DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 77. SELAMAT JALAN, SAMPAI JUMPA LAGI


__ADS_3

Kesedihan kian pekat menyelimuti ruangan kala Hariri salim tergugu menciumi jenazah putrinya. Aruni menghubungi Naya serta mertuanya untuk mengabarkan duka.


Setelah mengambil wudhu, Amir lalu duduk tenang membacakan serangkaian doa untuk cinta tak sampainya itu. Hatinya hampa, bahkan air mata tak lagi mengalir dari mata teduhnya.


Aruni khawatir, dirinya mulai merasa tidak enak badan namun ia tahan, menunggu Naya menjemputnya agar sang suami bisa menunaikan bakti terakhir pada gurunda nya, membantu semua proses pemakaman hingga selesai.


Satu jam kemudian Hasbi pun tiba, ia masuk kedalam kamar yang pernah diucapkan kata talak untuknya.


"Aiswa, selamat jalan," Ia melirik ke arah Amir yang masih setia duduk disana khusyu melafalkan doa.


Hasbi menghampiri, duduk di sebelah kirinya.


"Maaf, dia tak sempat menjadi milikmu ... kita impas, sama-sama tak memilikinya," ujarnya entah dengan maksud apa.


"Kami masih saling memiliki meski raga tak bersanding, menyimpan kenangan kami utuh dan membawa cinta kami hingga akhir hayat ... ini anugerah Allah, yang tak akan pernah bisa kau jamah, karena Dia yang menjagaNya, " pungkas Amir.


"Ck, naif sekali,"


"Seperti dendammu atas Naya yang kau timpakan pada kami, banyak hati yang kau lukai ... Allah yubarik," meski sesak Amir mendoakan sahabatnya itu semoga mendapatkan hidayah agar kembali kejalan kebenaran.


Mereka mulai beranjak dari kamar saat Abah tiba dengan beberapa sahabat dan pengurus pondok untuk pemulasaran jenazah Aiswa.


Semua orang sibuk dengan urusannya, termasuk Aruni yang sudah setengah jam lalu meninggalkan suaminya disana, ia telah pulang bersama Naya.


Umma dibantu santri merapikan peralatan mereka selama di rumah sakit. Tak merasa bahwa ada kejanggalan dengan para suster yang bertugas siang duka itu.


Saat ranjang Aiswa didorong keluar, Umma melihat hal yang sama dari kamar sebelahnya.


"Aish, kamu ga sendirian, dia nampaknya juga sepertimu Nak," isak umma tertahan.


Brakk.


Terjadi keributan diujung koridor, sesama kelurga pasien yang hendak menggunakan lift passenger, disamping nya adalah lift khusus untuk mengangkut ranjang pasien.


Kedua jenazah dari kamar yang bersebelahan tertahan disana.


Hariri salim dan rombongan lebih dulu turun menggunakan lift yang kosong, sementara Umma dan satu santri beserta suster masih tertahan akibat salah satu keluarga pasien tetap bersikukuh.

__ADS_1


Akhirnya suster menyarankan memutar arah menggunakan lift dibalik tembok pembatas pilar.


Tas Umma disenggol keluarga yang bertikai saat mereka berusaha damai hingga terjatuh dan isinya berserakan. Umma dibantu oleh santrinya membereskan sejenak toh Aiswa juga masih terlihat, pikir Umma.


Setelah administrasi semua telah diselesaikan, Jenazah putri pemilik pondok yang mashur itu dilarikan menuju tempat bersemayam, Aula Putra Tazkiya.


Sepanjang perjalanan, Umma didalam mobil jenazah tak lepas menggenggam tangan yang berangsur dingin, tanda jiwa telah sangat jauh meninggalkan raga.


"Kita pulang sayang meski dengan cara yang lain," Umma menangis, sangat berat kehilangan anaknya.


Umma dibantu santri wanita mulai menyiapkan tempat untuk memandikan Aiswa. Bertekad menegarkan hati agar tak luruh air mata mengenai tubuh anaknya. Guyuran pertama lolos dengan mudah, guyuran kedua tangan tuanya mulai goyah. Umma menjeda sesaat, menarik nafas panjang berusaha menghimpun ketegaran yang sejatinya tak lagi ada.


"Hanya aku, hanya aku yang memandikannya ... aku akan menyelesaikan tugasku sebagai ibunya," sembari tangannya meraih sabun untuk diusapkan pada badan Aiswa.


Degh. Umma tercenung saat menyingkap kain basah penutup kepala putrinya.


Aish? ko? eh tapi betul lukanya disini, pelipisnya seingatku ga luka begini, tapi... bismillah sayang, umma mandikan aish terakhir kalinya ya.


Hingga dikafani, Umma masih setia menemani meski dalam hatinya meragu pun berprasangka mungkin karena kondisi dimasa kritis lama, pengaruh pemasangan alat, agak merubah sedikit struktur wajahnya.


Dia Aiswa, Maryam, ikhlaslah...


Jenazah yang telah wangi itu lalu disemayamkan di Aula untuk disholatkan kemudian langsung dikebumikan di belakang Asrama putri, hanya dipisahkan oleh tembok setinggi satu meter dari sisi kanan kediaman mereka.


Mahendra setia disisi kakak iparnya, mengikuti semua prosesi hingga akhir. Malam menjelang, tamu yang ingin mengucapkan bela sungkawa semakin banyak.


Amir mendekat pada Yai nya itu, melihat ke arah Hasbi yang berdiri disebelahnya ... kearah Abahnya serta, tergurat wajah lelah namun ia tahu, Abah juga ingin tuntas membantu sahabat nya itu.


"Mir, jangan lupa makan, Aruni diperhatikan, " peluk sang Ayah kala melihat putranya lunglai.


"Mir, jazakallah kheir Nak ... kamu menuntun Aiswa kembali mengingat Tuhannya, seperti keinginannya dia menunggumu datang ... do'akan agar dia tenang disana yaa, Buya meminta maaf atas segala khilaf yang berimbas padamu, ditimpakan fitnah pada keluarga kalian ... juga ... gagalnya Ahmad menyampaikan amanahmu, sehingga aku tidak menjadikanmu menantuku, sumber kebahagiaan Aiswa, " Yai tercekat, suaranya menahan tangis. Abah hanya menepuk lengan pria yang sebaya dengannya itu pelan.


"Sudah berlalu Yai, aku izin pamit," balas Amir sendu.


"Abah, Yai, kami pulang duluan ... nanti Rey yang jemput Abah ya," sambung Mahen beralih pandang pada mertuanya.


Kedua pria paruh baya itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Hariri salim mencelos melihat punggung Amir perlahan menghilang diantara banyaknya tamu yang datang.

__ADS_1


"Mas,"


"Baik ka," Mahen tahu kakaknya butuh pelampiasan, ia mengarahkan laju mobilnya ke pantai.


Amir turun sebelum mobil Camry hitam itu berhenti sempurna. Dadanya telah bergemuruh sejak mencium aroma pasir basah dari pintu masuk tadi.


Kaki panjang itu turun menapaki tangga menuju bibir pantai yang berpasir hitam. Disambut gempuran ombak malam itu yang menghantam cadas dengan keras.


Hatinya bagai terkena tsunami, luluh lantak hancur berkeping-keping menghanyutkan segala isi yang dilewatinya, entah butuh waktu berapa lama untuk menyusunnya lagi.


Kenangannya ikut terombang-ambing ataukah tenggelam dalam pusaran pekat gulungan gelombang cinta yang membuatnya hancur.


Bagai para korban yang selamat dari musibah, ia limbung seakan hilang raga separuh dengan nafas tersisa diujung pangkal tenggorokan.


"Aiswaaaaaaaaaa.... " teriaknya digelapnya malam tanpa temaram sinar bulan, yang mungkin enggan muncul, disahuti oleh deburan ombak yang menghampiri sosok pembuat onar dibibir pantai.


Tubuh pria dengan bahu tegap itu tersungkur mengepalkan tangan pada hamparan butir pasir yang dingin.


"Aku tak lagi bisa melihatmu kini," racaunya setengah gila, lupa ada hati lain yang harus ia jaga.


"Aku, melepaskanmu disini, kedua kalinya ... Aiswa Fajri,"


Ku tinggalkan segala tentangmu, aku pulang, masih ada yang menungguku ... Selamat jalan sayang, sampai jumpa lagi...


Disini, pantai yang sama beberapa bulan lalu, dua pria sama kehilangan separuh jiwa meski salah satunya berhasil meraih cinta kembali hingga terbenam damai dalam dekapan raga.


.


.


...______________________...


...Semua punya masalah masing-masing... Gamal alma done... Amir dengan nafsu cinta yang masih menyimpan Aiswa, meski dia telah menikah, mommy lepaskan rasa itu satu persatu.. ...


...Aiswa, wanna be free dari semuanya.. Hasbi pun, telah mengakui dan minta maaf meski setengah hati... Buya juga sudah menyadari segala khilaf nya.. ...


...Nah..... jeng jeng... Kita mulai kehidupan baru untuk semuanya... Leggo... ...

__ADS_1


...❤❤❤...


__ADS_2