DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 98. KEGIGIHAN AMIR


__ADS_3

Setelah Aruni menyerahkan Naufal pada Abah, mereka berdua ditinggalkan begitu saja. Alex telah menunggu Abah di lot parkir basement untuk menjemputnya serta Naufal kembali kerumah agar proses pemakaman segera dilakukan.


Amir berencana akan pulang saat mertuanya telah datang, diperkirakan akan tiba pagi hari ini. Handphone mereka tergeletak begitu saja tak memedulikan sesiapa yang menghubunginya.


Masih larut dalam diam, keduanya memilih saling meleburkan kehampaan dengan saling memeluk erat.


Setelah breakfast Aruni diantar oleh suster yang bertugas, masih belum ada percakapan diantara keduanya. Hingga sebuah ketukan di pintu memaksa Amir turun mengurai pelukan mereka dan bangkit untuk membuka pintu.


"Runii...." Mama menghambur masuk memeluk putrinya ketika pintu kamar telah terbuka.


Aruni hanya tersenyum samar dan membuka lengan menyambut pelukan saat ibundanya datang dari jauh menempuh ribuan mil hanya demi melihat kondisinya. Tak sedikitpun terpancar rasa sedih diwajahnya kini. Entah karena dipaksakan berpura tegar atau memang sudah sangat ikhlas.


"Ma," sapa Amir pada Mama mertuanya.


"Mas, ya Allah ... maaf mama baru tiba, Naufal mana?"


"Sudah dibawa pulang Ma, aku nitip Qiyya sebentar ya Ma, mau mengurus Naufal."


"Iya, pergilah biar Runi sama Mama."


"Mas, videoin yaa nanti buat aku." Aruni memohon agar prosesi putranya diabadikan.


Amir pamit, membisikkan sesuatu di telinga nya yang membuat Aruni goyah.


"Aku pulang dulu ya sayang, mau anterin sekaligus titipin Naufal biar dia jadi anak paling tampan disana yang menunggu kita." Mencium lembut pucuk kepala Aruni beberapa kali sebelum dia meninggalkannya dengan sang Bunda.


Rupanya Mahen meminta Alex membuat persiapan sempurna. Ketika Amir tiba, beberapa tenda telah terpasang rapi dilengkapi layar streaming untuk keluarga Solo agar bisa turut serta mengikuti proses pemakaman cicit emas keluarga Kusuma.


Jangan tanyakan betapa ribetnya kedua Buyut mereka, bahkan di Solo pun kabarnya telah terpasang bendera kuning di kediaman para leluhur Kusuma.


"Naufal, sungguh kamu baby istimewa Nak."


Abah memang sigap, semua sudah rapi hanya menunggu kedatangan Amir saja untuk memandikan cucunya.


"Kuat ya Mir," Abah menyerahkan gayung kecil padanya.


"Bismillah," ujarnya.


Menjelang dzuhur semua proses telah selesai dilakukan. Terlihat gurat kelegaan diwajah keluarga Abah.


"Aku kembali ke Qiyya ya Bah," saat sebagian para pelayat telah pulang.

__ADS_1


"Ada Mama mertuamu kan? istirahat dulu Mas, jangan sampai drop." Abah tak tega melihat putranya terlihat kuyu.


Kali ini Amir mengikuti saran Abah agar beristirahat sejenak. Tubuhnya memang sangat letih.


Dia pamit menuju kamarnya, membuka handle pintu perlahan. Banyak kenangan disini karena Aruni memang tak lagi meninggalkan ruangan ini semenjak kepulangan mereka dari Bandung.


Hasil pemeriksaan di rumah sakit Bandung kala itu mengatakan bahwa flek yang muncul karena kondisi placenta yang berada mendekati jalan lahir ditambah dengan riwayat penyakit pasien membuat Amir akhirnya harus tegas membuat keputusan yang saat itu di tentang keras oleh istrinya.


Bosan, kata Aruni kala itu. Sebisa mungkin dia sabar, tanpa memberitahukan kondisi yang sesungguhnya. Amir tahu, semua kuasa Allah, dia sedari awal memang telah bertekad mengabaikan diagnosa dan vonis manusia.


"Naufal, disinilah kamu bertahan bersama kerasnya keinginan mommy untuk menghirup udara bebas ... maafkan Abi yaa harus membuat kalian terkurung disini."


Amir menuju bathroom didalam kamarnya, memilih berwudhu guna menenangkan hati, ikhlas menjadi pe-er terbesarnya kali ini, lagi. Dia juga telah berniat akan menuju Malaysia untuk terapi lanjutan pasca Aruni keluar dari rumah sakit nanti.


Aku akan terus ikhtiar sampai Allah mengatakan sudah waktunya untuk kembali.


Sajadahnya menghampar, kepalanya kembali merunduk, mohon ampun atas segala kekhilafan yang tak sengaja terbersit dalam hati, terselip kecewa atas segala ketentuannya. Dia bertahan disana hingga tubuhnya lelah meluruh dengan sendirinya.


Kak ... kakak anak ummi yang paling maa sya Allah, akan ada saatnya bahagia untukmu.


*


Seminggu kemudian Aruni sudah diizinkan pulang karena kondisinya yang lebih stabil meski dokter Laura mewanti masih harus istirahat total dibawah pantauannya.


Ketika konsultasi akhir di ruangan Dokter Amelia, sekali lagi Amir dihadapkan pada diagnosa yang tidak begitu baik.


"Aku hanya ikhtiar dokter, selebihnya urusan Allah," tegasnya.


"Anda sangat teguh dan gigih hati Pak Amir, semoga mukjizat menyertai Anda selalu."


"Doanya dokter, mohon maaf serta mohon izin apabila saya masih meminta waktu dokter untuk berkonsultasi meski Aruni sudah bukan pasien Anda," imbuhnya lagi.


"With my pleasure Pak Amir, jangan sungkan."


Amir bangkit dari sana, membawa semua dokumen yang dia butuhkan serta dukungan moril dari dokter yang menangani istrinya sebelum masuk ke fase pengobatan selanjutnya.


Meski hatinya ragu apakah Aruni akan bersedia melakukan sebuah perjalanan pengobatan kembali, Amir akan terus membujuknya.


Setibanya di rumah, Amir membicarakan ini dengan sang Mama mertua. Namun beliau menyerahkan sepenuhnya pada Aruni dan berjanji akan mendampingi mereka kali ini. Mama merasa trenyuh akan perjuangan yang Amir lakukan untuk anaknya.


"Mas, terimakasih banyak sudah menjadikan Runi ratu dalam pernikahan kalian ... dia pasti bahagia, semua yang kamu lakukan adalah kesempurnaan bagi kami, para istri ketika dikondisi demikian, tidak ada kebahagiaan yang sanggup terganti daripada perhatian seorang suami."

__ADS_1


"Dia istriku, tangung jawabku Ma dan aku memang sangat sayang padanya."


"Semoga Allah menjagamu, menjaga kalian dan melimpahi kalian dengan keberkahan serta kemudahan dalam segala urusan."


"Aamiin, doa Mama segalanya."


Saat malam menjelang, setelah mengamati siklus mood nya, Amir mencoba membicarakan niatannya pada sang istri.


"Sayang, jalan-jalan mau ga? ke Malaysia sekalian check-up."


"Terapi maksudnya, Mas jangan suka pake kiasan, to the point aja," cebiknya sebal.


"Iya begitu, yuk,"


"Harus ya? kalau nolak ga boleh?"


"Bukan ga boleh, kan aku bilang sedang merayu Allah ... jadi kudu maksimal, merayu kamu mau nikah sama aku juga kan maksimal masa sama Allah engga," bujuknya seraya mengusap pipi lembut istrinya itu.


"Aku bosan, boleh ga pasrah?"


"Boleh, jika memang sudah sangat poll dan saat ini aku belum merasa demikian ... mau yaa sayang, buat aku deh," imbuhnya lagi.


Aruni memandang lekat wajah suami yang berada di hadapannya. Rasanya enggan kembali menjejakkan kaki dirumah sakit namun ia tak tega melihatnya. Dia begitu gigih atas dirinya.


"Peluk dulu," ucapnya manja.


"Tiap hari juga dipeluk, apa bedanya?"


"Beda aja, kangen Naufal juga Abinya sekarang ... karena kalian mirip." Senyumnya muncul seraya membuka tangan lebar menunggu Amir menyambutnya.


"Aku mau, kali ini buat kamu Mas, tapi jika tubuhku sudah tak sanggup menerimanya ... Mas harus relakan aku ya, jangan lagi meminta untuk tinggal," bisiknya dalam pelukan.


"Semangatlah Qiyya, jangan menyerah...."


.


.


...____________________________...


...Jika janin yang keguguran sebelumnya terlihat hidup, tampak pula tanda-tanda kehidupannya, seperti menangis, bergerak, menjerit, menggigil, dan sebagainya, sesaat setelah dilahirkan, maka jenazahnya wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan, layaknya orang dewasa walaupun saat keguguran usianya masih di bawah empat bulan, atau lebih atau telah sempurna....

__ADS_1


...(Dari kitab nihayah al zain.)...


...❤❤❤...


__ADS_2