
Tiga bulan selanjutnya.
Aiswa telah terbiasa mengurus Fayyadh sendiri yang kian aktif. Meski Amir selalu membantunya namun ia ingin seperti Naya, mengurus Maira hanya dengan tangannya.
Besok adalah resepsi Dewiq dan kakaknya Ahmad. Paviliun Tazkiya telah penuh oleh Kusuma juga beberapa kerabat mereka.
Para pria masih berkumpul di ruang tamu sejak ba'da isya tadi.
"Gak akan ada unboxing kayaknya ya," seloroh Gamaliel.
"Basi, sisa layanan purna jual," sahut Mahendra asal seraya menidurkan Maira dalam gendongannya.
"Ada anak dibawah umur," ucap Abyan menimpali, yang ia maksud adalah Maira juga Kaffa, dan Fatima. Ketiga bocah ini memang lekat dengan sang ayah dibanding ibu mereka.
"Sembarangan purna jual. Service center," Rayyan menyambung Mahen.
"Terus ... terus...." Ahmad mulai panas.
"Gak apa kali Pak ustadz. Kalau habis servis biasanya diminta unboxing ulang," sambar Amir.
"Lu pikir, Marsha produk apa?"
"Bukan pproduk kali Mas tapi pabrik, yang butuh treatment," ujar dokter Andre.
"Ciye, ada yang masih puasa. Menahan haus dan lapar," ejek Gamal di iringi tawa semua pria.
"Jiah, yang tekanan batin di prank halim, coba Dokter Andre, tolong priksa apakah jantungnya bocor macam lambe nya," balas Amir tak kalah sengit pada Gamal.
"Syaraf kalian pada geter kayak nya?" Rayyan kali ini berkomentar.
"Udah macam gempa aja, geter Dok," balas Ahmad.
"Bukan, kek yang di bilang buyut itu loh, kebanyakan pake geter-geter," Gamal tertawa lepas, para pria di depan paviliun riuh akibat ulahnya.
"Pak Haji suka pake gituan ya? paham bener," Amir membalikkan komentar Gamal.
"Enggak lah, bisa miring peci gue nanti, Mir."
Geerrrrr. Tawa menggema sekumpulan pria kembali terdengar.
Buya bahkan Abah terheran akan keakraban mereka, obrolan absurd berlangsung hingga menjelang tengah malam.
Sementara didalam kediaman pribadi Tazkiya.
Para wanita tak kalah ramai bersenda gurau menggoda Renata yang akan menikah tepat sepekan setelah resepsi Dewiq dan Ahmad.
__ADS_1
"Jangan diingat lagi yang lalu ya Kak, sekarang fokus dengan yang baru," Naya mulai menggoda.
"Eheemm," Aiswa hanya berdehem sembari menyusui Fayyadh.
"Lupa. Ada yang sesama ya?" sahut Dwiana.
"Eh, Aiswa juga?" Renata baru menyadari.
"Iya, dua periode," ucap Dewiq.
"Tapi Mba Ren, yang kedua biasanya lebih menggelora," timpal Aiswa membuat semua wanita itu tertawa.
"Udah ada pengalaman kerja ya Aey, job desk mulus," cakap Dewiq di sela tawanya.
"Jelas Kak," Aiswa menjawab sekenanya.
"Aku baru tahu ya kalian bisa eror begini kalau ngumpul," ujar Naya seraya bangkit saat Mahen memanggilnya untuk menidurkan Maira sekaligus pulang.
Naya diikuti Renata pun pamit undur diri, mereka telah fitting baju untuk acara besok, sepakat bertemu langsung di venue.
...***...
Keesokan pagi, ballroom hotel.
Satu persatu rangkaian acara berlangsung lancar. Naya mengamati cara EO bekerja kali ini, untuk pembelajarannya.
Tak kalah dengan para pria, pasangan wanita mereka pun memilih duduk dalam satu meja. Dwiana, Aiswa, Naya, Almahyra, Renata dan Raiden juga Sherly.
Sudah tak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Larut dalam bahagia mengiringi pasangan raja dan ratu sehari.
Sisa satu event lagi yang akan menjadikan mereka semakin erat, pernikahan Andre dan Renata. Dari yang tak mengenal sesiapa hingga satu persatu dipertemukan oleh nasib sebab suatu peristiwa.
Badai prahara telah berlalu, tiba saatnya menyongsong harapan baru.
Malam menjelang.
Aktivitas seharian ini sangat padat namun mereka masih semangat berkumpul di paviliun Tazkiya.
Pembahasan serius sedang Abah utarakan di sana.
"Jadi jangan lega apalagi merasa aman bila kalian merasa telah menjalankan semua kewajiban sebagai suami contohnya memanjakan istri, memberikan segalanya namun tak melakukan Qu anfusakum wa ahlikum naaro ... menjaga diri dari siksa api neraka," terang Abah pada setiap anak lelakinya.
"Apa artinya, Bah?" tanya Rayyan dan Andre bersamaan.
"Kewajiban paling utama sebagai pria dengan status suami, bukan cuma ngasih nafkah tapi juga ngajak lalu mengajarkan ... kalau belum bisa sholat, ya diajari, gak bisa ngaji mbok di tuntun, masih belum berhijab, dibujuk pelan. Jika hanya urusan nafkah, perhatian, peduli gak akan cukup mengantar pada aman nya dari siksa api neraka ... betul-betul tugas suami bukan cuma cinta kasih tapi semuanya, fiddunya wal akhiroh, raga dan jiwa."
__ADS_1
"Kalau urusan nafkah, cuma ngasih makan ya dimulai dari cara jemput rizkinya, ngolah makanannya sampai pada hasil yang harusnya sampai pada suapan ke mulut istri... itu baru raga, nah jiwanya tadi ... ruh, kasih makan berupa ilmu yang sesuai dengan perintah Allah," pungkas Abah.
Abah menganggap sahabat putra keduanya itu adalah bagian dari keluarga, anak-anak nya juga. Obrolan malam berkualitas nampak membekas di beberapa pria setelah mereka kembali pulang.
...***...
Wejangan dari wajah bersahaja, menyentuh kalbu Mahen, Rayyan juga Andre. Bahkan Abyan.
Rayyan merenungi apa yang sudah ia lakukan untuk istrinya. Dwi belum menutup aurat sempurna, maka malam itu dia mencoba memberikan gambaran dari penjelasan Abah pada wanita pujaan.
Begitu pula Andre, sang calon pengantin kukuh teguh niat akan membawa Renata seperti yang dia idamkan.
Bahkan Abyan, masih meragu, ia bertanya pada Qonita apakah semua perilakunya telah sesuai dengan yang ia ucapkan mengingat dirinya seorang guru.
Sementara dikamar lainnya.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar, kita pulang kapan Bii?"
"Pekan depan setelah resepsi Dokter Andre ya Sayang, aku juga gak sabar kembali ke rumah. Mendidik Fayyadh dengan tenang," balas Amir membelai kepala putranya.
Aiswa hanya diam, apa yang mereka jalani, sesungguhnya seakan mimpi.
"Ko liatinnya gitu?"
"Kayak mimpi ya Bii, aku punya kalian. Gak pernah kebayang dalam benakku, akan seperti ini akhirnya. Sakit sebab masa lalu seakan mustahil buat kita kala itu bukan?"
"Andai, aku meminta Abah lebih cepat mungkin tak ada kisah panjang. Namun, aku banyak mendapat pengajaran bahkan Allah memberiku segala nikmat bertubi di dunia. Aku sekarang mencemaskan apa yang sahabat Abdurrahman bin auf katakan, tentang nikmat dunia yang melimpah, akankah Allah mengucurkan nikmat akhirat juga di kehidupan fana ini?" jelas Amir, memandang istri dan putra keduanya bergantian.
"Semoga rahmat Allah sentiasa tercurah untukmu Ya Habibi Qolbi, untuk keluarga kita, aamiin."
"Jazakillah Kheir ya Eini Rohi Habibati, sudah bersedia menjadi istriku, melahirkan putra kita. Semoga Allah memberimu kenikmatan memasuki Jannah nya dari pintu mana yang engkau kehendaki, aamiin."
Setelah Fayyadh lelap, keduanya sepakat menunaikan dua rokaat sunnah, sebagai ungkapan syukur yang tak terbendung atas limpahan karunia Allah pada mereka.
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin khamdan katsira yuwafi ni'amahu wa yukafiu mazidah."
"Rabbi aw zi’niy an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilniy birahmatika fiy ‘ibadikashshaalihiin."
Aiswa mengamini segala yang suaminya ucapkan, tak henti mengucap syukur pada Robbul 'alaamiin.
.
.
...___________________________...
__ADS_1
...TAMAT...
...Mommy tamatkan meski rating sedang bagus dan stabil 😭 karena kewajiban di dua judul lainnya. Akan ada extra part setelah ini... ...