DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 87. FASILITAS HERMANA


__ADS_3

Malam yang panjang tak terasa sebab perbincangan hangat tentang siapa Hasbi sebenarnya.


Masih banyak yang belum Dewiq ungkap tapi netranya mengajak beristirahat sejenak meski Aiswa masih sangat bersemangat.


"Tidur Aey, kita lanjutkan nanti ... kamu baru saja pulih, jangan memaksakan diri ok," elusnya dikepala Aiswa.


"Baik kak."


Tidak ada bantahan dari mulutnya, Aiswa menarik selimutnya. Miring ke kanan perlahan lalu berusaha merapatkan kelopak mata yang memang sedari tadi telah terasa pedih. Sebelum meninggalkan Aiswa, Dewiq masih menunggunya hingga dia terlelap. Sesayang itulah Dewiq pada orang terdekatnya. Entah siapa pernah menyakiti atau melakukan kesalahan padanya, bila hati telah sayang maka bisa saja dia melupakan.


Namun akan lain ceritanya apabila bisnis Papa nya yang dirintis sejak belia, terusik orang lain. Dia akan setengah mati mencari cara agar semua berjalan sebagaimana mestinya. Tak akan segan melawan musuh yang menghadang, ia tahu bagaimana jatuh bangun sang ayah hingga diposisi saat ini.


Namun layaknya sebuah ambisi pribadi yang kerap tersingkir, menjadi putri Hermana membuatnya sedikit banyak terbebani, menjaga pencitraan agar tetap baik di khalayak sama seperti menjaga air diatas permukaan daun, sedikit meleset maka akan tumpah tak berbekas.


*


Keesokan Pagi.


Saat jelang sarapan, Aiswa sudah sangat rapi mengenakan dress berwarna ungu kesukaannya.


Semua dekorasi kamar Aeyza dirombak total menjadi nuansa perpaduan ungu lavender dengan lilac doff. Tidak ada yang tahu persis warna kesukaan sang Aeyza asli karena gadis itu tak pernah tinggal di mansion sejak belia. Dia kerap berpindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan Mamanya.


Aeyza juga tak pernah mengenyam pendidikan formal, semua dilakukan secara homeschooling. Tak heran bila sang adik menjadi pribadi introvert dan tak memiliki kawan akrab, selain Joanna. Sisi baiknya, Dewiq menjadi lebih mudah memalsukan identitasnya saat ini.


Setelah sarapan, Aiswa sudah dijadwalkan akan menjalani serangkaian kegiatan penunjang aktivitasnya.


"Setelah ini, kita kunjungi Mama," pinta Dewiq saat mendorong kursi roda Aiswa menuju ruang makan mewah di bangunan sayap kanan mansion.


"Baik Kak."


"Selamat pagi Aey, Kak, bagaimana hari ini," Papa datang menyambangi.


Suatu kejutan bagi Aiswa, baru kali ini melihat sosok sang Ayah dari sahabat karib yang sekarang berstatus kakaknya itu.


"Pa, bukan mahram," bisik Dewiq pelan saat Hermana Arya semakin mendekati kursi Aiswa yang telah siap disisi kanan kursi Ayahnya.


"Papa tahu Kak," ujarnya masih takjub.


"Hai sayang," lambai tangannya masih sambil berdiri.

__ADS_1


"Kak, sekilas beneran mirip sekali," bisiknya sumringah.


"Pagi Om eh Pa," jawab Aiswa takut.


"Aey, ini milikmu, pinnya tanggal lahir Danesh Aeyza Hermana, kau ingat?" Papa bicara formal seraya tangan kanannya menarik kursi dan dia pun duduk disana dengan nyaman, saat maid datang membawa hidangan.


Hermana Arya memberikan satu card kartu debit dan kredit berwarna platinum pada Aiswa dari dalam dompetnya. Menyodorkan diatas meja agar gadis itu tak bersentuhan dengannya.


"Hmm, ingat ... boleh aku ganti pinnya?"


"Pakailah sesuai kebutuhanmu sayang. Kamarmu siang ini akan siap, semoga nyaman dengan dekorasi yang baru ... meski harus menyesuaikan diri menjadi orang lain itu sulit, " bisiknya lirih kala berucap pada kalimat kedua.


"Silakan Tuan, Nona." Maid menata hidangan diatas meja, lalu kembali ke dapur setelahnya.


Mereka menikmati hidangan dalam diam, hanya terdengar denting logam beradu dengan keramik kualitas terbaik sebagai alas makan mereka diatas meja.


"Aey, Papa berangkat ya Nak, jaga diri baik-baik disini ... turuti kakakmu, dan bawalah kembali Mama agar berada di tengah-tengah kita, meski Papa sudah tak menjadi suaminya tapi kalian tetap memiliki ikatan batin, ikatan darah yang mengalir dalam nadi."


"Fii amanillah Pa, semoga Allah menjagamu selalu dalam taat kepadaNYA," Aiswa mengucap doa untuk ayah angkatnya itu.


Degh. Hermana Arya tercenung.


"Aey, ajari Papa sholat dan mengaji lagi ya Nak ... Papa akan berusaha pulang lebih cepat agar kita semua punya waktu yang berkualitas ... dengan Mama juga," ujarnya berkaca-kaca.


"Iya sayang, doakan kami." Sorot matanya berbinar.


"Kak, terimakasih banyak." Elusnya dikepala Dewiq.


Aku baru sadar, tidak ada yang kebetulan, semuanya seakan telah disambung hingga menyimpul seperti ini. Kami haus akan siraman rohani namun terlalu gengsi untuk memanggil guru nan ahli.


Allah kirimkan kamu Nak, meski Papa harus kehilangan separuh jiwa Papa yang lainnya tapi kamu bagai oase yang membasahi batin kami nan gersang.


Terimakasih Aiswa Fajri, berkenan singgah di keluargaku.


Bila Aiswa Fajri mendapatkan kembali kehidupan baru, sama seperti halnya kedua pasangan yang sedang hangat-hangatnya.


***


Disaat yang sama. Kota lainnya.

__ADS_1


Setelah waktu duha, Amir menerima panggilan dari Gamal. Keduanya berselisih jalan saat akan bertemu beberapa pekan lalu di Jakarta.


Amir yang kala itu sedang berada di Bandung sebab mengikuti festival, saat akan kembali ke Jakarta dia mengurungkan diri karena Aruni hamil.


Tak ingin mengambil resiko akibat keluhan keluarnya flek, Amir membawanya pulang ke kediamannya langsung menggunakan kereta. Pertemuannya dengan Gamal yang kala itu hendak transit selepas pulang honeymoon di Swiss akhirnya batal dilakukan.


Gamal menerima kabar bahagia kala itu, bahwa usia kandungan Aruni baru dua minggu, masa high risk.


"Mir, aku mau tanya sesuatu tentang status Aiswa sebelum mangkat."


"Apa? jangan bongkar aibnya Mal, " peringatnya pada sepupu jauhnya itu.


"Dia ditalak oleh Hasbi sepertinya, aku mengirimkan sesuatu padamu, namun langsung hapus saja bila kau telah melihatnya."


"Ga usahlah Mal, tidak ada bedanya bukan?"


"Iya sih, kali kamu mau tahu, soalnya anu itu Mir, anu lah," Gamal keki.


"Kebiasaan, kebanyakan Anu kamu yaa ... jadi si anu udah Anu belum?" gelaknya kemudian disusul Gamal yang terbahak diujung sana. Obrolan absurd keduanya didengar oleh Almahyra.


"Kak, selamat yaa, mau jadi daddy on going ... doain nyusul," sahut keduanya.


"Aamiin, alhamdulillah ... insya Allah ... datang yaa saat launching Brand baru kita di Jakarta dua pekan lagi dan doakan juga Qiyya sehat."


"In sya Allah," keduanya menutup panggilan dengan saling melempar ucapan syukur dan doa.


Amir melihat kearah kiri di studio yang merangkap butik milik Aruni. Masih tak percaya akan dianugerahi nikmat sebesar ini.


Wanita yang mencintainya serta amanah yang akan hadir ditengah keluarga kecilnya.


"Bismillah semoga Allah redho, meskipun secara logika manusia semua ini tidaklah mungkin namun bukan bagi Allah ... aku masih sangat mengharap KUN mu ya Robb, untuk istriku...."


Aruni harus bedrest karena sejatinya sejak awal memang kondisinya bermasalah, bukan tentang ketidakadilan atau kenyataan diluar logika, namun semua ini kembali lagi, atas kehendak-Nya.


.


.


...________________________...

__ADS_1


...Tiada yang mustahil, pengobatan dimanapun bila Allah tak berkehendak yaa tetap saja, nihil......


...Juga sebaliknya, yang afiat namun ketika didiagnosa mempunyai penyakit anu, kondisi drop hingga kolaps itu sekejap mata... intinya adalah semangat dan keyakinan agar bisa tetap bertahan dalam ujian... hasilnya kembali lagi pada Tuhan.. (ini poin utama untuk masalah Aruni sebenarnya, cuma anu, lebar dan panjang haha)...


__ADS_2