DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 114. DA3A


__ADS_3

"Hai adik kecil, ikut siapa sekarang?" tanya Rey yang kebetulan melihat ulfa di bandara yang sama.


"Kak, dengan siapa? Abang?" tanya ulfa khawatir.


"Iya, siapa lagi? Kami akan kembali ke indonesia ko dua jam lagi ... jemput atau mau pergi?"


"Jemput Nona ku tapi masih tiga puluh menit lagi."


Ulfa sepersekian detik terlihat bingung namun secepatnya dia menutupi rasa gelisah. Sayang, Rey yang peka akan ekspresinya sempat menangkap gelagat ulfa.


Jemarinya yang masih di dalam saku celana sebelah kiri gesit menekan tombol panggilan pada Joanna dengan durasi cepat, mengartikan bahwa ulfa sedang dalam kondisi terjepit.


Joanna yang baru saja mengaktifkan handphonenya melihat kode yang diberikan oleh ulfa langsung mengerti, dirinya lalu mengajak Aiswa memutar jalan agar tak keluar dari gate melalui jalur seperti biasanya.


"Nona this way ... urgent, Ulfa sedang dalam kondisi genting, entah siapa yang sedang dia hadapi tapi sebaiknya kita menghindar," ucap Joanna.


"Ok." Aiswa merespon seperlunya, kepalanya selalu merunduk bila sedang di keramaian dengan wajah masih tertutup masker.


"Kerja dengan siapa Ulf?" Rey menanyakan kembali padanya, agar situasi mencair namun tak ditanggapinya.


"Dimana Abang? aku ingin jumpa jika beliau tidak sibuk," Ulfa berusaha mengalihkan perhatian.


"Disana, lounge ... ikutlah dulu, dia pasti senang karena sudah lama tak melihatmu." Ajak Rey menemui Mahendra.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju lounge dimana Mahendra berada. Saat keduanya tiba disana, pria yang mereka segani itu sedang melakukan video call dengan keluarga kecilnya. Hingga kehadiran Ulfa membuatnya memutuskan sambungan sementara.


"Bos lihat siapa yang kutemukan di negara antah berantah ini," seloroh Rey sambil tertawa.


"Siapa ya? aku samar," kilah Mahen seraya meletakkan ponselnya disamping laptop diatas meja.


"Teliti lagi Bos," paksa Rey.


"Ulfa-ra? ... kamu banyak berubah."


"Halo Bang, apa kabar?" sapanya ramah.


"Alhamdulillah, duduk dulu ... kamu ikut siapa ulf?" sambung Mahen setelah gadis yang beberapa tahun dalam asuhan Exona itu duduk di hadapannya.


Rey diminta oleh Mahen untuk membeli kopi digerai serta dessert untuknya dan Ulfa.


"Maaf aku tidak pernah mampir menyambangi rumah asuh lagi Bang, jarang di indonesia ... beberapa kali bertemu juga dengan Bang Andres sewaktu di Filipina dan Malaysia sekitar tiga bulan lalu saat aku bertugas."


"Mmm ... rahasia ya Ulf ... semoga dimanapun kamu bekerja, jaga keselamatan diri ya dan terus berlatih skill karena tidak ada yang sanggup menolong kita kecuali diri sendiri."


"Baik, terimakasih sudah diingatkan Bang."


"Sukses ya Ulf, aku tak mengira jika kamu mengikuti pelatihan lalu masuk asrama dan akhirnya terpilih sebagai bodyguard di perusahaan Hermana."


Degh.


"Meskipun aku tak mengatakan yang sebenarnya, aku tetap tidak pernah bisa membohongi seorang Mahendra Guna ya," senyumnya simpul.

__ADS_1


"Sudah berapa lama ikut Arzu? ... sebetulnya aku penasaran dengan Nona muda yang bersama Nyonya Rosalie, apakah dia yang akan kau jemput?"


"....."


"Ga usah dijawab, inginnya ga mau ikut campur, hanya saja sesuatu telah menarik perhatianku Ulf ... tenang saja, aku tak akan meminta balas budi padamu, aku bisa mencari tahu sendiri meski kalian tutupi ... begini saja, sampaikan pada Arzu, jangan berani mengusik keluargaku ... kamu tahu kan siapa aku, Ulf? " Mahen mengatakannya dengan tenang tanpa emosi ataupun ekspresi. Dia yakin bahwa putri mahkota Hermana Arya itu tengah melakukan sesuatu.


"Tidak ada yang special dengan keluarga Hermana Bang, sama halnya dengan konglomerat pada umumnya."


"Kau lupa? kata-kata agent ketika terjepit itu mengartikan sebaliknya ... latihlah lagi Ulf, agar tak mudah terbaca oleh rivalmu."


Ulfara bagai dikuliti, bagaimanapun Mahendra yang melatih keahlian dasarnya dulu dan kini sang guru ada di hadapannya.


"Kopinya Ulf, minum dulu masih lama kan?" Rey kembali dengan membawa tiga cup kopi dan satu box waffle.


"Aku langsung saja ... senang ketemu Abang kembali. Titip salam untuk Raden Roro Ainur dinarabraja alias Nona Ainnaya serta nona kecil Mahya Humaira." Ujarnya sambil bangkit berdiri.


"Terimakasih Ulf, akan aku sampaikan pada Naya."


"Tunggulah disini Ulf, masih lima belas menit lagi, ngopi dulu sambil nostalgia," Rey berusaha menahan.


"Thanks Kak, gampang nanti lagi ... semoga sehat selalu Bang dan kak Rey, aku pamit duluan." Ulfa membungkukkan badan kemudian pamit dari tempat mereka.


Setelah kepergiannya, Rey menyampaikan sesuatu.


"Gadis yang akan dijemput oleh Ulfa nampaknya gadis yang sama dengan yang kita curigai...."


"Tahu darimana?" Mahen datar menanggapi, karena memang dirinya telah menduga hal yang sama.


"Lakukan Rey, waktu kita sebelum flights masih banyak ... kumpulkan semua bukti yang berkaitan, semoga dugaanku salah."


Sementara ditempat yang sama, sayap timur.


"Jo, kamu ketahuan ... baiknya kamu lakukan penyamaran, hindari cctv sementara ini ... lekas kita kembali."


"Baik Bos."


"Nona, maafkan aku terlambat, silakan kembali ke asrama tidak kerumah karena kita tengah menghindari seseorang."


Aiswa hanya mengangguk, dirinya terlalu pusing akan semua protokoler keluarga angkatnya.


***


Satu pekan kemudian.


Sesuai janji Rayyan pada kedua orang tua angkat Aiswa bahwa dia akan mengunjungi London, sebab harus menghadiri kegiatan yang berhubungan dengan profesinya.


"Ko ditelpon ga diangkat ya," keluhnya kesal, pasalnya ia telah menanti respon dari Aiswa selama tiga puluh menit yang lalu.


Joanna yang sedang disibukkan dengan permintaan Aiswa, kehilangan konsentrasi saat gawainya berdering beberapa kali.


"Ya Nona, ini sebentar lagi sampai, tunggulah sebentar ... tadi macet dijalan."

__ADS_1


Nona?


"Nona? jadi ini bukan Aeyza?" suara Rayyan menahan kesal.


Pet.


"Oh sh-itt!!" aku teledor, pekik Joanna.


Rayyan menghubungi kembali nomer tadi, dan sesuai dugaannya, direject. Pantas saja tidak direspon, dirinya bodoh karena dikelabui oleh gadis tengil itu.


"Rayyan, bodoh," sungutnya namun di menit berikutnya, dia tertawa menyadari kebodohannya.


"Baiklah Aeyza, saatnya perjuangan dimulai." Akhirnya setelah berdiam diri lama di Bandara, dia keluar dari sana berniat langsung menyambangi kampus calon wanita pujaan.


*


Sudah satu jam Rayyan menunggu Aiswa keluar dari kampus Saint Martin namun nihil, penantiannya tak berujung apapun.


"Aeyza," Rayyan melihat Aiswa berjalan menuju parkiran dengan Joanna disisinya, baru saja keluar dari asrama.


Setiap weekend dia memang akan kerumah sewa keluarga Hermana, menemui Dewiq disana.


"Aey, Aeyza." Panggilnya saat gadis itu akan menaiki mobil.


"Hah ... ngapain kesini, Jo? apa kamu ada salah?"


"Dia tahu nomerku, maaf."


Rayyan berlari menghampiri Aiswa lalu menjegal pintu mobil yang akan dia naiki.


"Tunggu sebentar, apa kau tak iba melihatku menempuh jarak demi untuk melihat wajahmu? " nafasnya terengah.


"Aku tak memintamu, Dokter, maaf, menepilah."


"Aku pinjam ponselmu dulu," Rayyan mengambil ponsel Aiswa yang digenggam gadis itu lalu mengetikkan sebuah nomor disana.


Joanna harus memutar arah lebih dulu merasa kesulitan menjangkau pria itu hingga terpaksa menggunakan kekerasan padanya.


Brugh. Rayyan jatuh dengan handphone Aiswa yang membentur tanah akibat tungkai kaki kanannya ditendang Joanna.


"Aw."


"Jauhi Nona, jangan mencoba batasku." Ancam Joanna.


Bodo amat, gue udah ngantongin izin ayahnya, dan nomernya sudah ku dapatkan.


Mari berjuang Rayyan.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


__ADS_2