
"Menurutmu?" Dwiana bertanya balik.
"Dwi, aku gak akan masuk jika kau tidak menjelaskan apa statusnya? aku lebih baik mundur jika memang kau condong padanya, karena bukan waktuku untuk sekedar bermain dengan harapan kosong," ucap Rayyan.
"Derens segalanya bagiku, meski dia bukan yang terbaik," jawab Dwi.
"Oh baik. Aku sudah tahu jawabannya, setelah ini aku akan merubah niatanku," tutur Rayyan lemah.
"Katanya akan masa bodoh, apakah aku menerima atau tidak. Siap memberi hingga tanganku penuh, nyatanya cuma segini?" cibir Dwi masih berhadapan dengan Rayyan dibatasi oleh kap mobilnya.
"Aku menjaga hatimu, agar tidak kembali terluka atau bahkan sulit memilih, yang pada akhirnya akan membuatmu menyingkir dari kami semua tanpa adanya keputusan. Bukan tidak berjuang," uang Rayyan masuk dan menutup pintu mobil kencang.
"Kamu tahu? setiap kali aku akan berkirim pesan, aku akan memilih penggunaan kata agar tidak ada yang menyinggungmu ... aku sedang membangun rasa percaya darimu, Dwi," sambungnya saat Dwiana juga telah duduk di belakang kemudi.
"Inginku menjadi alasan untuk setiap senyummu yang mahal itu, menemani ketika tak ada yang mau bersamamu, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kau luruhkan ... aku berharap menjadi bagian dari memori saat kau bangkit memulai lembaran baru di hidupmu...."
"Ck, manis sekali. Sayangnya aku gak suka sesuatu yang manis," lirih Dwi mulai menginjak pedal gas.
Rayyan melihat cara mengemudi Dwiana yang terlihat sangat ahli. Ketenangannya melajukan mobil dengan kecepatan di atas 100km/jam saat di dalam tol membuat Rayyan bergidik ngeri.
Baru saja lolos dari maut, kini ia kembali menantang malaikat Izrail di jam yang sama. Apa kata para malaikat nanti? batin Rayyan.
Dwiana menekan audio di mobilnya agar suasana tak canggung, meski ia melihat Rayyan memegangi kepala seraya terpejam.
"Hmm, Daniel Bedingfield ... my song," gumam Dwi menaikkan volume radio.
If you're not the one then why does my soul feel glad today?
If you're not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?
I'll never know what the future brings
But I know you're here with me now ... We'll make it through
And I hope you are the one I share my life with.
(Jika itu bukan kamu, mengapa jiwaku merasa senang hari ini?)
__ADS_1
(Jika bukan kamu mengapa tangan kita seakan saling menggenggam)
(Jika kamu bukan milikku lalu mengapa hatimu membalas rasaku?)
(Jika kamu bukan milikku, apakah aku akan mampu bertahan berdiri di sisimu?)
(Aku tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan)
(Tapi ku tahu kau di sini bersamaku dan kita akan melaluinya)
(Dan ku harap kau lah yang akan menemani untuk berbagi kisah hidupku)
"Cocok Dwi, kayak kita. Hanya kamu belum sadar aja," ujar Rayyan.
"Just song ... jangan mengaitkan sesuatu dengan sesuatu," sindir Dwiana.
"Kepalaku sakit sekali," Rayyan merintih.
"God," Dwi panik, ia menepi.
"Alien, mana yang sakit? ada rest area didepan 200 meter lagi, aku beli air panas untuk kompres kamu ya," ucap Dwi mengguncang bahu Rayyan.
Bukan enggan merespon, tapi kepalanya memang sangat sakit akibat benturan air bags pada stirnya tadi.
Dwi turun tergesa, menutup pintu mobilnya kencang hingga Rayyan terkejut.
"Astaghfirullah tuh bocah, udah tahu lagi sakit gini. Main banting aja," keluh Rayyan.
"Gue bukan malas jawab, takut sama kamu, ngebut mulu udah kek film fast to farius. Eh, dia panik gitu sih," celoteh Rayyan dari dalam mobil kala melihat Dwiana kesana sini membeli semua yang dia butuhkan.
Ketika gadis itu kembali, Rayyan menutup mata berpura-pura.
Pintu kiri, dibuka oleh Dwiana.
"Dokter, maaf aku kompres yaa. Maaf, aku gak ngerti cara pertolongan pertama pada memar, maaf," cicit Dwiana berkali meminta maaf, seraya menempelkan sapu tangan miliknya yang sudah di bubuhi air panas yang baru dia beli ke dahi Rayyan.
"Dwi, sudah. Ke rumah sakit sekarang," ucap Rayyan pelan.
"Oh iya iya, bertahanlah...." Dwiana kembali memutari mobilnya. Masuk dan duduk di belakang kemudi lalu menekan pedal gas kembali.
Nguuuuuuunnngggggg. Mirip suara lebah, mobil sport merah melesat cepat.
__ADS_1
"Dwi, jangan ngebut. Aku hanya sakit kepala hebat, gak apa, wajar reaksi benturan," cicit Rayyan takut.
"Gak apa gimana, kamu kayak gitu. Diem, bentar lagi sampai," sergah Dwiana.
Ciye, panik ya Neng. Abang happy liat kamu care sama aku, maaf ya Dwi jika aku justru menikmati saat kamu begini. Asal jangan nabrak aja, kita belum nikah loh.
Sepuluh menit berikutnya.
IGD, Hermana Hospitals.
Dwiana memarkirkan mobilnya asal di depan IGD.
Brugh. Lagi, ia membanting keras pintunya.
"Dokter, bisa bangun gak? aku panggil suster pria dulu yaa," ujarnya saat membuka pintu kiri.
Dwi kembali datang dengan seorang suster laki-laki, memapah Rayyan untuk duduk di kursi roda. Sementara dia dibawa suster, gadis itu memarkirkan mobilnya dengan benar agar ia tenang mendampingi Rayyan di dalam.
Rayyan langsung mendapatkan perawatan darurat. Keterangan darinya di catat oleh doker jaga yang memeriksa, tak lama obat pun disuntikkan pada infus yang baru saja terpasang.
"Beliau Dokter kan? nanti setelah infus habis, jika memang masih pusing harus dilakukan tindakan lebih lanjut ya Mba, saat ini aku telah memberikan pereda nyeri dahulu," terang dokter jaga lalu pamit.
"Baik, terimakasih," jawab Dwi yang lebih tenang karena melihat Rayyan sudah ditangani dan kini tertidur karena helaan halus nafas terhembus.
Dwiana menutup tirai separuh agar Rayyan nyaman dan pencahayaan lebih teduh. Ia pun duduk di kursi sebelah ranjang.
"Derens itu Abangku, tapi dia meninggalkan aku lebih dulu. Meski dia bukan kakak terbaik tapi sosoknya membuatku tegar menjalani hidup karena Derens selalu mengerti aku. Satu-satunya pelarianku meski terkadang dia bejat ... hari ini aku mengunjunginya saat kau menelponku pagi tadi ... maaf," lirih Dwiana.
"Derens cerdas dalam bisnis meski ku tahu belakangan bahwa bisnis dia ilegal. Hanya dia yang aku punya. Tanpa bertanya alasanku menangis atau kecewa, Derens akan selalu membelaku."
"Kini, setelah tiga tahun kepergiannya, aku baru sadar. Dia begitu pun ada alasannya. Aku menyesal membencinya karena satu peristiwa akhir yang dia lakukan padaku. Aku tidak pernah bilang pada Derens bahwa bagaimanapun, aku sangat menyayangi dan kini merindunya...." Dwiana mulai terisak.
Gadis cantik ini lancar bercerita pada Rayyan, karena mengira lelaki itu telah terlelap sebab pengaruh obat. Namun Rayyan mendengarkan semua keluhan Dwiana seksama, pendengarannya masih baik meski denyut hebat belum hilang dari kepala.
Dwiana terisak, menundukkan kepala di sisi ranjang. Tangan Rayyan bergerak pelan, mengusap kepala gadis itu beberapa kali sebelum akhirnya lunglai.
Sayang, izinkan aku menjadi Derens dalam versi terbaik untukmu.
.
.
__ADS_1
...__________________________...
...Sesaknya Dwi, nular ðŸ˜. Si introvert sudah mulai nyaman bercerita pada seseorang yang dia pilih....