DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 111. DA3A


__ADS_3

...Kenapa sih sekarang ko ga pake judul? biar ga loncat bacanya haha.. takut jatuh kalau loncat-loncat gess.....


..._____________________...


"Aey, sebentar ya, please tunggu dulu," ujarnya memohon.


Kali ini Aiswa diam dan mengikuti keinginan dokter Rayyan, anggap saja ini sebagai imbalan rasa terimakasihnya telah membantu rencana mereka kemarin.


Karena merasa bukan urusannya, Aiswa tetap pada posisinya, membelakangi arah suara.


"Morning Dok, maaf menggangu kegiatan Anda sebelum waktunya," sapa amir seraya mengulurkan tangan untuk berjabat.


Degh . Suara itu, Qolbi?


"Its Ok hanya hendak sarapan dengannya, Anda baru tiba? nanti kita bicarakan lebih detail saat aku visit ya ... maaf dengan siapa aku bicara?" ujar Rayyan menyambut uluran tangan Amir.


"Aku Amir, cicit pasien Anda yang bernama Danarhadi Kusuma," balasnya.


"Oh salam kenal Pak Amir, alhamdulillah, kemarin saya meminta kekurangan berkas pasien ... Anda sudah bertemu beliau? semalam sudah mulai sadar kembali setelah pengaruh obatnya hilang."


"Alhamdulillah, terimakasih banyak dokter ... seperti yang Anda bilang, Aspri uyut saya menyampaikan bahwa ada dokumen yang harus ditandatangani, dan beberapa kekurangan berkas ... aku akan menyiapkan dari sekarang apa saja yang diperlukan agar uyut saya segera mendapatkan penanganan medis yang sesuai."


"Baik Tuan Amir nan--"


"Afwan, Amir saja," Amir menyela.


"Ok ... nanti keterangan berkasnya bisa minta ke suster yang berjaga di cluster vip Anda, Mas Amir," ujarnya menimpali.


"Baik dokter, terimakasih banyak, sekali lagi maaf sudah menghambat acara sarapan Anda."


"Mari gabung sekalian, Mas."


Hah, jangan ya allah, jangan. Rayyan ngapain sih ngajakin segala.


"Terimakasih, saya sudah sarapan tadi di hotel ... permisi dokter, saya ke ruangan uyut saya du--"


Inginnya berdiam diri tanpa mengundang rasa curiga namun Aiswa tak tahan, dadanya mulai sesak. Diapun berlari meninggalkan dokter Rayyan.


"Aey....!" serunya hingga amir mengalihkan pandang pada gadis yang berlari itu.


"Silakan Mas, maaf aku duluan ya." Rayyan mengejar Aiswa.


"Aey, tunggu...."


Mata berkabut Aiswa berpendar cepat memindai sekitar mencari arah toilet. Dia berlari kencang hingga Joanna pun kesulitan mengejar majikannya itu.


Aiswa kemudian mendorong pintu toilet kasar, dia masuk ke dalamnya dan mengunci salah satu bilik.


"Bii, Qolbi," isaknya pilu.


"Kenapa ketika jarak kita begitu dekat, justru semakin sulit dijangkau."

__ADS_1


"Aku memang memilih jalan ini .... aku tahu resikonya namun tak ku kira tetap tercipta rasa sesak saat melihatmu ... aku ternyata tak pernah bisa move on," tangisnya.


"Biiiiii." Aiswa tergugu. Menangis sejadinya disana.


"Nona, nona, anda didalam?"


"Jo, sakit Jo, sakit!"


"Aku tahu, nona."


Tapi aku juga tak boleh memberikan informasi bahwa istri kekasih hati anda telah meninggal dunia beberapa minggu lalu.


"Jooo, sesak Jo," racaunya lagi.


"Nona, malam nanti kita harus kembali, lusa ada project kelas yang harus dikerjakan ... undangan reporter McCain saat pagelaran awal itu berimbas pada pemilihan Anda untuk mewakili angkatan Anda hadir di stasiun televisi sebagai kandidat siswa berbakat tahun ini bersama ke sepuluh siswa lainnya." Joanna berusaha mengalihkan perhatian Aiswa.


Aiswa hanya menangis, apakah ada cara baginya untuk menunjukkan padanya bila dirinya masih hidup.


"Jo, aku rindu, ingin melihat wajahnya lagi ... aku tahu jika aku salah, dia bukan milikku, aku tahu ini adalah dosa ... tapi...." suaranya mulai terbata.


"Aey... Aey... Aeyza." Rayyan mengetuk diluar pintu toilet wanita.


Suara Rayyan mencari keberadaannya


"Keluarlah perlahan Nona, jangan membuat curiga orang banyak."


Huft.


Sudah setengah jalan mimpinya akan terwujud. Gadis cantik itu menarik nafas panjang, sadar akan kekeliruannya. Aiswa lalu menyeka air matanya, mengikuti arahan Joanna keluar dari sana.


"Ya ampun Nona Hermana, kaburnya cepat sekali."


"Ngapain ngikutin."


"Galak amat ... makan yuk, aku lapar." Rayyan kembali melangkah mengikuti Aiswa setelah memperhatikan wajah gadis disebalik maskernya.


Begini aja dia udah keliatan cantik.


"Dokter, silakan makan duluan yaa ... aku ga jadi ke kantin, tiba-tiba ngantuk," Aiswa berlalu pergi.


Grep.


"Makan dulu," ujar Rayyan seraya menarik pergelangan tangan Aiswa.


"Lepasin! ... ga sopan! ... lagipula hubungan denganku apa? aku hanya keluarga pasien ... ingat kedudukan Anda, lepas! aku ga suka!" hempasnya kasar pada cekalan Rayyan.


Degh.


Rayyan terkejut, baru kali ini dia di tolak wanita. Disertai kata-kata nan sangat menusuk hati. Benar, dia siapa? baru juga kenal dua hari sudah berani mengatur dan memaksanya.


Aiswa melengos begitu saja meninggalkan Rayyan yang masih terpaku disana.

__ADS_1


Terlalu syok dengan sikap wanita yang dia kira akan melembut sebab respon positifnya saat berjalan bersama tadi.


"Anda salah langkah Dokter Rayyan, jauhi Nona kami," imbuh Joanna saat melewatinya.


Heh, benar juga.


"Argh, terlalu buru-buru Rayyan," sesalnya mengacak rambut yang justru makin memuatnya terlihat tampan.


Aiswa berniat kembali ke kamar sang Mama, ingin memeluknya menyalurkan gundah dihati. Sayang, dia tak melihat seseorang melintas didepannya karena sibuk melihat ujung sepatu akibat keengganannya memperhatikan sekitar. Pun dengan sang pria yang kurang fokus karena berjalan sembari melihat kertas dan menekan tuts di ponsel yang sedang dia genggam.


Gubrak.


Aiswa jatuh, meringis sakit pada lututnya. "Aw," pekiknya tertahan.


"Sorry, are you ok miss?" tegur suara seorang pria yang baru saja dia tangisi namun Tuhan malah mempertemukannya lagi.


Aiswa bergeming berpura kesakitan tetap menundukkan kepala, ragu akan menjawab karena pasti akan ketahuan.


"Miss?" tegur Amir lembut memastikan gadis dihadapannya ini baik saja.


"Please be more carefull ... get your hands off from her, Sir ... she doesn't like to be touched." (Lebih berhati-hatilah, jauhkan tangan anda darinya, dia tak suka disentuh)


"I didn't ... and I don't like touching people i don't know very well, okay?" (Aku tidak, juga aku tidak pernah menyentuh seseorang yang tak ku kenal baik)


Joanna mengabaikan Amir, terburu membantu Nona nya berdiri, hingga ujung lengan blouse Aiswa sedikit tersingkap.


Degh.


Amir sekilas melihat sesuatu yang mirip miliknya. Jamnya ko kayak kenal, bagai milikku .


Mereka berdua lalu meninggalkan amir yang masih mematung ditempatnya hingga Rayyan datang menepuk bahu pria itu dari arah belakang.


"Mau ke kantin juga? kita makan bareng yuk, aku butuh teman ... siapa tahu bisa mencairkan suasana pagi ini."


"Anda baik saja kah dokter? ... iya aku ingin kesana," jawab Amir.


"Baik ... tapi tidak hatiku, baru saja aku salah langkah."


"Maaf, tadi bukannya akan sarapan dengan seorang wanita? aku baru saja menabraknya jika tak salah ingat, beliau mirip wanita yang bersama Anda tadi, ku kira kalian ... eh sorry...."


"Dia? Aeyza jatuh?"


"Aeyza?"


"Wanitaku, aku permisi Mas Amir," ujarnya tergesa.


Amir kembali melanjutkan niatnya menuju kantin namun wajah wanita tadi seakan tak asing.


"Yang cewek tadi, rasanya pernah lihat, dimana ya? juga, jam tangannya seperti milikku...." Amir mengendikkan bahu, dia merasa sangat haus hingga abai pada perasaannya yang peka.


.

__ADS_1


.


...________________________...


__ADS_2