memarkirkan mio matic merah yang ia gunakan tadi di garasi milik sang paman.


Bingkisan untuk bibinya ia bawa masuk kedalam rumah melalui pintu belakang dan diletakkannya diatas meja makan.


" Assalamu'alaikum, Bi bingkisan dari mba Qonita, Alma simpan di meja yaa. Alma belum membukanya, " teriak Alma sambil berlalu menuju kamarnya.


" Wa'alaikumussalam.. Alma, ini bukan hutan, semua penghuni di rumah ini tidak tuli Nduk, " tukas pamannya yang mendengar teriakan Alma saat beliau keluar dari kamar.


" Hehehe... Ya khayr afwan 'amm. " (Maaf paman)


" Ilaa aina anta dzaahib? " (Kamu pergi kemana tadi?)


" Ilaa Al Multazam ya 'amm. " (Aku ke Al Multazam Paman)


" Hal kullu syai’ ‘alaa maa yuraam?. " (Apakah semua berjalan sebagaimana mestinya?)


" Na’am Alhamdulillah. "


" Jangan teledor lagi, periksa semua barang bawaanmu sebelum beranjak pergi. "


Pamannya mengetahui bahwa Handphone Almahyra hilang saat di stasiun dari curhatan Alma ke istrinya pada malam hari itu.


" In sya Allah, Alma akan jauh lebih hati-hati lagi, syukron 'amm. "


Alma lalu pamit untuk masuk kedalam kamarnya, tak sabar rasanya ingin membuktikan ucapan Amir yang mengatakan bahwa dia tak membuka ponselnya itu.


Sepuluh menit berlalu begitu saja. Semua chat whatsapp, panggilan dan pesan masuk, semuanya masih dalam mode standby alias belum terbaca dan tercentang biru. Galeri fotonya masih terkunci, utuh tak berubah. Nampak kelegaan diwajah mungil nya terpancar disertai sebaris senyuman manis.


" Alhamdulillah, Ya Allah terimakasih Engkau masih menjaga auratku. Terimakasih Engkau telah menitipkan rezeki ku pada orang yang amanah. " Alma menitikkan airmatanya, ia sangat bersyukur Amir tidak membuka ponselnya.


" Bismillah, aku hapus semua yang tidak baik disini. " Pungkasnya menekan tombol delete untuk beberapa foto lainnya yang dirasa tak pantas meski ia tetap mengenakan hijab nya.


Merasa sudah sedikit berprasangka pada Amir, Alma lalu mengirimkan sebuah pesan padanya.


" Assalamu'alaikum.. Terimakasih banyak sudah menjaga amanah dengan baik, ka Amir.. Ini aku, Alma bilamana kakak belum menyimpan nomer ku. " tulisnya.


Semenit dua menit, Alma menunggu balasan pesan dari Amir. Namun nampaknya dia harus menelan rasa kecewa karena notifikasi pesan masuk darinya tak juga muncul.

__ADS_1


***


Dzuhur.


Amir keluar dari kamarnya menuju masjid pondok yang letaknya dibagian depan komplek Al Multazam untuk sholat dzuhur berjamaah dengan para santri putra.


Beberapa saat kemudian, ia sempatkan untuk menambah hafalannya dua halaman sembari menunggu situasi masjid kembali lengang.


Amir menemukan kedamaian disini. Ia masih saja merasakan sesak setelah mendapatkan kabar tentang Aiswa dari sang kakak.


" Aku hanyalah mahluk-Mu yang lemah ya Robb, aku hanya meminta agar Engkau kuatkan hatiku, tetap jaga pandanganku dan dekatkan aku dengan orang-orang baik nan sholih sholihah, aamiin. " gumamnya lirih di sela hafalannya. Hanya ini, yang bisa ia lakukan saat hatinya resah.


Dengan mata memejam, mushaf nya ia tutup sejenak. Dua detik kemudian, Amir membukanya kembali. Dalam hati ia berharap akan ada satu ayat yang bisa menentramkan hatinya. Karena menurut keyakinannya, al-quran adalah obat bagi setiap masalahnya.


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah : 216)


Masih merasa belum cukup tentram. Ia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang mereka tidak ketahui. (Yaasin : 36)


Ia membaca makna dua ayat tadi perlahan-lahan lalu dirinya memejam.


" Allah.... "


Ummi..... Ummi..... Amir rindu... Rindu pelukan Ummi.... (hiks, mama ikutan mewek sih)


" Sakit ya Allah, beginikah rasa sakit akibat cinta yang tidak Kau ridhoi? sakitt... Ya Robb ku, huhuhu... saaakit... "


Amir menangis tergugu, duduknya yang semula tegak kini lunglai melorot seakan tak bertulang disudut masjid, bersandar pada rak mushaf yang salah satunya ia pegang. Lama ia menangisi nasib cintanya di sana hingga sebuah suara mengejutkannya.


" Mas, nuwun sewu, saya di minta Ustad Abyan memanggil mas Amir untuk makan siang, beliau baru sampai dari Majlis. "


" Iya Kang, aku pulang sebentar lagi. "


Sadar telah terjebak nafsu, meski sebagai manusia ia lemah untuk urusan hati. Amir kembali berwudhu menunaikan dua rokaat sholat hajat memohon kelapangan hati sebelum ia meninggalkan masjid.


Lima belas menit kemudian Amir telah ada di ruang makan dengan kakaknya. Abyan melihat adiknya sedang dalam mode patah hati tak berani menegur kembali. Sebagai seorang kakak ia pun risau, adiknya itu belum pernah mengenal cinta, Abyan khawatir Amir akan berubah setelah kejadian yang membuat hatinya sakit.


" Mir, hal anta bi khayr? " (apakah kamu baik-baik saja?)

__ADS_1


" Na'am, ana bi khayr. " (iya, aku baik-baik saja)


" Mir, mba punya ini.. Cobain, seger deh. Nanti sore temani Mba ke Mall yaa bareng Fatima karena Mas Abyan ada majlis dengan Abuya. Ga ada yang nyupirin kita nih, " hibur Qonita.


" Rujak Mba? tau aja Amir butuh yang seger, hehe.. Hmm, Amir jadi supir apa ban serep biar Mba ga dilirik-lirik ama pria lain disana. "


" Dua-duanya, haha.. Paling kamu yang banyak di lirik nanti, adik aku cakep begini kan, " Qonita berusaha menghibur adik iparnya yang sedang patah hati.


" Uhulk.... " suara Abyan.


" Hmmm, Buya juga cakep, super cakep dimata Umma.... " balasnya pada Abyan yang mengkode dengan cara pura-pura tersedak tadi.


Setelah suasana makan siang yang sedikit menghibur hatinya karena celotehan keponakannya Fatima dan Qonita, Amir kembali masuk ke kamarnya.


Lama ia tak membuka handphone dan kini Amir tengah mencari keberadaan benda pipih itu. Setelah ketemu, ia melihat banyak sekali notifikasi pesan termasuk dari Naya, Abah dan beberapa nomor baru yang masuk.


Amir membalas pesan yang masuk satu persatu. Baru saja ia akan membuka pesan dari beberapa nomor baru yang ternyata juga banyak melakukan panggilan. Batrenya low.


Klung, klung. Bunyi notifikasi batre low.


" Ck, baru juga mau buka pesan... Dari siapa sih? banyak banget panggilan nya sampai 20 kali eeh udah mau mati ni handphone. " gerutunya sembari mencari kabel charger.


Kriing. Kriing. Ponselnya kembali berdering. Terpampang dilayar, nomor baru tanpa identitas.


" Halo Assalamu'alaikum.... "


Drrrtt. Pet. Ponselnya padam, tanda baterainya telah habis.


" Innalillahi.... Ko mati? "


Setelah memeriksa ulang konektor, ternyata kabel chargernya belum terpasang sempurna pada port charge dan terlepas hingga mengakibatkan ponselnya betul-betul kehabisan daya.


"Ckckck.... Amir Amir... Ceroboh nya. "


.


.


______________________

__ADS_1


😌


Cintakan membawamu, kembali disini menuai rindu, menghapus perih...


__ADS_2