
Amir PoV
Raden Mas Amirzain Zaidi namaku, cicit Raden Arya Tumenggung Danarhadi yang terkenal tegas di Solo. Usiaku 25 tahun, Sarjana Ekonomi Syariah di Tazkiya Universitas Jakarta. Tempatku menempuh pendidikan sejak Aliyah.
Aku mempunyai dua sahabat karib, Ahmad Hariri, teman sebangku saat Aliyah sekaligus putra pemilik Tazkiya dan Ahmad Hasbi, teman sejak Tsanawiyah saat aku mondok di Tegal dulu, pesantren milik Abuya Hasbi. Berkat Tazkiya, kami menjadi sahabat karib.
Setelah lulus, aku membantu Abah mengurus bisnis keluarga kami yang kian pesat. Hasbi melanjutkan studinya ke Singapura dan Ahmad ke Rusyaifah, Mekkah.
Satu tahun lalu.
Aku mendapat kabar dari Hasbi yang kini mengajar sebagai dosen di Tazkiya bahwa Ahmad beberapa minggu ini tengah di Indonesia, sedang dalam pemulihan pasca sakit. Kami sepakat menjenguknya bersama sekaligus melepas rindu.
Saat akan pamit pulang, Ahmad mengajak kami ke halaman belakang rumahnya melihat beberapa anakan merpati yang ia pelihara.
Di sanalah aku melihatnya pertama kali, gadis yang sedang menangis putus asa di balik pohon nangka karena tak kunjung lancar hafalannya, ujar sang kakak. Aku memberanikan diri meminta izin Ahmad untuk mendekat dan membantunya. " Mir, dia adikku Aiswa. " ujar Ahmad sambil tersenyum mengedipkan mata kirinya.
Ternyata dia gadis yang keras hati dan keras kepala seperti Naya, adikku. Lama aku diacuhkan hingga dirinya mulai tertarik dengan beberapa metode hafalan yang aku contohkan.
Maa sya Allah, cantiknya. Ketika Aiswa mendongakkan kepalanya lalu perlahan mengikuti tehnik menghafal yang aku berikan tadi.
Saat Maghrib menjelang, dia telah berhasil menghafal target ujiannya dan aku pamit padanya untuk ke masjid. Bersamaan dengan itu dia mengucapkan terimakasih seraya tersenyum manis.
Senyum yang kabarnya tak pernah ia bagi meski pada sesama akhwat. Senyuman manis yang tak pernah ia tunjukkan selain pada Ummanya. Senyuman manis seorang Aiswa, yang terkenal sangat mahal tapi aku dengan mudah mendapatkannya.
*
Sejak saat itu, aku rutin menanyakan kabar tentangnya pada Ahmad hingga beberapa bulan setelahnya aku memberanikan diri untuk mengajukan lamaran untuknya melalui Ahmad, karena dari dirinya lah aku mengenal Aiswa.
__ADS_1
Entah penyampaianku yang salah atau kurang sopan. Ahmad tak pernah merespon bahkan memberikan kabar atas lamaranku.
Hingga suatu saat, Hasbi mengabarkan padaku bahwa ia telah melamar Aiswa langsung pada Yai kami, Kyai Hariri salim yang tak lain ayah Aiswa sekaligus pemilik Tazkiya.
Dhuarr. Bagai tersambar petir. Hatiku kecewa dan marah di waktu yang sama.
Aku terus menanyakan pada Ahmad kebenaran berita ini, tetapi tak ada respon hingga satu minggu setelahnya dia mengatakan.
" Mir, Aiswa resmi calonnya Hasbi, jangan menanyakan adikku lagi. Meski Aiswa tidak mau melanjutkan namun Abuya tetap menerima pinangan Hasbi karena beliau menilai keduanya telah mengenal satu sama lain. Juga, kamu tahu kan nasab Hasbi? kita sekufu. " (bab 10 & 11).
Aku hanya membalasnya. " Berarti benar, Hasbi mengetahui lamaranku sebelumnya? apa imbalan yang diberikan olehnya untukmu agar menghianati aku? " (bab 5)
" Bukan urusanmu. "
Di saat aku merasa sakitnya tertusuk dari belakang, Hasbi mengirimkan sebuah foto padaku.
Foto saat Kyai Hariri Salim berjabat tangan dengan Abuyanya, disaksikan Ahmad dan beberapa kerabat mereka lengkap dengan sebuah kotak perhiasan diatas meja.
Seketika aku lemas. Aku kalah, berjuang pun percuma. Aku hanya akan merusak nama keluargaku, terutama status hafizku. Aku tak ingin menodai niat awal yang tulus untuk menganugrahkan mahkota untuk bundaku.
Aku marah. " Ya roooooobbbbbb, dimana salahku? ".
Hatiku yang telah lemah, Allah uji dengan kehadiran Aiswa yang kabur mendatangiku. Aku mencintainya, ingin merusak semuanya namun suara Umma terngiang di kepalaku.
" Kakak, jadikan Umma ratu yang mendapatkan mahkota paling indah dari kakak. "
Aku dilema ya Allah, aku tak sanggup. Aku menangisi nasib padahal ini datang dari Tuhanku.
__ADS_1
Sakitnya tamparan ka Abyan kalah sakit tatkala mengetahui kenyataan bahwa Aiswa memang mencintaiku sejak pertemuan pertama kami.
Segala upaya dalam menahan diri, bertarung dengan rasa hati antara nafsu dan aqidah membuatku seakan setengah waras.
Aku limbung, bagai di benturkan pada tembok dan di pantulkan kembali hingga terjerembab.
Namun berkat kesabaran adik iparku dalam menasehati, aku perlahan melepaskan Aiswa dan merelakannya pergi, menyerahkan dengan kedua tanganku untuk kembali pulang.
Permintaan maaf Yai, yang kurasa beliau telah mengetahui kejadian sebenarnya. Perkelahianku dengan Hasbi, kebencianku pada Ahmad. Aku lepaskan di pekatnya malam dalam dinginnya pasir di tepi pantai.
" Aiswaaaaaa.... " aku mengikhlaskanmu pergi. Belum saatnya aku berjuang, namun bila satu saat celah kesempatan itu datang, aku takkan menyerah sampai engkau aku genggam.
***
Amir ragu membuka pesan yang terus masuk ke ponselnya. Kesedihannya atas Aiswa masih menggelayut dalam hati.
Namun rasanya bukan dirinya bila mengabaikan permintaan tolong seseorang. Amir bangkit, jam ditangan kirinya telah menunjukkan hampir tengah malam. Jemarinya lalu membalas sebuah pesan.
" Kamu kenapa? " Balas Amir.
" Kemarilah Ka, ku mohon.... " Balasannya kemudian.
.
.
..._______________________________...
__ADS_1