DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 91. BYE UMMA, DOAKAN AKU


__ADS_3

Bila Amir tengah disibukkan dengan kegiatannya yang padat sebab launching brand baru, lain halnya dengan Aiswa.


Setelah Mama sadar semalam, mereka berdua intens melakukan berbagai terapi penunjang agar kesehatan serta ketahanan fungsi semua organ tubuh dapat kembali normal.


Mama sangat memperhatikan segala tindak tanduk putrinya itu hingga suatu siang saat mereka hanya berdua di kamar saling duduk berhadapan, Mama berucap.


"Aey, Mama tahu kamu bukan Aeyza. Karena Aeyza ku tidaklah seperti mu."


Degh. Aiswa tak lagi bisa mengelak, naluri ibu memang tak pernah meleset mengenali anaknya.


"Aku mencoba berubah menjadi lebih baik Ma, wajar bila aku berubah, " elaknya.


"Aey, Mama yang melahirkanmu kedunia, Mama menciumi wajahmu sejak kau lahir hingga sebelum insiden itu ... ini, tidak ada diwajah putriku, kamu menyembunyikan dengan baik karena memang bentuknya sangat kecil dan samar," ujarnya menatap wajah Aiswa, memperhatikan seksama sebuah titik samar dibawah cuping hidungnya.


"Aku akan jadi anak Mama juga," tunduknya tak tahu harus berkata apa.


"Siapa namamu sayang?"


"Aiswa Fajri, Ma."


Mama tersenyum meski Aiswa tak melihatnya. Gadis itu tertunduk sejak identitasnya terungkap. Mama menjulurkan tangannya, mengusap kepala yang masih rapat tertutup hijab lalu menariknya dalam pelukan hangat seorang ibu.


"Mama mulai sayang padamu, tuntun Mama agar bisa menjadi ibu yang baik menurut apa yang biasa kamu baca, al-quran ... Aeyza ku telah pergi, mungkin ini juga kehendakNya agar dia jauh dariku. Dariku yang kejam, menjadikannya sebagai alat balas dendam pada Arya, suamiku."


Aiswa terkejut kala pelukan hangat itu berubah menjadi suatu isakan. Mama menyesal.


"Aku menyesal Aey namun tiada guna. Aku mengekangnya agar tak berjumpa Papanya, padahal keduanya saling terikat batin. Bila Papanya sakit, Aeyza juga sakit ... keegoisan ku yang memisahkan mereka. Aeyza tak pernah sekalipun mendapatkan kasih sayang kakak dan ayahnya meski aku tahu, Dewiq sangat mencintai adiknya, secara sembunyi-sembunyi menghubungi jika aku lengah."


"Apa dia akan memaafkanku? Aiswa?" Mama tergugu, bahunya terguncang hebat dalam pelukan Aiswa.


"In sya Allah, dia akan memaafkan Mama."


"Dimana rumahmu sayang? kau terpaksakah berada disini? membuatku kembali kedunia?"


"Jakarta, Tazkiya, aku dari sana ... aku bahagia berada disini meski masih ada seganjal rindu yang kerap hadir bila teringat Umma." suara Aiswa parau menahan sesak.


"Kita saling menguatkan ya Aey, Mama akan menyayangimu ... Mama akan berubah sesuai keinginan Aeyza terkahir kali. Kau tahu, kenapa bisa sampai terjadi kecelakaan? karena Aeyza mendapatkan kabar bahwa Papanya berada dekat dengan kami, dan dia mencuri kunci mobil dari tangan Joanna dengan mengalihkan perhatiannya."

__ADS_1


"Mama sekuat tenaga mengejar kemudian berhasil masuk kedalam mobil yang dikemudikan Aeyza ... terjadi pertengkaran hebat antara kami didalam mobil yang melaju kencang dalam guyuran hujan ... hingga konsentrasi Aeyza hilang saat dia menyeka air matanya, terkejut disalip oleh mobil sport disamping kami yang melaju kencang hingga air genangan hujan terpercik deras menerpa kaca depan sehingga menutup pandangan Aeyza ... dan akhirnya oleng, menabrak pembatas tol."


"Joanna yang tiba beberapa detik setelahnya melihat Aeyza keluar dari mobil. Karena pandangan dia yang kabur serta kepala pusing akibat benturan, Aeyza nampaknya terseremped mobil lain yang melintas dari arah belakang, tak bisa meredam laju kecepatan mendadak, untunglah mereka baik saja meski Aeyza pingsan di tempat dan Joanna yang menahan badan Aeyza agar tak jatuh beradu aspal jalan."


Mama mengurai pelukan mereka.


"Karena Mama, Aeyza pergi, juga keinginannya yang terlepas dariku, mungkin Tuhan mengabulkannya." Mama kembali menangis.


"Kita bisa Ma, kita kuat ... dia akan mengerti alasan Mama dan dia sudah tenang disana, Mama hanya bisa mendoakan agar Allah memberinya tempat yang mulia di sisi-Nya. aamiin."


Obrolan dua orang yang saling mencurahkan segala perasaannya nyatanya tak luput dari pendengaran sepasang telinga dari balik tembok ruangan.


Dewiq meneteskan airmata nya. Akhirnya Mama sadar kesalahannya. Sekaligus mengetahui kejadian yang sesungguhnya karena menurut pengakuan Joanna dia tak bisa mendeskripsikan dengan jelas kejadian didalam mobil. Dirinya merasa bersalah tak dapat menjaga Nona mudanya dengan baik meski dia tiba tepat waktu saat menolong mereka berdua.


Kita mulai lembaran hidup baru, semuanya.


Dewiq mengurungkan diri masuk kedalam ruangan, membiarkan mereka larut dalam segala sesaknya.


*


Mama telah berangsur-angsur pulih dan Aiswa sudah kembali fit seperti sediakala. Berkat otak encer nya, rentetan pembelajaran dasar tentang etiket, bahasa asing serta skill lainnya telah Aiswa kuasai dengan baik.


Pasangan Ibu dan Anak itu, kini tengah bercengkrama di ruang keluarga sembari menonton tayangan program televisi. Dewiq baru saja keluar dari ruang kerjanya ketika menghampiri mereka yang tengah asik beradu argumen terhadap satu adegan dalam film yang sedang mereka tonton.


"Aey kamu siap? besok kita terbang, semua keperluan untuk kuliahmu sudah disiapkan oleh Ulfa disana."


"Siap Kak, Mama bagaimana?"


"Ma, mau ikut? Mama resign saja, temani Aey disana karena jadwal kuliahku padat."


"Mama nyusul kalian sembari mengajukan pengunduran diri, kan Mama juga punya tanggungjawab disana."


"Aku bakalan kangen Mama ... Kak, Umma?"


"Kau ingin menemuinya?"


"Kita bisa memancing umma keluar agar kau bisa puas melihatnya."

__ADS_1


"Mau, kapan Kak? siang ini?"


"Aku akan coba bicara pada Ulfa."


Dewiq mengambil ponsel dalam saku celananya, nampak berbincang dengan Ulfa.


"Ok, bersiaplah kita pergi satu jam lagi, pakai masker jangan lupa Aey."


Satu jam berikutnya. Kedua gadis telah berada didalam ruangan privat dengan view kaca satu sisi, menghadap meja yang telah di reservasi oleh anak buah Ulfa dimana Umma dan sang kakak akan duduk.


"Umma, Kak... apa mereka bisa melihatku?"


"Tidak, ini ruangan dengan pandangan satu sisi, dari luar tak bisa melihat ke dalam sini."


Aiswa tak berkedip saat tubuh wanita senja itu duduk menghadapnya. Umma masih sangat cantik meski gurat wajahnya terlihat murung. Disampingnya duduk dengan gagah sang kakak yang tengah berbincang dengan seseorang dari pihaknya yang berpura-pura menjadi calon klien.


Air mata tak terasa luruh membasahi pipi yang semakin hari kembali terlihat merona. Merasa ada yang memandangnya, Umma mengangkat kepalanya, menatap pantulan dirinya didepan pintu kaca yang membentang dihadapannya.


"Kak, apakah diruangan itu ada orang?"


"Reservasi Umma ... kenapa?"


"Umma merasa ada yang memperhatikan Umma dari situ."


"Perasaan Umma saja, tadi aku sempat tanya saat akan order, katanya ruangan itu kosong dan akan digunakan satu jam mendatang."


Umma mengabaikan pernyataan Ahmad, hatinya berdenyut seakan sesuatu menariknya untuk mendekati ruangan itu.


"Umma, maafkan Aish." Aiswa terisak, kedua tangannya menutup mulutnya rapat agar tangisannya tak terdengar dari luar. Sementara Umma, memegang dadanya, sorot matanya memancarkan kesedihan tak ingin melepaskan pandang dari sana.


Aiswa, kenapa Umma mengingatmu saat ini Nak.....


.


.


...________________________________...

__ADS_1


__ADS_2