
Turky.
Akhirnya hari yang paling Aruni tunggu tiba. Pagi itu wajahnya berseri-seri, bahasa tubuhnya, suaranya sangat mencerminkan bahwa ia tengah bahagia.
" Morning Konya, aku akan pulang ke negara asalku. Semoga negara itu menjadi pelabuhan terakhir ku dalam menjalani hidup ini. Asalku dari sana dan ke sanalah aku akan kembali. Terimakasih kota ku, aku bahagia merajut kenangan disini, menghabiskan separuh dari usiaku sebelum rasa sakit itu datang dan kerap membawaku melanglang buana demi sebuah keinginan, sehat. "
Aruni menghela nafas panjang, menghidu wangi udara kota untuk terakhir kalinya. Kota yang menemaninya merajut mimpi menjadi seorang fashion designer secara otodidak karena kesehatannya tak mumpuni bagi dirinya mengenyam pendidikan formal.
Bye Konya, sepertinya aku tak kembali, aku sangat rindu Indonesia.
Sepanjang perjalanan menuju Bandara Konya, abi dan ibunda Aruni terus menerus mengingatkan tentang kewajiban anak kesayangan mereka agar menjaga kesehatan.
Aruni di diagnosa mengidap berbagai macam gangguan kesehatan dimulai dari thypus, gerd, hingga ovaritis, kedua orang tuanya sangat mengupayakan berbagai tehnik pengobatan agar Aruni tidak sampai melakukan operasi pengangkatan salah satu indung telurnya.
Namun takdir berkata lain, ketika dirinya menyatakan lelah berjuang, kondisinya menurun drastis yang menyebabkan keputusan menakutkan itu diambil.
Ia belajar ikhlas dan kembali bangkit setelah sang kakak memberinya sebuah tiket pagelaran fashion show Istanbul Modest Fashion Week dan designer favoritnya Zaynep Mayruk ikut berpartisipasi beberapa waktu lalu.
Aruni bangkit kembali, sadar bahwa mimpi terbesarnya belum tercapai. Ia sangat memimpikan ketika dirinya menuju podium, melangkah di catwalk bersama para talent modelnya, ada seseorang dibawah sana yang menatapnya bangga dan penuh cinta.
" Jaga diri yaa sayang, Abi sayang adek, " ucap sang ayah.
" Jangan lupa kabari bila adek tiba disana. Mama sudah mengabarkan pada para Buyut mu agar bersiap, " sambung bundanya.
" Jangan kuatir gitu, aku baik-baik saja meski ini penerbangan perdanaku seorang diri. Akan aku kabari kalian segera bila tiba, " jawabnya sumringah hingga lesung pipinya tercetak jelas diwajahnya, semakin menambah keayuan gadis itu.
" Aruni, Aruni Fauqiyya ... kamu jadi pergi? " Suara seorang pria memanggilnya dari kejauhan.
Keluarga Aruni berbalik menuju arah suara. Pemuda sopan dan sholeh tetangga mereka sekaligus satu-satunya teman Aruni, menghampiri dengan nafas terengah-engah akibat berlari.
Anaknya tidak pernah bersosialisasi, semua dikerjakan dirumah mulai dari sekolah dan sebagainya. Begitu pun Aruni, kedekatan mereka mungkin karena senasib meski Mama tahu, pemuda itu menaruh suka pada putrinya.
" Hai, kamu nyusul kesini? sampai jumpa lagi Aksan Khalil Zayan, kamu sahabat terbaik sepanjang hidupku. "
" Kamu tak akan kembali kah? kemana aku harus menyusulmu? " Raut wajahnya sangat khawatir kehilangan.
" Aksan, Aruni hanya mudik sementara, " timpal sang ayah.
" No Abi, aku ingin di sana. "
" Runi, pikirkan lagi saat telah tenang ya Nak, Mama khawatir, " pinta sang Mama.
" Aku akan kehilanganmu, bisakah kita berjumpa lagi? dalam hubungan yang lebih baik dari ini? " jemarinya bergetar menggenggam erat tangan mungil gadis itu.
Aruni hanya tersenyum manis menimpali sosok tampan di hadapannya.
Suara announcement mulai terdengar. Aruni mengurai tautan jemari mereka.
" Sayang, pergilah. " Mama memeluk putrinya disusul Abi yang ikut memeluk kedua wanita kesayangannya itu.
__ADS_1
" Aksan, semoga kamu menemukan bahagiamu meski tanpa aku. " Aruni memeluk sahabatnya untuk terakhir kali.
Netra keduanya berkabut, dalam hati keduanya mengakui bahwa rasa itu memanglah ada. Aksan tak bisa berbuat banyak karena memang dia satu-satunya harapan keluarga.
Salah satu alasan kuat Aruni pergi ke Indonesia adalah agar dapat lepas dari bayang Aksan, pemuda yang pernah ia cintai sebelum operasi itu terjadi dan sebelum perkataan ibunda Aksan yang menohok nya, seakan menghempaskan harapan ketika dia membutuhkan sosok Aksan untuk bertahan.
Aruni, aku memang ingin mempunyai menantu yang serumpun namun apakah kamu bisa memiliki keturunan setelah ini? Aksan tampan dan putra Kami satu-satunya, wajar bila kami menginginkan penerus darinya segera.
" Bye Aksan, " ucapnya parau sembari memalingkan wajah dan menarik kopernya menuju gate untuk bersiap boarding.
" A-runi, bye sa-yang, " balasnya lirih terbata dengan satu tetes airmata yang luruh saat kepalanya ia tundukkan.
Kedua orang tua Aruni hanya menepuk bahu pemuda tampan itu pelan, menariknya perlahan menjauh dari sana untuk kembali pulang.
*
Menjelang lepas landas, hati Aruni mulai gundah.
Apakah aku akan sanggup bertahan di sana nanti? Apakah aku akan bahagia dengan melupakan Aksan?
Suara pilot yang menginformasikan pesawat mereka, tujuan Istambul dengan waktu tempuh satu jam akan segera lepas landas, membuyarkan kegundahannya.
Aku mengubur cinta pertama ku di Turky. 12 jam lagi, Indonesia temani aku berjuang.
***
Multazam, Semarang.
Gamal berkali datang menemuinya pun hanya Amir tanggapi seperlunya. Jujur dia ingin menjaga jarak meski Gamal nampaknya ingin mencari tahu.
Belum lagi Alma, yang masih tetap berusaha menghubunginya dengan alasan ingin menyerahkan hasil ujian Aiswa karena dirinya sempat mendaftarkan gadis itu ke data Al Islah saat ujian akhir lalu.
Telponnya kembali berdering.
" Ck, Alma. Ada apalagi? "
" Assalamu'alaikum, kenapa Alma? " tanyanya langsung.
" Ka, ini data nya ana kirim kemana? ana kesana yaa? "
" Tidak perlu, aku kirimkan alamat website Tazkiya saja yaa, dan nomor salah satu guru disana. Kamu bisa langsung berkoordinasi dengan mereka. "
" Tapi Ka, kan ana ga kenal. "
" Perkenalkan diri donk, kamu cerdas Alma dan lebih paham regulasinya dibanding aku. Jadi bilamana kamu menanyakan hal yang tak aku pahami, rasanya bagai bergantung pada akar lapuk bukan? aku lanjut kerja yaa. Assalamu'alaikum. "
Tut. Amir memutus panggilan sepihak.
Amir bangkit dari duduknya, memutar handle pintu kamarnya menuju dapur untuk mengambil air minum.
__ADS_1
Baru saja ia duduk di kursi makan ruangan itu, ponselnya kembali berdering.
" Ya Bah, Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumussalam, Mir ... Gamal dengan Almahyra? kamu punya nomor Gamal? Abah minta boleh ndak? " tanya Abah terdengar khawatir dari nada suaranya.
" Iya, nanti dikirim ke Abah nomernya Gamal. "
" Ditunggu ya Mir, mendesak karena Abah butuh mengkonfirmasi sesuatu. "
" Apa sih Bah? jangan modus buat deketin Mama Gamal lho Bah, Amir ga suka. "
" Ummi kamu masih dihati Abah, su'udzon aja. Assalamu'alaikum. " Sambungan telepon diputus sepihak oleh Abah.
Baru juga seteguk ia melanjutkan minum, ponselnya kembali berdering.
" Ckck sibuk sekali ponselku hari ini. Uyut kenapa? "
" Ya Uyut, aku ke sana minggu depan. " Amir langsung menebak sebelum uyut bertanya.
" Maaaassss, lama sekali. Apa ga bisa dipercepat? "
" Naya kan masih di sana. "
" Barusan di jemput sama Mas Panji, pelit dia itu sekarang, Uyut ga suka. "
" Ya ampun, pantas saja kumat manjanya. "
" Oiya Mas, Uyut mau bilang apa yaa? lupa, siapa itu yang mau kesini yaa, ah Uyut lupa. Udah ya Mas. " Panggilan kembali diputus sepihak oleh pria renta di ujung sana.
" Ya ampun, mereka kalau ada butuhnya begitu. Nasib jomblo diputusin mulu bahkan oleh panggilan. " Tatap nya pada benda pipih ditangannya.
" Mir, " Abyan menepuk bahu adiknya yang baru saja meneguk air minum kembali.
Puffttt.
" Kaa..! " Amir terkejut hingga menyemburkan air hampir mengenai wajah kakaknya.
Abyan tertawa. " Mir, ada yang mau ketemu sama kamu, didepan, lekas ke depan, salam sapa aja. "
" Siapa? "
" Kyai Jazuli, yang nikahin Naya. "
.
.
...____________________________...
__ADS_1
...😌😌😌😌😌...