DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 39. SILSILAH KELUARGA BESAR


__ADS_3

Setelah Abyan pergi, Amir kembali melanjutkan minumnya yang terganggu. Dirinya kali ini puas meneguk habis air dalam gelasnya untuk membasahi kerongkongan yang kering.


" Kyai Jazuli, ada keperluan apa yaa? " ia lalu bangkit dari duduknya, melewati pintu dapur menuju ke ruang tamu dimana tamunya berada .


" Assalamu'alaikum Yai, apa kabar? " salamnya.


" Wa'alaikumussalam ya khair, kamu sudah baikan? "


" Kheir Alhamdulillah, Yai dari Solo? sengaja ke sini atau sekalian safar? "


" Sekalian mampir, tadi ana ngobrol sama Abyan tentang Abahmu, lagi kasmaran atau bagaimana itu? menanyakan pada ana tentang H. Fadzli, Almarhum pengusaha palawija karena kebutuhan ana di bisnis yang sama lima tahun terkahir ini ... istri almarhum hampir selesai masa iddah, Abahmu kabarnya akan kemari menyusul ana karena ana akan Mukim di kota ini hingga dua bulan mendatang. "


Amir dan Abyan saling pandang, baru tadi Abahnya menanyakan perihal nomer telepon Gamaliel, sahabat kecilnya.


" Yai sudah tanya ke Abah? karena abah belum menyampaikan pada kami. Maksudnya apabila Yai mendapatkan kepercayaan dari beliau, kami manut, " Amir mengutarakan maksudnya.


" Beliau menanyakan anaknya, Gamaliel yang kabarnya akan menikah dengan keponakan Kyai Hasyim Rois. "


" Ada apa dengan Gamal, Yai? " Abyan tak kalah penasaran.


" Gamaliel itu setau ana, bukan anak istri yang sekarang tapi entahlah, bukan itu fokus ana kesini. Abah kalian meminta ana menikahkan seseorang. Apa salah satu diantara kalian? "


" Aku sudah menikah Yai, meskipun kalau mau nambah juga bisa karena yang mau banyak, " Abyan terkekeh.


" Ehheeemmmm.... " Qonita datang membawa baki penuh suguhan untuk tamu mereka.


" Ampun sayang ... bercanda, " tunduknya seraya menyeruput tehnya yang masih panas.


Amir dan Yai Jazuli sontak tertawa melihat Abyan tak berkutik di bawah tatapan tajam yang dilayangkan Qonita padanya.


" Bercanda Qonita, kami sedang membahas Amir yang mau nikah ini, " ujar Yai tersenyum jahil.


" Mir, sama siapa? " tanya Qonita antusias.


" Yai, afwan ana nimbrung sebentar, " izinnya pada Kyai Jazuli.


" Iya ga apa Nduk. "


" Lah, bukan aku Mba, kan aku bilang nanti, mau ke uyut dulu, " sanggahnya cepat.


" Lalu? "


" Abah mertuamu meminta ana menikahkan seseorang di sini. Apakah Amir, atau bahkan Abahmu karena beliau menanyakan tentang H. Fadzli, ayah Gamaliel sekaligus sahabat bisnis ana, " terangnya pada Qonita.


" Abah mau nikah lagi? bagus juga sih biar ada yang memperhatikan dan menjaga beliau. "


Kedua pria kakak beradik itu spontan melihat ke arah Qonita atas pernyataannya barusan.


Qonita yang di tatap tajam oleh kedua pasang mata pria didepannya, seketika nyalinya menciut.

__ADS_1


" Hmmm ... dunia sempit, semuanya berkaitan. Ana pamit kedalam, silakan di cicipi Yai. " Qonita membawa kembali baki yang isinya telah berpindah tempat ke meja untuk jamuan sekaligus menjadi jalan ninjanya untuk kabur dari tatapan menakutkan dua pria itu.


*


Abah yang telah mendapatkan nomer Gamal dari Amir, langsung melakukan panggilan padanya.


" Assalamu'alaikum. "


" Wa'alaikumussalam, afwan, ini dengan Gamal? saya Abahnya Amir. "


" Oh Abah, sehat Bah? Gamal simpan nomer Abah yaa ... aku melanjutkan proses lamaran itu Bah, do'akan di terima ya Bah, " jelasnya semangat.


" Alhamdulillah ... kapan batas waktunya Nak? kamu sudah yakin? "


" Dua minggu lagi Bah, in sya Allah mantap. Abah ada perlu sama aku? "


" Sebenarnya sama Mama kamu Mal, tapi belum waktunya. Jadi sementara saya hanya ingin bertanya, nama Mama kamu siapa? "


" Wilona Darus, kenapa Bah? "


" Darusman? "


" Just Darus, Abah. Kenapa ya Bah? Abah punya sesuatu berita yang aku ga ketahui tentang Mama? karena Mama memang tidak pernah bercerita tentang keluarganya. "


" Nanti Nak, abah cerita saat kamu akan lamaran resmi yaa. "


" Yaah, sekarang aja Bah, " mohonnya lagi.


Abah memutuskan panggilan setelah Gamal menjawab salamnya.


Aneh, Darusman? apakah Mama ku punya marga keluarga terpandang di sini yang berkaitan dengan Abahnya Amir?


Rasanya tak asing akan nama itu, Darusman, Darusman, Darusman...


Gamaliel terdiam sesaat lalu ia keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga. Rumah ini adalah rumah lama sang Mama, kabarnya rumah ini dibeli karena Mama mendapatkan warisan yang sangat banyak sebelum mereka berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti sang ayah.


Tangannya lincah memilah deretan buku tua yang masih tersusun rapi di rak buku kuno berukiran khas Jepara dengan finishing pernis hitam mengkilap, semakin mengokohkan posisinya di pojok ruangan itu.


" Ketemu, silsilah keluarga, " lirihnya.


Gamal membuka lembar demi lembar buku tua dengan hati-hati, tak percaya akan tulisan samar di atas lembaran kertas lapuk itu membuat matanya membelalak sempurna membaca satu baris nama disana.


" What, oh my goss. "


Gamal mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, nampak mencari sebuah nama disana, mungkin ia berniat melakukan sebuah panggilan.


"Hallo, cari tahu tentang Darusman, Wisesa dan Anggita Kusuma. "


"Baik aku tunggu segera. "

__ADS_1


Gamal butuh mengkonfirmasi sesuatu pada Mamanya tapi tidak saat ini.


" Mama apakah punya suatu rahasia masa lalu? "


Dua jam berlalu, Gamal akhirnya menerima sebuah email dari informannya.


" Sudah ku duga ... Mir ... oh god, bahagianya aku. Mama, kenapa ga cerita sih? pantas saja aku ga bisa melupakan Amir. "


Gamaliel berseri mengetahui informasi yang baru ia dapatkan. Tak sabar rasanya memberitahukan pada Amir esok pagi.


" Aku mengerti, kenapa kamu menghindariku Mir. "


***


Malam hari, Cirebon.


Wilona jika memang itu kau, maka aku perlu menjaga Gamaliel.


Kasihan sekali anak itu, lahir tanpa ayah namun sepertinya kamu menemukan pria yang tepat dan setia dengannya hingga akhir hayat.


" Meela istriku, berkat Naya dan Amir, keluarga kita akan utuh kembali. Ternyata saat Naya kabur dulu membuka banyak hal tersembunyi di balik tabir ini. "


" Bila kecurigaan ku benar, bagaimana caranya agar Gamaliel selamat setelah proses lamaran nanti, aku harus mencari tahu siapa pembuat sumpah laknat itu... minta bantuan siapa ya? Alex atau Mas Panji langsung? "


Abah segan bila harus merepotkan sang menantu meski Mahendra tak pernah keberatan, mungkin justru dia akan sangat bahagia.


Baru saja menyebut nama menantunya, ponselnya berdering memperlihatkan nama R. M. Mahendra disana.


" Ya Mas, sudah sampai Jakarta lagi? "


" Sudah Bah tadi sore, oiya mulai besok Alex tidur di kamar tamu, nemenin Abah di rumah boleh ya? "


" Ga usah repot Mas, Abah biasa sendiri kalau Amir pergi, ndak apa-apa. "


" Naya Bah, ga tau ini ribut melulu minta Alex nemenin Abah. Aku di suruh tidur diluar kalau ga telpon Abah, ini pun aku loudspeaker. "


" Kamu masih saja kalah sama bocah itu Mas? " kekehnya.


" Ya gimana lagi Bah, " tawanya hambar.


" Yowes boleh. Oh iya Mas, abah bisa minta tolong cari informasi tentang seseorang? "


" Makasih Bah sudah selamatkan aku dari kedinginan malam ... hahaha ... boleh, abah kirim pesan saja ya, nanti aku coba cari. "


" Ok Bos, copied. Thanks, " Nada bicaranya mengikuti gaya Rey. Panggilan berakhir dengan tawa keduanya mengiringi.


.


.

__ADS_1


..._____________________________...


...Selesaikan satu dulu masalahnya.. 😌...


__ADS_2