DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 100. CURHATAN AMIR PADA GAMAL.


__ADS_3

Yeay perdana 100 episode... 😅 . Bismillah... kejap lagi...


...***...


Malaysia.


Gamal mendapatkan kabar jika saudaranya tengah berada di Penang tak jauh dari kediamannya yang berada di Kuala Lumpur.


"Al, jangan ikut lagi yaa ... aku mau ke Penang, nyusul Amir sebentar. Kita ga hadir saat baby Naufal di kebumikan."


"Kenapa aku ga boleh ikut Mas?"


"Tuh," Gamal menunjuk ke perut Alma.


"Ya kenapa?"


"Sayang, kamu hamil dan Aruni baru saja kehilangan baby Naufal ... Aku tahu Runi kuat dan telah menerimanya tapi tetap saja khawatir mengingatkan kembali ... lagipula kamu harus istirahat sebab perjalanan jauh Alma, ok?"


"Hm, Ok ... salam buat Aruni."


"Ga usah, Aku ga nemuin dia ko ... hanya Amir saja, bukan gimana-gimana, hanya jaga perasaan aja."


"Loh, Kak Amir juga sama kali Mas,"


"Tapi kami pria, in sya Allah Amir belajar ikhlas."


Setelah negosiasi panjang dengan Almahyra perihal kepergiannya sementara ke Penang yang membutuhkan waktu tiga jam memakai kereta, Gamal langsung berangkat setelah menghubungi Amir lebih dulu.


Empat jam kemudian.


Gamal tiba di rumah sakit sesuai arahan Amir. Mereka lalu bertemu di cafetaria lantai dua gedung medis itu.


"Lu ga kasih tau gue sih mau kesini, sedangkan kita juga baru saja tiba di sini dua hari lalu nyekar ke makam Baba."


"Sorry Mal, gue ga mau repotin banyak orang ... itu Mama juga bersikukuh ikut buat gantian sama Aku ... doain ya dan selamat buat kalian, keluarga Kusuma kedatangan banyak cicit."


"Gue ga hadir saat Naufal, Lu udah enakan?"


"Ikhlas, mau gimana lagi ... lagipula dia belum sempurna organ vitalnya, kalau dipertahankan takut dzolim ... intinya ini semua terbaik buat keluarga gue."

__ADS_1


"Runi gimana sekarang?"


"Pulang dari China dia fit ko, setelah dari Bandung itu karena kehamilan beresiko sedikit banyak mempengaruhi hormon dan moodnya, emosinya naik turun signifikan, juga pola makannya susah karena morning sickness ... inti dari semua ini sih, kondisinya tidak begitu baik."


"Jadi sekarang terapi apalagi?"


"Mengembalikan semangatnya saja, juga merilekskan semuanya ... ikhtiar maksimal pokoknya, disini obat-obatan medis dan non medisnya lebih masuk ke Qiyya, aku lihat tubuhnya menerima dengan baik ... aku cuma minta doa saja Mal, sampaikan ke semua ya," pintanya lemah.


"In sya Allah, sehat lagi Mir, jangan putus asa ya," ucapnya memberi semangat.


"Kami menggantungkan harapan hanya padaNya ... Qiyya seperti akan pergi, Lu tahu Mal, yang dia bicarakan adalah sesuatu yang tidak ada disini ... gue takut," tatapannya mulai kosong.


"Misalnya?"


"Wangi yang dia gambarkan, air, sungai, buah banyak hal. Dan itu dia pasti cerita setelah bangun tidur ... selalu bertanya, Mas ini dimana? Mas, hari apa? Mas, adek lagi apa ya? sampai-sampai Mama suka nangis di depannya."


"Astaghfirullah, kuat Mir, kuat ... seburuk itukah?"


"Hem, kondisinya memang demikian Mal, sejak awal memang dokter bilang waktunya hanya tersisa beberapa bulan apabila didiamkan saja, Aku ga sengaja dengar saat vonis dibacakan ... sekarang kamu tahu kan alasanku menikahinya? Aku sangat berusaha memberikan semua haknya, apa yang Qiyya mau, segalanya yang aku mampu termasuk mewujudkan mimpinya."


"Mir...." Gamal terdiam lama, sungguh pengorbanan seorang sahabat karib serta sepupunya tidaklah mudah.


"Allah nampaknya ingin menyempurnakan kebahagiaan serta angan hamba-Nya ... Qiyya hamil diluar jangkauan logika manusia dan keinginannya menimang bayi terwujud meski dengan jalan seperti itu ... ah pokoknya aku takjub akan keajaiban Allah disaat seperti ini jelas banget kuasaNya," Amir terus bersholawat, mengucapkan syukur atas segala nikmat yang masih dikucurkan saat kondisi demikian sempit.


"Dia bini gue ya wajib itu ... Qiyya banyak memberikan pengajaran, apa yang Aku baca dan ketahui, Allah membuktikan lewat dirinya. Indah Mal, Maa sya Allah indah ... justru gue bersyukur punya dia ... ikhlasnya ngalahin segala dah, bayangin aja minum obat, terapi, pasti bosen itu tapi dia nerima," imbuhnya.


"Ada satu, kalimatnya yang bikin gue sesayang ini sama dia ... Mas itu hadiah buat Aku dari Allah langsung, dan Aku adalah ujian Allah untuk Mas atas segala yang Mas miliki."


Suaranya serak menahan sesak yang tiba-tiba hadir dalam dada. Paru-paru nya mendadak kehilangan kekuatan untuk menghirup oksigen yang sejatinya melimpah ruah tanpa perlu susah payah menghirup. Namun bila teringat perkataan bidadarinya, Amir sesak.


Gamal menyeka butiran bening yang ikut menyembul dikedua sudut matanya. Sungguh di depannya ini sosok yang semakin dia kagumi. Banyak pelajaran darinya bagaimana menjadi seorang suami, menjaga pandangan, memuliakan istri serta setia dan gigih keyakinan pada Sang Khalik.


Gamal menepuk bahu saudaranya itu, memeluknya dari samping menyalurkan kekuatan yang dia miliki.


"Gue, tulus sama Qiyya, bukan kasihan ... gue sayang dia, sangat Mal." Akhirnya, tangis yang sekuat tenaga dia tahan kembali tumpah didepan Gamal.


Gamaliel Arbi, belum tentu kamu setegar dan sehebat dia menjaga amanah disaat dia mampu mendua. Menjaga hati tetap teguh dan yakin pada Robbnya.


"G-ue, ta-hu ... kita semua ta-hu kamu tu-lus Mir, " balas Gamal terbata memeluk sepupunya.

__ADS_1


Keduanya melewatkan banyak menit untuk saling menguatkan, disaksikan oleh gelapnya angkasa yang mulai menghitam, menampilkan kuasanya atas hembusan angin dan guntur yang bergantian menyahuti situasi kelam, sekelam hati dua pria yang tengah duduk dibawah naungannya.


Setelah Gamal pamit pulang, Amir kembali ke ruangan dimana istrinya berada, yang selalu menyambutnya dengan manja. "Mas, peluk."


***


Sebelum kembali ke Tanah Air, Alma meminta Gamal membawanya ke ikon khas negara itu. Menara Petronas.


"Sayang, disana macet loh. Hotelnya penuh juga karena ada event Fashion Week besar. Pesertanya dari luar negeri juga sehingga jalur menuju ke sana memutar arah, mau?"


"Mau, kan cuma sebentar ... event apa sih itu? boleh masuk ga lihat-lihat?"


"Mau masuk? beli tiket dulu tapi ya."


"Ga usah deh, pasti bajunya juga terbuka semua nanti, ga guna lah."


"Kalau mau tetap kesana, ayok siap-siap ... aku akan cari hotel yang dekat situ."


Beberapa jam setelahnya.


Ketika Almahyra menunggu Gamal untuk verifikasi reservasi check-in by apps ke receptionist, matanya berkeliling pandang ke segala penjuru lobby.


Dirinya terkesiap, matanya mengerjap beberapa kali, apakah penglihatannya tidak salah, tapi hatinya meragu.


Alma berinisiatif mengikuti nalurinya, hendak membuntuti kemana dia pergi serta memastikan penglihatannya.


"Sayang, mau kemana?" serunya melihat Alma pergi.


"Almahyra....!" Gamal mengejar Alma yang berjalan tergesa menuju sayap kanan gedung.


Grep. Gamal mencekal pergelangan tangannya.


"Al," ujarnya


"Mas, i-tu ... i-tuuuu." tunjuknya ke arah pintu keluar samping lobby hotel.


"Apa? ga ada siapapun ... ayok ke kamar dulu, bandel ya kamu kabur-kaburan terus."


.

__ADS_1


.


...____________________________...


__ADS_2