
Dua hari setelahnya, Aiswa pindah ke Al Islah. Ulfa langsung pamit kembali ke Jakarta setelah mengetahui Aiswa telah aman bersama Amir.
Kini, sudah tiga minggu lamanya Amir menyembunyikan Aiswa untuk membaur bersama beberapa santriwati baru di MA Al Islah.
(Di pondok, biasanya sering keluar masuk santriwati jadi bila ada santri baru masuk adalah hal yang lumrah).
Dalam kurun waktu tersebut mereka jarang bertemu selain faktor ketidaksengajaan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Amir menghindari Aiswa, dirinya tahu akan lemah dihadapan gadis itu terlebih ka Abyan pernah menyinggungnya saat Almahyra pekan lalu bertamu ke Al Multazam dan hampir saja mengungkap keberadaan Aiswa saat berbincang dengan Qonita.
Suatu pagi setelah sarapan.
" Mir, ikut aku keruang baca, " air muka Abyan sudah sangat tak bersahabat.
Amir tahu, kakaknya pasti akan murka. Ia berniat tak akan banyak bicara.
" Duduklah, " ujarnya setelah Amir masuk ke ruang baca.
" Ku harap, berita yang aku dapatkan tidaklah benar. Sejak kapan akhlakmu rusak? kemana ilmu yang kamu punya, kemana larinya pemahaman dari mushaf yang kau baca setiap hari itu? jawab kakak, jujur Mir! "
" Afwan, to the point ka, " tunduknya.
" Dimana Aiswa. Kyai Hariri semalam menelpon Abah mengatakan untuk menyampaikan padamu apabila mengetahui kabar tentang Aiswa, beliau berharap Abah membagi informasi dengannya. "
Amir diam, menyangkal pun percuma, Abyan sepertinya sudah tahu.
" JAWAB ... Jangan bikin malu, MIR!! " Bentaknya hingga Amir terlonjak kaget. Abyan sangat marah kali ini.
" Aiswa yang mendatangiku, dia sedang dalam keadaan labil ka, aku butuh waktu untuk membujuknya kembali pulang tanpa paksaan. Aiswa juga mencintaiku ka, tidakkah kau mengerti? aku susah payah menghadapinya. "
" Innalillahi, jadi benar? kamu merebutnya dari saudara mu? "
" Aku tidak, meski sangat ingin terlebih dia ada didekatku dan kami saling mencintai. Aku pun bertarung rasa dengan hati ku sendiri. Aiswa cinta pertamaku, kakak tahu itu bukan? "
Plak.
" Sadarlah!! ... lepaskan Mir, antar dia pulang dan minta maaflah, aku akan mencoba bicara dengan Abah agar beliau tidak shock akibat ulahmu. " Abyan beranjak berdiri berniat meninggalkan Amir disana.
" Kakak tidak pernah merasakan apa yang tengah aku rasa, KAKAK TAK AKAN PERNAH MENGERTI AKU!! "
" Kakak tak pernah mengalami bagaimana rasanya setiap hari melawan rasa rindu, ingin memeluknya, memanggilnya sayang, bahkan menghujaninya dengan kecupan dengan leluasa. " Amir meluapkan segala kelemahannya.
Plak.
" Kamu berdosa Mir, bayangkan berapa banyak dosamu, muka keluarga tercoreng moreng karenamu. Aku tidak mau tahu, selesaikan segera. Lagipula, Alma, aku sudah memperingatkanmu untuk tak mendekatinya juga, kamu... kamu... Argghhh!! " Abyan membanting pintu keras saat ia keluar dari ruangan itu.
Qonita yang tengah berada di dapur tergopoh mendekati sumber suara yang membuatnya terkejut bukan kepalang.Ia melihat suaminya keluar dari rumah dengan tergesa-gesa dalam keadaan emosi.
Qonita tahu sejak lama Aiswa ada di Al Islah, ia diam karena memang Amir jarang menjumpai gadis itu lagi selain berkirim pesan atau saling menelpon.
Cklak. Qonita perlahan membuka pintu ruang baca dan Ia mendapati adik iparnya tengah terisak disana.
" Mir, maafkan kakakmu yaa. Mba tahu rasanya, karenanya Mba membiarkan mu agar dapat mengenali apakah itu murni perasaan cinta atau nafsu ... Aiswa sangat cantik, wajar bila kamu jatuh cinta padanya ... Dia gadis periang, Mba pun suka padanya ... tapi, dia milik orang lain. " Qonita menjeda kalimatnya seraya duduk didekat Amir, ia pun merasakan sesak tak terkira.
__ADS_1
" Mba tahu Aiswa, sejak kapan? "
" Sejak sepekan setelah kamu pergi hari itu, tak sengaja saat Mba mengunjungi Al Islah dan melihat dia yang mencolok dari kebanyakan santriwati lainnya. Mba mencari tahu dari Alma, dia bilang, gadis itu titipan mu ... bahkan Alma pun kamu buat cemburu. Apa rencanamu sekarang? Mba mendengarkan, " ucapnya lembut.
" Hatiku berat melepaskannya Mba, aku mulai menyayanginya sejak pertemuan pertama kami, aku mencari tahu tentangnya dan sempat mengutarakan perasaanku terhadapnya pada Ahmad saat ia masih bolak balik Madinah dulu. "
" Dia ... tapi dia ... bukan hakmu, " Qonita ikut menangis.
" Aku tahu, dia pun tahu. Apa tidak ada jalan bagi kami, Mba? " isaknya dengan bahu semakin terguncang kencang tak ia pedulikan sakit bekas tamparan dipipi, karena hatinya lebih sakit.
Qonita hanya menggelengkan kepalanya, tak sanggup bicara lebih jauh. Ia ikut merasakan pedihnya patah hati.
" Istikharah lagi ya, Mba mendoakan yang terbaik untukmu... juga, jangan memberi harapan pada Alma, Mba ga mau kamu celaka, jangan jadikan dia sebagai pelarian kamu nanti, "
" Aku tak ada niatan sedikitpun dengan Alma, Mba ... hatiku hanya milik Aiswa. Aku tak pernah melakukan hal tak senonoh padanya meski punya kesempatan. Satu-satunya yang menahanku adalah karena hatiku, karena aku seorang.... " tangisnya lagi.
" Ya Allah, biarkan aku menggantikan rasa sakit ini asal adikku bahagia, tunjukkan kebesaranMu ya Robb, " Qonita lirih memanjatkan doa disamping Amir, keduanya kian larut dalam rasa sakit yang sama.
***
Orchid Tower, menjelang makan siang, Cibubur.
Abyan menelpon Mahen pagi tadi, ia mengutarakan kekesalannya tentang Amir. Sebisa mungkin Mahen menetralisir keadaan saat itu meski dirinya tengah bersama klien.
" Assalamu'alaikum, Mba dimana istriku? " tanyanya pada ART saat ia pulang jam makan siang ke apartemennya.
" Nona dikamar, Den. "
Mahen langsung menuju kamar dan mendapati Naya tengah duduk terisak di lantai.
" Ka Amir, ditam-par Ka Abyan, mereka bertengkar dan kini ia mengunci diri di kamar kata Mba Qonita, " jawabnya terbata-bata.
" Astaghfirullah ... kamu telpon ka Amir gih sayang ... mintalah ia kemari sebelum ke Tazkiya agar aku bisa bicara dengannya. "
" Pake hape Abang, pulsaku habis tadi buat telpon Mba balik, " rengeknya lucu meski masih sambil menangis.
" Ya ampun, istriku seorang Milyarder tapi ga punya pulsa ckck kasihan sekali, ganti ke pasca bayar ga mau sih, jadi repot kan. But, aku yang lupa cek pulsa kamu pagi ini, maaf yaa. " Kecupnya mesra sembari menyerahkan ponselnya.
Naya mengikuti perintah Mahen untuk menelpon ka Amir. Tak menunggu lama, terdengar suara parau nan sumbang di seberang sana.
" Ya Nduk, ada apa? " tanya Amir lembut seperti biasanya.
" Kaaaaaa, aku kangen ... main kesini yaa. "
" Mas Panji pasti sudah tahu kan Nduk? kamu juga, maafkan aku melibatkan kalian ya. "
" Assalamu'alaikum, Ka ini aku ... kemarilah, kita bicara yaa. Ajak Aiswa serta, nanti Ka Amir bisa menempati apart Rey dan Aiswa bersama Naya. "
" Wa'alaikumussalam, Mas ... aku, maaf.... "
" Its ok, aku paham. Kami tahu bagaimana rasanya. Aku tunggu yaa, nanti aku atau Rey akan jemput kalian. "
" Iya Mas, terimakasih banyak. "
__ADS_1
Hari yang pilu bagi semuanya. Amir, Aiswa, Abyan bahkan Naya.
***
Malam hari.
Amir absen mengajar pagi tadi, dirinya hanya berulang kali berwudhu, sholat, murajaah hingga tak keluar dari kamar sepanjang hari. Hanya Qonita yang mengerti situasi hati adik iparnya itu, membawakan segala kebutuhan nutrisi baginya agar Amir tidak jatuh sakit.
Amir tak punya pilihan, ia akan mulai membicarakan ini dengan Aiswa.
" Aish, sedang apa? " ia berkirim pesan.
Tak berapa lama, pesannya dibalas.
" Mikirin kakak, hatiku tidak tenang. Aku merasa kakak sedang tidak baik saja dan itu pasti karena aku. "
" Manisnya, terimakasih ... Aish ... pulang yaa, aku antar. " tulisnya berat.
" Aish tahu saat ini akan tiba. Aish ingin telpon kakak malam ini, tapi nanti kita nangis bareng, ga lucu juga yaa hehehe. "
" Jangan, aku sedang tidak sanggup mendengar suaramu ... tidak ada jalan bagi kita kecuali Hasbi melepaskanmu dan rasanya tidak mungkin. "
" Aish tahu, dan akan menyiapkan hati meski nanti akan remuk tak berbentuk lagi. Kakak tahu? Aish sangat bahagia selama disini, meski jarang bertemu tapi kakak selalu ada buat Aish setiap saat, makan, belajar dan semuanya ... kiranya semua kenangan ini sebagai bekal dan modal bagi Aish saat kembali nanti untuk bertahan hidup meski kita tak akan pernah jumpa lagi. "
Amir terdiam lama, tak kuasa lagi membalas pesan Aiswa. Ia terisak kembali. Demikian pun dengan gadis di kamar sana, Aiswa mengetik pesannya dengan berlinang air mata. Hati keduanya sangat sakit.
" Sayang, cobalah tidur yaa ... besok pulang sekolah, berkemaslah. Aku akan menjemput mu. Bihubbik ya Rohi habibati, sangat. " (Aku mencintaimu belahan jiwaku).
" Ya khayr, uhibu ilaika ya habibu qolbi, Amirzain. Kakak satu-satunya pemilik hatiku. " (Aku juga wahai kekasih hatiku).
Andai kedua ruangan yang terbentang jarak itu transparan, mungkin keduanya tengah saling menempelkan dahi, menyatukan jemari untuk saling menguatkan hati satu sama lain.
***
Orchid Tower.
Mahen membelai lembut punggung mulus istrinya yang tanpa penghalang dan tengah berada dalam pelukan hangatnya setelah aktivitas panas mereka yang baru saja usai.
" Abang, mungkin ini karena salahku, " ucapnya lirih menahan sesak.
" Ceritakan sayang, aku tahu kamu sedang menahan sesuatu. " Menghujani kepala Naya dengan ke-cupan.
" Tentang ka Amir dan Aiswa ... "
.
.
...___________________________...
...Arwa'ul qulub qolbuk, wa ajmalul kalaam himsuk, wa ahla maa fie hayaatie hubbuk....
...(Hati yang paling menakjubkan adalah hatimu, suara yang paling indah adalah bisikanmu, dan hal termanis dalam hidupku adalah mencintaimu.)...
__ADS_1
Mewek nulisnya... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜