DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 31. SAH


__ADS_3

Tiga hari yang lalu.


Hasbi telah mengucapkan ikrarnya terhadap Aiswa tepat jam tujuh pagi setelah gadis itu pulang di malam sebelumnya.


Resepsi yang digelar di Ballroom hotel ternama dengan dekorasi megah nan mewah yang telah keluarga persiapkan jauh hari sebelumnya meski harus mundur karena Aiswa kabur, nyatanya tetap tak membuat Aiswa bahagia.


Jangankan untuk tersenyum, menegakkan kepala saat di hadapan para akhwat pun ia enggan, malah wajahnya kerap ia sembunyikan dibalik tudung panjang kain tule broken white yang menghiasi kepala menjuntai hingga kakinya.


Malam pengantin.


Aiswa telah masuk ke dalam kamar suite Hotel tempat di gelarnya resepsi sejak sore hari. Membersihkan diri dan berganti baju di saat Hasbi masih sibuk dengan para tamu.


Dirinya merebahkan tubuh lelahnya bergelung selimut lengkap dengan gamis dan hijab panjang serta kaos kaki yang menutup kaki mulusnya.


Bagai orang yang tengah demam, pikir orang yang waras. Namun ia tak peduli, pesan kekasihnya masih terngiang jelas di telinganya.


Ia akan berusaha berbakti pada suaminya kelak meski batinnya menolak.


Cklak. Pintu kamar dibuka seseorang.


Aiswa mendengar jelas derap langkah yang kian mendekat.


" Jangan berpura tidur ... bantu aku ganti baju, " pintanya tak peduli terus melangkah menuju bathroom.


Aiswa bangkit, menyiapkan segala keperluan untuk suami yang tak di cintainya.


" Kamu sudah mandi? dinner akan diantar kemari, tak perlu turun bila lelah, mana bajuku sayang, " ucapnya lembut setelah lima belas menit ia membersihkan diri dan kini telah berada disisi ranjang king size kamar itu.


Aiswa tak menjawab namun tangannya terulur menyerahkan satu stel baju ganti untuk suaminya.


Hasbi yang melihatnya bagai patung berjalan berniat menjahili istrinya itu. Dirinya tahu Aiswa tak akan pernah mencintainya, namun kini dia memiliki hak penuh atas raganya dan sederet kewajiban yang harus dia laksanakan.


Set. C****up*.


Satu kecupan mendarat di kening Aiswa setelah Hasbi menarik tangannya mendekat. Hasbi melafalkan lirih doa kebaikan bagi istrinya serta rumah tangganya kelak.


Masih dengan sisa air yang melekat di tubuh nan bertelanjang dada, jemarinya mengangkat wajah istrinya yang sedari tadi menunduk karena jarak mereka yang terlalu dekat.


" Bismillah.... " Hasbi mengecup pelan bibir merah muda yang masih terkunci rapat. Memagutnya lembut dan perlahan, ia menikmati, sungguh.


Netra Aiswa membelalak sempurna saat kedua bibir saling menempel. Rasa yang aneh, hambar meski ia akui Hasbi melakukannya dengan lembut dan nampak terbiasa.


" Terimakasih, tidurlah jika benar-benar lelah. Bukan untuk menghindar dariku karena percuma, aku tetap akan meminta hakku, " belainya di wajah sang istri.


Huft ciuman pertamaku, Hasbi ... kita lihat saja sampai dimana kamu bisa bersikap lembut padaku.


Aiswa masih setia mengunci mulutnya, menyimpan suara emasnya seorang diri. Kakinya kembali menaiki ranjang, menarik kembali selimut dan bersembunyi di dalamnya dengan tatapan Hasbi yang masih mengikuti setiap gerak-geriknya.


Aiswa, aku tahu diri ini jauh dari kesempurnaan bila disandingkan dengan Amir. Namun percayalah, aku sungguh-sungguh menyukaimu meski caraku salah*.


" Sayang, bisakah kita sama-sama mencoba hubungan ini dari awal? "


Sunyi, tak ada jawaban.

__ADS_1


" Aiswa. " Hasbi mendekati ranjang, duduk di salah satu sisi dan mengelus punggung ringkih yang membelakanginya.


" Kau ingin meminta hakmu malam ini? " balasnya dingin.


" Tidak, aku akan menunggu hingga kamu siap. "


" Percuma, kau hanya akan membuang waktu, wahai suamiku. "


" Baiklah, kita lihat seteguh apa hatimu. "


Tok. Tok.


" Room service. " Suara dari sebalik pintu.


Hasbi melangkah menjauhi ranjangnya menuju pintu dan mempersilahkan waiter menyiapkan dinner untuk mereka berdua sebagai fasilitas tambahan atas paket pernikahan yang mereka ambil di Hotel ini.


" Letakkan saja di meja, tak perlu menjamu kami. Istriku tengah istirahat, " pintanya sopan menolak ketika waiter menawarkan pelayanan ekslusif.


Setelah memberikan tips untuk dua orang waiter tadi, Hasbi menutup pintu. Kemudian tangannya meraih ponsel di atas meja nakas yang sempat ia letakkan sebelum mandi tadi.


" Kamu sedang apa? " Ketiknya mengirimkan sebuah pesan.


Malam ini nampaknya akan menjadi malam permulaan yang panjang untuk malam-malam selanjutnya.


Hasbi menatap nanar layar ponselnya bergantian dengan sosok yang mulai ia sukai meski bersikap dingin padanya.


***


Di tempat lainnya. Saat ini.


" Kenapa tidak kamu lihat dulu fotonya, Mir? "


" Aku belum ada niatan, 'amm. Nanti saja bila aku telah siap. " Tolaknya halus.


" 'amm, ko .... Kak? "


" Kenapa Alma? ada yang ingin kamu sampaikan? oh ya, jangan lupa janjimu esok hari, jangan kecewakan bibimu. "


Alma hanya mengangguki peringatan pamannya lalu berpaling mengejar Amir yang pamit untuk kembali ke kelas karena sudah masuk waktunya ia mengajar.


" Apa ka Amir akan bertemu gadis itu? "


" Tidak, " jawab Amir sembari terus melangkah.


" Alma, aku sudah baca pesanmu tempo hari. Tidak baik seperti itu, jalani saja siapa tahu jodoh kan. "


" Kakak tahu tentang mitos itu? "


Degh. Amir berhenti.


" Mitos apa? aku ga percaya hal-hal seperti itu. "


" Lalu? "

__ADS_1


" Kemana perginya Almahyra yang santun? aku tahu kamu gadis yang ceria sebelum tragedi itu terjadi. Aku bukan Ilyas, kamu masih terobsesi dengannya. "


" Kak ... ana tak melihatmu sebagai Ilyas, tapi kakak mengembalikan bahagia ana. "


" Bahagia seperti melihat Ilyas kan? calon suamimu itu? sudahlah Alma, buka hatimu untuk yang lain, tapi jangan berharap padaku. "


" Kenapa? karena gadis itu? "


" Almahyra Firdaus, sejak awal aku melihat dan mengagumimu hanya sebatas sahabat yang cerdas dengan akhlak mulia. "


" Ana tahu, kakak tengah berjuang. Izin-- "


" Jangan berharap pada manusia bila tak ingin kecewa, Alma. Assalamu'alaikum. "


Amir kembali melanjutkan perjalanannya meninggalkan Alma yang masih berdiri disana dengan raut wajah kecewa.


*


Amir menengadahkan kepalanya pada sandaran kursi di kubikelnya seraya menarik nafas panjang.


Alma, maaf, semoga kamu mengerti.


Ia urung bangkit dari sana ketika ponselnya berdering beberapa kali.


Nomor tanpa identitas muncul di layar benda pipih itu.


" Assalamu'alaikum, afwan dengan siapa aku bicara? " tanyanya sopan.


" Kenapa kamu tega? aku sekuat tenaga mengeluarkan dia dari sana, menyusun semua rencana sempurna dengan harapan kalian berdua akan berjuang. Namun aku sangat kecewa padamu. " Tuduhan panjang yang tak Amir mengerti meluncur begitu saja dari suara diseberang sana.


" A-aku ga paham maksud anda. "


" Dasar lelaki bodoh. Tak habis pikir kenapa adikku cinta mati pada pria sepertimu. "


" Haa, maaf? "


" Haah hooh melulu ... padahal aku sudah menyusun rencana indah untuk kalian berdua, aku siap menjadi tameng agar adikku bahagia. Aaargggg aku benci padamu. Sayangnya adikku melarangnya ... setampan apa rupamu hingga terlalu sombong dan lamban mengambil tindakan tak memintanya segera? dasar buaya! "


" Astaghfirullah, Mba, Nona, maaf saya tidak paham apa yang sedang anda bicarakan. "


" Kamu telah membunuhnya perlahan dengan menyerahkannya pada lelaki breng-sek seperti Hasbi. "


" Breng-sek? "


" Ckck, bodoh betulan. Andai kau tahu siapa dia sebenarnya.... "


Tut. Tut*. Sambungan terputus.


Apa lagi ini? ya Robb*.


.


.

__ADS_1


...______________________________...


__ADS_2