DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 95. GONE


__ADS_3

Kegelisahan Aruni berlanjut hingga keesokan pagi. Sungguh Amir dibuat panik, sepagi itu Aruni mual muntah hebat hingga dengan terpaksa dilarikan ke IGD rumah sakit ternama di kota itu.


Dalam perjalanan, Amir melihat darah segar mengucur deras dari salah satu kaki Aruni. Jangan tanyakan bagaimana rasa hatinya, sudah tak karuan. Anehnya Aruni tak merasakan sakit sedikitpun bahkan dia mengaku tak merasakan apapun.


Amir hanya menenangkan, meski jemarinya tak henti menekan tombol panggilan cepat menghubungi Abah dan adik iparnya.


Mahen yang sedang dalam mode siaga karena Naya sudah mendekati HPL hanya bisa mengirimkan dokter kenalannya sewaktu menangani Naya dulu. Dokter Laura, sigap memberikan sugesti positif ketika Aruni baru saja tiba di rumah sakit tempatnya praktek.


Abah hanya bisa memberikan support pada putra keduanya itu sembari memesan tiket kereta keberangkatan siang nanti untuk mendampingi anak dan menantunya.


"Silakan tunggu diluar ya Pak," pinta suster jaga. Dokter Laura menemaninya diluar ruangan.


"Pak Mahen meminta saya mencarikan dokter terbaik, yang didalam sana, beliau adalah dokter wanita terbaik di kota ini, Pak Amir."


"Terimakasih Dokter."


"Semoga keduanya baik saja," doanya.


Amir tak bisa membuat keputusan kala Dokter Amelia menawarkan sebuah opsi yang menurutnya gila, dia harus memilih antara ibu atau sang jabang bayi. Mengingat riwayat yang diderita oleh pasien.


Dengan berat hati, tangan yang gemetar bahkan air mata yang sudah menyembul disudut bola matanya, ia memilih Aruni yang diselamatkan apabila kondisi kritis dan terdesak.


"Abah, aku milih Qiyya," isaknya disela penandatanganan tindakan medis.


"Mir, sabar, Abah pulang ... yang ikhlas," suara Abah diujung sana.


Tidak ada yang dapat dikatakan oleh pria paruh baya itu, semuanya sudah kehendakNya. Sedari awal semua tahu bahwa kondisi Aruni saat dinikahi oleh Amir sudah kian parah. Pengobatan yang dilakukan beberapa bulan lalu adalah hanya untuk mempertahankan masa kerja organ vital, semua kembali pada kuasa Allah.


Satu jam kemudian, pintu besar berwarna putih dengan garis merah disekelilingnya terbuka.


"Pak Amir, bisa kita keruangan sebentar?" Dokter Amel melihatnya lalu beralih pandang pada Dokter Laura.


"Ba-gaimana istri dan anakku?" ucapnya frustasi.


"Mari Pak," ajak sang dokter agar ia mengikutinya.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan, masih dengan nuansa khas rumah sakit, serba putih dengan bau khas obat-obatan.


"Silakan duduk."


"Kondisinya memang sudah kehilangan saluran telur dan kondisi satunya tidak begitu baik, juga terjadi pelengketan pada myom nya ditambah dengan ... Pak Amir sebelumnya sudah diberi informasi tentang placenta previa?"


"Iya, sudah. Aku tahu kondisinya demikian rumit sejak awal Dokter ... keajaiban bagi kami, tapi apakah aku harus merelakan salah satunya?"


"Kami masih berusaha, baby nya laki-laki namun kita harus banyak berdoa, dibawah tujuh bulan semua organ vital belum terbentuk dan berfungsi baik ... anda harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."


"Allah...." lirihnya menahan sesak.


"Kami akan berusaha maksimal Pak."


"Boleh aku melihatnya?"


"Mohon maaf, babynya di NICU, akan saya mintakan fotonya pada petugas yang berjaga ya Pak, maafkan kami karena memang kondisi ruangan harus betul-betul steril."


"Baik Dokter, terimakasih ... kapan istri saya dipindahkan ke ruang perawatan?"


"Secepatnya setelah penanganan di ruang operasi selesai, Pak."


Teleponnya tak henti berdering, Amir memilih mengabaikan. Dia hanya ingin bicara dengan Abah atau Mahendra saja, dua orang yang bisa menenangkannya di situasi saat ini.


Tak lama brangkar Aruni tiba didorong oleh dua orang suster serta Dokter Laura yang masih setia mendampingi.


"Pak Amir, setelah ini nanti akan ada observasi terhadap kondisinya. Masuk ke ICU dahulu dan kami akan terus memantau perkembangannya. Jika tetap dalam kondisi stabil dan pengaruh obat bius mereda setelah pasien sadar akan kami pindahkan ke rawat inap didampingi suster serta dokter jaga di depan cluster ... ini nomor saya, hubungi segera bila ada hal yang ingin anda sampaikan, " terang sang dokter.


"Terimakasih banyak Dokter, maaf merepotkan padahal bukan bidang Anda," jawabnya sungkan.


"Saya terkesan dengan kegigihan Pak Mahendra dulu, dan kini terkesan dengan keteguhan Anda ... saya merasa terhormat bisa bekerja dengan keluarga besar Anda, jadi jangan sungkan," ujarnya.


"Terimakasih banyak, Dokter."


Dokter Laura pamit setelah memberikan informasi tertentu yang tidak tertera dalam laporan medical rumah sakit.

__ADS_1


Menjelang petang.


Atas rekomendasi dokter Laura, Amir diizinkan masuk ke ruangan dimana Aruni berada.


Pandangannya beralih pada sosok cantik disana. Dengan langkah yang dia kukuhkan, Amir mendekati ranjang yang diatasnya terbaring pendamping hidupnya. Dengan tangan lemahnya dia menarik kursi disamping ranjang putih itu. Raganya terduduk lungsur begitu saja, jemarinya menggenggam tangan pucat yang masih terkulai lemas disana.


"Qiyya, seandainya ... kita harus ikhlas bukan?"


Akhirnya, bahu tegap itu kembali terguncang, sesak yang kian menghujam dada berusaha ia luapkan kala tak ada seorang pun menemani.


"Beginikah rasanya?"


Sadar diri mulai goyah karena bisikan nafsu. Dia melangkah menuju toilet didalam ruangan itu, membasuh wajah yang seakan kumal akibat peluh. Perlahan, hingga merasakan setiap bulir air yang menetes dan ia raupkan ke setiap bagian rukun wudhu, meresap hingga pori.


"La haula wala quwwata illa billah, Qadarullah wa maa syaa a fa'ala." (Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat.)


Masih dengan butiran wudhu yang membekas, Amir meminjam sajadah dari suster pria yang berjaga disana. Kemudian dia meminta izin agar dapat menutup sekat tirai sementara, menghamparkan sajadah tepat disamping ranjang istrinya lalu bermunajat, mencurahkan segala gundah hanya pada Rabbnya sang pemilik semesta.


Dia tergugu, menangis hingga matanya merah. Lebih baik hanya berdua, tak akan ada yang mendengar segala kesedihan teramat yang dia rasa.


Hanya padamu ya Robb.


Entah sudah berapa lama, dia hanya melakukan sujud, sholat, berdoa lalu mengaji tanpa ada yang bisa mengganggu atau mengalihkannya dari aktivitas itu.


Sudah aku bilang, aku akan merayu Allah bukan? Qiyya, bertahanlah. Tiada yang mustahil bagiNya karena dialah pemilik jagat raya. Yakinlah kita akan baik saja, akan bahagia sepeti niat awalku saat menikahimu.


"Qiyya, bangun segera yaa, kuatkan aku ... bukankah kita akan kuat bila bersama?"


"Dek, dengar aku kan? ingat niat kita saat menikah dulu? kamu yakinlah padaku yaa, Qiyya ... yakinlah pada Allah Sang Maha penyembuh, percayalah padaku bahwa aku tak akan meninggalkanmu."


Entah harus dengan cara apa dia membuktikan bahwa dia memang menyayangi dengan segenap hati.


Amir meraih tangan wanitanya, menghujani jemari dengan ciuman basah berharap bisa menyalurkan sedikit rasa tegar yang sejatinya telah luruh entah kemana.


.

__ADS_1


.


...____________________________...


__ADS_2