
Tazkiya, kediaman Aiswa.
Kyai Hariri salim, abuya Aiswa merasa bahwa akhir-akhir ini anak gadisnya tengah menghindar darinya. Terhitung sejak kedatangan Hasbi saat makan siang pekan lalu, Aiswa banyak mengurung diri didalam kamar, entah apa yang dia lakukan. Semua orang dirumah ini kesulitan mendekatinya.
*
Aiswa sadar, dirinya akan dijodohkan dengan seorang pria yang tak lain adalah sahabat sang kakak. AH inisial nama yang Abuya nya berikan beberapa pekan lalu ternyata adalah nama yang tak lagi asing baginya, Ahmad Hasbi.
Pertemuannya dengan Hasbi di ruang makan kediamannya dan pernyataan Abuya bahwa beliau akan bicara serius, diindahkan Aiswa.
" Aku harus menghindar sementara waktu sampai aku mendapatkan nomor kontak ka Amir. " tekadnya bulat saat memandangi layar benda pipih ditangannya.
Aiswa saat ini sedang menunggu kabar dari salah satu alumni santri wanita yang seangkatan dengan Amir. Tujuannya satu, mendapatkan nomer handphone sang pujaan hati.
Ting, notif pesan masuk. Ia sangat berharap pesan yang masuk adalah dari seseorang yang sangat dia tunggu.
" Alhamdulillah dapat, yeeaaayy. " pekiknya girang. Aiswa lalu menyimpan nomer Amir, bersiap melakukan panggilan setelah mengucapkan banyak terimakasih pada informannya itu.
Tuut, Tuut. Bunyi Nada sambungan telepon seluler.
" Ga diangkat, kenapa yaa? " gumamnya heran.
Aiswa melakukan hal yang sama berulang kali hingga ia lelah, panggilannya tak kunjung Amir respon.
" Ah ka Amir, balas donk " tatapnya memelas pada layar ponselnya.
" Eh lupa, aku kirim pesan saja yaa dulu biar dia tahu bahwa ini aku. Bodoh Aish " rutuknya kesal.
Tak lagi membuang waktu, ia kemudian berkirim pesan yang isinya mengatakan permohonan maaf sudah berkali melakukan panggilan sekaligus memperkenalkan diri.
Satu jam, dua jam. Aiswa tak kunjung mendapat balasan dari Amir, hingga ia tertidur di pembaringannya yang nyaman sebab lelah menunggu balasan yang tak kunjung datang.
***
Saat yang sama. Al Multazam.
Abyan mengetahui tentang mitos sepupu jauh istrinya yang telah dua kali gagal menikah sebab calon suaminya meninggal setelah tepat 30 hari mereka dipertemukan. Ada saja peristiwa yang menyertainya, entah tiba-tiba sakit parah hingga kejadian tak masuk akal lainnya.
Orang tua Almahyra bukanlah seorang yang alim dan menjaga ucapan. Perselisihan yang terjadi dimasa lalu saat Almahyra masih berada dalam kandungan akhirnya menuai sebuah kalimat kutukan, kabarnya.
Entah apa yang telah orangtua Almahyra ucapkan pada saudaranya kala itu yang membuatnya mengeluarkan kalimat kebencian nan mengerikan.
Hingga malam mulai beranjak pagi, Abyan masih memikirkan perkataan istrinya kemarin siang.
__ADS_1
" Ya Allah aku berlindung padamu dari segala macam prasangka, " doanya lirih sembari menatap Qonita yang masih terlelap dalam pelukannya.
Saat waktu fajar menjelang, mertuanya yang mengetahui keberadaan adik hafiz Qur'annya itu tengah sowan di Al Multazam, meminta Amir yang menjadi imam sholat subuh di Masjid pondok. Namun hingga waktu sarapan tiba, adiknya itu belum juga kembali ke kediamannya.
" Sayang, Amir masih di tempat Abuya? " tanya nya saat Qonita tengah menyiapkan sarapan.
" Hem, aku meminta Abuya menasehati Amir agar tidak sampai tumbuh benih cinta untuk Alma. " Lirihnya.
" Sayang... Kamu berlebihan. "
" Engga Buya, aku sayang Amir. Aku ga mau dia celaka, dia juga adikku satu-satunya, " Qonita tahu rasanya kehilangan. Dia masih mengingat sangat jelas betapa sesak, sedih, sakit dan kecewa ketika adiknya meninggal sesaat setelah dilahirkan. Adik laki-laki yang tampan, sesuai keinginannya saat meminta seorang adik pada sang Bunda dahulu.
" Sayang, kita tidak tahu bahkan tidak dapat menolak kapan Allah hadirkan rasa cinta kasih di hati kita, percayalah takdir Allah pasti yang terbaik meski kita tidak suka. " Nasehatnya untuk sang istri.
" Engga, pokoknya ga boleh. Aku, Aku yang akan menggagalkanya bila terpaksa, " Qonita terisak pelan.
Demi Allah, aku sayang adikmu. Aku yang akan melindunginya. Tekadnya dalam hati.
" Istighfar Qonita! " Abyan memekik tertahan.
Qonita terhenyak dengan nada suara Abyan yang meninggi. Dirinya tak habis pikir, suaminya justru menanggapi santai hal yang sangat dia risaukan.
" Innalillahi, astagfirullah.. Maaf sayang, maafin aku. Kita bicarakan lagi nanti yaa, " belainya pada wajah Qonita yang langsung menunduk saat nada bicaranya sedikit tegas tadi.
" Nungguin aku ya Ka, Mba.. Maaf lama yaa, tadi Abuya ngajak ngobrol kesana kemari. " jelasnya pada kedua orang yang tengah menunggunya.
Tanpa banyak kata yang terucap dari ketiganya, mereka langsung menyantap hidangan sarapan dalam diam. Amir dengan pikirannya tentang Alma dan Aiswa. Abyan dan Qonita dengan kegundahannya masing-masing.
" Mir, kakak mau bicara lepas ini, di ruang baca yaa setelah kamu duha, " pintanya.
" Baik ka. "
Setengah jam berlalu begitu saja. Amir masih duduk diatas sajadahnya. Ia tak berniat untuk segera menemui sang kakak karena hatinya mengatakan bahwa apa yang akan mereka bicarakan pasti ada hubungannya dengan Alma.
Tok. Tok. Pintu kamarnya diketuk.
Mau tidak mau, Amir beranjak dari sajadahnya untuk membuka pintu.
" Ka, afwan aku baru selesai " Amir mengelak tak enak hati saat melihat Abyan telah berdiri didepan pintu kamarnya.
" Boleh aku masuk, Mir? "
" Fadhol ka. " (silakan).
__ADS_1
Abyan lalu masuk ke kamar adiknya dan duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan Amir yang menyusul duduk kemudian.
" Kamu ada niat dengan Alma? sepupu jauh Mba mu? " tanya Abyan langsung.
" Belum ka. Oh dia sepupu jauh Mba Qonita? "
" Kakak tidak ingin kamu gegabah memilih siapapun nanti yang akan menjadi pilihanmu. Namun sebelum rasa sayang itu datang baiknya sejak saat ini kamu meminta petunjuk pada Allah agar didekatkan dengan jodoh yang baik... Aiswa memang sangat menjaga pandangannya, namun dia akan menjadi milik orang lain. Dilarang, mengkhitbah wanita yang sedang dalam proses ta'aruf dengan pria lain, ingat itu Mir " tegasnya.
" Na'am bi althabi... Ka-kak tau Aiswa? sejak kapan? " (Iya, aku ingat).
" Sejak kamu menyimpan pita ungu sebagai pembatas bacaan Al-Quran mu, sejak kamu membelikan dua hijab warna ungu yang sama dengan punya Naya. Sejak Abah menceritakan tentang Kyai Hariri Salim yang berterimakasih pada beliau, karena kamu telah membantu Aiswa setor hafalannya yang sangat terlambat itu satu tahun lalu. "
" Kyai Hariri menceritakan semua perubahan metode belajar Aiswa sejak saat itu. Abah dan aku menyimpulkan kamu tidak akan mendekati seorang gadis kecuali kamu menaruh rasa suka padanya. "
Amir menunduk malu, meskipun dirinya menutup mulut rapat, menyimpan Aiswa dalam hatinya ternyata Abah dan kakaknya memperhatikan.
" Beliau kemarin malam meminta doa pada Abah bahwa pekan depan Hasbi dan Aiswa akan melanjutkan proses ta'aruf. Kamu harus mulai ikhlas meski aku tahu itu akan berat. Dia sahabatmu kan? "
" Iya, Hasbi sudah memberitahuku pekan lalu kak, saat Naya akan resepsi di Bogor. "
" Jangan rusak persahabatan kalian demi cinta ya Mir. Ingat kata Imam Al Ghazali bahwa sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan sampai kepadamu meski jaraknya dekat, sedekat dua bibir... Dan sesuatu yang ditakdirkan untukmu, akan sampai kepadamu meski jaraknya jauh, sejauh dua gunung. "
Amir memejam menarik nafas panjang, ia sadar dirinya telah salah menyimpan seseorang yang bukan mahram dalam hatinya. Dan kini harus merasakan kehilangan karena ia terlalu lambat mengambil tindakan.
" Jangan pernah menyesal atau merasa kehilangan terhadap sesuatu yang bahkan kamu belum memulainya. " Abyan menepuk bahu adiknya pelan.
" Satu lagi, Alma... Jangan mencari tahu tentangnya, jaga hatimu dari prasangka.. Kami melarangmu untuk mendekati Alma. Menjadi hafiz itu banyak cobaan dan godaannya terlebih tentang nafsu. Kakak paham, Aiswa cinta pertamamu kan? banyak istighfar ya Mir. Lepaskan perlahan. "
" Kak, aku.... "
" Minta petunjuk sama Allah, karena Dia-lah sebaik-baiknya tempat meminta. " Abyan lalu bangkit keluar dari kamar adiknya setelah apa yang menjadi ganjalan dihatinya tersampaikan.
Mendapatkan nasehat panjang lebar dari sang kakak, Amir terdiam lama ditempatnya semula. Suara samar ponselnya yang bergetar tak ia indahkan sedari tadi. Bahkan ia lupa dimana letak ponsel itu karena sejak kemarin malam Amir sama sekali belum menyentuh benda itu lagi.
Pikirannya kalut, hatinya sakit, kecewa sekaligus marah.
" Arrrggghhh.... " geramnya sambil tangannya mengepal, melayangkan pukulan ke bantal.
.
.
____________
__ADS_1