
"Dokter...." Amir memanggil, juga memencet tombol darurat dekat ranjang Aiswa.
Pengaruh Danarhadi sangat dominan. Dokter sigap memberikan tindakan bagi pasien.
Ranjang Aiswa di dorong keluar segera. Tangan istri Amirzain itu tak lepas dari genggaman suaminya saat brangkar memasuki lift hingga perlahan menempati ruang bersalin.
"Maaf, Pak. Tunggu di luar saja, Ibu aman bersama kami," ujar suster kepala.
"Enggak, aku gak mau. Ingin tetap disini dengannya. Jika ada kompensasi yang harus aku keluarkan, urusan nanti. Istriku harus denganku!" Amir lepas kontrol. Ia tak ingin meninggalkan Aiswa.
Beberapa suster nampak terkejut akibat nada tegas dan tinggi yang pria itu sampaikan.
"Kalian ingin mengurusi aku atau istriku?" ujar nya lagi.
"Tapi prosedurnya seperti itu...."
"Kalian repot mengurusi aku? walinya, dibanding dia yang sedang berjuang melawan hidup dan mati? nurani kalian dimana!" serunya lagi.
"Bii, sudah, gak apa. Aku sendiri," ujar Aiswa lemah.
"Enggak sayang, aku gak mau."
Amir menatap tajam pada petugas medis, mereka rikuh hingga akhirnya mulai melanjutkan tindakan.
Dokter yang menangani Aiswa tiba, tergesa mengambil alih seluruh komando.
"Pak Amir, bantu Ibu di ujung kepala ya, boleh disandarkan pada bahu Bapak, lalu beri support," dokter wanita mengarahkan Amir dengan lembut agar membantu istrinya.
Lelaki yang terlanjur emosi itu menarik nafas panjang, perlahan mengangkat tubuh bagian atas Aiswa dan menopang nya.
"Kuat Sayang, aku di sini. Bisa kan?" bisiknya lembut, mengusap peluh yang intens hadir di dahi wanitanya.
"Bismillah, bisa Bii. Kata Umma, aku juga bisa," balasnya disela tarikan nafas yang mulai tersenggal.
Amirzain zaidi, mulai tak tega melihat istrinya menahan sakit saat kontraksi kuat itu datang namun belum diperbolehkan mendorong seiring ajakan baby mereka.
Netra yang terbiasa teduh itu kini mulai berkabut. Merasakan sakit ketika Rohi nya menahan deraan gelombang kontraksi.
"Tahan ya Bu, jangan mengejan dulu," ujar dokter lagi.
"Dokter...." Amir berisyarat.
"Bisa Pak, panggulnya cukup meski babynya besar ... Ibu masih muda, sebentar...." dokter mengerti kegundahan lelaki itu yang seakan meminta agar dilakukan tindakan lebih cepat atau operasi saja.
"Siap ya Bu ... tahan ... ok, dorong, pelan...." dokter memberi arahan pada Aiswa.
"Tarik nafas dulu, lagi ... dorong...."
Aiswa mengikuti semua arahan dokter, meski ia susah payah mengambil nafas.
"Bisa, Sayang...." meski tak tega, ia berusaha meneguhkan hati.
"Bii, sakitt ... sakiiittt...." rintihan pilu lolos dari mulut mungil yang tak pernah mengeluh itu.
__ADS_1
"Dokter...." panggil Amir lagi.
"Sudah sampai sini Pak, ini sudah kelihatan kepalanya ... ayo Bu Aiswa, bisa ko ... udah bagus ini...." dokter memberi semangat.
"Sayang, ingat Adek mau ketemu Umma," bisiknya memberi semangat.
Wanita dalam dekapan suaminya itu kembali merasakan dorongan kuat. Ia pun berusaha mengikuti arahan dokter lagi.
"Satu... dua... dorong Bu..."
"Aarrghh, sakit." Aiswa tanpa sadar menangis. Sungguh Amir tak kuasa menahan agar bulir beningnya tidak ikut jatuh.
"Aiswa Fajri, katakan padaku jika tak sanggup. Aku memuliakanmu Sayang," bisiknya lembut menahan pilu.
"Aku bisa Bii, hanya sakit, aku sanggup...." balasnya lemah.
"Bii, redho kan sama aku," tanya Aiswa. Ia tak lagi memedulikan anjuran dokter.
"Redho, Sayang. Ayo, adek dijemput...." bisik Amir. Mengalihkan tatapan dokter padanya. Lelaki tampan ini paham, terjadi sesuatu pada proses kelahiran istrinya.
"Bismillah....." ucap dokter lirih nyaris tak terdengar.
Lengan Aiswa dipasang infus, juga selang oksigen dikepalanya. Amir pasrah seraya berdoa pada pemilik jagat raya.
Tegang.
Hening. Yang ada hanyalah suara tetesan infus.
"Bu Aiswa, kita coba lagi ya... yok, semangat...."
"Biii, aarrghh...."
"Ayo, Rohi. Bismillah bisa...." Amir terus memicu semangatnya.
Sementara suster yang bersitegang dengannya tadi mengelus perut Aiswa dan perlahan memberikan dorongan agar kontraksi kali ini maksimal.
"Lagi, sedikit lagi...." seru dokter semangat.
"Sakit, umma sakit...."
"Rohi, ingat adek sayang...." suara pria maskulin itu mulai parau.
"Arrrggghhh...."
"Kepalanya sudah aku pegang...."
"Sedikit lagi Sayang, ayo bisa Rohi...." Amir ikut menggebu memicu
"Yok Bu, satu ... dua ... lagi, dorong ... say Aahh...." aba-aba dari dokter begitu tegas membuat Aiswa seketika bersemangat kembali.
"Aaaahh ... Biiiiiii...." tarikan nafas terakhir nanti panjang dari pemilik nama Aiswa Fajri.
"Ooeeeeeee....."
__ADS_1
"Alhamdulillah ... baby boy welcome to the world ... tampannya kamu, Sayang...." dokter meraih tubuh bayi mungil dari sana. Membawanya segera ke pelukan Aiswa sejenak.
Amir pun sigap melantunkan Adzan di telinga putranya sebelum tubuh merah dengan tangisan kencang itu kembali ke pangkuan dokter anak yang sudah standby disana untuk dilakukan tindakan medis sebelum di berikan pada sang Bunda untuk IMD.
"Bii," Aiswa menangis tersedu. Perjuangannya menahan sakit belasan menit membawa keajaiban untuk keluarga kecilnya.
Amir trenyuh, melebihi haru yang menghujam dada. Tak dia pedulikan sekeliling. Lelaki itu menghadiahi berjuta kecupan di wajah istrinya. Membelai, menghapus semua peluh dari raga yang terlihat lemah sekaligus lelah.
"Alhamdulillah, syukron katsir ya Eini Rohi habibati ... terimakasih banyak Sayang, terimakasih," imbuh lelaki yang baru saja berubah status menjadi ayah.
"U’iidzuhuu bil waahidis shomadi min syarri kulli dzii hasadin. Yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-'usra.” Lirih Aiswa mengucap doa setelah melahirkan.
Lima belas menit kemudian.
Saat Aiswa telah kembali rapi, berpindah ranjang juga berganti pakaian dibantu oleh sang suami siaga.
Aiswa menerima dengan kedua tangan saat bayi mungil itu diberikan padanya untuk di susui.
"Ahlan wa sahlan, putraku," ucap Amir dengan wajah penuh kelegaan, menghujani kepala Putranya dengan kecupan, menghadiahkan lantunan surat al qodr di kedua telinganya.
"Allaahumma habbibhu wa ahibba man yuhibbuhuu. Tampan, persis Abi."
Aiswa menciumi wajah mungil dalam dekapan, membawa telapak tangan yang masih keriput itu ke mulutnya. Memohon agar Allah menjaganya dari perbuatan munkar.
"Boleh langsung IMD ya Bu Aiswa, dibantu suster," saran dokter seraya ia membersihkan diri disana. Lalu menghampiri keduanya.
Ibu muda itu memilih dibantu Amir, ia mulai menyusui bayinya. Dia tak lagi memedulikan rasa sakit dibagian bawah tubuhnya.
"Siapa namanya Bu?" tanya suster kepala, ia terlihat menulis sesuatu. Tak lama dua buah gelang disematkan pada lengan putranya juga Aiswa.
"Althafariz Fayyadh," balas istri Amirzain.
"Anugerah kebaikan yang Mulia, indah Sayang. Semoga menjadi penyejuk hati kami, juga penolong di yaumil akhir kelak. Aamiin." Amir mendekap dua sosok yang membuatnya sangat bersyukur, bangga juga bahagia.
"Pak Amir, nanti satu jam kami akan observasi sebelum Ibu di pindah ke ruang perawatan. Ruangan ini steril, silakan jika ingin menunggu disini dengan Ibu tapi Adek Al ya panggilannya? akan kami bawa ke ruang bayi lebih dulu ... sudah dipasang pengenal di lengan Adek Al juga Ibunya...." dokter wanita yang dia ketahui bernama Imelda menjelaskan rinci segala tindakan medis yang akan mereka jelang.
"Baik, Dokter. Terimakasih banyak. Maaf tadi saya sempat emosi," ujar Amir mengingat betapa ia panik dan tak terima ketika di minta meninggalkan Aiswa.
"Kami juga meminta maaf Pak, jika ada yang kurang berkenan. Jangan sungkan untuk hubungi saya jika Bu Aiswa ada keluhan, ini nomer kontak saya," imbuh Dokter Imelda sebelum meninggalkan keduanya.
"Bii," bisik Aiswa lemah.
"Ya Sayang."
"Syukron Qolbi bersikukuh nemenin aku. Gak tahu lah kalau gak ada Qolbi gimana tadi," Aiswa terisak.
"Maaf yaa jika nada bicara ku lantang tadi. Kamu pasti kaget banget." Amir memeluknya.
"Qolbiku...." Aiswa baru kali ini melihat suaminya marah dengan nada tinggi. Kini ia tahu, betapa besar cinta lelaki yang memeluk ini untuknya.
.
.
__ADS_1
...________________________...