DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 210. KELALAIAN


__ADS_3

RA Company.


Kedua pria muda berbeda profesi baru saja keluar dari basement gedung Raharja Arka menuju sebuah cafetaria tak jauh dari sana, guna membicarakan tentang langkah selanjutnya berkaitan dengan Dwiana.


"Ke cafe dulu ya Mas," ujar Rayyan.


"Ok," jawab Amir seraya memeriksa ponselnya.


Dia tak sadar sedari tadi benda pipih miliknya masih flight mode. Saat mengembalikan fungsi pengaturan ke semula, notif pesan dan panggilan beruntun masuk menimbulkan suara berisik.


"Ya ampun, orang sibuk gitu ya, di berondong notif," seloroh Rayyan saat mereka sudah ada dalam mobil.


"Tadi ternyata gak aktif loh Dok, pantesan senyap," kekeh Amir.


Kriiing.


"Assalamu'alaikum ... iya sayang, maaf ... iya maaf umma, tadi lupa beralih dari flight mode, maaf ya ... astaghfirullah, maaf ... video call Rohi, aku masih dengan Dokter Rayyan," jawab Amir menenangkan Aiswa yang menuduhnya selingkuh.


"Hai Aeyza, aku masih pinjam suamimu. Bentar lagi ku antar pulang, Bumil," jawab Rayyan dengan suara sedikit lantang.


"Yah, ngambek deh. Nasib," keluh Amir saat panggilan di putus Aiswa.


"Repot ya, Mas. Ku kira sekalem Aeyza gak bakalan mood swing ekstrem gitu," kekeh Rayyan.


"Gak paham deh kalau gituan. Moodnya mudah berubah. Sebentar manis, sebentar ngambek, sebentar happy sendiri, balik lagi emosi ... pake sabar doank paling ngadepinnya ... tapi mending mood swing deh, daripada posesif. Serem, tahu sendiri kan pedesnya kayak apa kalau mode galaknya nongol," ujar Amir tersenyum mengingat kejadian Buya mendapat amukan dari istrinya, tempo hari.


"Dia bebas jadi diri sendiri kayaknya setelah jadi istri Mas Amir ya? kelihatan bedanya. Aku dulu ketemu dia itu kalem, pendiem meski galak sih iya. Cuma sekarang lebih ekspresif," imbuh Rayyan lagi.


"Banyak yang bilang gitu, tapi buat aku dia ga berubah dari dulu. Cuma lagi hamil aja agak anu," tawanya lepas.


Kriing. Ponsel Amir kembali berdering.


"Abah" lirihnya seraya menggeser tombol hijau ke atas.


"Assalamu'alaikum," sapa Amir.


"Masih di Jakarta, mungkin besok pulang. Kenapa Bah?" tanya Amir.


"Oh iya, besok aku akan selesaikan. Abah tahu darimana?"


"Lagi di Cirebon dengan Uyut? ya Allah ko gak bilang? Aku pulang malam ini ya," balas Amir lagi.


Amir hanya diam, nampak mendengarkan dengan seksama, bahkan ketika mobil mereka telah terparkir rapi di depan sebuah cafe, Amir masih diam.


"Nggih, in sya Allah. Wa'alaikumussalam," jawabnya lagi.


Setelah mematikan panggilan dan hendak bersiap turun. Rayyan menahannya.


"Mas, kalau urgent biar aku antar kembali sekarang ya, kita ngobrol di rumah Abuya saja," tawar Rayyan.


"Justru kalau di sana, nanti aku gak bisa nemenin dokter loh. Dokter, tahu sendiri tadi Nyonya ngambek, kita selesaikan dulu. Sudah sampai sini ko. Masuk yuk," ajak Amir seraya menarik tuas pintu dan turun dari mobil.

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam cafe, menghabiskan waktu hampir satu jam hingga pada sebuah rencana apabila Dwiana ditemukan.


Tazkiya.


Rayyan mengantar Amir kembali ke Tazkiya menjelang ashar. Setelah pamit, Rayyan memutar kembali mobilnya menuju Hermana Hospitals.


Baru saja Rayyan pergi. Sang Nyonya muda langsung menabrakkan tubuhnya ke pelukan Amir.


"Maa sya Allah, seharian gak ketemu bidadari Tazkiya, kangen banget," ujar Amir memeluk Aiswa yang datang padanya dengan wajah masam.


"Kangen Qolbi juga, dan aku tadi pakai ini karena sulit untuk tidur siang padahal ngantuk. Gak ada bau Qolbi," rengek Aiswa masih memeluk erat suaminya. Tangan kirinya mengangkat baju koko Amir yang terakhir ia gunakan sebelum Rayyan menjemputnya pergi pagi tadi.


"Kan ini mau di cuci, Rohi. Masuk yuk, gak enak kalau dilihat santri," bisik Amir seraya melangkah tertatih karena Aiswa malah menjejakkan kakinya di atas kaki Amir yang beralaskan sandal rumah, sehingga mereka melangkah bersama.


"Ini adek gak sesak yaa, Rohi. Begini?"


"Enggak."


"Astaghfirullah, Aish. Ada aja maunya ya...." tegur umma atas kelakuan putrinya, saat melihat Amir kesulitan menarik kakinya saat melangkah.


"Biarin, Umma. Gak apa," balas Amir, membelai kepala Aiswa berharap istrinya tidak berubah mood kembali.


Saat telah masuk ke kamar.


"Sayang, aku mandi dulu ya, bentar lagi Ashar loh," berusaha melepaskan pelukan Aiswa.


"Kan aku tadi bilang, gak ada bau Qolbi. Jangan mandi dulu," bisiknya.


"Begini dulu."


"Sambil berdiri? kan gak boleh kelamaan berdiri, cape, kita duduk ya," ajak Amir menuju sofa panjang.


Bagai bayi koala, Aiswa masih menempel erat padanya. Amir menarik hijab Aiswa pelan hingga terlepas. Menciumi rambut wangi strawberry, menarik tali rambutnya sehingga terurai.


"Lembut banget," bisiknya di telinga Aiswa yang duduk dalam posisi menghadap Amir, sehingga tubuhnya menempel ketat.


Amir terus membelai rambut panjang sebatas bahu istrinya hingga ke punggung, beberapa kali.


"Nanti malam kita pulang ya, Sayang. Ada Abah dan Uyut di rumah, juga tentang masalah pencurian itu kan belum tuntas. Kata Abah, ini kelalaianku," tuturnya lembut.


"Ko bisa Bii. Kalau sekarang aja pulang gimana? aku kangen kamarku, Bii," ajak Aiswa.


"Nanti aku cerita. Udah kangen banget ya?"


"Iya, kangen Qolbi yang di sana."


"Loh, apa bedanya?"


"Suamiku di sana itu, ah beda lah pokoknya. Qolbi kalau di sini, idolanya Umma. Aku selalu salah di mata Umma. Padahal Qolbi suamiku," cebik Aiswa.


Amir hanya tertawa. "Masa kamu jealous sama Umma sih, Sayang?"

__ADS_1


"Umma juga kan wanita, Bii. Lagipula kuliahku jika di sana itu terasa ringan. Qolbi seutuhnya milikku," mulai senewen.


"Iya, hanya milik Aiswa Fajri. Sehat terus ya Rohi, cerita semua sama aku apapun yang kamu rasakan...." ucapnya masih membelai punggung Aiswa perlahan.


"Bii."


"Iya," jawab Amir mengecup kening Aiswa.


"Maaf."


"Untuk?"


"Emosi ku, moody dan lainnya, maaf. Gak bermaksud membuat Qolbi susah," gumam Aiswa, menduselkan kepalanya di dada Sang suami.


"Kan hormonal, Sayang. Aku gak mikir kamu gimana-gimana loh ya. Jangan menduga yang aneh-aneh. Paling penting, kalian berdua sehat," sambung Amir, bersamaan dengan Adzan Ashar.


Keduanya hanya diam, larut menikmati suasana cuddle yang Amir ciptakan. Aiswa memang merasa bahwa suaminya jauh lebih sabar menghadapi mood swing semenjak tahu ia hamil. Pun kian memanjakan dirinya.


"Ashar yuk, Rohi."


Hening.


"Sayang," bisik Amir, ia tahu Aiswa mulai tertidur.


"Gak boleh bobok, Sayang. Kita jalan-jalan, dan jajan sebelum pulang di taman Jasmine yuk. Pacaran," goda Amir.


Bulu mata lentik itu mulai membuka kembali. Menatap wajah suaminya seakan mencari sebuah jawaban di sana.


"Boleh jajan apa aja ya?" tanya Aiswa mengerjapkan kelopak mata bulatnya, mengusir rasa kantuk.


"Boleh, asal gak pedas ... Allah, gemesnya."


Entah Aiswa yang memang sangat menawan ataukah Amir yang mudah tergoda. Bibir ranum istrinya habis ia serbu.


Saat akan mengangkat tubuh Aiswa agar mereka bangkit. Ponsel Amir kembali berdering.


Aiswa turun dari pangkuan lelaki tampan miliknya, sehingga memudahkan Amir mengambil gawai di saku celana kanan.


"Hasbi?"


"Jangan Bii, jangan di angkat lagi." Aiswa melarang.


"Kenapa, Sayang?"


"Karena--"


.


.


...__________________________...

__ADS_1


...Setelah habis satu porsi mie instan, minum yang manisnya pas manisnya pas. Giliran harus merangkai kata lagi, eh ga instan 😂...


__ADS_2