DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 241. EXTRA PART


__ADS_3

Weekend, Ballroom Hotel.


Acara akad nikah Dokter Andre dan Renata berlangsung lancar.


Table VIP untuk para sahabat sudah di isi oleh Amir, Mahen, Rayyan juga Ahmad. Gamal dan Abyan sudah kembali ke Semarang keesokan hari nya setelah wejangan Abah.


Tak ketinggalan para wanita, riuh menempati table bridesmaid. Kedua orang tua Dwiana, melihat kebahagiaan putrinya sejak bersama Rayyan. Dan cucunya kini mempunyai keluarga lengkap.


"Tinggal mendoakan saja, agar rumah tangga mereka bahagia," ucap Hariri salim memahami perasaan orang tua sahabat menantunya itu.


"Iya Yai, semoga kehidupan kami makin membaik. Rayyan, menantuku yang sabar. Meski Rose masih jarang mengunjungi kami, namun peran dia sangat kentara. Aku bersyukur," sahut Raharja dan istrinya.


"Lambat laun, Dwi akan melembut. Anak itu mudah luluh jika sudah percaya," tegas Umma kemudian.


"Semoga saja, aku kangen memeluknya dan iri jika Rose memeluk Anda, Nyai," sambung Lilyana, ibunda Dwi.


"Dwi anak berbakti, sholihah in sya Allah ... aamiin."


Masing-masing pasangan mempunyai daya juang sendiri. Jalan ibadah sepanjang hayat bagi mereka baru saja dimulai.


***


Satu pekan sebelumnya.


Mahendra sudah bulat tekad akan melepaskan jabatan wakil direktur Exona.


Meski belakangan setelah menikahi Naya, barulah ia tahu bahwa Exona adalah perusahaan keluarga Kusuma.


Pria dengan kaki sintetis itu merasa bahwa dia bukanlah sosok tepat menggantikan sang pendiri, Jimsey alias Galuh Baratayuda, paman Naya istrinya sekaligus sepupu Abah, cucu Danarhadi.


"Ada Matthew, Om. Aku gak tepat, lagipula beliau lebih mumpuni. Melihat Maira yang cerdas hatiku ingin memberikan dia banyak adik," seloroh Mahendra saat ditanya alasan mundur setelah berpuluh kali mengajukan resign.


"Ck, klise ah. Dengan syarat Hen, kamu tetap menjadi pengawas Exona ... jangan lupa bahwa dirimu itu pemegang saham mewakili Naya, gak bisa semudah itu keluar jalur. Tetap saja andil para pemegang saham tetap menjadi acuan perusahaan," balas Jimsey saat ia masih di USA.


"In sya Allah, karena Naya dan aku memegang amanah atas saham keluarga Abah," balas Mahendra kemudian.


"Thanks a lot ya Hen, kamu menyelamatkan hidupku, bertumbuh bersama Exona juga kredibel menjalin relasi ... semoga bisnismu lancar, shadow tetap menjadi milikmu karena kamu yang menciptakan mereka, juga Omah singgah aku titipkan padamu. Kalian berdua itu ngemong, di jaga ya. Jangan sungkan memberi Matthew input positif ... aku akan pindah ke Solo, nemenin Kakek juga Wisesa di sana," imbuhnya lagi.


Setelah obrolan panjang via udara, saling mengucapkan terimakasih juga permohonan maaf, panggilan itupun berakhir.


Mahendra lega, keinginannya menjaga keluarga kecil dengan Naya, akan terwujud. Adnan, kini menjadi asisten pribadinya menggantikan Rey.

__ADS_1


Anak muda yang menangis saat Mahen meninggalkan Exona itu hanya diam pasrah, mendapat pelimpahan kekuasaan dari sang wakil direktur.


"Rapat RUPS, memilih mu, karena kamu paling tahu bagaimana program kerjaku, juga paling mumpuni dari semua kandidat. Laksanakan tugas dengan baik ya Rey. Kejar cintamu itu," ucap Mahen saat akan meninggalkan kantor.


"Ikat Candi, kamu kini punya jabatan menghadap ayah angkatnya," saran Mahen menepuk bahu lelaki bagai adiknya itu.


"Bos, Anda akan selalu menjadi atasanku, Abangku. Jangan sungkan bila membutuhkan bantuan dari ku meski Anda punya Adnan, Pras juga Alex ... ditambah personil lainnya ... aku akan selalu menjadi Reynan Lee yang dulu Anda temukan. Yang Abang berikan perhatian juga sayang, didik dan beri nama serta keluarga ... hingga aku seperti ini," Rey menangis. Tangis kedua yang Mahen lihat setelah sekian puluh tahun.


"Rey, jangan membuatku berat. Kamu tetap adikku, suka duka kita lalui bersama bukan? jangan nangis donk, kita masih bisa ketemu ... keluargaku ini ku titipkan padamu, ingat itu, rumahku, rumah Mama, apartemen semua bebas kau masuki, Rey ... akan tetap sama, hanya saja aku ttak lagi seharian bersamamu ... selamat bertugas ya Bapak Wakil Direktur, jadikan Exona tetap berkibar," Mahen menepuk lengannya, menarik dalam pelukan, lelaki dengan isakan yang semakin jelas.


Satu pekan kemudian.


Mahen dan Rey menemui Jimsey dan Maharani yang baru saja landing. Sebelum mereka bertolak ke Solo.


Di saat itulah.


"Tuan besar, aku...."


"Apa Rey?"


"Hmm, ingin meminta Mega Candhini untuk menjadi istriku."


"Hmm, gak tahu, aku belum nanya. Bos, gimana donk?" jawab Rey, lalu beralih pandang pada Mahen.


"Ck, payah untuk urusan cinta. Tanya donk Rey harusnya ke Candi," balas Mahen ikut menahan senyum atas kelakuan Rey.


"Kalau dia mau, ya boleh. Bawa keluarga mu," imbuh Maharani.


"Nyonya, tahu sendiri keluarga ku cuma Bos Mahen," tunduk Rey mendadak merasa tak setara dengan Candi.


"Ada Mama, Bapak, Abah, Rey ... kami akan menghadap keluarga Baratayuda segera, menindaklanjuti keinginan adikku, Om," jawab Mahen. Kakinya menyenggol ujung sepatu Rey yang masih merasa insecure.


"Silakan Mahen, ke Solo ya. Kapan?"


"Lusa," jawab Rey cepat.


"Ok, aku tunggu di Limasan Gandarani, Solo. Kami pamit dulu ya, pesawat transit sudah siap."


"Selamat jalan Tuan besar dan Nyonya, semoga sehat selalu," pungkas Rey seraya bangkit saat kedua calon mertua sekaligus pimpinan, bahkan ayah angkatnya jua akan bertolak ke kota kelahiran mereka.


Setelah mengantar hingga ke ruang tunggu, kedua pria perlente itu melanjutkan obrolan mereka.

__ADS_1


"Bos, bawa apa?"


"Kamu maunya gimana? kamu yang siapkan semuanya saat aku akan melamar Naya, Rey ... atau tanya istriku deh, aku gak gitu paham...."


Akhirnya mereka pun berpisah tujuan setelah rencana kecil dikantongi oleh Rey.


Hari H, Solo.


Keluarga Mahendra sudah siap saat Danarhadi keluar dari kamar di dampingi Abah.


"Ayo, Nak Rey, siap belum? uyut mau mantu lagi nih," ucapnya sumringah. Raden Panji Mahendra adalah, cicit mantu pria kesayangan Danarhadi, begitupun sosok Rey yang selalu menemaninya kemanapun.


Tak heran, Arya Tumenggung itu ikut bahagia ketika cicit angkatnya akan menikah.


"Uyut, aku terharu, terimakasih banyak. Sudah mendukungku," ucap Rey pada Danarhadi.


"Kamu orang terdekat Mas Panji, cicitku juga. Sudah seharusnya aku mendukungmu Mas Rey," balas sang Tumenggung.


"Mas?"


"Kamu, cicitku! gak denger? ayo, nanti kesiangan si Galuh ngamuk sama aku," sungut Danarhadi seraya keluar menuju pendopo dimana mobil mereka menunggu.


"Ciye, dipanggil Mas sama Uyut ... siap-siap masuk dalam daftar cicit wajib hadir saat titah turun," bisik Mahen.


"Bos, terimakasih banyak, aku gak tahu harus bilang apa?" Rey kembali berkaca-kaca.


"Sudah, calon manten gak boleh sedih. Reynan Lee Kusuma,"


"Kusuma?"


"Hmm, nih, fotokopi kartu keluarga Uyut ada nama kamu, Alex, Pras juga Adnan ... di keluarga ku juga, Bapak masukin nama kamu, Reynan Lee ... dan ini, surat adopsi yang Uyut urus, terserah kamu, mau masuk kemana?" Mahen menyerahkan semua dokumen pada mantan aspri nya itu.


Rey tercengang seraya kaki melangkah masuk ke dalam mobil. Bapak memeluknya bahkan Abah berkali mengusap punggung dan bahu, sosok alim itu tak henti mengucapkan doa bagi pria tanpa identitas asli, yang bernama Reynan Lee.


.


.


...__________________________...


...Yeayy semua selesai... satu lagi... ...

__ADS_1


__ADS_2