DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 175. KODE


__ADS_3

Dwiana masih setia dengan diamnya meski Mama Rini terus mencoba membujuk. Baru pertama kali jumpa namun entah mengapa hatinya tersentuh melihat gadis ini.


"Mama suapin, jika Dwi benci Rayyan, lihat usaha Mama ya, Nak," pinta Mama Rini lembut.


Akhirnya pertahanan Dwi jebol juga, ia kasihan pada sosok wanita di sampingnya ini. Amat kontras dengan ibundanya.


"Tenggorokanku sakit untuk menelan," cicit Dwi malu.


"Kenapa ga bilang sih Dwi, coba aku lihat." Rayyan bangkit dari duduknya, ia kesal.


"Stop Ray, panggil dokternya Dwi," cegah Mama melihat Rayyan bangkit hendak memeriksa keadaan Dwiana lagi.


"Ok Ok Moms," balas Rayyan lalu keluar memanggil dokter jaga.


"Buka mulut Dwi, ini sudah sangat terlambat dan kamu harus segera minum obat kembali ... tiada yang dapat membuatmu menjadi lebih kuat dan lekas membaik jika tidak ada motivasi diri ... bila Dwi segan, kamu boleh membalas kebaikan Mama dengan berkunjung saat pulang ke indo nanti, ok?" Mama Rini masih saja membujuk agar Dwiana mau makan.


Luluh. Dwiana mengikuti arahan Mama Rini, hingga separuh makanan dalam pinggan berhasil pindah ke lambungnya.


"Thanks Ma," ucap Dwi seiring kedatangan dokter memeriksanya.


"Iritasi akibat suhu tubuh naik dan dia hanya minum, tanpa makan dengan benar, aku akan menambah obat agar radang nya lekas mereda," dokter menjelaskan penyebab Dwiana sakit pada tenggorokannya.


"Tidur ya, setelah mengantar Mama ke apartemen, Rayyan akan kembali kesini," Mama Rini turun dari ranjang Dwi dan menarik lengan Rayyan keluar kamar.


"Ga usah, istirahat saja Dokter, aku sudah biasa sendiri."


Entah mengapa mendengar ucapan Dwiana, hati Rayyan tak tega. Dia menatap Dwiana nanar.


"Ma, pulang sekarang?"


"Yuk." Mama Rini meraih tas tangannya kemudian mengecup kening Dwiana.


"Lekas sehat sayang."


Selepas kepergian kedua orang yang baginya masih asing. Dwiana meraba dahi yang baru saja dibubuhi kecupan oleh Mama Rini.


"Baik banget ... kenapa orang lain bisa mempunyai ibu yang sangat lembut, berbeda sekali dengan ibuku, ya Tuhan, aku iri." Tangisnya terdengar pilu kali ini, selalu dalam kesendirian.


Perjalanan ke apartemen.


"Ray, hubunganmu dengan Dwiana?"


"Kawan, aku mengenalnya di Jakarta saat pernikahan Aeyza dua minggu lalu jika tak salah ... dia sahabat Arzu dan Aeyza, ku kira mulut pedasnya adalah jari diri namun anak itu menyimpan luka, broken home meski kedua orang tuanya tidak berpisah," jelas Rayyan pada Mama.


"Kasihan, kau tak ada niatkah?"


"Aku paham maksud Mama, aku lelah pacaran Ma, bukan lagi masaku ... jikalau pun aku menemukan seseorang gadis, pastinya akan aku tanya langsung kesediannya serius denganku...."


"Semoga ketemu ya Ray, kadang yang terlihat justru tidak nampak ... malah nyari kemana-mana eh nyadarnya kalau udah ada yang rebut," sindir Mama.


"To the point Moms," cebik Rayyan tak suka kiasan.

__ADS_1


"Dwi, cobalah mengenalnya lebih dekat ... Mama tahu, kamu peduli bukan karena profesimu tapi hatimu, peka sedikit Rayyan."


"Entah," jawab Rayyan mengendikkan bahu.


Tak berapa lama mereka tiba, setelah memastikan Mama Rini beristirahat dengan nyaman. Rayyan menuju kamarnya, mandi dan ganti baju, bersiap kembali menemani Dwiana.


"Ma, aku pergi lagi ya." Rayyan mengecup dahi ibunda yang telah lelap dikamarnya.


Tengah malam.


Saat Rayyan baru saja tiba, ia tak mendapati Dwiana diatas ranjangnya. Rayyan panik.


"Dwi, Dwiana?"


"Disini, tolong," suara Dwiana dari toilet.


"Astaghfirullah, kenapa Dwi? muntah?" tanyanya seraya akan memapah badan kurusnya.


"Jangan sentuh, bukan mahram kata Aey, carilah penyangga untukku."


"Eh, maaf." Rayyan terkejut, Dwiana berkata demikian?


"Aku papah pakai selimut ya, kan ga bersentuhan langsung."


"Sama aja, ga boleh." Akhirnya Dwiana berjalan pelan, merambat pada dinding dengan Rayyan yang mengikuti langkah pendeknya.


Rayyan merapikan ranjang, menurunkan ketinggian sedikit agar Dwiana bisa menaikinya leluasa.


"Aku ga nyaman, lebih enak begini, hangat." Dwiana memakai sweater panjang serta pants longgar warna hitam.


"Siapa yang bawakan ini?"


"Temanku Anastasya, kesini saat Dokter tak ada malam tadi, membawakan baju ganti miliknya. Dia tahu dari Sean."


"Tidurlah, aku disini ... no debat Dwi, hingga sampai kau lebih baik."


Dwiana mengabaikan pernyataan Rayyan, baginya semua hal yang keluar dari mulut Dokter Rayyan adalah murni karena ia seorang tenaga medis. Bukan perhatian untuknya.


...***...


Dibelahan bumi lainnya.


Aiswa masih gigih membujuk Amir agar dia diperbolehkan memasak untuknya besok, ia kangen dapur.


"Bii, ayolah, sekali saja ... masa semuanya Qolbi yang lakuin, pahala aku mana? semua diambil Qolbi," keluhnya pada sang suami yang masih murajaah seraya tangannya memegang kaki Aiswa diatas ranjang.


"Alhamdulillah, sedang ngaji sayang ... ga boleh, tugas kamu cuma dua, hamil dan melahirkan ... bahkan mengurus baby, kita pun harus berdua," ujar Amir masih bertahan dengan keinginannya.


"Aku ngadu sama Abah kalau gitu," protesnya lagi.


"Ngadu gih, Abah juga gitu ke Ummi ... Ummi kalau masak itu sampai diliatin sama Abah, bahkan semua anaknya kalau makan disuapin sama Abah atau ummi hingga menjelang baligh."

__ADS_1


"Hah beneran?" Aiswa heran.


Pantesan romantis, nurun dari orang tuanya.


"Mas Panji tegas sama Naya, karena diminta oleh Abah. Begitupun aku jika untuk urusan demikian ... ga ada kewajiban, istri mengerjakan semuanya kecuali karena bakti pada suami ... Sayang, aku redho padamu sejak kau jadi milikku, tanpa kamu harus begini begitu ... layani aku saja, dan buatlah pandangan suamimu ini indah saat melihat wajah istrinya setiap saat, aku cuma minta itu dari kamu Rohi," tuturnya lembut.


"Bii, ko gitu."


"Menyenangkan suami itu banyak ragamnya Aiswa, bukan hanya urusan perut saja ... aku kerja begini begitu, demi agar kamu selalu di sisiku tanpa merasa pusing dan lelah dengan pekerjaan rumah yang ga ada habisnya...."


"Pahalaku?"


"Jika aku Redho ... deras mengucur padamu sayang ... pernah baca Al-Adab fid din ga Rohi?"


Aiswa mengangguk, menarik nafas panjang.


"Enam belas adab istri pada suaminya, majmu'ah rasail ... selalu merasa malu, tidak banyak mendebat, senantiasa taat atas perintahnya, diam ketika suami sedang berbicara dan menjaga kehormatan suami ketika ia sedang pergi ... tidak berkiahanat dalam menjaga harta suami."


" ... menjaga badan dan mulut tetap berbau harum, berpakaian bersih ... qana’ah, sikap welas asih, dan selalu berhias ... apalagi ya, lupa Bii," cicitnya malu, masih menundukkan wajahnya.


"Diantaranya ... juga memuliakan kerabat dan keluarga suami, melihat suami dengan keutamaan dan menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur ... menampakkan rasa cinta kepada suami kala berada di dekatnya serta menunjukkan rasa gembira di kala melihat suaminya," ujar Amir meneruskan. Ia tersenyum melihat Aiswa merasa malu akan sikapnya barusan.


Dia pun menggeser duduknya, menggenggam tangan Aiswa lalu menariknya dalam pelukan.


"Sini ... aku tuh ga mau kamu cape sayang ... selama bisa dikerjakan orang lain kenapa tidak? sebab aku ingin istriku bahagia dan tidak mengeluh ... bila kamu bahagia maka aku pun tertular auramu sayang, rezeki ku juga akan mengalir deras karenamu."


"Tapi Bii,"


"Jika ingin melakukan aktivitas layaknya istri, sesekali boleh ... dan aku juga ingin, setiap akan mengajakmu keluar, ga perlu lama nunggu kamu selesai di sini situ atau apalah, hidupmu untukku Aiswa fajri, maka gunakan sebaiknya dalam melayani suamimu," ucapnya lembut ditelinga Aiswa, mengecupnya pelan disana.


"Sulitkah? jika terlalu sulit, bilang padaku ya Rohi ... semua yang berasal dari Aiswa ku adalah emas ... suaranya, sikapnya, cintanya ... Rohi-ku dijaga bagai porselen oleh pemilik Tazkiya, dan aku ingin meneruskannya namun kini hanya untukku." Amir mengeratkan pelukannya.


"Engga sulit, rezekiku jadi istri Qolbi."


Amir mulai menghujani kepala istrinya dengan kecupan.


"Nih, kalau sudah begini, masa aku mau minta ... tapi kamu masih sibuk dengan kerjaan rumah? kan jadi ga mood akunya."


"Bii, ish kebiasaan."


"Resiko punya istri selalu wangi, sayang...."


C-up.


"Bikin mini porselen yuk," bisiknya mesra.


.


.


..._______________________...

__ADS_1


...Aiswa yang digituin, mommy yang malu 😅...


__ADS_2