
Sudah beberapa hari ini dirinya terjun langsung memantau perkembangan pasien dalam mansion mewah milik keluarga nya di tepian Jakarta.
"Aku tak akan meninggalkanmu lagi, sayang."
"Kau akan selalu aku jaga, namun jika memang kau kembali padanya ... bolehkah aku memintamu sedikit melakukan sesuatu untukku nanti, sayang?"
"Misi mu akan segera datang, kita berdua akan sama-sama bahagia lagi, meski dengan cara yang berbeda ... aku memilikimu, engkau memiliki masa depanmu yang baru, kau sudah siap?"
Wanita cantik penuh kharisma itu bermonolog, memandang deretan kalimat medis dalam mapnya. Dengan jemari lentik yang tetap terpoles kutek warna dusty pink, dia menceklis kolom daftar visit pagi ini.
"Dan lelaki itu, kita lihat seberapa gigih dia berjuang kali ini." senyumnya sinis.
Setelah beberapa saat melayangkan pandang pada gadis yang semakin cantik, kulit nan semakin mulus serta bekas luka yang semakin pudar. Dirinya yakin, kesayangannya akan secepatnya kembali memijak bumi.
"Maafkan aku, menjadikanmu sebagai kelinci percobaan untuk racikan obat yang aku ciptakan ... aku hanya ingin, semua keluarga yang kehilangan anggota tersayangnya tak hilang harapan apabila dihadapkan pada sesuatu yang mustahil ... ujungnya, uang adalah segalanya, aku bisa menjadi pioneer penawar segala luka dan kesedihan, membuat yang mustahil menjadi sebuah pengharapan ... sejauh ini, tidak ada imbas efek apapun dengan tubuhmu, justru sebaliknya."
"Dokter, apakah mungkin karena ini? molekulnya stabil, bahkan indah, " tanya seorang asistennya.
"Entahlah aku juga tidak tahu, tapi tekanan darahnya, semua organ vital nya bekerja sangat stabil ... aku menguji molekul air saat diperdengarkan murottal, dan amazing ... hasilnya persis seperti penelitian Yasuyuki Nemoto bersama tim peneliti dari Institut Masaro Emoto Jepang ... bahwa air yang mendapat getaran suara yang baik akan menghasilkan molekul yang baik ... apakah ditubuhnya telah merasuk hingga ke sukma? lanjutnya lagi.
"Lanjutkan...." tegasnya.
"Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5% air. Darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air ... partikel air jauh lebih indah yaitu berbentuk kristal segi enam yang bercabang lima dengan daun yang bersinar ... air Zam-zam merupakan bentuk hexagonal yang paling indah,rapih, dan terdiri dari dua belas warna yang saling memantulkan cahaya yang berkilauan." Pungkas sang asisten.
"Kesimpulannya?"
"Mungkin tubuh pasien hanya terisi oleh air dengan kualitas yang sangat baik seperti air Zam-zam, mendengar semua perkataan yang baik, juga kebiasaan selama hidupnya yang dekat dengan Tuhannya, membuat tubuh yang memang 75% air ini merespon semua penggunaan obat yang diberikan padanya dengan sempurna ... terlebih anda tak mengizinkan audio itu mati sedetikpun diruangan ini."
"Begitukah? jadi bukan karena obatku?" pancingnya ingin tahu.
"Hmmm, ini hanya argumentasi saya Dokter, menyempurnakan efek obat yang anda berikan padanya," jawabnya takut.
"Baiklah, laporkan setiap perkembangan sekecil apapun mengenai dirinya ... aku ke ruangan Ibuku," ujarnya sambil lalu.
__ADS_1
Benarkah demikian, jadi apakah aku harus mencobanya pada manusia dengan latar belakang berbeda, seperti Mama.
Bila obat itu sangat cepat bereaksi dengan tubuhnya, kenapa tidak dengan Mama?
"Hai Moms, apa kabar hari ini? Mama tahukah, apa yang sudah aku lakukan untuk Mama agar kembali pada kami lagi? aku melanggar kode etik ku ... bahkan mungkin aku telah melakukan sebuah tindak kejahatan. Demi siapa?... IBUKU, Kamu, yang telah menghancurkan masa kecil kami yang bahagia."
"Tapi aku, tak akan menaruh dendam padamu, Moms, karena kamu IBUKU, dan sialnya aku sayang padamu ... aku menerima apapun kondisi mu, perubahan perilakumu karna Papa dan kami korbannya."
"Moms, bila nanti dia bisa mengembalikan mu padaku, berubahlah jadi baik ... sayangi dia, peluk dia dengan sayang dan semua kebaikan yang dulu pernah Mama punya, meskipun suatu saat Mama menyadari bahwa dia bukanlah anak kesayangan Mama yang dijadikan alat balas dendam ... aku telah memisahkannya dengan keluarga, bahkan ibunya yang sangat dia sayang, maka sepatutnya dia mendapatkan kasih sayang serupa dari Mama ... impas kan? aku memberi Mama pengganti Aeyza dan Mama wajib menghujaninya dengan cinta."
Dia berpura tegar meski butiran bening itu sudah menganak sungai membanjiri pipinya yang mulus putih merona.
Putri Mahkota itu nyatanya terluka batin dan mental sejak dini. Namun sosok gadis diruangan sebelah, menyelamatkan masa mudanya, masa-masa labil hingga pada akhirnya dia menjadi sosok cantik, tegas, misterius, kejam dan penuh ambisi meski dipermukaan terlihat sangat cuek dan dingin.
Disaat dirinya menikmati waktu meluapkan segala sesak dan derita masa lalu yang tak pernah ia ungkap. Pintu ruangan itu diketuk perlahan dari luar.
Dirinya sengaja bergeming, mungkin hanya hal sepele seperti biasanya. Dia tetap abai berdiri membelakangi sumber suara. Hingga pernyataan pria itu terdengar jelas sebab kepalanya menyembul melalui pintu yang setengah terbuka.
"Bos, dia bereaksi,"
"Matanya bergerak dan sedikit terbuka, tangannya berusaha menggapai sesuatu meski lemah." Lapornya.
Dewiq terkejut, mencerna cepat deretan kalimat yang keluar dari mulut informannya. Tangannya terangkat keatas, menghapus segala jejak kesedihan dari wajahnya lalu berbalik menghadap sang asisten.
"Kau tidak bercanda bukan?"
"Mana berani, Bos."
Dewiq bergegas keluar ruangan saat pria itu menyingkir tak lagi menghalangi pintu. Rasanya jarak yang sejengkal itu menjadi teramat panjang untuk dilalui. Entah karena perasaan yang sangat bahagia pasiennya telah sadar ataukah perasaan bangga bahwa temuannya berhasil.
Jemari kurus itu membuka pintu ruang perlahan, alas kakinya dia lepas, berharap agar suara heel yang beradu, tak mengganggu indera pendengaran yang baru saja mulai pulih.
Dengan kedua netranya, dia memperhatikan detail setiap pergerakan kecil yang dilakukan pasien diatas ranjang serba putih itu.
__ADS_1
Rasanya sangat tidak sabar, bagai menunggu sebuah proses kelahiran, batinnya.
Mata bulat itu mulai bergerak kembali, perlahan ke kanan dan kiri. Jemarinya satu persatu berkedut tanda melemaskan otot yang kaku.
"Come on ... come on ... come on...." berharap cemas sembari kedua tangannya menangkup didepan wajah dan digesekkan keatas bawah, mirip sebuah pengharapan saat berdoa.
"Enghh," terdengar suara lemah, persis sebuah le-nguhan.
"Yes, again baby ... lagi." Dia makin bersemangat layaknya suporter bola yang menanti tendangan pinalty sukses menjebol gawang.
Hosh. Hembusan nafas berat, lolos dari mulut mungilnya.
"Baby, kamu dengar aku?" ucapnya lirih seakan takut menyakiti gendang telinganya.
Dewiq berinisiatif mengambil kapas basah, mengoleskan pada kedua matanya agar bisa membuka sempurna.
"Di--"
"Go on, lagi ... jangan takut."
"Ak--,"
"Kau bisa mendengar ku? anggukan kepala atau gunakan matamu sebagi isyarat."
Pasien yang dalam kondisi lemah itu mengikuti semua instruksi yang diperintahkan Dewiq perlahan.
Dengan sabar, dokter muda yang belum lulus itu tetap membimbing layaknya pada seorang batita. Hingga perjuangan atas ketelatenannya berbuah manis. Kelopak mata bulat itu akhirnya terbuka sempurna.
"Hai sayang, welcome home baby.... "
.
.
__ADS_1
..._______________________...