
"Kalian!"
"Ya Ma."
"Ya Moms."
"Selain disini, kalian chat pribadi?"
"Aku engga, Ma."
"Aku ga berani Ma ... karena aku sadar, godaan nafsu itu datang kapan saja, mungkin kali ini aku bisa redam namun belum tentu sebaliknya ... aku ga setegar Amir yang teguh hati meski adikku menyodorkan diri kala khilafnya ... jika lelakinya bukan Amir, mungkin Aiswa sudah ternoda, menikah tanpa restu bahkan melanggar syara' ... aku ga sanggup, nafsuku masih membumbung tinggi ... jika Amir saja bisa khilaf, apalagi aku."
"Beneran Mas? kenapa pula Amir dibawa?" Mama memancing reaksi emosi Ahmad.
"Karena dia lebih fahim dari aku ... ketika Allah mengujinya, dia pun khilaf namun dia bisa menahan, memutar arah kembali pada jalurnya ... tidak semua pria bisa berlaku demikian Ma."
"Setiap kebohongan adalah dua perkara, yaitu kebohongan yang kita katakan kepada orang lain dan kebohongan yang kita katakan pada diri kita sendiri untuk membenarkannya ... Aku tidak ingin Marsha meragukanku, maka aku berusaha menumbuhkan kepercayaan untuknya, menepati janjiku dan menghilangkan sikap yang membuat orang lain meragukanku ... dimulai dengan ini, Ma."
"My Man, My Bear, terbaik."
"Aku menjaga Marsha dari nafsuku, Ma ... karena aku menghormatinya, kiranya ini jawaban aku, kalau Mama kurang yakin ... Mama bisa menggunakan fasilitas phone a friend atau ask the audience."
"Bear 😂."
"Mas, 🤭, kamu tuh selalu saja, sedang serius tapi nyelipin candaan."
"Ya gimana Ma, sulit kalau Mama ga percaya, makanya kudu ada saksi ... namun karena kita hanya bertiga disini, mungkin khodam kita saksinya."
"Bear, please 😂😂."
"Apa sih Sha, manggil mulu, masih kangen ya?"
"Mas, mulai deh."
"Aku kan nanya Ma, kalau iya kan rezeki ... kalau engga ya rezeki juga."
"Why Bear?"
"Agar bisa berterima kasih kepada jarak, sebab tanpanya rinduku padamu tak akan menjejak ... dan aku tak akan pernah tau rasanya haru yang terisak, saat penantian telah sampai puncak."
"Lagi, Mas lagi...."
"Dih Mama nagih sih, Bear nya aku loh Ma."
"Kan Mama juga baca Kak, berasa Mama yang digombalin 😅."
"Kamu tahu ga Sha? dari delapan milyar manusia di bumi, kenapa Allah memilih hatiku untukmu yang tak bisa kulihat sewaktu-waktu?"
"Takdir Bear."
"Iya itu juga ... karena mendengar suaramu jauh lebih baik daripada menyentuhmu, meski aku merindukan kulitmu menyentuh kulitku, suaramu yang menyentuh jiwaku ... ya Allah ngene rasane LDR ya? kapan halal sih Sha, lama amat."
"😂 DL kamu Mas."
"Ketiadaan mempertajam cinta, dan kehadiran memperkuatnya ... aku memelukmu dalam doa, Bear ... dosen ku sudah masuk. Thanks Bear, see you."
"Take care Sha."
"Miss you." Ahmad menulis lagi.
"Mas."
__ADS_1
"Buat Mama juga itu, jangan iri sama Marsha ya Ma."
"😅, Ya Allah Ahmad Hariri ... Mama ga sangka kamu bisa bercanda gini," Mama tak henti tertawa.
"Karena Marsha, otakku kadang goyang Ma ... aku lanjut kerja ya Ma, she's better now ... kekhawatiranku jauh berkurang daripada tadi."
"Makasih ya Mas, jaga kesehatan."
"In sya Allah, kalian juga ya. Assalamu'alaikum."
Ahmad masih memandang gawainya saat ia meninggalkan grup chat itu.
"Sabar, sabar, ngetik aja balapan ama jantung, gimana kalau ketemu coba," gumamnya sambil tersenyum hingga ditegur Umma.
"Siapin mahar jangan lupa," tegur Umma sambil lalu.
"Udah Umma, kapan yuk ke Mansion, nanti malam?"
"Buyaaaa, anakmu."
Ahmad menanggapi hanya dengan kekehan seraya meraih kunci mobilnya, kembali ke kantor travel karena sore itu dia ada janji temu dengan klien yang ingin mengajukan short trip jejak nabi.
...***...
Melbourne, Australia.
Sudah menjelang sore ketika Dwiana membuka matanya dan lirih bersuara.
"Where-"
"Hospital, with me ... welcome home Dwi, sudah merasa lebih baik?"
"Alien, is that you? aku ga mimpi kan?"
"Aku, Rayyan Ar-rasyid, Your Alien's here ... mau minum Dwi?"
"Boleh tolong basahi tanganku dulu? aku ingin mengusap mataku."
Rayyan mengambil kapas, lalu membasahinya dengan air. Tanpa banyak kata, dia mendekati ranjang Dwiana lagi, duduk disisinya lalu mengusap pelan kedua mata gadis itu.
"Alien, biar aku."
"Sudah, diam, aku doktermu hari ini."
Dwiana hanya bisa pasrah meski dirinya tak suka disentuh paksa. Tenaganya habis, rasanya sangat lelah meski hanya untuk bicara.
"Sudah bisa membuka perlahan? try Dwi karena kamu juga harus minum obat."
Dwiana perlahan menggerakkan kelopak matanya, menutup dan membuka beberapa kali agar terbiasa ketika menerima cahaya yang masuk. Setelah merasa lebih baik, dia menoleh ke samping kanannya.
"Thanks Dokter, maaf menyusahkanmu...."
"Aku sedang cuti disini untuk mengenang peringatan kepergian Papaku besok ... kebetulan Dewiq meminta agar aku melihatmu, and here we are, maaf ya Dwi, aku lamban."
"Pergilah, aku bisa."
"Dwi, cukup rasa bersalah pada Dewiq saja yang menggangguku, jangan kau tambah ... melihatmu energik dan tergolek lemah begini ini sudah buat aku makin bersalah jika meninggalkanmu dalam kondisi demikian ... aku akan mencari seseorang yang bisa menjagamu nanti."
Tok. Tok.
"Hai Dwi, boleh aku masuk?"
__ADS_1
Keduanya melihat ke arah pintu kamar yang terbuka. Nampak menyembul kepala seorang pemuda tampan disana.
"Hai Siapa?" lirihnya.
"Sean," jawabnya seakan tahu.
"Siapa dia?" tanya Rayyan sedikit tak suka.
"Aku teman kampusnya, dari Jakarta dan bersebelahan unit ... jadwal kuliahku bertolak belakang dengannya, maaf Dwi, aku baru menampakkan diri."
Oh, ini sebabnya.
"Thanks, Sean."
"Aku khawatir saat petugas apart bilang kau dilarikan ke rumah sakit, why? maaf hari itu aku tak sempat menitipkan makanan untukmu karena aku tergesa ... aku menyesal jika tahu begini."
"Sudah ada aku, kau tak perlu risau, Man."
"Thanks ... kamu?"
"Kekasihnya Dwi, Rayyan."
"Dokter, No."
"Hmm lekas sehat kembali Dwi ... aku akan mampir saat pulang kuliah nanti."
"Ga perlu, sudah ku bilang, ada aku yang menjaganya," ketus Rayyan menatap tak suka.
"Dwi tak melarangku, Tuan Rayyan," sengitnya lagi.
"Sudah, please."
"Bye Dwi, see you."
Setelah kepergian Sean, Rayyan hanya diam. Entah, rasanya tak rela bila ada yang peduli pada Dwi selain dirinya. Dia yang menemukannya dan membawa kemari.
Hanya aku yang berhak menjaganya.
"Minum, haus, tolong."
Rayyan lupa tadi Dwi meminta minum. Ia mengatur ketinggian tempat tidur lebih dulu agar nyaman ketika duduk bersandar. Menuangkan air dalam gelas serta menaruh sedotan disana agar Dwi mudah meneguknya.
"Pelan, Dwi, tak ada yang merebutnya darimu," ujar Rayyan saat melihat Dwi seakan kehausan.
Rayyan meletakkan telapak tangannya di dahi Dwiana, mengecek suhu manual apakah tubuhnya masih demam atau sebaliknya.
"Semoga stabil ya Dwi, agar lekas pulih," tuturnya pelan diangguki samar oleh Dwiana.
Setelah meletakkan gelas diatas meja. Terjadi keheningan dalam ruangan, yang terdengar hanya suara infus yang menetes pelan hingga Rayyan dikejutkan oleh suara panggilan dari ponselnya.
"Ya Halo, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Rayyan."
"I-iya...."
.
.
..._____________________________...
__ADS_1
...Ini mau mommy tamatin, ada request? 😁...