DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 78. SUGESTI


__ADS_3

Kedua pria yang menaiki Camry Hitam itu akhirnya tiba di kediaman Mahendra tepat pukul satu dini hari.


Amir langsung masuk menghambur menuju kamarnya saat pintu unit apartemen itu terbuka. Membuka pintu perlahan agar sosok cantik yang tengah terlelap diatas pembaringan tidak terjaga.


Dirinya bersegera mengganti pakaian, berwudhu lalu menunaikan sholat isya yang tertunda.


"Mas?" Aruni berbalik kearah sumber suara samar didalam kamarnya kala Amir merangsek naik ke atas ranjang menyusulnya.


"Tidur lagi," peluknya seraya mencium pipi istrinya yang masih terpejam.


"Baru selesai?" gumamnya lirih dalam dekapan suaminya.


"Insya Allah sudah, bantu aku sayang," kecupnya bertubi dipucuk kepala Aruni.


"In sya allah,"


"Syukron Qiyya, sudah sangat sabar menghadapiku," makin mengetatkan pelukan menghidu wangi tubuh istrinya.


"Mas sudah sangat berusaha, makasih ya sayang,"


"Jangan tinggalkan aku," lirihnya perlahan menutup kelopak mata yang kian berat.


"Aku ga janji, love you sayang, aku menikmati setiap moment manis bersamamu," balas Aruni tak kalah lirih kembali masuk ke alam mimpi.


Karena tubuh yang sangat lelah ia rasa, seakan baru sekejap netranya tertutup, Aruni mengusik tidurnya. Gerakan samar dari istrinya yang tak nyaman memaksa mata Amir sedikit memicing.


"Dek, kenapa? ada yang terasa sakit?"


Hening.


"Qiyya?"


"Sayang, kamu demam? " tangannya menempelkan pada dahi Aruni, suhu tinggi yang dia rasakan sukses membuat matanya membola sempurna.


"Mas, dingin." Kembali merapatkan tubuhnya, menarik Amir agar memeluknya.


"Panas banget ini, sebentar aku ambil obat kamu ... maaf ya Dek, aku teledor,"


Amir beranjak turun dari ranjangnya, membuka tas tangan Aruni yang berisi obat-obatan miliknya.


Meraih water jug diatas nakas lalu menuangkan air minum kedalam gelas dan membawanya pada wanita yang masih merengek kedinginan meski suhu tubuh menunjukkan sebaliknya, rasa khawatir tercetak jelas diwajah lelah Amir dalam temaram cahaya kamar.


"Mas, dingin," keluhnya lagi.

__ADS_1


"Bangun dulu Qiyya, minum yaa," ia memeluk tubuh lemas itu agar dapat duduk bersandar pada kepala ranjang, menyodorkan obat agar mulut Aruni menelannya.


"Aku siapkan kompres dulu," Amir kembali membaringkan tubuh yang berangsur berisi kembali ke posisinya semula.


Dia lalu membuka pintu kamar, bergegas menuju dapur untuk merebus air. Namun saat mencapai pintu dapur, dirinya dikejutkan oleh sesosok wanita mengenakan gaun tidur serba hitam dengan rambut tergerai tengah duduk dimeja makan membelakanginya, dalam kegelapan.


"Astaghfirullahal'azim!" Amir terkejut.


"Allahu akbar," lonjak Naya tak kalah kaget.


"Ish Kak, ngagetin aja tuh ah, makanan aku jadi jatuh," protesnya tak terima.


"Lagian kamu jam segini makan sendirian pake baju gitu pula ... rambut digerai, haduh," sungut Amir tak kalah sebal.


"Ga sendiri, tuh Abang tidur," tunjuknya dengan dagu pada sosok yang tertidur menopang kepala pada kedua tangan yang terlipat diatas meja, di depannya.


"Lagian kenapa ga nyalain lampu sih ... kesian amat Mas Panji, bini modelan apa kamu Nduk?" seraya menyiapkan air dalam teko listrik, lalu memencet tombol on.


"Yeeeee, aku pake baju seksooyy begini bisa ngamuk dia kalau lampu nyala ... anaknya pengen makan jam segini dan gelap-gelapan ... dia demen bikin yaa wajib ikutan repotlah, siapa suruh lemburin aku melulu,"


"Mulut kalau ngomong ya ampun," Amir menuang air yang telah mendidih, mencampur nya dengan air dingin kedalam baki.


"Lagian rebus air buat apa? mandi wajib? melepuh ga tuh?" gelaknya.


"Demam? tadi gak apa-apa ko Kak, udah minum obat? "


"Sudah," Amir berlalu membawa baki berisi air bersuhu hangat yang telah dia siapkan untuk mengompres Aruni.


Ketika membuka pintu kamar, tak terlihat Aruni di ranjang. Matanya memendar ke seluruh ruangan namun suara dari bathroom mengalihkan langkahnya menuju kesana.


"Kamu masuk angin, Dek." Memijat tengkuk Aruni yang menunduk di wastafel mengeluarkan semua isi perutnya.


"Aku makan ko tadi Mas, nambah malah, tanya aja Naya," di sela rasa mual hebat yang mendera.


"Badan kamu masih panas juga ini." Membasahi handuk kecil dengan air hangat lalu meletakkan pada tengkuknya.


"Belum tuntas muntahnya?" Amir mengambil obat gosok diatas meja sisi tas tangan Aruni.


"Mual banget ... juice boleh ga Mas?" tanyanya menatap Amir lewat pantulan cermin.


"Jam segini sayang? ga salah? perut kamu nanti makin kembung loh," tangannya menyelusup ke balik gaun tidur Aruni, mengoleskan minyak kayu putih.


Semburat wajah kecewa terpancar di depan kaca. Amir hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya aku bikinin, pake buah yang ada yaa ... gih baring lagi, tetap sambil dikompres," ajaknya kembali ke tempat tidur, berusaha mengalihkan keinginan aneh istrinya dengan memijat kaki Aruni. Amir tak jua beranjak membuatkan apa yang dia mau.


"Mas, ayo," rengeknya lagi.


"Ayo, ngapain? kamu lagi pengen Dek? " godanya.


"Diiiiihhhh, juice bukan anu, " Cebiknya sebal yang ditanggapi gelak tawa Amir sembari bangkit menuju pintu kamarnya kembali ke dapur untuk membuatkan Aruni juice.


Dia masih melihat adiknya duduk dimeja makan dengan banyak kotak makanan yang sudah habis ditelannya.


"Innalillahi, sebanyak ini dan kamu belum kenyang, Nduk?"


"Ga akan kenyang Kak, makanya setiap hari aku delivery satu troli makanan untuknya namun herannya perutnya doank yang buncit ... sejenis busung lapar mungkin," Mahen bicara asal masih dengan mata terpejam.


Amir tertawa saat mengambil buah dari kulkas menanggapi jawaban asal adik iparnya itu. Yang di komplain malah tetap asik mengunyah makanan.


"Lihat saja, aku ga akan izinkan Abang jenguk dia nanti," bisiknya yang masih didengar oleh Amir.


Pernyataan Naya membuat tubuh lelah yang tertidur diatas meja itu sontak terbangun. Jika dalam mode waras saja istrinya bisa sangat menyeramkan jika kehendaknya tak diikuti, apalagi dalam mode swing seperti ini.


"Ampun, itu aku canda dengan Kak Amir, Naya." jawabnya gusar sementara Amir hanya tertawa sembari menampung perasan buah dari juicer ke dalam gelas.


"Kak, puas amat ya ngetawain ... bikin juice pagi buta untuk siapa?"


"Qiyya demam dan tadi muntah, dia ingin juice,"


"Hamidun kali ah, masa lupa udah nebar kagak ngecek tebarannya tumbuh apa ga," seloroh Naya masih dengan mulut mengunyah makanan.


Degh. Mungkinkah? Amir hanya tersenyum samar membayangkan jika itu benar.


Nampaknya dia memang harus menanyakan pada Aruni kapan terakhir kali ha-id, jika saat masih di China, fix mereka harus memastikan kondisi calon mama ke dokter obgyn.


"Sayang, juicenya," Amir tak mendengar suara.


"Ya ampun, tidur? ... Dek, Qiyya, sayang, mau diminum ga juice nya?" dia mengabsen semua panggilan sayang untuknya. Mengusik tidurnya dengan banyak kecupan basah diseluruh wajah hingga bahu yang terbuka namun tetap saja tubuh molek itu tak bergeming.


"Kamu yang tidur, aku yang bangun, dia juga bangun kan jadinya, ck ... Qiyya, sayang, tanggung jawab ini bagaimana?" seraya meletakkan juice diatas meja lalu tubuhnya merangsek naik keranjang kembali, menarik selimut masih dengan usaha agar Aruni bangun menjinakkan sesuatu yang mulai nakal dibawah sana.


.


.


...____________________________...

__ADS_1


__ADS_2