DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 43. INTERMEZZO


__ADS_3

Gamaliel terpaksa menarik ujung lengan koko yang Abah kenakan agar segera beranjak dari sana. Dirinya tak sabar ingin berteriak, bersorak sorai atas jawaban sang anak korban fitnah keji ayah Almahyra bahwa mitos itu akan terpatahkan.


Gamal masih ingin menyimpan rahasia kecil yang ia punya, sedikit berlebihan rasanya tapi ia bahagia mendapatkan perhatian lebih dari ayah sahabatnya itu.


Abah, maafin Gamal karena terlalu bahagia atas kepedulian Abah padaku.


Amir menjadi orang terakhir yang bangkit dari duduknya, memohon maaf atas kelakuan Gamaliel dan Ayahnya yang tak sempat menyalami tuan rumah. Untung sang empunya kediaman itu ramah, bayangkan bila rasa kecewanya kembali menuai sumpah.


Siapakah yang akan jadi korban selanjutnya? hii, Amir bergidik ngeri meski hanya sebatas bayang.


" Maafkan kami ya Kang, terimakasih banyak sudah welas asih dengan ayah Almahyra. Kami pamit, semoga bisa silaturahim di lain waktu, maaf sowan ga bawa apa-apa pula, " Amir menyalami pria yang ditaksir hampir sama dengan usianya.


" Nggih Kang, semoga langgeng pernikahan dan jodohnya, saya akan datang saat syukuran nanti. Mohon maaf atas kesalahan para orang tua dahulu, dan semoga kita semua di ampuni oleh Allah atas segala dosa. Aamiin. "


" Njenengan saking pondok Kang? " tanya Amir sesaat sebelum memakai sepatunya.


" Nggih Kang, tapi cuma sebentar, ga kuat dengan putri Yai nya. Ana tau diri jadi yaa medal saking riku teras nyambi ngajar mawon dekat sini. " (keluar dari sana dan melanjutkan mengajar didekat rumahnya).


" Alhamdulillah barokallah, sehat selalu ya Kang. Pantes adem, ternyata fahim. " Amir tersenyum menepuk lengannya.


" Allah yubarik, fii amanillah Kang. Ana mondok karena ingin Ayah dilapangkan kuburnya, ana faqir ilmu, do'anya Kang. "


" Aamiin, in sya Allah ... ana pamit, Assalamu'alaikum. "


Ketika Amir membuka pintu belakang mobilnya, Gamal bersungut kesal mengatakan dirinya bagai keong yang lamban.


" Lama amat, ga tau apa hati lagi ketar-ketir bahagia, " protesnya.


" Bang, jalan ... kan pamitan dulu Mal, Abah juga dih ga sopan main slonong aja. Gimana coba kalau di sumpahin nikah lagi ama nini peyot. " Cebiknya tak kalah kesal.


" Gamal nih, main tarik aja. " Abah belum sadar kalimat terakhir anaknya.


Hahahaha. Gamal tertawa. " Emang lo rela Abah sama Nini peyot? "


" Ya boleh lah, udah pada tua kan, mo ngapain coba. " Tawanya pecah namun berujung rasa sakit akibat jentikkan telunjuk Abah tepat mengenai dahinya.


Pletakk.


" Ga sopan sama orang tua ... tapi kalau nini nya macam Mamanya Mas Panji sih gak apa-apa, bisa diajak lembur, yaa kan. "

__ADS_1


Alex dan Gamal tertawa mengabaikan wajah Amir yang menekuk tanda ia tak suka. Besan Abahnya itu memang masih ayu meski usianya hampir enam puluh tahun.


Honda Brio merah itu telah kembali melaju dijalan beraspal yang masih mulus, tanda jarangnya kendaraan roda empat melintas, sehingga lengang sepanjang perjalanan.


Kedua pria muda disamping dan belakang Alex nampak asik memainkan game di ponsel masing-masing. Sedangkan Abah menyandarkan kepalanya pada jok sembari memejam.


Alex menyalakan radio, memencet tombol otomatis agar pencari signal radio dapat menangkap gelombang frekuensi terdekat yang tengah on air.


Pencarian berhenti di salah satu radio FM, mulai terdengar sayup alunan musik dangdut koplo. Awalnya hanya Alex yang mengikuti lirih irama lagu namun ketika mendekati reff ia menoleh ke kiri rasa tak percaya.


" Apa salahkuuuu, apa dosakuuuu, hingga kau tega menyakiti.... " suara Gamal mengikuti nadanya.


Tanpa dikomando, Alex mulai menaikkan volumenya, karena merasa mempunyai teman berkaraoke ala ala.


" Kau yang slalu, ku puja-pujaaaa, namamu terukir indah.... " Gamal dan Alex kompak menyanyi senada seirama.


" Gerlapnya indah duniaaaaa... terluka penuh kecewa.... " Amir ikut nimbrung meski lirih seraya masih memainkan game di ponselnya.


" Ho a Ho e.... " lagi, suara kedua pria didepan girang bukan kepalang.


" Luka tiada mengesan, laruuuut kesepian.... " Amir mulai berani bersuara lagi, kali ini terdengar lebih jelas.


" Heeee'aaaa.... " Abah menimpali.


Hahahaha. Mereka lalu tertawa lepas, bernyanyi bersahutan hingga lagu habis, seru.


Baru kali ini, Amir melihat Abahnya sesantai ini. Meski kerap melihat kemesraan kedua orang tuanya dulu saat Umminya selintas bersenandung satu dua bait sholawat, dan Abahnya menyahuti sambung menyambung berujung keduanya saling berpelukan setelah berdendang bersama, namun Amir tak pernah menjumpai Abahnya mendengar lagu dan sebagainya.


Mungkin kebiasaan mang Sapri dan pekerja di rumahnya lah yang membuat Abah diam-diam tahu lagu-lagu koplo yang sedang hits.


" Abah keren, tahu juga, " Alex surprise.


" Abah gue gaul Bang ... di Malay, lagu ginian itu hits lho karena enak sih bisa bikin happy hilangkan stress meski nadanya kadang sedih, " terang Gamal.


" Ulah mang Sapri ini pasti dirumah selama aku ga ada. " Amir menyelidik menoleh ke Abahnya.


" Gak apa-apa biar mereka ga bosan, Mir ... ga sholawatan melulu, buktinya kamu juga tuh nyambung aja tadi. "


" Skakmat. " Gamal tertawa.

__ADS_1


" Aku pernah denger satpam Multazam itu, kalau jelang tengah malam ditemani koploan sambil ngopi katanya biar ga ngantuk, " Amir ingat saat dirinya ikut nimbrung dengan mereka jaga malam membuatnya sulit menghafal karena irama lagunya memang asik dan terngiang-ngiang.


" Lagu itu pantangan kamu, Mir. Kamu ngapalin lagu satu menit kelar, belum tentu dengan menghafal mushaf satu halaman full kan? "


" Hehehe, iya Bah. Sisa satu juz lagi ko ini aku khatam. "


" Barokallah adekku, do'ain abangmu ini ya dek, besok mau nikah, " sela Gamal.


" Abang abang, gundulmu. Kita seumuran, " cebik Amir tak terima.


" Kan aku nikah duluan dek, mau nikmatin malam surga dunia lebih dulu. Yang belum nikah kan masih anak kecil, " tawanya lagi menggoda Amir.


" Lu happy amat, jangan-jangan tar malah koit pas lagi anu-anunya. " Amir dan Alex terbahak.


" Aduh, " seru Amir kesakitan akibat Abah memukul bahunya.


" Yeee sirik, mau aku bagi saat livenya ga? " tawanya konyol.


" Gamal! " kali ini Abah menegurnya.


" Hahaha. " Giliran Alex dan Amir terbahak. Sungguh seru perjalanan kali ini pikir Alex. Keluarga Bosnya yang biasa kalem dan tenang bisa rada slenge'an juga.


" Bah, aku bukan anak sulung dan anak kandung Mama. Minggu depan iddahnya selesai, Abah main yaa biar Mama yang jelasin semuanyaa. Lalu ku ingin menyiapkan kejutan untuk Mama, aku ikut ke Solo ya Bah, pengen mengenal kakek dan buyut Mama. Semoga mereka bersedia hadir saat aku menikah nanti." Gamal memulai pembicaraan serius.


" Nak, benar begitu? Mas Panji bilang sebaliknya? "


" Karena berdasarkan dokumen kan mencarinya? sama sepertiku ... Mama menjelaskan semuanya semalam Bah. " Senyumnya mengembang.


" Mir, asek lho Mir, gue udah bayangin persiapan malam itu. Aku rekam dah suara surga buat kamu. " tawanya meledak kembali.


" Malam ya gelap deuh ... bener Mal, kamu bisa masuk surga dan mendengar suaranya bila saat itu kamu wassalam kan lagi berjuang ibadah fii sabilillah tuh menjebol pertahanan lawan, " balas Amir dengan tawa tertahan. Sementara Alex sudah cekikikan di balik kemudi.


" Ckck, kalian ini. Kenapa jadi mesum sih. " Abah memukul kepala keduanya dengan koran yang digulung, diambil dari belakang jok kemudi.


Sebuah perjalanan yang membuat satu masalah pelik terurai.


.


.

__ADS_1


..._________________________________...


...Aku share reel ke IG yaa, biar bisa nikmatin lagunya 😅 : follow IG mama_qiev...


__ADS_2