DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
PART 6. GELISAH


__ADS_3

Setelah pertemuan sekilasnya dengan Aiswa, bayangan wajah ayu nan alim itu kian menghantui segala sudut inderanya. Hasbi kerap tersenyum, berbicara bahkan mulai mengigau dalam tidurnya.


Sang Buya yang sedang mengunjungi anaknya di apartemen milik Hasbi sempat terheran akan perubahan sikap anak bungsunya itu. Pada kesempatan saat sarapan pagi, Buya menegurnya.


" Mas, kamu ko kayak orang lagi kasmaran. Sama siapa? ga baik menunda, jatuh nafsu nantinya. Jika sudah mantap, Buya akan melamarkan untukmu. "


" Aiswa, Putri Kyai Hariri Salim, Buya. Yang sempat Buya sodorkan padaku sebelum Naya masuk dalam prioritasku kemarin. "


" Sudah mantap? istikharah?, " tanya Buya nya memastikan.


" Nggih, sampun.. Bismillah, tinggal menunggu jawaban Aiswa saja apakah berkenan untuk bertemu tatap muka secara langsung, " jawab Hasbi berbinar bahagia.


" Jadi ceritanya mau balikan ke daftar tunggu nih? Buya setuju saja, semua tergantung keputusanmu. Jangan terburu-buru seperti waktu yang lalu ya Mas, " pintanya khawatir tentang kejadian Hasbi menjadi pemurung akibat Naya menolaknya, masih menghantui benak sang ayah.


" Nggih Buya, kali ini aku akan pelan-pelan. Ga mau lagi memaksakan kehendak meskipun bila Aiswa menolak, aku akan tetap berusaha mendekatinya secara alami. "


" Sudah sangat mantap sepertinya. "


" In sya Allah, do'akan aku yaa Buya, " pintanya pada sang Ayah. Dan obrolan seputar gadis itu masih berlanjut hingga Hasbi berangkat untuk mengajar disana seperti biasa.


***


Bogor.


Sabtu siang ini, resepsi pernikahan Naya yang tak lain adik kandung Amir sedang berlangsung di conventions Hotel ternama di kota Bogor. Empat jam telah berlalu, nampak semua tamu perlahan satu persatu meninggalkan gedung, termasuk kakek buyutnya yang datang dari solo telah pamit pulang lima belas menit yang lalu.


Amir sedang menunggu Abahnya turun dari kamar Naya di lobby. Ia rencananya akan langsung pulang mengantar rombongan Abahnya kembali ke Cirebon terlebih dahulu. Setelah urusan dirumah selesai, ia akan ikut kakak sulungnya ke Semarang, sesuai dengan janjinya pada Almahyra bahwa Amir akan datang langsung untuk mengembalikan ponsel gadis itu yang ada padanya.


Sungguh aku penasaran isi didalam nya, apakah demikian penting hingga ia rela menunggu ku. Batinnya.


" Dibuka ga yaa? Mas Panji ngasih tau sih Pin numbernya, melanggar privasi ga ya? tapi aku penasaran, " Amir berkata lirih melihat layar ponsel yang mati di telapak tangannya.


" Mir, yuk pulang.. Abah udah pamit ke adikmu. Bagasi mobilmu penuh hantaran tapi belum dikunci, jadi kamu bawa Abyan dan keluarganya saja.. Tetangga dan Pak RT biar dengan Abah dimobil satunya. Mas Panji bilang mobil nak Alex kosong bila kita terlalu sesak karena dia juga hari ini kembali ke Cirebon, kamu atur ya, Abah lelah, " pinta Abah saat melihat Amir yang sedang duduk berdiam diri di lobby Hotel.

__ADS_1


" Beik Abah... Amir atur posisinya, Bang Alex dimana?. "


" Ada di parkiran samping, semua hampir selesai bersiap... "


Amir bangkit, meraih kunci mobilnya yang ia letakkan dimeja sembari tangan kirinya memasukkan ponsel Almahyra kedalam saku celana kirinya, kemudian Amir melangkah keluar lobby lewat pintu samping Hotel menuju parkiran sesuai arahan Abah.


Setelah semua aman dan telah siap di posisi kendaraan masing-masing, Naya dan Mahen yang telah turun dari kamar Hotel menghampiri mobil mereka sebelum iringan itu bertolak keluar dari pelataran Hotel.


" Ka, goodluck ya! " Mahen sumringah saat Amir menepuk lengannya sebagai isyarat pamitan.


" Nanti aku telpon lagi Mas, " balas Amir cepat saat memutari bagian depan mobilnya untuk masuk dan duduk dibelakang kemudi.


" Hati-hati dijalan yaa semua! " suara Naya sambil melambaikan tangan saat iringan mobil yang membawa orang tuanya perlahan bergerak meninggalkan Hotel.


*


Keesokan Paginya.


Amir kini telah berada dalam sebuah taxi bersama sang kakak yang akan membawa mereka menuju stasiun kereta untuk pulang ke Semarang.


Tibalah saat kereta Agro Bromo transit sejenak di stasiun Kejaksan, mereka langsung menaiki gerbong dan duduk sesuai nomer tiket yang telah dipesan.


Amir yang telah nyaman duduk di kursi depan kakaknya, kembali mengambil ponsel Almahyra dari tas ranselnya kemudian mengaktifkannya. Ia bermaksud memberikan kabar padanya bahwa saat ini dirinya tengah menuju kota Semarang.


Belum juga sempurna ponsel itu menyiapkan segala sistem aplikasinya, panggilan dari nomor yang sama seperti kemarin muncul di layar.


" Assalamu'alaikum, aku sedang dalam perjalanan ke kota Mba Alma, baru saja berangkat, " Amir berkata sebelum suara di seberang mengucap salam.


" Wa'alaikumussalaam, oh maaf bila ana mengganggu. Ana butuh draft naskah disana yang tak mungkin ana susun sejak awal lagi maka ana memastikan Bapak jadi mengembalikan ponsel hari ini sesuai janji tempo hari atau batal.. Afwan sekali lagi, " tuturnya panjang.


" Maaf aku lambat memberi kabar, in sya Allah bila aku tiba di rumah, aku akan langsung mengabari.. oh iya, simpan nomorku saja, sebab ponselnya low batt dan aku tidak punya chargernya Mba Alma, "


" Baik, ana catat nomornya, silakan sebutkan. "

__ADS_1


" 081xxxx Amirzain. "


" Terimakasih banyak, ana tunggu yaa. " Alma yang mengakhiri panggilan kali ini.


Dehh, degh, degh.


Jantung Almahyra kembali berdegup kencang mendengar Amir memenuhi janjinya. Hanya untuk mengembalikan sebuah ponsel, tapi pria itu rela menuju kota nya, Almahyra sungguh terkesan dengan sikap Amir.


Namun berbeda dengan Amir, kali ini ia nampak biasa saja meski Almahyra terdengar jauh lebih ramah saat ia berbicara tadi.


Aneh, mendengar suara Almahyra kali ini jantungku berdegup biasa saja tak seperti kemarin. Ah mungkin aku badmood karena kurang tidur. Batinnya.


Entah berapa lama Amir tertidur, ia terbangun kala kakaknya menepuk bahunya untuk makan siang.


" Mir, kamu sudah niat jamak ta'khir kan sebelum berangkat tadi? kalau sudah, kita makan siang dulu, " tanya Abyan saat adiknya telah membuka mata.


" Sampun ka, " jawabnya masih dengan suara parau khas bangun tidur.


" Sebentar lagi kita sampai, nanti istirahat dulu jangan langsung keluar, kamu itu kecapean sampai demam begini ga sadar, " Abyan menyentuh kening adiknya merasakan suhu tubuh yang tak seperti biasanya.


" Iyakah? aku baik-baik saja kak.. Aku sudah punya janji sama kawan, sebentar saja menemui untuk mengembalikan ini. Boleh ya!, " pintanya memohon sembari menunjukkan ponsel Almahyra.


" Nanti setelah tidur dan minum obat, kakak izinkan. Kamu tanggung jawab kakak selama di Semarang, jangan bantah Mir, " Abyan mengultimatum.


" Tapi kak... "


" Jika kawanmu paham dan butuh barang itu, ia pasti yang akan mengambilnya apalagi bila ia tahu kondisimu begini, " Abyan bersikukuh.


Amir tak lagi menanggapi kakaknya, ia paham watak Abyan persis Naya dan Abahnya, keras hati. Semakin ditentang maka akan semakin teguh.


Alma, maaf yaa bila aku sedikit terlambat. Semoga kamu mengerti.


Aiswa, apa kabar kamu disana? apakah kamu masih mengingatku?... Allah, mungkinkah aku memiliki kisah dengannya?

__ADS_1


Amir berkata dalam hati, mencurahkan segala kegundahan yang hanya diketahui oleh Tuhan-Nya.


__ADS_2