DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 226. KITA PERLU BICARA


__ADS_3

Sesampainya di rumah, dokter muda yang baru saja pindah tugas membuka balkon kamarnya.


"Siapa namamu? apa hubunganmu dengan Tazkiya, apa kalian saling mengenal? dan wanita siang tadi, apakah itu orang yang sama dengan Dwiana? tapi look nya sangat kontras."


Andre berkutat dengan pemikirannya. Renata memenuhi benak dokter muda itu hingga suara panggilan by phone Sang ayah membuyarkan lamunan. Seperti biasanya, orangtua satu-satunya itu meminta agar ia lekas menikah.


"Sabar Pa, meskipun Papa membebaskan aku memilih tapi tetap saja kan, butuh seleksi," pungkas Andre mengakhiri percakapan singkatnya dengan sang ayah.


...***...


Tazkiya, Ba'da Ashar.


Satu persatu tamu hadir ke dalam komplek pesantren. Pengajian dimulai meski masih banyak hilir mudik jamaah termasuk tamu undangan pribadi.


Rayyan, Andre, Mahen, ditemani Ahmad di ruang tamu khusus pria karena Amir bersama Buya di Aula masjid pesantren dengan para jama'ah.


Umma, bersama Aiswa duduk di bagian samping kediaman mereka, sekat penghubung ke Aula sisi khusus putri di buka. Meski ditutup tirai, Amir masih bisa mencuri pandang betapa istrinya sangat cantik saat mereka berpisah tempat tadi.


Naya, Dwiana, Renata berada di ruang keluarga menyiapkan hidangan untuk tamu undangan pribadi Abuya dan Amir saat acara telah selesai nanti.


Satu jam berlalu. Menjelang adzan maghrib.


Tamu pria diundang masuk ke ruang tamu oleh Abuya. Termasuk kawan Amir dan Ahmad.


Aiswa tak mengundang banyak teman, ia bergabung dengan ipar dan sahabatnya. Umma masih sibuk di sisi Aula menemui tamunya.


"Kenalin Aish, kakak ipar gue. Nanti gue cerita kalau Dewiq udah di sini, biar ga rew," ujarnya.


"Sayang, kopi donk. Buat dua orang lagi, no sugar," pinta Amir pada Aiswa.


"Biar aku saja. Bumil duduk manis," balas Dwi bangkit menuju dapur.


Karena ruang tamu penuh oleh para pria, Aiswa menahan Dwi agar tetap bersama mereka.


Naya mengirim pesan pada Mahen agar masuk karena Maira mulai rewel dan ia akan pamit lebih dulu.


Saat Mahen mencapai pintu ruang tengah, Rayyan mengikutinya karena di minta tolong oleh Amir untuk mengambil minumannya sendiri.


"Baby, ayo. Sini Maira dengan Ayah ... kami pamit ya Mba, maaf gak bisa lama. Maira mau tumbuh gigi lagi makanya rewel," ucap Mahen pada Aiswa seraya mengambil putri cantiknya dari dekapan Naya.


Wanita cantik yang duduk berderet dengan istrinya itu pun mengangguk dan mengucapkan banyak terimakasih pada pasangan romantis, yang tak lain adik iparnya sendiri.


"Mana kopiku, Aey?" tanya Rayyan dari balik punggung Mahen.


"Suara Alien."


"Ini, silakan," Dwiana menarik nampan mendekat agar memudahkan dijangkau olehnya.


Degh.


Degh.


Degh.


"Dwi, Dw-i-ana? is that you? Dwi?" Rayyan meragu, ia lirih berucap mematung saat Mahen dan Naya melintas.

__ADS_1


"Go on dokter. Dia sangat cantik bukan?" bisik Naya sambil lalu.


"Hajar, Bro," sambung Mahen menepuk pundak Rayyan.


"Dokter, gak sopan. Itu Dwi udah buatkan kopi daritadi, bukannya di bawa malah bengong," seru Aiswa.


Renata hanya diam mengamati. Inikah sosok pria yang pernah Dwi sebut saat mengigau?


"Eh, maaf. Thanks ... kita butuh bicara," lirih Rayyan saat ia menekuk kakinya, meraih nampan di atas meja yang berhadapan dengan Dwiana.


Setelah sholat maghrib berjama'ah, tamu mulai meninggalkan kediaman Abuya. Pun dengan pemilik rumah. Kembali ke majlis mengisi kajian sementara Umma masih sibuk meladeni tamu wanita yang memang masih membludak.


Ahmad dan Amir pun menggiring para sahabatnya masuk ke ruang tengah. Bergabung dengan para wanita.


Andre terkesima dengan Renata, ia pun mendekati Raiden yang bermain sendiri. Sementara Rayyan tak melepaskan pandangan pada Dwiana berharap gadis itu menoleh ke arahnya.


Sayang, Dwiana terlalu asik berbincang dengan Aiswa, melepas rindu setelah lebih dari tiga bulan tak bersua.


"Gak baik memandang lama, ajak saja bicara langsung, Dok," ujar Amir yang paham situasi keduanya.


"Mas, tolong donk biar Aeyza menepi," pintanya.


Amir mengerti, ia pun meminta Aiswa berganti baju dengan alasan agar lebih leluasa. Rayyan melihat Andre asik dengan Raiden, ia sebenarnya penasaran mengapa sahabat barunya itu mendekati seorang bocah. Apakah dia anak Renata? pikirnya.


Tersisa Ahmad, Rayyan, Dwiana, Renata dan Andre di sana. Tak lama, Ahmad masuk ke kamar karena Dewiq menelponnya.


"Dwi, kita bicara." Rayyan bangkit, mendekati Dwiana dan mengajaknya pergi."


"Aku dengan beliau," elak Dwi menunjuk Renata.


"Santai Ray, aku bertanggungjawab atas mereka," sahut Andre memberi kode pada Rayyan agar tak perlu risau jika urusan dirinya belum kelar, ia sendiri yang akan mengantar Renata pulang.


"Kemana Dokter?" tanya Dwi saat Rayyan meminta kunci mobilnya.


Lelaki tampan nan tegap itu tak menjawab pertanyaan sang gadis. Langkah kaki panjangnya terus menuju parkiran di pelataran pesantren.


"Rush? BMW mu mana? jadi benar kamu, yang ku lihat di ciracas beberapa waktu lalu?" tanya Rayyan saat menerima kunci mobil dan menekan remote.


"Dikembalikan ke Papa. Aku memulai hidup baru beberapa bulan ini," sahut Dwi saat Rayyan membuka pintu sebelah kiri agar gadis itu masuk.


Tanpa banyak kata, Rayyan melajukan kendaraan milik Dwiana menuju salah satu resto di pinggir pantai.


Rayyan menghembus nafas lega seraya memarkirkan kendaraannya di parking lot area setelah empat puluh menit berjibaku dengan ramainya jalanan ibu kota.


"Jangan khawatir resto ini akan tutup, dia buka 24jam. Kita butuh bicara banyak," ujar Rayyan menoleh ke arah kirinya.


"Kamu sangat banyak berubah, aku ketinggalan banyak. Jahatnya," keluh Rayyan sekaligus takjub, kecantikan gadis itu kian terpancar.


"Aku bukan sesiapa Anda, dokter," cicit Dwiana.


"Aku sudah melamar mu, resmi pada Tuan Raharja. Mama mu sakit Dwi...."


"Aku tahu, dan sudah mengunjungi beliau meski tak semua orang tahu. Mama pasti membaik," jawab Dwi.


"Bukan fisiknya, tapi psikisnya. Seperti mu ... bodohnya aku, tak memikirkan bahwa pasti Mas Mahen yang membantumu," keluh Rayyan.

__ADS_1


Dwiana hanya diam. Ia menunduk, sibuk menetralkan debaran hati yang mulai hadir.


"Aku akan mendengarkan ceritamu, turun yuk. Tapi jika kamu mengizinkan," seloroh Rayyan.


"Dokter, nanya begitu tapi udah sampe sini, harusnya kan tadi."


"Lah, kamunya mau aja diajak ke sini," canda Rayyan.


"Kan tadi katanya mau bicara, aku kira mau kemana, nyatanya minta kunci mobil," protes Dwi.


"Kenapa dikasih?"


"Aku...." Dwiana tak dapat melanjutkan kalimatnya. Sejujurnya ia pun memang ingin menyampaikan sesuatu padanya.


"Sama, ingin bicara denganku kan?" senyum Rayyan mengembang.


"Dwiana yang dulu, sangat galak, tapi aku suka ... di hadapanku saat ini, aku lebih suka. Kita bicara, mau kan?" bujuk Rayyan lagi.


Gadis dengan pashmina yang menjuntai tanpa pin, hanya diam. Rambutnya menutup sebagian pipi kanannya. Tersisa hidung mancung yang terlihat.


Ya Allah, cantik banget sih kamu.


"Ok."


Mereka berdua memilih tempat duduk di teras resto, agar lebih privasi.


"Dwi...."


"Dokter...."


"Duluan," ucap mereka berbarengan. Keduanya tersenyum, Rayyan melihat senyum manis Dwiana untuk pertama kalinya.


"Meleleh aku, Dek."


"Aku...."


Dokter muda Ar-rasyid masih menunggu kalimat selanjutnya dari bibir tipis nan seksi dihadapannya namun tak kunjung muncul.


"Dokter, jangan liatin aku gitu donk," gugup sang gadis manis dalam balutan gamis syar'i.


"Masa gak boleh liatin calon istri sendiri?"


"Please...."


"Ok.Ok...." Rayyan memalingkan wajah sejenak.


"Jangan berharap padaku."


"Mak-sud nya?"


.


.


...________________________...

__ADS_1


...Robbi 'Aqbal 'alaina, Marhaban billiqooii... Marhaban birobbii... 😍😍😍 (Selamat datang Robiul Awal) ...


__ADS_2