DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 223. PERUBAHAN DWIANA


__ADS_3

Dwiana mengarahkan mobilnya masuk ke perumahan Duren sawit residence, melewati bundaran air mancur lalu berbelok ke kanan memasuki cluster B.


"Alhamdulillah sampai," Renata bersiap turun dan membopong Raiden putranya.


"Mba, biar aku. Parkir dulu," cegah Dwiana tak ingin kakak iparnya lelah.


"Rose, parkir saja. Kamu juga capek. Biar Raiden sama aku," Renata membuka pintu belakang, melepas kunci pada Car seat lalu membopong Raiden.


Mereka hanya tinggal bertiga, asisten rumah tangga hanya datang dua hari sekali sekedar menyapu, ngepel juga menyetrika baju. Selebihnya mereka berdua yang mengerjakan pekerjaan rumah.


Kamar Raiden dan Renata di lantai atas, kamar Dwiana di bawah. Rumah berlantai dua ini hanya memiliki tiga kamar dengan satu kamar maid di belakang.


Renata memastikan semua pintu telah terkunci. CCTV pun sudah ia cek, semua aman. Wanita itu pun menyambangi kamar sang adik sebelum ia naik ke lantai dua. Ternyata Dwi sudah terkapar, masih belum berganti baju.


"Kasihan, lelah ya Sayang. Makasih banyak ya Rose," Renata membelai rambut Dwiana yang menjuntai menutup wajahnya. Mengecup bertubi di sana.


Mba, thanks. Aku sayang kalian. Aku janji, Raiden tak akan pernah kekurangan kasih sayang meski tanpa Derens.


Renata mematikan lampu kamar Dwiana dan menutup pintunya pelan.


Gadis yang terbaring tadi, bangkit, menarik nafas panjang bersandar di kepala ranjang.


Ia mengeluarkan gawai dari saku celana, pemberian Renata dari hasil keuntungan cafe bulan lalu.


"Alien, apa kabarmu? semoga lukamu sudah sembuh ya, maaf aku pergi tanpa kabar. Lagian siapa aku, ya kan?"


Dwiana stalking media sosial Rayyan yang tanpa sengaja muncul di laman rekomendasi pertemanan.


Selama ini dirinya jarang menggunakan media sosial sebagai ajang aktualisasi diri. Hanya sesekali posting kesehariannya jika mood.


"Kalian, pasti lagi happy-happy nya ya, Aish and Dewiq. Mas Mahendra bilang Aiswa dan anak buah Dewiq gencar mencariku namun dihalangi oleh dua K ... pilihanku tepat, meminta bantuan Anda ... sabar ya, jika aku sudah lebih baik, pasti akan kembali, saat ini hanya tak ingin menjadi perusak kebahagiaan kalian dengan masalahku...."


"Ingin segera dipeluk Umma lagi, ketemu kalian kembali saat aku sudah mandiri. Dwiana rose tak akan mudah patah ... betul kan Kak Naya?"


Dwiana bermonolog saat melihat media sosial mereka satu persatu. Naya sumber energinya, senyuman bunda Maira itu memberikan dwiana kekuatan berbeda.


"Alien, terimakasih telah sedikit menyembuhkan luka dari masa lalu. Dirimu akan selalu ada, walau bayangmu tak tahu di mana."


*


Sementara di tempat lainnya.


Seorang pria muda berada di balkon atas kamarnya.


Ia duduk di kursi malas, menjulurkan kaki melipat kedua tangan bersedekap di depan dada.


Memandang pekatnya angkasa malam itu. Gelap kembali melayang bersama awan.


"Serta merta pilu ku kala mengingatmu, ikut memijar. Apakah rindu masih menjadi penyekat jarak antara aku dan kau?"


"Apakah aku menggenggam mu terlalu erat Dwi? hingga kau ingin melepaskan diri atau aku yang harus merelakan mu pergi?"

__ADS_1


"Barangkali langit ingin sekedar mengingatkan aku, bahwa malam waktunya untuk merindumu, meski dalam sunyi," pungkas Rayyan.


"Bukan malam yang membawa sunyi, tapi hati yang berangsur-angsur sepi." Terdengar Mama Rini menyambung kalimat galau anaknya.


"Cari Ray, kamu kurang gigih," seru Bunda Ratu.


"Aku masih berusaha Moms, ya Robb jangan sampai ketika saat aku berjumpa lagi dengannya ... semua telah terlambat," cemas Rayyan.


...***...


Keesokan Pagi.


Dwiana telah berada di ruangan psikolog rekomendasi Mama Aruna, psikolog yang menangani Naya dulu.


Bunda Maira memberikan keterangan seperlunya sebagai orang terdekat Dwi saat ini.


Setelah sharing singkat dengan Dwiana, Dokter mencoba menggali dasar luka terlebih dahulu.


"Ok, Dwi ... kita akan mulai ya. Hanya suaraku yang akan kamu dengar. Aku akan mengajakmu ke masa kamu sekolah dasar. Relaks, bayangkan sedang ada di ruang musik... one, two and ... klik ..." Dwiana dibaringkan di sofa khusus hypnosis.


"Rose, ceritakan di mana kamu saat ini," ujar dokter.


"Aku di kamar, mendengar Papa memarahi Mama, juga Derens yang dipukuli anak buah Papa."


Dwi lancar menyebutkan semua peristiwa saat itu hingga....


"Enggak, jangann ... aku akan menurut ... iya, iya...."


"Papa, Papa akan menjualku. Tidaaaakkk ... Derens, Deeeeeenns, No jangan, Derens ... sakit, aku lelah...." Dwi gelisah.


"Innalillahi ... Dwi," lirih Naya.


"Dwiana rose, kamu dengar suaraku ... Dwi, dalam hitungan ketiga, tarik nafas ... ok, pelan ... good, anak baik ... lagi ... kamu akan bangun, rileks, bagai tidur panjang dalam.. satu, dua, tiga ... buka mata sayang," suara lembut psikolog menenangkan Dwi setelahnya. Mengusap peluh dan memeluk, menghapus air mata.


"Gimana, lega?" tanya Naya.


"Sesak, Kak, dokter," ucap Dwi.


"Gak apa, kita buang perlahan ya, proses panjang Dwiana ... lusa kita akan sharing dan hypno sound ... bisa komitmen kan Dwi?" desak dokter.


"Bisa, in sya Allah," jawab Dwi.


Saat Dwiana diminta rehat di ruangan sebelah. Dokter mengungkap luka yang ternyata parah.


"Trauma mendalam, tak dihargai, tak dianggap selayaknya manusia, dilukai fisik, melihat kekerasan, perbuatan kasar ... dia kuat, hingga sakau pun pernah ia lewati ... amazing Dwiana...."


"Tidak pernah mencoba bundir ya Dok?"


"Dia lari ke dru-gs, nanti kita barengi dengan detox ya Nyonya Mahendra ... baiknya medical check up juga ... gak habis pikir, apa yang membuatnya bertahan...."


"Aiswa dan Dewiq, kasih sayang antar sahabat ... juga penebusan diri, kurasa," ucap Naya.

__ADS_1


"Ajak mereka ikut ambil bagian ... aku sarankan 12 kali pertemuan ya, banyak yang harus dilepaskan. Semoga sih gak sampai segitu jika kooperatif," pungkas Dokter.


Naya pamit setelah mengantongi semua penjelasan dokter. Ia bertekad mencari healing dengan cara lain agar Dwi lekas release.


"Halo sayang, aku setuju dengan relay yang Abang tawarkan kemarin," Naya menelpon suaminya saat akan menjemput Dwi di ruangan terapis. Fisiknya juga butuh relaksasi.


"Kamu bisa Dwi, kamu bisa ... aku yakin sembuh lebih cepat. Ada aku, kita senasib...." tekad Naya makin kuat.


Mereka pun meninggalkan rumah sakit, Dwiana kembali mengantarkan Naya pulang.


...***...


Saat di lampu merah, setelah mengantar Naya.


Dari kaca spion depan, Dwi melihat sekelompok orang mengejar pencopet, menuju ke arahnya.


"Hmm, mangsa penyaluran emosi nih," gumam Dwi.


Saat beberapa jengkal si preman lolos, Dwi membuka pintu mobilnya.


Bledag. Brugh.


Penjahat itu tersungkur akibat benturan. Namun ternyata dia masih kuat berlari dibantu kawannya.


Dwiana turun. Posisi kuda-kuda bertumpu pada kaki kiri, ia menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangan saat melompat melewati kap mobil depannya. Melayangkan tendangan dengan kaki kanan.


Brugh. Keduanya terkapar, masih merangkak.


Sadar lampu akan hijau, Dwiana menarik jempol tangan keduanya ke arah belakang.


"Aarrggh." Teriakan memicu kerumunan. Penjahat berhasil dilumpuhkan, digelandang massa.


Lampu lalu lintas kembali hijau, antrian kendaraan dibelakang Dwi kian bising, ia pun bergegas masuk ke belakang kemudi, melajukan mobilnya pelan.


Tanpa di duga, Rayyan berada di sisi jalur satunya. Saat sejajar, dokter muda itu menoleh ke arah mobil SUV di sampingnya.


"Dwi, itu Dwi kan? eh ... Dwi bukan sih? ko beda, dia cantik," Rayyan sekilas pandang karena ia berbelok ke kiri sedangkan gadis terduga Dwi mengambil arah lurus.


Dwiana mengikat rambutnya ke atas, menyisakan sebagian surai bagian depan dengan poni.


Berkat Renata dan Naya, Dwi belajar menggunakan make-up meski flawless. Dan hasilnya, ia sangat cantik.


"Halo, aku melihat gadis mirip Dwi di sekitar wilayah Ciracas," ujar Rayyan menghubungi anak buah sewaannya. Dia kebetulan melintas kawasan itu karena janji dengan dokter di rumah sakit lain.


.


.


...___________________________...


...Kemarin 222 ya, makanya di kasih judul triple 😂, korelasi dengan nama cafe Triple R... Aih, ngelantur... bentar-bentar, mau sharing cara healing dulu habis ni gasss......

__ADS_1


__ADS_2