
Amir membisikkan sesuatu pada Ahmad saat telah mencapai pintu kamarnya.
"Antara kita saja ya, belum waktunya untuk yang lain tahu tentang rencana ini, Ok?"
"Ok Mir, do'akan semoga semua lancar ya ... aamiin," ucap Ahmad pergi ke kamar umma lebih dulu untuk meminta izin sebelum ia keluar rumah.
Masih berdiri didepan pintu kamarnya, Amir mengirimkan pesan pada Mahen agar melepas dua hadiah perhiasan milik Aruni serta meminta cincin besi yang diinginkan Aiswa sebagai syarat saat akan menikahinya beberapa hari lalu.
Adik iparnya merespon cepat pesan darinya, mengatakan bahwa kedua perhiasan yang dititipkan padanya setelah Qiyya berpulang telah diambil pihak toko langganan tempat ia memesan perhiasan custom. Taksiran harga akan keluar satu jam mendatang, ia yang akan mengantar sendiri ke Tazkiya bila kedua pesanan Amir telah siap.
"Syukron Mas, nanti bila kesini tolong ajak Naya dan Maira ya ... malam ini pengajian dan maulid, lusa baru syukuran dan esoknya aku pulang karena mang sapri bilang renov sudah selesai juga ada kendala teknis tentang butik." Tulisnya panjang membalas pesan Mahen.
Amir kemudian memasukkan benda pipih bercasing hitam miliknya kedalam saku kiri kemeja. Jemarinya lalu memutar handle pelan membuka pintu kamar.
Baru saja ia masuk, dirinya mendapati Aiswa memandang layar laptop di depannya, tengah terisak dan duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Sayang, kenapa?" tanyanya cemas menghampiri Aiswa lalu duduk disebelahnya. Penasaran dengan apa yang dilihat oleh istrinya itu.
"Mir, tega amat lu ... rasanya gue mau ngebogem elu nanti ya!" seru suara gadis diseberang sana saat melihat Amir duduk disebelah teman kesayangannya.
"Sia-pa sayang?" ia heran, mengalihkan pandangan pada Aiswa, menyeka air mata yang masih saja menetes dari netra cantik istrinya.
"Dwiana, Bii ... temanku dan kakak, dia baru tahu tentang aku setelah kakak memberi informasi lengkap padanya," jelas Aiswa lirih pada suaminya.
"Yang bantuin kamu kabur dulu sayang?"
"Iya," jawab Aiswa lagi.
"Aish, gue mewek-mewek dimakam elu yaa, gue nangisin elu berbulan-bulan, kuliah gue kacau lah sedangkan elu dan Dewiq malah asik aja ... dia juga nih, bukannya ngasih tahu aku malah ikutan diem." Dwiana menumpahkan segala kekesalannya menjadi orang yang terakhir tahu fakta tentang mereka.
"Kalian juga, nikah ga bilang ... aku balik siang ini juga ... awas yaa kalian ... Aish, aku happy banget kamu masih hidup sayangku ... tunggu aku yaa jangan balik ke Jawa dulu," serunya antusias meski dengan lelehan air mata membasahi pipinya.
"Thanks ya Dwi, do'akan kami...." balas Amir padanya.
"Aamiin, gue masih gedek ama lu ya Mir ... bye Aish sayang," lambai tangannya menutup panggilan virtual mereka berdua.
Aiswa lalu menutup laptopnya, menyingkirkan ke sisi kiri tubuhnya. Dia meraih tangan kiri Amir agar terbuka lalu membaringkan badannya yang masih lelah masuk dalam dekapan lelaki pujaannya itu.
__ADS_1
"Masih pusing? makan yaa, aku suapin atau mau minum juice? shorbet? atau mau jalan ke belakang, aku temani," tanyanya lembut saat kepala wanitanya bersandar manja pada dada bidang miliknya.
"Juice Bii, tapi aku ikut ke belakang, boleh?"
"Yuk, coba berdiri dulu lalu jalan pelan ya," ajak Amir bangkit dan meraih lengan Aiswa, memapahnya pelan, menahan tubuh lemah itu agar tidak jatuh.
Tok. Tok.
"Masuk aja, ga dikunci," seru Amir menyahuti ketukan didepan pintu kamar mereka.
"Den Mas, dokternya datang," ucap Joanna kala membuka celah pintu.
"Sayang, gimana? duduk disini bentar ya," pinta Amir yang diangguki Aiswa.
"Dokter silakan masuk," ujar Joanna seraya membuka lebar pintu kamar.
Dokter wanita itu kemudian meminta izin untuk memeriksa Aiswa. Tak lama kemudian beliau memberikan diagnosanya.
"Ibu Aiswa kelelahan, dehidrasi juga tekanan darahnya rendah ... istirahat cukup, minum suplemennya juga usahakan asupan nutrisi tetap terjaga ya, rasanya saya ga perlu meresepkan obat ya, ibu Aiswa sudah siaga," dokter melihat di meja nakas beberapa botol suplemen bertengger disana.
"Ada pantangan Dok?"
"Denger sendiri kan? umma bilang kamu terlalu banyak shaum dan jarang makan meski waktunya berbuka, akhirnya punya maag ... mulai sekarang jadwal shaum kamu ikut aku ya Rohi, ga ada bantahan ... ibadah itu sejatinya membawa pada ketakwaan juga kesehatan bukan sebaliknya," tegurnya lembut menggenggam tangan Aiswa lalu menciumnya.
"Iya Bii," senyumnya mulai terbit, ia mengajak Amir kembali memapahnya menuju dapur untuk makan dan lainnya.
*
Malam menjelang, ba'da maghrib di Tazkiya.
Mahen datang dengan keluarga kecilnya menyerahkan apa yang Amir minta lalu mengobrol sejenak dengan Umma di ruang keluarga sebelum ia pindah ruangan ke tempat khusus pria.
Maira yang sedang getol belajar merangkak membuat Aiswa dan umma ingin menggendong, selain tubuhnya yang montok menggemaskan dia juga cantik persis ibunya.
"Abah belum punya cucu laki lagi loh Ka, moga dapat dari Mba Aish nanti ya," bisiknya ditelinga Amir saat ia meraih Maira untuk ditimang Aiswa.
"Do'ain Nduk," balasnya tak kalah lirih.
__ADS_1
"Syukron Bii, aku ga berani minta karena Mas Panji liatin Maira mulu," lirihnya saat Maira sudah dalam gendongannya. Maira menatap lekat wanita yang mendekapnya. Manik mata bulat dengan iris berwarna amber senada ibunya itu, mengerjap lucu.
"Maira ikut siapa?" tanya Mahen.
"Bu? Dada?"
"Ibu, bukan Bunda ya?" imbuh Naya yang diangguki lucu oleh Maira.
"Kamu gemesin banget sih sayang, do'ain uwa yaa punya baby lucu kayak kamu," bisik Aiswa saat ia menciumi Maira hingga bayi gemoy itu tertawa.
Maira, membawa keceriaan bagi Aiswa yang dua hari ini kurang fit karena kelelahan.
...***...
Singapura. Malam hari waktu yang sama.
Sejak mengetahui kisah lengkap dari Hermana Arya tentang kenyataan bahwa Aiswa adalah Aeyza, dan cinta tak sampai keduanya baru saja terjalin lagi, dirinya limbung. Rasa cinta yang baru tumbuh pada gadis cantik bernama Aeyza harus dia pangkas habis hingga pangkal membuat batinnya terluka.
Dia mematut dirinya disisi balkon apartemen dalam pekatnya malam, tanpa sengaja mendengar samar sebuah lagu yang sedang diputar oleh tetangga unitnya.
"Apa kurangnya aku kepada dirimu, hingga kau lukai akuuuuu ... sh-itt, lagu Indo ini pas banget sih...." Inginnya tak mengikuti alunan nada, namun semua syairnya pas bagai kisah dirinya membuat Rayyan reflek larut dalam sendu.
"Katakanlah sekarang kalau kau tak bahagia, aku punya ragamu tapi tidak hatimu...."
"Tak perlu kau berbohong, kau masih menginginkannya ... ku rela kau dengannya asalkan kau bahagiaaaaa...."
"Aeyzaaaaaaa...."
"Tegarlah Rayyan, buktikan pada mereka bahwa kamu bukan pria rapuh, datanglah di acara syukuran mereka nanti," tekadnya muncul.
"Aey, padahal aku selalu ada dalam setiap sedihmu meski aku ikhlas kau tak pernah mengingatku dalam setiap bahagiamu...."
"Aku jones," sekanya pada airmata yang ternyata sempat menyembul diujung netranya.
.
.
__ADS_1
...__________________...
...Patah hatinya Rayyan ga dapat feel sedihnya justru ketawa mulu pas nulisnya juga ðŸ¤...