
Esok hari, Tazkiya.
Sarapan pagi ini di ruang tamu khusus akhwat yang tanpa kursi. Karena akan makan secara lesehan, maka semua hidangan di tata di atas sufrah, sesuai adab yang diajarkan Rosulullah.
"Mir, Kak, ayo sarapan dulu, katanya mau pergi pagi ini?" seru umma mengetuk pintu kamar kedua putra lelakinya.
Aiswa keluar kamar diikuti suaminya lalu Ahmad menyusul dibelakang mereka. Buya baru selesai kajian pagi langsung mengambil posisi paling ujung berdekatan dengan Umma disisi kanannya.
Disaat semua mulai menyantap hidangan, seperti biasanya, menyesap lemon tea atau sari apel hangat bergantian dari gelas yang sama menjadi rutinitas pasangan bucin sebelum mereka makan.
Ahmad yang mengamati Aiswa sejak menikah, kala makan selalu disuapi oleh Amir menjadi terusik.
"Aish, makan sendiri kan bisa," tegurnya seraya mengambil lauk tambahan.
Kedua orang tua mereka memperhatikan celotehan Ahmad. Aiswa yang merasa tak enak hati lalu meraih sendok dihadapannya. Namun jemarinya ditahan oleh Amir.
"Selama kamu belum terbiasa luwes menggunakan tangan kananmu untuk makan, aku yang akan menyuapimu Rohi."
"Kan bisa Bi, meski masih sedikit kaku tapi bisa," cicit Aiswa sedikit malu.
"Biarkan Aish, Mir," sahut Buya menimpali. Amir menjeda suapan kedua untuk dirinya.
"Maaf Buya, aku hanya ingin mengikuti sabda Nabi bahwa satu suapan makanan ke mulut istri itu sodaqoh yang lebih besar nilainya daripada ke anak yatim dan fakir miskin ... dan jika aku ditanya siapakah yang memberi nafkah, maka jawabannya adalah suami ... yang dalam urusan pangan, seharusnya hingga menyuapkan makanan sampai ke mulut istrinya," terang Amir.
"Selain itu, aku ingin menjaga setiap apa yang masuk ke mulut istriku berasal dari sesuatu yang bukan hanya halal, namun sesuai adab dan sunnah juga thoyyib."
(karena Aiswa kidal, makan kadang masih pake tangan kiri, ga sesuai adab, Mir Mir kamu menjaga sampai segitunya ... mommy lumerrrr)
Amir menggenggam tangan Aiswa yang dia tahan diatas sendok lalu mengusap pipi istrinya yang merona.
Hening.
"Astaghfirullah, maafin Buya ya Mir, khilaf...."
"Bumerang kan jadinya ... aku suapin siapa? Umma atau Buya?" jawab Ahmad.
"Maryam, sini," Buya menarik pinggan istrinya. Umma hanya tersenyum melihat reaksi suaminya itu atas penjelasan Amir.
"Buka mulut sayang," Amir kembali menyuapi Aiswa.
"BBB ... jomblo minggir lah," Ahmad hendak beranjak namun ditahan Umma.
"Apa BBB? makan disini, bersama-sama."
"Bukan Bucin Biasa umma ... coba pagi-pagi udah pada cari pahala sodaqoh, Buya sama Umma, lah aku sama siapa?" Ahmad masih menggerutu.
"Kalau Umma jadi Aish, udah meleyot dah saban hari...."
"Dimulai hari ini ya Maryam, meleyotnya ... maafin aku ya, ga peka belasan tahun ... kita jalan habis ini yuk." Ajak Buya sumringah. Dirinya mulai melayani Maryam, masih setia menyuapi sang istri mengikuti cara menantunya.
"Hallo, aku sama siapa?... wah Amir syndrome nular ... Buya, aku ga mau punya adek lagi loh ... masa anakku nanti seumuran dengan adekku ... lagian Aish juga belum isi, yang nikah siapa yang hamil siapa." Ahmad mulai mengoceh tak tentu arah.
"Setuju Kak," Aiswa terkekeh menanggapi ocehan Ahmad.
"Rohi."
"Maaf Bii," cicitnya.
"Bagus donk, berarti Buya produktif melebihi Amir ... ya Umma," ujar Hariri salim yang langsung mendapatkan tatapan tajam umma.
__ADS_1
Uhulk. Uhulk.
"Minum Bii," Aiswa menyodorkan gelas minum untuk suaminya.
"Rezeki ya Buya," balas Amir tersenyum simpul.
"Kan Mir, korban kamu mulai berjatuhan ... jangan lama-lama, kita pergi jam delapan." Ahmad bangkit membawa peralatan makannya yang telah selesai menuju dapur.
Sementara menunggu Amir selesai, ia pun kembali ke kamar membuka ponselnya berniat melanjutkan obrolan semalam.
"Assalamu'alaikum, Ma, luang ga pagi ini?" tanyanya di grup chat Satpam halal.
"Wa'alaikumussalaam, ya Mas ada apa?"
"Sha, kamu ada?"
Hening.
"Ma, doain aku ya hari ini akan tanda tangan perjanjian kerja dengan Amir atas pinjaman dana untuk menutupi kebocoran akibat penggelapan oleh Admin ... jangan cerita sama Buya ya Ma, aku hanya ingin terbuka dengan Marsha sejak awal agar dia dapat mengerti kondisi aku saat ini."
"Astaghfirullah, banyak ya Mas, lalu gimana?"
"In sya Allah akan ada audit agar perusahaan Tazkiya travel lebih sehat juga dapat mengembalikan pinjaman lebih cepat, doain ya Ma."
"Aamiin ... lancar semuanya ya Mas."
"Aamiin ... gini Ma, aku kan cuma punya usaha yang betul-betul milik aku itu satu, franchise, ada asset tabunganku juga meski ga banyak ... kira-kira Marsha keberatan tidak ya? aku baru merintis penguatan management untuk usahaku ini ... maksudnya aku takut tak dapat mencukupi segala kebutuhannya, terlebih Marsha putri kalian bagai princess ... masa hidup denganku jumping ... karenanya aku jadi ragu meneruskan ini."
Hening.
"Hmm itu nanti biar Kakak aja yang balas ya Mas, Mama cuma baca dulu nanti akan bantu sampaikan."
"Aku sudah dapat semua yang ku mau didunia ... kasih sayang orang tua, hidup kecukupan bahkan berlebih, status sosial serta semua kesempurnaan yang orang lain inginkan."
"Yang belum aku punya adalah yang dapat membawa semua nikmat ini hingga ke Jannahnya Allah, karena aku hina ... tiada orang fahim yang mendekatiku selain my Bear ... tiada yang membuatku yakin selain my Bear."
"Saat menjalani ini, semua bagai mimpi buat aku Bear, apakah aku pantas untuk seorang putra pemilik Tazkiya? yang seharusnya mendapatkan menantu shalihah dengan mudah? sedang aku yang seperti ini dengan masa lalu kelam?"
"ðŸ˜ðŸ˜" Mama mengirim emot menangis, trenyuh akan ucapan Dewiq.
"Sha, aku hanya takut membawamu dalam duka saat bersamaku."
"Karena latar belakangku?"
"Iya."
"Aeyza pernah bilang ketika wanita telah menjadi istri, maka ia wajib mengikuti suaminya ... melepas semua fasilitas dari keluarganya ... menerima segala yang diberikan suaminya dan melayaninya sepenuh hati, itu lebih utama baginya daripada isi dunia, Bear."
"ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜" Mama kembali menanggapi dengan emot haru.
"Jadi Sha? kamu bersedia menerimaku yang masih begini?"
"Bear yakin padaku?"
"In sya Allah, karena hanya Marsha yang menodai pandanganku sejak pertama melihatmu."
"Aku berusaha memantaskan diri untuk berdiri di sisimu, doakan aku Bear ðŸ˜."
"Sha, aku bersyukur kepada Allah karena sudah diberikan satu hati untuk melihatmu, satu mulut yang tak pernah berhenti untuk selalu mendoakanmu agar kau jadi istriku. Sekarang semoga doa ku terkabul. Maukan Sha?"
__ADS_1
Hening.
Degh. Degh. Degh.
"I will Bear, jangan meragu lagi ... gelar dokter yang aku punya semata hadiah orang tua untuk anaknya."
"Allahumma ba'daha ya Robb ... bismillah, Mama, beri aku waktu tiga bulan ini menyiapkan segalanya agar layak untuk Marshaku...."
"Mama paham Mas, ya Allah pagi-pagi haru begini ... berkah untuk kalian."
"Aamiin ... Sha, aku kerja dulu, doain ya ... jangan lupa sholat, makan dan jaga diri baik-baik disana."
"Jaga pandangan ya Bear, karena kedua mata itu milikku."
"Hanya Marsha, satu-satunya yang akan aku lihat selamanya ... di mataku, dalam kata-kataku, dan dalam semua yang aku lakukan, memandanganmu adalah satu-satunya pemandangan yang akan memberiku kedamaian, kekuatan juga cinta kasih, My Sha."
"Mama lumer, Mas ... sudah sana kerja, kuliah biar lekas halal ... biar tiga bulannya terasa cepat."
"Otw Ma ... Sha, nanti aku mau tanya hal yang sifatnya pribadi boleh kan?"
"Apapun Bear, tanyakan saja ... aku mau kita saling terbuka sejak awal."
"Ya kheir, Sha ... Assalamu'alaikum, Ma, Sha."
Setelah chat berakhir, Dewiq memeluk Mama yang sedari tadi disebelahnya.
"Aku ga mimpi kan Ma? Bear melamar ku langsung? Mama baca kan dia minta aku jadi istrinya?" Dewiq menangis histeris.
"Sayang, alhamdulillah ... semoga Ahmad teguh terhadapmu ya, Mama paham dia pasti minder menghadapimu."
"Doakan kami ya Ma, sosok seperti Bearlah yang aku inginkan."
...***...
Tok. Tok.
Ahmad terharu, semuanya mudah untuknya kini. Hatinya lega, kekhawatiran Dewiq menolaknya terjawab. Dirinya semakin yakin dan semangat menyiapkan segalanya hingga masa ta'aruf sesuai kesepakatan berakhir.
Inginnya lekas mengkhitbah, namun ia juga harus memantaskan diri sebagai seorang lelaki.
"Ya akhi, jadi ga?" suara Amir dari luar pintu.
"Jadi, Mir."
"Aku akan kembali ke Jawa sore nanti, Aish sedang kuliah jadi kita bisa pergi."
Ketika membuka pintu, Ahmad sumringah langsung memeluk adik iparnya itu.
"Ada apa nih?"
"Aku cerita sambil jalan, yuk."
.
.
...____________________...
...(Sufrah, kain yang dibentangkan diatas karpet atau tikar sebagai alas makanan). Done ya ta'aruf nya nyisa lamaran aja, tenang wes mommy... nyisa satu lagi yang belum kelar 😅. ...
__ADS_1