DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 130. MENELUSURI


__ADS_3

Ketika dia menginjakkan kaki di negara yang terkenal akan Big Bennya, hari sudah menjelang larut.


Merasa belum mengantuk benar, Amir turun ke lantai dasar menuju coffe shop untuk memesan secangkir kopi panas sekedar menghangatkan badan sebelum tidur.


Inginnya mata tak melihat sesuatu malam ini, tubuhnya terlalu lelah bila dipaksa kembali berpikir. Sayangnya kenyataan berkata lain, netranya menangkap sosok mirip dokter Rayyan dikejauhan sedang berbincang dengan seorang wanita.


"Ngapain Dokter Rayyan disini? apakah mengunjungi Aiswa?"


Beberapa kali mengerjapkan kelopak matanya sekedar memastikan bahwa dugaannya benar.


"Eh, bukan kayaknya," Amir lalu duduk disalah satu table membelakangi pria terduga, membenamkan lehernya yang sedikit kaku bertumpu pada lengan dimeja sesaat sebelum pesanannya datang.


Suara waiter mengejutkannya, tak ingin berlama disana ia kembali menuju keatas dengan kopi panas ditangan.


Keesokan pagi.


Amir keluar kamar disambut udara dingin dari lorong meski hotel melengkapi fasilitas penghangat namun masih terasa menerpa kulit wajahnya. Hari ini dia menyewa sebuah mobil, salah satu fasilitas yang hotelnya berikan untuk menyusuri beberapa kampus.


"Bismillah .... Richmond, Brunel, Royal hollow akan menjadi tujuanku kali ini ... semoga waktunya cukup, sebelum jam empat sore nanti aku harus sudah kembali ke hotel sesuai arahan receptionist tadi," Amir menarik tuas, menginjak pedal gas pelan sedan pigeout yang dia naiki keluar basement menuju arah utara mengikuti jalur map yang tertera di dashboard.


Dua puluh menit waktu tempuh telah dia habiskan. Kini ia telah sampai di lokasi pertama, Amir turun lalu menuju sekretariat berharap sebaris nama yang dikantongi terdapat di kampus ini.


Lama ia berada dalam ruangan itu hingga staff mengatakan bahwa tidak ada siswa yang dicarinya meskipun Amir menyertakan nama panggung yang Aiswa pakai.


"Sabar sabar, masih lima kampus lagi disekitar sini," ujarnya menggosokkan kedua telapak tangannya untuk menghalau dingin yang kembali menyergap kala keluar gedung.


"Astaghfirullah, dinginnya ... sayang, kamu baik sajakah selama disini?" gumamnya tak kuat menahan dingin, lalu berlari kecil menuju mobilnya.


Merasa badannya jumping suhu, dia menyalakan penghangat ketika memasuki kendaraan sewaanya itu, kembali meniupkan udara dari mulutnya agar tangannya tak terlalu kaku saat memegang stir.


"Lanjut ke lokasi kedua dan ketiga...."


Hampir empat jam akumulasi yang dia habiskan untuk mengunjungi dua tempat lainnya namun hasilnya sama nihil.


"Makan dulu deh ya, perutku mulai perih sekalian cari Masjid disekitar sini ... jauh juga yaa dari Hotel, ga terasa sudah hampir empat puluh kilometer mengitari ketiga kampus," ujarnya menepikan mobil ke sisi jalan berdampingan dengan jalur pedestrian sesuai rambu.

__ADS_1


"Masjid, cafe, disekitar sini...." Jemarinya mengetik rute baru pada map yang masih terpasang di dashboard.


"Lima ratus meter ke depan lalu belok kanan, bismillah...." Dia pun menarik tuas rem tangannya lalu meluncur menuju tujuan.


Tempat strategis baginya hingga tak membutuhkan waktu untuk parkir memutar hanya sekedar mencari makan dan sholat dzuhur yang sudah terlambat. Ia lupa menyesuaikan jam tanganya dengan waktu sholat dinegara ini.


"Teledor kumat," lirihnya menggelengkan kepala saat akan berwudhu.


Setelah sholat, dalam diamnya hatinya meminta keteguhan serta kesabaran dari Sang Maha Rahiim, ditenangkan dalam mengambil tindakan apabila Aiswa tak bersedia ia halalkan.


"Allah, hanya padamu aku meminta pertolongan ... lembutkanlah hatinya, tiupkan kembali kasih sayang untuk kedua orang tuanya kedalam sanubari Aiswa ku ya Robb, aamiin." Masih setia diam ditempatnya hingga suara cacing dalam perutnya mengusik kekhusyukan doa jelang sore hari itu.


Tak tahan akan rasa perih yang mulai menganggu, Amir melangkah keluar masjid yang penampilannya seperti bukan Masjid pada umumnya jika di Indonesia.


Burger King's dengan label logo halal di salah satu dinding kaca cafe menjadi pilihannya. Amir mendorong pintunya dan memesan seporsi menu disana kemudian membawa makan siang yang terlambat itu menuju meja dekat jendela.


Karena sangat lapar, dia mengacuhkan sekitar hingga sebuah suara menegurnya.


"Mas Amir? wah takdir selalu mempertemukan kita rupanya," Dokter Rayyan menghampiri mejanya, duduk dihadapan pria yang sedang mengunyah sesuatu di mulutnya.


Yang kulihat semalam adalah benar dirinya.


"Sendirian? lagi ada event kah?" tanyanya menyelidik.


"Tidak, hanya sedang mencari cinta yang lepas agar kembali padaku... Dokter sendiri, sedang tugas kah?" ujarnya sedikit memberikan penegasan pada kalimat pertama.


"Iya, dekat sini ... Royal hollow, ini hari ketigaku, juga sekalian mengunjungi seseorang ... aku serius dengannya dan sudah mengantongi izin Papanya, hanya menunggu dia lulus saja, doakan yaa Mas," Rayyan berkata seolah telah yakin bahwa Aiswa akan memilihnya. Dia juga mempunyai maksud terselubung atas ucapannya.


"Maksud Dokter? wanita yang aku jumpai di Malaysia tempo hari?" pancing Amir setelahnya.


"Benar, cantik bukan?"


"Mungkin, karena aku tak pernah melihat wajahnya secara langsung ... tapi apakah dia telah menerima pinangan Anda? jangan sampai terpaksa menikah namun hati milik yang lain."


"Maksudnya? wanitaku sudah punya pilihan?"

__ADS_1


"Entahlah aku juga tidak tahu, yang jelas sepertinya kita punya masalah yang sama, harus menanyakan pada wanita yang kita cintai apakah bersedia menghabiskan sisa usia bersama," imbuhnya lagi.


Ayolah tanyakan padaku, aku tahu Anda penasaran bukan saat melihat ku di Bandara lalu, Dokter aku tahu Anda menemani Aiswa saat pulang ke sini.


"Mari makan Dokter, setelah ini aku ingin melanjutkan ke tempat selanjutnya ... mungkin besok aku akan memilih lokasi yang lebih jauh dahulu...."


"Kemana?"


"Art of London serta Central Saint ... mencari inspirasi atau designer pemula yang bisa aku ajak collabs, untuk launching series terbaru mengingat pekan Expo lalu semua designer dari London potensial partner, kurasa," Amir meraih gelas minumnya, meneguk sisa cairan untuk mendorong makanan melewati tenggorokannya.


"Saint ... cocok sepertinya karena disana juga tempat Aey...."


Yes, binggo. Ketemu.


"Disana gimana, Dok?" Amir berpura tak mendengar Rayyan keceplosan menyebut kampus Aiswa.


"Aert, Royal College dan Kingston juga jawaranya para designer dengan bakat mengagumkan ... aku pesan makanan dulu yaa, masih lama kan Mas?" kilahnya merasa kelepasan bicara.


Apakah dia sedang mencari Aeyza? ada hubungan apa sebenarnya?


"Aku harus sudah kembali sebelum jam empat sore, masih ada waktu lima belas menit dan kurasa waktunya akan melebihi batas dari jadwal yang telah disepakati untuk tiba disana ... jadi mohon maaf Dokter, aku terburu-buru dan tidak bisa menemani Anda ... jika urusanku telah selesai, aku hubungi Anda karena sepertinya Anda lebih mengenal kota ini daripada aku, gimana?"


"Aku disini sampai esok malam, silakan, dengan senang hati Mas, aku tunggu ya...."


Keduanya lalu berjabat tangan, kemudian Amir keluar cafe menuju mobilnya lagi. Dan tak lama ia meninggalkan tempat itu dengan tatapan Rayyan yang masih mengikutinya.


"Saint Martin, baiklah Dokter, terimakasih banyak atas petunjuknya," wajah tampan itu sumringah, pencarian esok pagi akan langsung menuju pin point yang sudah dia siapkan.


"Aiswa Fajri, berikan aku kesempatan untuk bicara nanti ya," lirihnya menyelipkan doa.


.


.


...____________________...

__ADS_1


__ADS_2