
Tazkiya.
Sudah beberapa hari ini Hasbi seakan dialihkan fokus ketika akan mengunjungi kediaman Yai nya di komplek pondokan Putri.
Ada yang aneh, tapi apa yaa? rasanya aku ingin sekali melihat Aiswa.
Hasbi berkali membolak-balikan halaman majalah konsep pernikahan yang tengah ia baca di meja kerjanya. Konsentrasinya masih harus terbagi antara memeriksa tugas para mahasiswanya dengan Aiswa.
Ia kembali mengecek ponselnya, jarinya menggulirkan beberapa pesan disana.
" Pesanku belum dia baca juga, padahal sudah beberapa hari, " gumamnya seraya melepaskan mouse dari tangan.
" Ga mungkin kan, dia offline. Jadwal pengayaan untuk ujian akhir tahun masih bulan depan dimulai, gadis seusianya sedang gandrung dengan media sosial, tapi semua akunnya off. "
" Apa Ahmad salah memberikan akun yaa? tapi benar ko, beberapa postingannya merujuk pada beberapa acara yang Tazkiya selenggarakan. "
Isi postingan gadis itu memang tidak biasa untuk gadis seusianya, bila akun lainnya banyak memajang tentang curhatan galau, jatuh cinta, selfie, hura-hura, Idol atau sejenisnya.
Lain hal nya dengan Aiswa, ia banyak memposting motivasi tentang bisnis dan kehidupan di alam bebas, entah pegunungan, laut atau bahkan desa di pedalaman. Terkadang disertai caption yang menandakan bahwa ia ingin mengunjungi semua lokasinya dengan bebas.
" Pantas saja dia suka, " seraya mengusap dagu dan menopangnya dengan tangan kiri.
Adzan dzuhur terdengar.
Hasbi bergegas merapikan meja kerjanya agar ia tidak terlambat ke masjid untuk sholat berjamaah. Setelahnya, dia berniat akan mengunjungi kediaman Yai nya tanpa memberi kabar lebih dahulu.
Dua puluh menit berlalu. Hasbi melangkahkan kakinya menuju rumah disamping Aula.
Saat akan mengucapkan salam, samar terdengar dari arah ruang tamu. Suara Yai nya tengah berbicara dengan seseorang.
" Bagaimanapun, temukan Aiswa segera sebelum keluarga Hasbi tahu. "
" Baik Yai, ana pamit. "
Belum sempurna Yai nya meminta orang itu pergi, Hasbi telah merangsek masuk ke dalam.
" Assalamu'alaikum Yai, " ucap salamnya tergesa.
Hasbi melihat wajah Yai nya yang terkejut saat dirinya datang.
" Wa-wa'alaikumussalaam, nak Hasbi. Ada perlu dengan ana?, " tanya beliau gugup.
" Maksudnya apa Yai? ana mendengar cari Aiswa sebelum keluarga ana tahu? Aiswa kemana? " tanyanya terus terang.
" Duduklah dulu, " pinta beliau seraya menyilakan Hasbi duduk berhadapan dengannya.
" Aiswa, pergi dari rumah sejak dua hari lalu. Umma nya pun tidak tahu kemana ia pergi. Tapi ana sudah menyewa sesorang untuk mencarinya. "
" Afwan Yai, kenapa tidak memberitahu ana? apa penyebab Aiswa pergi? "
" Dia marah pada ana, dan keberatan atas rencana mempertemukan kalian dalam majlis resmi, "
Hasbi nampak kecewa mendengarnya, ia nyaris tak menyangka Aiswa yang pendiam, menjaga pandangan, dan terkesan penyendiri bisa melakukan hal bodoh dan senekat itu.
" Ana akan membantu mencarinya, bisakah ana meminta tolong agar Yai merahasiakan ini dari Abuya? "
" Ya khayr Nak, ana minta maaf sebesar-besarnya. " Hariri salim menunduk malu.
Setelah ia keluar dari kediaman Yai nya, Hasbi sudah tak berniat lagi untuk makan siang terlebih untuk kembali mengajar. Ia meminta izin pada petugas piket bahwa satu jam kedepan dirinya tidak masuk memberikan mata kuliah dan akan digantikan dengan tugas yang telah ia siapkan.
Hasbi lalu menuju mobilnya, melakukan panggilan pada seorang teman yang bisa melacak keberadaan Aiswa.
" Kamu tidak akan pernah bisa lari dari ku, Aiswa, " geramnya mencengkeram stir dengan kuat.
***
Semarang.
Setelah pembicaraan ambigu yang tak dilanjutkan Aiswa sebelumnya. Keduanya kini larut dalam diam.
" Permisi, pesanan meja 21, " tak lama, suara waitress mengantar menu pesanan mereka.
__ADS_1
" Terimakasih Mba, " balas Aiswa.
Meski Amir berpura sibuk dengan ponselnya, namun ekor matanya menangkap kecekatan gadis itu dalam menata makanan di meja. Amir juga membiarkan Aiswa yang menyiapkan makan untuknya.
" Ka, makan dulu. Handphonenya di simpan bentar, " tegurnya lembut.
" Sebentar, ada pesan masuk dari Mas Panji. "
" ......... " Aiswa duduk diam menunggu Amir selesai.
" Duluan Aish, nanti kamu sakit lho. "
" Tapi diajak makan ga mau, " gumamnya.
Amir gemas sendiri melihat gadis itu saat menekuk mukanya sembari menunduk, " Makan yuk. "
Saat sedang menikmati makanan, ponsel Amir kembali berdering. Muncul satu nama dilayar yang juga dilihat oleh Aiswa karena Amir meletakkan ponselnya di dekat tangan kanan Aiswa.
" Almahyra? " lirih suaranya hampir tak terdengar.
" Biarkan saja dulu. "
Panggilan yang berusaha Aiswa abaikan justru berulang kali berdering.
" Angkat saja, bila kamu penasaran, " Amir sengaja memancing reaksinya.
" Siapa ka? calon ka Amir ya? "
" Bukan. "
" Atau belum? "
" Bukan Aish, nanti aku kenalkan kalian yaa. Semoga akur, " senyumnya jahil.
" Dih, omongannya udah kek mau poligami, " gerutunya sembari menyudahi makannya.
Amir hanya tersenyum, hatinya menghangat mengetahui reaksi bahwa Aiswa mungkin sedang cemburu.
" Aish udah ga nafsu, " ucapnya sembari menuangkan teh hangat untuk minum Amir.
" Hmm, ngambek ... aku bercanda, Alma itu sepupu istri ka Abyan, aku justru mau minta tolong sama dia buat kamu, " terangnya.
" Buat aku? kenapa? "
" Nanti aku jelasin, makan lagi yaa. Aku ambilin, mau yang mana? " tawarnya pada beberapa menu. Amir menuangkan kembali makanan kedalam piring Aiswa.
Hingga ponselnya kembali berdering memaksa Amir menggeser tombol on dan meloudspeaker panggilan dari Alma agar Aiswa tidak salah paham.
" Assalamu'alaikum, Kaaaaa lama banget sih, lagi ngapain? " rajuk suara diseberang sana.
" Wa'alaikumussalam ... lagi makan siang, kenapa Alma? "
" Jadi kan? ana tungguin lho. "
" Iya jadi, sore yaa ba'da Ashar nanti aku share lock. "
" Ya khayr, Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumussalam. "
" Nada suaranya ... dia deket banget yaa sama kakak? " cecarnya kemudian.
" Dzuhur dulu yuk, mushola nya dibawah. " tunjuk Amir ke bawah resto.
Jeda waktu menunggu saat Amir tengah membayar tagihan mereka. Pikiran Aiswa kembali mengingat umma nya.
Umma, semoga baik-baik saja disana, jangan sakit karena Aish lagi. Maafkan Aish yang selalu menjadi alasan Umma untuk tetap bertahan.
" Aish, ayo, " ajaknya menuruni undakan seraya menjelaskan tentang pertemuan nya dengan Alma.
Ba'da sholat dzuhur keduanya berjalan pelan menyusuri tepi danau buatan dibawah sana.
__ADS_1
Aiswa menceritakan alasan dirinya yang berhasil kabur malam itu tak lain karena bantuan umma, jadi Aiswa merasa ia tidaklah salah sepenuhnya dalam hal ini.
" Bentar lagi ashar, kita naik yuk lalu pulang dan ketemu Alma, " ajak Amir.
Aiswa terlihat kelelahan menaiki banyak undakan saat telah tiba di pelataran parkir resto.
Setelah memastikan Aiswa duduk dengan nyaman, Amir mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
" Alma, ketemu di sini satu jam lagi, " Amir meminta Aiswa yang mengetik pesan untuk Alma.
Masjid BaburRahman, satu jam kemudian.
Amir dan Aiswa yang baru selesai melakukan sholat Ashar, kini menuju foodcourt komplek masjid sesuai lokasi yang disepakati untuk bertemu Almahyra.
" Kaaa ... Aam-miir... sini, " ucapnya melemah ketika melihat sosok gadis cantik berjalan di sisi Amir yang sedang menuju ke arahnya.
" Maaf lama yaa, tadi kita ashar dulu ... kenalin Aiswa, " sapa Amir ketika mendekat dan duduk di meja yang sama dengan Alma.
" Almahyra Firdaus, keponakan Kyai Hasyim Rois, pemilik Al Islah " ulur tangannya.
" Aiswa. " Aish membalas seperlunya.
" Begini Alma, aku setuju ngajar di MA tapi aku minta bantuan nitip Aiswa yaa di pondok putri sementara ia belum menemukan pondokan lain disini, keberatan tidak? " tanya Amir.
" Lama ka? hubungannya dengan ka Amir apa? "
" Pentingkah buat Mba Alma? " kali ini Aiswa yang menjawab.
" Alma bersedia? " Amir berusaha meredam percikan api yang tak ia sangka.
" Demi ka Amir, ok ana ga keberatan, nanti ana masukkan Aiswa ke pondokan MA yang baru. "
" Alhamdulillah, syukron Alma. "
" Aku izin langsung pamit yaa, mau antar Aish dulu, dia udah kecapean. "
" Lho, ana ditinggal? "
" Mau ikut? ayo kalau mau, " Amir salah tingkah, dia melihat wajah Aiswa kembali ditekuk namun melihat wajah Alma sangat gembira.
Astaghfirullah, apalagi ini.
Kiranya Alma menyesal ikut bersama mereka. Aiswa tak memberi kesempatan padanya untuk berinterkasi dengan Amir. Ada saja yang Aiswa bicarakan mengundang tawa Amir sesekali hingga perjalanan ke hotel terasa singkat.
" Langsung istirahat ya. " Amir menurunkan Aiswa didepan lobby.
" Aku ... " bisiknya pelan dengan gerakan bibir samar hingga membuat Amir tersenyum.
" Aku juga ... " balasnya tak kalah manis sembari melihat Aiswa masuk ke hotel dan menghilang di balik pintu.
" Hello ka, ada aku lho disini, " tegur Alma kesal berniat membuka pintu belakang.
" Kita balik yaa, " Amir langsung melajukan kembali mobilnya saat alma ingin turun dan pindah ke kursi depan.
" Dia siapa sih ka? " tanyanya lagi.
" ....... " Amir mengedikkan bahu sembari tersenyum simpul.
.
.
..._____________________________...
...Tiba saatnya kita saling bicara.. Tentang perasaan yang kian menyiksa....
...Jika sang waktu bisa kita hentikan.....
...D**an s'gala mimpi-mimpi jadi kenyataan...
...Meleburkan semua batas... Antara kau dan aku...
__ADS_1